Stiker di Belakang Kendaraan

Yeni Suryasusanti

 

Setiap orang yang mengaku warga Jakarta pasti sudah akrab dengan yang namanya kemacetan dan lampu merah yang berdurasi lama :)

Menunggu lampu merah berganti menjadi hijau biasanya merupakan saat yang sangat membosankan, kecuali di perempatan yang ada TV besar di salah satu sudutnya.

Awalnya terkadang saya mencoba mengatasi kebosanan dengan iseng mengamati stiker-stiker yang menempel pada berbagai kendaraan : truk, bus antarkota, kopaja, metromini, mobil bahkan motor. Hal ini kemudian menjadi suatu kebiasaan yang ternyata menimbulkan keasyikan tersendiri bagi saya :)

Pikiran saya jadi melayang membayangkan karakter pemilik kendaraan, bahkan terkadang jadi ikut berpikir akan makna yang tersembunyi dibalik kata-kata yang tercetak diatas stiker yang menempel pada kendaraan tersebut.

“Doa Ibu” adalah tulisan yang umum saya temukan pada truk, bus antarkota, metromini dan kopaja. Saya membayangkan pemiliknya sangat percaya bahwa ridha orangtua terutama ibu adalah ridha Allah :)

“Demi Kau dan si Buah Hati” adalah tulisan yang pernah saya baca di kaca belakang sebuah metromini.

Saya membayangkan pemiliknya adalah orang yang sangat mencintai keluarganya, dan terpaksa menjalankan pekerjaan ini karena sebenarnya bercita-cita lebih tinggi. Atau… dia penggemar lagu Pance Pondaag seperti Papa dan Ibu saya heheheh…

Stiker bertuliskan “Nabrak Gue Pelet” pernah saya baca di belakang sebuah motor.

Saya membayangkan pemiliknya kurang percaya diri, suka mengintimidasi, tidak percaya pada hukum dan tidak percaya sepenuhnya pada kekuasaan Allah sampai merasa perlu menggunakan pelet sebagai ancaman hukuman hehehe…

Stiker almamater perguruan tinggi terkenal baik di dalam dan luar negeri biasa menempel pada mobil pribadi.

Saya membayangkan pemiliknya, salah seorang atau semua anaknya memang berkuliah disana. Atau mungkin tidak ada satupun dari mereka yang kuliah di sana, namun mereka menitip membeli pada teman atau kerabat dan menempel stiker tersebut untuk memotivasi diri agar suatu saat bisa berkuliah di sana :D

Stiker “Harley Davidson” anehnya menempel pada banyak kaca belakang mobil pribadi, bukan motor seperti yang seharusnya menurut saya secara itu merk motor hehehe…

Yang ada dalam pikiran saya sama sepeti bayangan akan stiker almamater : pemiliknya benar memiliki dan ikut club Harley Davidson, atau memasang stiker hanya untuk gaya dan motivasi karena motor dengan merk itu adalah impian baginya :)

Stiker club motor selain Harley Davidson dan Stiker club mobil yang menempel pada kendaraan entah kenapa langsung membuat saya percaya bahwa pemiliknya memang tergabung dengan club tersebut.

Saya juga percaya setiap penempelan stiker yang tidak umum ditemukan pada kendaraan punya sejarah tersendiri.

Sedikit bercerita tentang asal muasal stiker logo Milys (Miling List Yamaha Scorpio) yang besar sekali dan menempel di kaca belakang mobil keluarga kami, penempelan tersebut diawali karena suami melihat stiker Harley Davidson di banyak mobil pribadi, dan kebetulan salah seorang pemiliknya diketahui suami memang tidak memiliki motor Harley Davidson :)

Suami saya berkata, “Ayah mau buat cutting sticker logo Milys ah… Emang Harley doang yang bisa bikin…”

Jadi, stiker pada kendaraan juga bisa melambangkan kecintaan pada organisasi yang diikuti.

Sayangnya NCC (Natural Cooking Club) belum membuat stiker yang bisa saya sandingkan dengan stiker Innova Community milik suami saya hehehe…

Pernah juga baca perang stiker antar pemilik jenis motor.

