Senja di Chao Phraya (20)

Endah Raharjo

 

Bab 4: Bulan Setengah Purnama di Atas Chao Phraya (1)

Matahari sebentar lagi pergi menerangi belahan bumi utara, namun sisa-sisa sinarnya masih menghangatkan langit Kota Bangkok ketika empat orang itu melintasi hall kedatangan bandara Suvarnabhumi. Tak seperti bila sedang bepergian sendiri untuk bertugas, langkah Laras terayun lebih santai, senyumnya samar menghiasi wajahnya. Seorang perempuan berseragam hijau tosca mendekati, melakukan wai sambil mengatakan sesuatu dalam bahasa Thai.

No, thank you,” jawab Laras sopan. Tanpa mengerti artinya, Laras paham kalau si cantik itu menawarkan hotel berbintang yang memiliki konter di hall kedatangan bandara. Sekali lagi perempuan muda itu melakukan wai, tersenyum dan berlalu.

Setiap berada di Thailand, Laras selalu disapa dengan bahasa lokal. Penampilan fisik orang Indonesia nyaris sama dengan orang Thai. Raut wajahnya. Bentuk mata, hidung dan bibirnya. Warna kulitnya. Posturnya. Kebiasaan mereka melakukan wai, menelangkupkan dua tangan di dada atau di depan wajah sambil sedikit membungkukkan badan dan menundukkan kepala, hampir sama dengan kebiasaan orang Indonesia. Bedanya di Indonesia dua tangan tertelangkup di bawah pusar meskipun ada juga yang meletakannya di dada atau di depan wajah.

Wai dilakukan untuk menyambut tamu, memberi salam, menyapa seseorang yang dihormati atau mengucapkan terima kasih. “Sawasdee kha…” sapa mereka sembari melakukan wai pada seorang perempuan, atau “Sawasdee krap…” jika tertuju pada lelaki. Bagi Laras, ucapan ‘kha’ dan ‘krap’ yang melodius dan seperti keluar dari hidung itu terdengar sama.

Are you okay?” tanya Osken sambil memasukkan barang-barang ke bagasi taksi warna kuning dengan aksen hijau di lambungnya. Laras sedang asyik menikmati pikirannya sendiri. Keberadaan Osken dan dua anaknya membuat kunjungannya ke Bangkok kali ini terasa berbeda hingga wai yang tak asing lagi itu ia pikirkan juga.

Yes! I am fine! It feels…”

Yes?”

Different…”

I know. I’m feeling it too. I know….” Sambil tertawa Osken merangkul pundak Laras sebelum perempuan itu masuk ke dalam taksi dari pintu belakang kiri. Ternyata ia merasakan hal yang sama. Keluar dari bandara diiringi seorang perempuan dan dua anak yang menjadi tanggung jawabnya membuat dirinya merasa lengkap. Memberinya rasa aneh yang menyenangkan.

“Angka mau duduk di depan?” pertanyaan yang bermakna permintaan itu diajukan Osken pada si remaja yang sedang asyik memilih jaringan di ponselnya. Ia tak sabar mengabarkan kedatangannya di Bangkok pada teman-temannya. Tanpa menjawab Angka membuka pintu depan, lalu duduk memangku tas kecil berisi semua gadgetnya.

“Ma, nanti aku beli nomer lokal, ya? Mahal nih, roaming. Satu sms aja udah lima ribu!” sungutnya.

“Pakai ini.” Osken mengangsurkan salah satu ponselnya. “Pakai saja!” tegas Osken ketika lelaki muda itu menengok ke belakang sembari menatap mata sang ibu, minta persetujuan. Laras mengedipkan mata kirinya.

“Enaknya! Gantian!” Protes Mega. “Aku mau juga.”

“Nih… pakai punya Mama.” Laras menyerahkan ponselnya.

Osken dan Laras berpandangan, disusul suara tawa geli. Meskipun tidak ada kata-kata terucap di antara mereka, sepasang manusia itu sadar, sesuatu yang berbeda memang benar terjadi, bukan sekedar dirasakan.

