Pertemuan Pertama

Daisy

 

“Daisy, what should I do to make you happy and relax? Nggak usah terlalu dipikirkan, bakal baik-baik aja kok.”

Bunyi pesan pendek dari dia, seminggu sebelum aku bertemu kedua orang tuanya untuk pertama kalinya dulu.

Bagaimana bisa relax? Saat melihat cermin saja aku melihat jerawat besar di dagu. Aduh asem tenan, jerawat itu muncul di saat begini. Daftar ketidakpercayadirian-ku bertambah satu jumlahnya.

Bagiku saat itu, tidak ada yang lebih menyedihkan dibandingkan bertemu calon mertua dalam keadaan jerawatan. Bayangan kalau orang tuanya akan berkomentar, “Walah, calon menantuku jorok sekali” sudah terbayang. Padahal, wajahku sebelumnya bebas jerawat lho. Jerawat itu sepertinya muncul karena masa haidku akan tiba. Jadi, aku harus bagaimana?

Kedua orang tuanya, tinggal di kota yang berbeda dengan kami. Kebetulan saat itu dia sedang sibuk. Jadi, untuk lebih praktisnya, aku berinisiatif menemui mereka sendiri saja.

Hari itu, dia juga mengatakan bahwa orang tuanya baru akan datang tiga hari lagi. “OK, masih ada waktu tiga hari untuk membersihkan jerawat ini,” pikirku.

Tapi, mendadak esok harinya dia bilang kalau orang tuanya sudah tiba. Jantung berdetak lebih kencang dan perut mendadak mules, adalah sebagian dari gejala awal yang aku rasakan.

“Apa yang kamu takutkan?” Dia bertanya kepada aku. Banyak sebenarnya. Bingung.

(http://www.bridezilla.com/is-it-you-12-signs-youre-the-daughter-in-law-from-hell)

Beberapa hari sebelum rencana pertemuan itu dibuat, tetangga rumah ada yang curhat tentang perilaku menantu perempuannya kepada ibuku. Dia bilang, “Menantu saya itu malas sekali orangnya. Dulu, waktu masih tinggal sama saya, cuci piring saja nggak mau” dan bla bla bla, sederet hal-hal buruk lainnya.

Padahal, dulu menantunya pernah bercerita pula kepada aku kalau ibu mertuanya cerewetnya minta ampun.  Entahlah, siapa yang benar, siapa yang salah, aku memilih untuk tidak peduli. Meski begitu, bayangan mertua terutama “ibu mertua” yang galak tak urung muncul juga. Apalagi selama ini, ada saja cerita-cerita tentang ibu mertua yang menyeramkan.

Tapi, mau tidak mau the show must go on. Mereka berdua sudah rela datang jauh-jauh dari seberang laut sana, aku harus menyambut dengan baik.

Hari itu juga aku langsung menelepon ibunya. Ternyata beliau sedang sibuk karena suatu urusan dan memintaku menghubunginya kembali nanti. Aku lihat waktu percakapan di telepon selulerku, hanya 43 detik.

“Aku tadi ngomong apa saja ya? Kok cepet banget,” batinku. Nada bicara ibunya yang terburu-buru karena kesibukannya, entah kenapa membuatku berpikir kalau ibunya tidak mau berbicara denganku. Maklum, pada awalnya dia memang pernah bercerita kalau ibunya agak keberatan kalau putranya menikah dalam waktu dekat, saat itu.

Aku menanti beberapa jam kemudian dengan cemas, sebelum akhirnya berhasil membuat janji bertemu dengan orang tuanya di tempat mereka menginap. Kami sepakat besok adalah hari H-nya.

Hari H pun tiba. Mendadak ada pekerjaan penting yang harus aku lakukan. Itu artinya, perjanjianku untuk menemui kedua orang tuanya harus dimundurkan satu sampai dua jam. Bayangan dicap sebagai menantu tidak on time menghantui. Akhirnya, aku putuskan untuk mengabari mereka bahwa waktu perjanjian dengan terpaksa aku mundurkan via SMS. Namun, SMS-ku tidak dibalas. Bertambahlah rasa gugupku, sampai melupakan masalah jerawat.

Begitu pekerjaanku selesai, aku segera meluncur menuju tempat orang tuanya menginap. Di setiap jalan yang aku lalui, mulut berkomat-kamit saja supaya nanti lancar berbicara, memperkenalkan diri kepada mereka. Entah kenapa, jalan menuju ke sana yang biasanya jauh, mendadak menjadi pendek jaraknya. Cepat sekali rasanya aku tiba.