“Hari Gini Oper Gigi, Cape Dech!!” di tempel di sebuah motor matic.

“Hari Gini Gak Ada Gigi, Udah Kayak Engkong Gue” dan “WARNING!! LAKI-LAKI pake MATIC?? Apa nggak sekalian aja pake LIPSTIC?!?!” di tempel di sebuah motor manual.

Membaca stiker seperti ini saya membayangkan pemiliknya mungkin adalah orang yang mudah terprovokasi dan kurang bisa menghargai perbedaan selera atau pilihan orang lain. Kenapa juga sebagai konsumen malah ikutan perang pemasaran antar produsen? Bukankah setiap orang bebas menentukan pilihan sendiri tanpa perlu dihakimi?

“Caution: Milik Muslim, Haram Dicuri” pernah saya baca menempel di sebuah motor. Saya langsung nyengir, dan membayangkan si pemilik adalah seorang Muslim, dan memberi peringatan dengan cara yang cukup santun sambil mengingatkan ada Allah yang Maha Melihat. Tapi memangnya kalo motor Non Muslim jadi halal dicuri gitu? Nggak juga kan heheheh…

Ada juga stiker yang kreatif : “Daripada Mengejar Syahwat, Lebih Baik Mengejar Akhwat” juga berhasil membuat saya tersenyum. Saya membayangkan pemiliknya adalah seorang pemuda yang menginginkan Istri Shalehah sebagai pasangan hidupnya. Tapi saya ragu, apakah Akhwat bersedia di kejar, karena rasanya kalau Akhwat itu bersedianya di lamar :D

“Danger: Pemilik Motor Ini Mudah Terbakar Emosinya” dan “Warning: Nyenggol…!!! Benjol…!!!” pernah saya baca di beberapa motor.

Saya membayangkan kedua pemilik motor ini adalah orang yang bertemperamen tinggi. Namun saya juga membayangkan pemilik motor yang menempel stiker pertama lebih berpendidikan – entah secara pendidikan formal, secara akhlak atau keduanya – daripada pemilik motor yang menempel stiker kedua karena menggunakan bahasa yang lebih elegan :D

Stiker “Caution: Baru Tobat, Jangan Diajak Maksiat” pernah saya baca baik di mobil pribadi maupun di motor.

Saya membayangkan pemiliknya mungkin berusaha keras untuk istiqamah setelah hijrah, hingga secara tidak sadar memberitahu dunia bahwa dulu dia suka berbuat maksiat :D

“Caution: Jgn Pake HP Smbl Nytr Gblk!” pernah saya baca di sebuah motor.

Saya langsung membayangkan seseorang yang suka merasa pintar sendiri dan sering menggunakan bahasa yang tidak santun dalam mengkritik atau mengajari. Terbayang oleh saya jika pemiliknya sudah berkeluarga dan memiliki anak, mungkin dia akan mengajari anak-anaknya dengan bahasa yang kasar jika mereka berbuat salah…

Beberapa hari yang lalu, saya membaca tulisan “Ber2 satu tujuan, ber3 kena tilang” pada stiker sebuah motor.

Saya langsung tersenyum-senyum, membayangkan pemiliknya mungkin pernah ditilang oleh polisi karena bertiga saat berkendara motor, atau mungkin sering ditumpangi oleh rekan kerja yang kebetulan tinggal di dekat rumah :D

Saat sedang tersenyum-senyum membayangkan tiba-tiba senyum saya menghilang saat saya berpikir, “Makna stikernya kog seperti etika dalam rumah tangga ya?”

Sepasang suami istri memang selayaknya memiliki satu tujuan. Jika ada orang ketiga memang biasanya akan kena “tilang” bahkan “sidang”, entah oleh pasangan hidup, maupun oleh keluarga bahkan hakim di pengadilan agama…

“Life is fragile. Handle with prayer.” pernah saya baca di kaca belakang sebuah mobil, merupakan pelesetan dari stiker “Fragile. Handle with Care.” yang biasa di tempel pada kardus barang yang mudah rusak jika terbanting dan stiker “Be Strong! Stop crying! Rise again like a starfish!” membuat saya sempat merenung.