***

Bagi Angka dan Mega, rumah Mary Jane bagai istana. Terletak tak jauh dari Lumpini Park, halaman depannya yang cukup untuk empat lapangan basket itu tertutup hijau rumput, di atasnya tumbuh subur aneka perdu dan tanaman bunga.

Tak jauh dari dinding kamar yang ia tempati terlihat kolam bulat penuh teratai ungu yang dalam bahasa lokal disebut ‘bua’. Mega tak bisa membedakan antara teratai dengan bunga lili air meskipun ia tahu di Thailand bunga lili air sering dicampur pepaya mentah sebagai bahan salad yang segar, sedangkan kuncup teratai putih dipakai sebagai pelengkap doa oleh umat Buddha.

Di sudut dekat gerbang, berjajar pokok-pokok kamboja dengan empat warna bunga yang berbeda. Putih semburat kuning, oranye muda dengan tepian kemerahan, merah jambu solid serta yang paling eksotis bewarna campuran magenta, putih dan kuning di pangkal kelopaknya.

“Serasa di surga,” gumam Mega sambil merapikan gorden warna gading yang baru saja ia buka.

Ia dan adiknya memilih tinggal di satu kamar dengan twin bed, seperti layaknya sebuah kamar hotel. Mereka tidak ingin tersesat di dalam rumah itu, demikian kelakar Angka tadi malam. Sambil berlari-lari mengitari kolam renang berbentuk belah ketupat Angka menyatakan keinginannya untuk berenang setiap hari, tak peduli pagi, siang atau malam. Kapan lagi bisa berenang tanpa keluar dari halaman rumah, begitu ujarnya pada Mega.

Anak SMA yang kemana-mana mengendarai sepeda motor itu juga melihat ada beberapa sepeda di garasi, selain dua sedan buatan Jerman dan sebuah sepeda motor besar buatan Itali. Kata Osken, setiap hari Mary Jane mengendarai sepeda motor itu untuk ke kantor, bukan suaminya. Angka jadi penasaran ingin bertemu langsung dengan perempuan yang foto-fotonya menghiasi dinding-dinding ruang tengah.

Selepas makan malam yang ditata Osken dan mamanya di meja bundar di pinggir kolam, Angka menghabiskan waktu mengamati sepeda motor warna nila yang gagah itu. Ia berharap Osken tahu lebih banyak tentang sepeda motor. Namun lelaki itu hanya menggeleng ringan, tidak antusias, saat ia menanyakan beberapa hal. Meskipun pernah mengendarai sepeda motor itu beberapa kali, ia menolak permintaan Angka untuk memboncengkannya keliling kota. Osken juga melarangnya menyentuh benda mahal kesayangan si empunya rumah itu. Tentu saja Angka kecewa meskipun ia berusaha menyembunyikan perasaannya.

“Angka! Bangun! Sarapan!” Suara kakaknya memaksa remaja itu keluar dari balutan selimut dan meninggalkan lamunannya tentang sepeda motor yang selama ini hanya ia lihat di televisi itu.

Di ruang makan, Laras sedang menata meja dan Osken memasukkan roti tawar ke dalam toaster. Lelaki itu sudah terbiasa hidup tanpa dilayani siapapun, bukan masalah baginya menyiapkan sarapan. Sekilas pemandangan itu mengingatkan Mega pada sebuah film keluarga harmonis di televisi. Dengan rambut dijepit ke atas ibunya tampak sesegar kamboja di halaman depan yang baru saja ia lihat lewat jendela. Meskipun hatinya membantah, benaknya menduga kalau semalam mereka tidur seranjang. Pagi tadi selepas sholat subuh yang terlambat satu setengah jam, Mega keluar kamar mengambil novelnya yang tertinggal di ruang tengah. Ia melihat Osken sedang berenang sementara ibunya duduk di teras samping ruang makan, memangku laptop, bekerja seperti biasa.

“Mana Angka?”

“Baru bangun… biar aku aja, Ma.” Mega menawarkan diri menata meja.

