Kugadaikan Dinarku Demi Pengobatan Alternatif

Ida Cholisa

 

Tak percaya lagi aku pada pengobatan alternatif. Kebodohanku, ketakutanku pada kata operasi dan kemoterapi menggiringku untuk berpikir praktis; tergiur iklan pengobatan kanker di stasiun televisi!

Rasa optimis menggenangi hatiku. Kutinggalkan rumah sakit khusus kanker. Segala pemeriksaan pra-operasi aku lupakan. Berangkatlah aku ke kota harapan. Ya, kota yang akan memberikan harapan kesembuhan…

Kaget aku mendengarnya. Biaya yang mencekik leher mendayu-dayu di telinga. Tetapi, aku ingin sembuh tanpa operasi, tanpa kemo, tanpa radioterapi. Maka kusanggupi pembayarannya.

Tak ada pilihan lain. Kugadaikan investasi dinarku. Ya, koin emas dinar yang sedianya akan kupakai untuk mendaftar haji, seketika kualihkan untuk pengobatan alternatif atas nama herbal dari luar negeri. Meski terasa berat, tetap kujalani. Meski kemudian, bukan kesembuhan yang kudapatkan, tetapi justru sakit yang semakin tak terkendalikan.

Aku tersadar. Medis jalan yang mesti kembali aku tempuh! Tak ada cara lain.

Pegawai klinik pengobatan herbal berkali-kali menelponku, menanyakan kelanjutan pengobatanku. Kukatakan “No”, sebab tak ada hasil dari pengobatan dengan biaya gila-gilaan itu.

Kini telah kujalani lebih dari separuh pengobatanku. Pedih perih telah kualami. Tak ada yang menakutkan lagi. Kupasrahkan saja, pada yang Kuasa dan pada ahli yang mengerti, tentang sakitku ini.

Operasi telah kulewati. Beberapa kemoterapi mesti kujalani lagi. Mudah-mudahan aku bisa melewatinya dengan baik, tanpa kesulitan atau kendala apapun.

Cita-citaku untuk mendaftar haji bersama suami terpenggal karena pengobatan alternatif. Tak mengapa. Aku tak menyesal. Ini memang jalan yang mesti aku lalui. Selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa. Mudah-mudahan aku bisa mengambil pelajaran baik di dalamnya.

Kuikhlaskan semuanya. Satu yang tetap terpatri di dalam hati, sakit tak menghalangi niatku untuk bisa pergi berhaji, suatu saat, insya Allah…

Kutebus sedikit demi sedikit dinarku, dengan niat tulus, jika lepas beban sakit ini, betapa kuingin masuk dalam daftar pengantri menuju rumahNya, kapan pun, bersama suami tercinta…

Semoga Allah mendengar doaku, dan memudahkan segala urusanku, serta mengabulkan segala hajatku, amien….***

 

Bogor, Jan 2011-

 

30 Comments to "Kugadaikan Dinarku Demi Pengobatan Alternatif"

  1. Itsmi  14 June, 2011 at 17:03

    komunikasi di sosial media dari ukuran internasional, semua orang itu, semua sama. tidak ada yang lebih dan begitu juga kurang. jadi tidak perlu memakai anda atau saya, gw elo juga bisa…… malahan memakai anda itu tidak lazim kecuali orang sedang ngamuk…..

    itulah hebat dari sosial media, bebas tidak di lihat kaya-miskin, tolol-pintar, cantik-jelek……

  2. daveena  14 June, 2011 at 16:34

    adik saya juga berobat kanker ke dokter yang “beriklan di TV” di Bandung…biaya sangat besar, lambung jadi ambrol…akhirnya kembali ke dokter dan di chek ulang semua…ternyata bukan kanker…sighhhh

  3. Dewi Aichi  10 June, 2011 at 22:17

    Bu..yang penting sekarang sudah bisa ha ha hi hi…dan teriak malasssssssss…..mau ngoreksi hasil test anak anak….! Liburan sekolahnya aja yg ditunggu he he..

  4. atite  10 June, 2011 at 07:25

    menurut sy sih ada penyakit2 tertentu yang bukan masalah fisik belaka, tp lbh psikis.

    ada org yg sembuh krn medis, ada jg yg bantuan alternatif. tp sejalan dg itu, selain pola makan, jiwa juga harus dipulihkan, beban di hati atau pikiran jg harus dibereskan. Kl engga mau metode apapun sulit. menurut pengamatan sy banyak org sakit krn mengabaikan diri sendiri, contoh seorang ibu yg selalu nomersatukan keluarga lupa kebahagian diri sendiri. Atau pekerja yg selalu nomersatukan pekerjaan, gak ingat tidur gak ingat makan boro2 rekreasi. Dll.

    Obat (mau kimia atau herbal) menurut saya kl works itu lebih krn efek plasebo-nya. Jadi kl nti ibu Ida ada rejeki lagi, daripada mahal buat berobat mending berangkat saja naik haji sama suami tercinta, kl itu memang yg diidam2kan jiwanya…

    Cepat sembuh, ibu Ida…salam.