Stiker pertama membuat saya berpikir bahwa kehati-hatian dalam menjalani kehidupan terkadang memang belum cukup. Kita selalu membutuhkan campur tangan Allah dalam menjalani hidup kita, apa pun bentuknya, dan doa adalah kuncinya.

Stiker kedua membuat saya menyadari bahwa cinta Allah untuk semua makhluknya termasuk manusia.

Meskipun tidak seluruh anggota tubuh manusia bisa tumbuh kembali (hati manusia diciptakan Allah bisa utuh kembali meskipun dipotong hingga 70%-nya) seperti bintang laut ketika terpotong sebuah sudutnya, namun ibarat pulihnya bintang laut, Allah memberikan semangat dan ketangguhan kepada manusia untuk bangkit dan pulih dari kegagalan dan luka yang dideritanya :)

Kembali kepada stiker-stiker yang menempel pada belakang kendaraan, yang cukup sering saya manfaatkan menjadi pengalih rasa bosan, jika mungkin ingin saya berterima kasih kepada penempelnya, baik yang kata-kata dalam stikernya berkenan di hati maupun yang membuat saya mengerenyitkan dahi :)

Karena meskipun menurut saya kata-kata pada stiker mencerminkan kepribadian pemiliknya, stiker yang sempat terbaca oleh saya di setiap perjalanan menembus Jakarta membuat saya ikut melakukan introspeksi diri bahkan menjadi bahan renungan dan pelajaran setiap hari…

 

Jakarta, 30 Mei 2011

Yeni Suryasusanti

 

31 Comments to "Stiker di Belakang Kendaraan"

  1. HennieTriana Oberst  10 June, 2011 at 19:28

    Yeni, hehehe..jadi inget kebiasaanku yang lama.
    Dulu aku juga suka bacain tulisan di truk, bus, mikrolet…
    Kalimatnya lucu dan aneh kadang

  2. kembangnanas  10 June, 2011 at 14:09

    wah mbaca stiker tuu kaya mbaca tulisan di truk, kutunggu jandamu, dekat padu jauh rindu huehehehehe…

  3. Sakura  9 June, 2011 at 08:06

    Waktu saya masih di UI, UI mencetak stiker yang tulisannya CGDW…ayoooo tahu artinya nggak???
    Jawabannya
    .
    .
    .
    .
    .
    = SIJI DEWE = satu saja —yup, cukup satu saja, UI, bravo!!

  4. Lani  9 June, 2011 at 00:44

    DA ah mosok seh cm yg baca yg gilaaaaaaaa???????? bukannya yg pake helm dan ada tulisan itu jg ikutan gileeeeeee????? hhehe

  5. Lani  9 June, 2011 at 00:43

    DIMAZ EDY: mmg gitu bener adanya kok…….deket2 ama PSK

  6. Lani  9 June, 2011 at 00:43

    ATITE, heheh….gak tau tuh kang Anuuuuuuu kegilaan ama si dingklik tersayang………heheh tp plg tdk dikau udah tau dunia perdinglik-an bukan? wakakak…….ngekel aku iki

  7. Edy  8 June, 2011 at 23:21

    Subo Lani: memang itu maksudnya, sopir truk kan tidak jauh dr PSK hidupnya.

  8. Linda Cheang  8 June, 2011 at 22:57

    wah, kenapa apem sama “dingklik” keluar lagi di sini?

    belum nemu stiker yang begini bunyinya : I 5 EXY, hehehe

  9. Dewi Aichi  8 June, 2011 at 21:52

    Stiker di helm saya: “yang baca gila” . Ku tempel dibelakang , kalau pas lampu merah di perempatan UGM, ketika ada motor yang langsung disebelah , pasti nengok…dalam hati, “weee….gue pakai helm!”

  10. atite  8 June, 2011 at 21:43

    huahaha3x.. mbak Yeni, kok sy ga pernah nemu yg ajaib2 kaya gitu ya? mulai bsk sy berburu…
    salam…

    @Lani : iya ya mbak, kenapa ‘dingklik’ itu ada dimana2…?? misterius buat saya… ha3x…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.