Catatan Mr. Big Luggage (3 – habis)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Di perjalanan ini gw dituntut mandi cepet GPL alias Gak Pake Lama. Dan mau mandi lama juga jelas gak mungkin karena ada 34 orang lainnya yang menanti giliran. Selesai mandi gw kaya biasa belagak motret segala hal. Bagusnya kekeluargaan di sini cukup erat, salah satunya adalah makan selalu dibagikan tepat waktu dan tidak pilih kasih, 3x sehari sama rata.

Bus yang semalam kami tumpangi sudah kembali ke Indramayu dan akan ditukar bus pengganti pada sore nanti. Akibatnya untuk menuju komplek pemakaman  Syekh Sarif Arifin – Makam Nata untuk berziarah dan sekaligus tempat pementasan terakhir kami digiring naik truck yang sejak awal ikut rombongan demi mengangkut peralatan panggung dan instrumen. Panggung sejak jam 7 sudah dibangun di area pemakaman.

Di sini lagi-lagi pengalaman asoy, naik truck gede bak kebuka ternyata keren banged. Jarak ke lokasi sekitar 10 km dan rasanya kurang jauh deh, belom puas gw-nya. Gw salut sama Yanti yang dengan suka cita ikut naik ke bak truck walau dia jelas-jelas mendapat kehormatan untuk duduk di samping pak supir yang sedang bekerja.

Tiba di lokasi sekitar jam 10.30 dan suasana makam yang angker itu bagai sebuah pesta rakyat, betapa tidak, ratusan warga tua muda tengah memenuhi area yang banyak ditumbuhi pohon besar itu. Pedagang juga sibuk mempersiapkan diri dan jumlahnya banyak sekali, sangat meriah. Lokasi makam ada 2 buah di kiri dan kanan. Yang kanan makam Syekh sarif Arifin – Makam Nata, untuk masuk ke dalamnya wanita hanya memakai kemben sarung atau kain tanpa memakai apapun termasuk asesories.

Untuk pria sama saja yaitu memakai sarung tanpa tambahan apapun. Gw gak bawa sarung jadi gak bisa masuk kebetulan gw juga harus mengawasi barang barang milik gw dan yanti, juga tas camera milik utusan yayasan KELOLA. Baru di makam satunya gw ikut, karena kami berpakaian normal seumumnya orang ziarah.

Ada rasa miris melihat ziarah sepanjang 3 hari, karena di agama yang gw anut hal-hal seperti itu tidak ada, di keluarga kami meminta hanya pada Allah secara langsung tanpa perantara apapun alasannya, namun itu kan keyakinan dan hak azazi tiap orang so emang gw pikirin. Nuansa magis terus mendominasi tiap lokasi ziarah yang 100% berisi makam tua, apa jadinya kalo dijadikan arena uji nyali ya ???

Pentas di Majalengka puncak dari 3 tour kota, dan di sini masyarakat begitu antusias. Kolaborasi menampilkan penari topeng Beber khas Majalengka namun bukannya sentimen ya ? Gw lebih suka yang made in Indramayu deh. Dan bergantian pemain menampilkan tarian topeng yang keren banged, apalagi yang Mimi Wacih dan Early tampilkan …. mangap mangap dah mulut gw …. kaya terhipnotis …. tenggelam dalam gerakan mereka. Tetep aja gw suka tari udang yang dimainkan Early cucu dari Mimi Rasinah. Gandrung itu T O P B G T deh diperankan duet Mimi Wacih dan Early.

Dua wanita ini staminanya bagus banged dan benar-benar tampil maximal di tiap tariannya. Tak perduli yang menonton 20 orang atau 500 orang mereka tetap memberi yang terbaik. Ini namanya Diva tari topeng. Saat tari Gandrung hampir berakhir (lagi-lagi durasi dipersingkat) ada rasa sedih di hati gw. Ini tandanya gw harus mengucap selamat tinggal. Berakhir sudah petualangan gw yang mungkin jarang terjadi dalam hidup gw.

Gw mulai akrab dengan para pendukung acara, mulai ngobrol, mulai cela-celaan dan srreeettttt semua harus berakhir. dan segala kebodohan gw percaya informasi membawa jas hujan, sepatu, baju hangat blah blah bagi gw adalah ketidak siapan gw dalam mencari info, teman-teman bahkan adik gw sudah bilang PANTURA PANAS GEELAAAA tapi gw keukeuh percaya info panitia gelo blegug. Belom lagi my big luggage yang di kamar gw kayanya biasa aja pas di stasiun apalagi di Indramayu menjadi besaaaarrrRRRRRR. Gw tarik-tarik tuh koper bagai tereliminasi dari lomba pencarian bakat, bahkan ada besot di beberapa sisi yang artinya harus gw bawa ke STOP and GO.

Intinya gak sia-sia gw malu gara-gara salah bawa muatan, tengsin karena koper gede, bau ketek basi, mandi di kamar mandi yang ehem, makan nasi goreng pake tangan trus cucinya ala finger licking good, kaki semutan karena bus sempit, sesek napas karena bus pengab blah blah namun one thing for sure, gw mendapatkan persahabatan, baik sesama rombongan Jakarta atau dengan semua crew yang terlibat dalam perjalanan panjang itu.

Terima kasih banged gw diberi kesempatan untuk berangkat ke Indramayu dan melakukan petualangan hebat, walau dompet ngos-ngos karena emang gw orang pas pas-an buktinya gw makan 3x sehari dan minum berkali kali sehari. Ada aja yang perduli koq selama kita membuka hati dan pikiran. If I had to do it all again, I wouldn’t change a single thing kecuali kopernye … gw bakal bawa yang kecilan, tapi tetep koper coz itu ciri khas gw hahahahahaha. Semoga ada lagi perjalanan kaya gini and no regret, I’m in !!!

 

Enief Adhara wishes to thank :

Prasodjo Chusnato
Yanti
Va Madina
Ika Merseana
Pinky
Ikha Ismawatie
Tian from Etro
Mom & Dad
Crew sanggar tari topeng Mimi Rasinah
dan semua pihak yang mendukung gw tentunya

 

14 Comments to "Catatan Mr. Big Luggage (3 – habis)"

  1. Lani  10 June, 2011 at 22:35

    membaca naik truk bak terbuka……..jd ingat di Kona krn mmg tdk dilarang orang naik mobil entah itu truk, jenis van dgn bak terbuka……..aneh tapi nyata hanya di state of Hawaii (ndak tau di state lainnya) di hal itu gak dilarang………hehehe

  2. Lani  10 June, 2011 at 22:33

    DA : durung pernah ngicipi nasi jamblang????? wuuuuuuuuuuih enak dibungkus daun jati……..

  3. Kornelya  10 June, 2011 at 22:18

    Rame-rame naik truk menyenangkan, asal jangan sampai terlontar saja. Pintu bak truknya masih basah, sisa-sisa air kehidupan penumpang. Salam.

  4. Dewi Aichi  10 June, 2011 at 22:13

    Ohh..iya, nasi jamblang itu yg dibahas di fb wkwkwk..rameee..aku blom tau itu nasi apaan sih?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.