  5. Djoko Paisan  9 June, 2011 at 22:40

    Mbak Ida…..
    Terimakasih untuk pengakuannya….
    Bagaimana dengan mereka yang tidak mempunyai “dinar” dan juga sakit seperti mbak Ida….???
    Puji TUHAN….!!!
    Kami di Mainz , tidak pernah memikirkan soal biaya…..
    semua ditanggung asuransi kesehatan.
    Saat konsultasi dengan kaka, untuk operasi tulang leher, karena ada penyempitan, ditahun 1991.
    Kaka Dj. yang ahli saraf, bertanya, apa kamu kuat bayar….???
    Saat itu Neurochirug, masih bisa dihitung dangan jari ( katanya ) dan kalau bukan orang kaya, mana mampu..???
    Dj. jadi tertawa sendiri, berarti Dj. termasuk orang kaya…hahahahaha….!!!
    Setelah operasi, Dj. dapat obat ( pil ) yang namanya ( Fortikortin 4 ) dan masih sisa banyak, kaka Dj. minta agar dibawa ke Indonesia, karena itu pilnya juga sangat mahal.
    Walau setelah operasi ( 1 Minggu di Rumah Sakit ), masih harus 6 bulan istirahat dirumah dan semua pengobatam serta upah( gaji ) pun ditanggung oleh Asuransi.

    Mbak Ida…
    s4emoga diberi kekuatan dan sembuh seperti semula …!!!
    Salam dari Mainz…

  6. Lani  9 June, 2011 at 22:16

    Memang sampai sekrg msh ada pro dan kontra ant pengobatan herbal/tradisional/alternatif dgn pengobatan kimia/barat mengenai KANKER……pengobatan cara apapun asal jgn cm ujung2nya cari duit……..bs dicoba klu mmg berhasil, krn pengobatan apapun yg dipilih, semua dikembalikan cocok/tdk nya pd tiap/masing2 tubuh pasien…….

    krn almarhum jg disarankan oleh dokter kankernya utk pengobatan secara alternatif, yg menyarankan dan malah ditunjukkan pd org ybs yg hrs dihubungi, krn mmg jelas2 org itu mendalami pengobatan dinegara Cina…….jd tdk asal pakai ramuan ato jompa-jampi kaga karuan juntrungane……..

    termasuk jamu yg direbus, akan ttp almarhum yg tdk pernah ngombe/minum jamu jelas2 menolak cm dijalani bbrp hari saja……dgn alasan yg pahit……bikin mo muntah krn tau sendiri serbuk jamu wlu sdh disaring tetap aja msh mengendap…….

    akhirnya jamu itu aku minum sendiri……namanya jamu jelas pahit………tp krn kebawa kebiasaan ktk msh di Indonesia hampir tiap hr minum jamu…….ya gak ada problem……mak-lebbbbbb glekkkkkkk…..tdk usah dirasakan…..setelah itu minum air putih beresssssss to hahahaah……..malah spt tukang jamu ngasih tau minum jamu heheheh……….

  7. Handoko Widagdo  9 June, 2011 at 21:06

    Semoga keinginan Mbak Ida menunaikan Haji bisa terlaksana.

  8. Itsmi  9 June, 2011 at 21:05

    Saw memang kalau sakit gulu di awal awalnya bisa di kontrol dengan makanan dan olah raga tapi kalau sudah gawat itu pun sudah sulit…. begitu juga dengan darah tinggi, antara lain berhenti dengan merokok dll…

  9. saw  9 June, 2011 at 20:50

    Oh ya Bu Ida,… semoga terijabah niat tulusnya untuk menjadi tamu-Nya. Amiin.

  10. saw  9 June, 2011 at 20:48

    Untuk sakit yang memang butuh penanganan medis yang cepat, semacam kanker begini, saya memang tdk memilih terapi herbal. Terlalu beresiko.

    Tapi, untuk sakit semacam darah tinggi, kencing manis, … memilih herbal sepertinya lebih baik. Pengalaman dari beberapa keluarga dekat, obat2an kimia menimbulkan komplikasi yang mengerikan.

    Atau jika perlu, tdk usah minum obat, tapi diterapi dengan jalan semacam akupuntur. Saya ada kerabat yang numpang di rumah untuk berobat. Tulang tungkai dan lututnya bengkak karena pengapuran. Kata dokter, itu harus dioperasi. Jelas, kerabat yang usianya sdh 70 tahun ini menolak mentah2 anjuran dokter. AKhirnya kami membawanya ke terapi akupuntur, dan selama 40 hari non stop tubuhnya selama 1 jam ditusuk2 dengan jarum. Hasilnya? Kaki kerabat saya ini normal dan beliau bisa berjalan tegak kembali. Tanpa obat yang diminum, dan sekarang cukup seminggu dua kali terapinya. Tidak perlu tiap hari.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.