Osken meletakkan setumpuk roti tawar yang sudah dipanggang dan sepiring telur dadar. “Apa rencana kalian hari ini?” tanya Osken pada Angka saat remaja itu muncul. Ujung-ujung rambutnya yang acak-acakan masih basah, pertanda ia sudah mencuci muka. Yang ditanya memandang kakaknya, lalu empat pasang mata itu beralih ke Laras.

“Ya. Kalian mau kemana?”

“Bukannya kita mau keluar bersama?” tanya Angka.

“Kami ada urusan sendiri…” tukas Osken cepat. “Itu ada peta. Sehabis sarapan kutunjukkan arah-arahnya. Ya? Kalian jalan-jalan saja sendiri.”

“Tidak diantar…?” Ada rasa kecewa menggelayuti suara Angka. Mukanya tertunduk, ingatannya kembali pada kejadian semalam saat Osken melarangnya menyentuh sepeda motor Mary Jane.

“Hey. Kalian sudah besar,” sergah Osken, “Lagi pula di sini macetnya mirip Jakarta. Ada subway dan skytrain. Ada ojek juga. Lebih cepat. Lebih nyaman. Nanti kita lihat peta. Ya?”

Angka melirik ibunya dengan pandangan tidak puas.

“Kita jalan sendiri aja….” Mega menyenggol lengan adiknya dengan ujung garpu. Selain lebih tua, naluri petualangan Mega jauh lebih kuat dari adiknya. Ia tak takut bertanya dan tak menolak kesulitan.

“Sudah saatnya kamu belajar mandiri,” kata Osken, ditujukan ke Angka.

“Mereka sudah belajar mandiri sejak lama,” ujar Laras membela anaknya.

“Aku hanya menekankan saja pentingnya menjadi mandiri….”

“Kami akan jalan sendiri. Aku mau lihat reruntuhan Central World. Kamu mau juga kan?” Mega sekali lagi menyenggol lengan adiknya, kali ini dengan sikunya, “Bukan pertama kali kita mengunjungi Bangkok,” lanjutnya percaya diri

“Terserah…” Angka menelan potongan roti terakhir dengan susah payah, seolah ada sesuatu yang mengganjal pangkal rongga mulutnya. Ia kecewa.

Laras bisa merasakan suasana kurang nyaman merambati udara segar di ruang makan yang empat jendelanya terbuka. Osken jelas-jelas tidak menyadari apa yang sedang terjadi di depan mata hijaunya. Kepekaannya untuk hal-hal kecil semacam ini tidak terasah.

“Biar Mama beresi. Kalian mandi dan siap-siap saja.” Cepat-cepat Laras berdiri memunguti piring. Angka meninggalkan ruang makan tanpa suara, seperti ada beban diikatkan di kedua betisnya. Mega menyusul Angka sehabis memasukkan selai dan cream cheese ke dalam kulkas.

What was that, Osken?” Laras bertanya tajam setelah suara langkah anak-anaknya tak terdengar.

What’s what?”

You said something about being independent!”

Don’t you want the same thing? He’s a big boy.”

Of course, I do. But this isn’t something about being independent. It’s about him wanting to be with you.”

I am not driving them around if that’s what you mean.”

That’s not what I mean…. You said you wanted to get to know them better… This is the time.”

Osken terdiam beberapa saat. “Oh …. I’m sorry…. I thought…. Unh… Oh well….” Lelaki yang belum pernah menjadi bapak itu menaruh piring ke rak lalu duduk sambil menopang dagu yang jenggotnya ia cukur kelimis sehabis berenang tadi.  “Was he upset? I didn’t notice.”

Kind of… but he’ll be fine.” Laras menyusul duduk di kursi. “Hey… he’ll be fine. I didn’t mean to make you feel bad.”

Mereka saling menatap. Inilah hal-hal kecil yang mereka perbincangkan di dalam pesawat kemarin siang. Hal-hal kecil yang tak terduga, yang akan mereka hadapi sehari-hari, yang kelihatannya sepele namun bisa melukai hati bila masing-masing tidak menyadari.