Sumpah, aku gugup sekali. Selama ini aku bertemu dengan banyak orang, klien kantor atau kopdar sana-sini dengan orang-orang yang aku kenal di dunia maya, tak pernah segugup saat itu.

Baiklah, aku sudah berada di sana. Apapun yang ada di sana harus aku hadapi. Pada awalnya pertemuan pertama itu terasa kaku. Namun, beberapa menit berikutnya mencair. Kedua orang tuanya yang pada awalnya banyak bertanya, seolah menginterogasi aku, berubah menjadi lebih banyak bercerita tentang anak-anaknya. Aku juga mulai memberanikan bertanya tentang ini itu.

Hari itu bisa dibilang pertemuan pertama kami lancar tanpa kendala yang berarti. Bahkan keesokan harinya, keduanya mengajakku berkeliling-keliling kota. Kesempatan bagus untuk lebih saling mengenal, jadi tentu saja tidak aku sia-siakan.

Mereka baik kepadaku. Bubble-bubble bayangan di atas kepala tentang mertua terutama ibu mertua yang menyeramkan pecah satu demi satu. Selama ini memang yang sering aku dengar adalah kisah tentang mertua galak dan menyeramkan. Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, hubungan mertua dan menantu yang baik pun banyak. Cuma jarang terdengar. Lha, kalau sudah bahagia, ngapain juga cerita-cerita? Mungkin begitu ya?

Setelah mereka pulang, aku bertanya kepada dia tentang kesan orang tuanya kepadaku. Semua terbayar sudah, ketika dia berkata, “Ibu malah memuji kamu. Katanya nyalimu besar juga, berani datang sendirian menemui mereka.”

 

58 Comments to "Pertemuan Pertama"

  1. Peony  15 September, 2011 at 15:30

    Daisy… senang nya menemukan mu disini..

  2. Lani  22 June, 2011 at 12:32

    DAISY…….mmm…..aku ingin merasakan deg2-an pertemuan pertama………tp kok pernah klakon ya????? hehehe…….over PD

  3. Daisy  22 June, 2011 at 12:22

    Pertemuan yang bikin deg-deg’an kan selalu pertemuan pertama, kalau kedua, ketiga, keempat dst sudah tidak lagi. Terima kasih

  4. nevergiveupyo  22 June, 2011 at 10:00

    Daisy Says:
    June 17th, 2011 at 14:31
    @Mas Pantang Menyerah: cerita di atas bukan fiktif belaka

    wah..untunglah kisah nyata… nah..hbs ini ditunggu sekuelnya ya mbak ..pasti lbh seru…hohohoho

  5. Daisy  17 June, 2011 at 14:31

    @Mas Pantang Menyerah: cerita di atas bukan fiktif belaka, jika ada kesamaan nama, kisah, tempat kejadian itu hanya kebetulan semata… hehe

  6. nevergiveupyo  17 June, 2011 at 11:59

    Daisy Says:
    June 17th, 2011 at 11:44
    Apa ceritanya mirip dngan ceritamu ketemu camer?

    sebenarnya bukan begitu sih… saya tidak pernah deg-deg an ketemu camer.. karena saya punya jurus andalan bahasa itu tadi… hehehehe

    cumaa…saya koq merasa tidak asing dengan cerita ini gitu lho…

  7. Daisy  17 June, 2011 at 11:44

    @Mas Pantang Menyerah:

    entah mengapa.. saat membaca kisah ini koq saya merasakan suatu “de javu” yah…

    _______________________________________________

    Apa ceritanya mirip dngan ceritamu ketemu camer?
    Tos aja deh

  8. nevergiveupyo  17 June, 2011 at 10:40

    ilhampst Says:
    June 10th, 2011 at 14:10

    Senengnya ya? Gimana rasanya ntar ya klo ketemu sama camerku hihihi…
    Selamat deh udah melewati masa2 menegangkan itu dengan sukses

    ya sudah mas-nya.. artikelnya mana… (loh??)

    kalo saya kebetulan aja ya pacarnya selalu jawa.. jadi punya jurus andalan pake bahasa simbah2 (itu kalo adikku bilang ttg krama inggil) padahal kalo sama bapak+ibunya sendiri jelas ngoko… hehehehehehe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.