Beberapa kali Osken menyatakan rasa khawatirnya pada Laras kalau-kalau ia akan mengatakan atau melakukan hal-hal kecil yang mengecewakan anak-anak Laras. Lelaki yang sudah hidup terpisah dari orang tuanya selepas SMA itu hampir tak pernah berurusan dengan remaja seusia Angka. Ia akan senang sekali kalau Angka mau bermain basket, bermain tenis atau bersepeda bersama, namun ia tidak mau mengantarnya jalan-jalan keliling kota. Ia bisa melakukannya sendiri dengan melihat peta.

Mega is easy to handle. She’s like his father. But Angka is more like me. He holds back and is sometimes doubtful about certain things…” kata Laras.

“Aku akan lebih berhati-hati,” ucap Osken bersungguh-sungguh.

“Aku akan membantumu dan lebih sering bicara dengan mereka tentang hal-hal semacam ini.” Laras beranjak dari kursi, mengelus rambut perak Osken dan mengecup ubun-ubunnya.

Osken berdiri, masuk ruang perpustakaan, mengambil peta kota dan meletakkannya di atas coffee table ruang tengah. Kemudian ia mengetuk pintu kamar yang ditempati Mega dan Angka.

“Kita lihat peta, yuk! Supaya kalian tidak tersesat,” ajaknya pada Angka yang sudah rapi dengan celana pendek dan sneakers warna senada. Mega mengekor sambil mengikat rambut panjangnya.

Bertiga mereka mengamati peta. Osken membuat beberapa catatan di atas peta. Sesekali Mega bertanya sedangkan Angka hanya mengangguk-angguk saja.

“Bawa saja ponsel ini.” Osken menyerahkan ponsel yang kemarin dipinjam. “Tidak perlu membeli nomer lokal. Sekalian petanya dibawa.”

Angka memasukkan ponsel dan peta ke saku tasnya.

I want to be with you, guys….” Suara Osken merendah. “But I have things to do with your mother.” Sepasang mata hijau Osken manatap mata Angka. “No…. No…. We’re not going out for fun. We have a few things to sort out before we can be a real family….” Osken berhenti sebentar, “Before I can marry your mother….” Suaranya tertelan.

“We’ll be fine!” Mega menukas cepat.

Angka diam saja. Ketika masih di Jogja, mamanya sudah mengatakan kalau Osken dan dirinya akan sibuk sekali mengumpulkan berbagai informasi. Seminggu ini merupakan saat paling baik karena mereka berdua mengambil cuti.

“Baik-baik pada Osken, ya. Bantu dia menjadi bagian keluarga kita. Ini bukan proses yang mudah untuk kita berempat. Kalau kamu tidak suka, bilang saja. Jangan ditahan. Jangan basa-basi. Ini saat yang baik untuk saling mengenal.” Angka masih ingat pesan ibunya. Waktu sarapan tadi ia menunjukkan rasa tidak senangnya karena ia tidak ingin berbasa-basi seperti permintaan ibunya.

“Nanti malam kita keluar bersama. Ya? Makan di restoran di tepi Sungai Chao Phraya. Ya?”  Mata Osken masih melekat di wajah Angka. Meski tidak tersenyum, mata remaja itu berbinar. Rambut ikalnya yang sudah saatnya dipangkas bergerak-gerak lembut ketika ia mengangguk-angguk.

Sebelum mereka keluar pintu gerbang, sekali lagi Osken menjelaskan letak stasiun MRT Lumpini yang hanya sejauh 10 menit jalan kaki dari rumah Mary Jane. Dari stasiun Lumpini mereka menuju stasiun Asok untuk berganti skytrain, lalu menuju stasiun Chit Lom. Begitu keluar dari stasiun Chit Lom mereka tinggal menyusuri skywalk selama sekitar 5 menit untuk mencapai Central World, salah satu shopping mall besar di Bangkok yang dibakar massa dalam peristiwa kerusuhan Mei 2010.

Take care of your sister,” pesan Osken pada Angka sambil mengedipkan mata kirinya.

*****

 

 

11 Comments to "Senja di Chao Phraya (20)"

  1. fawaizzah  11 June, 2011 at 14:41

    akhirnya saya berhasil membaca sampai episode ini

    tinggal nunggu lanjutannya Mba Endaah

    keren banget

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.