[Serial Masa Terus Berganti] Kondangan

Dian Nugraheni

 

Kisah Pertama

Dapat undangan kondangan pernikahan, sunatan, atau perayaan yang macam itu.., terus terang saja bikin aku agak repot. Gimana tidak  repot, kondangan kan biasanya harus pakai pakaian yang bagus. Yah..paling nggak, layak untuk menghadiri pesta, sedangkan pakaian koleksiku cuma oblong dan jins… Nah, kalau nggak pinjem, ya terpaksa sesekali beli “kostum” buat kondangan …

Kali ini juga, aku harus kondangan ke pernikahan. Temanku, mantu adiknya yang bungsu. Okelah.., pagi menjelang siang, karena nggak bisa dandan sendiri, pergilah aku ke salon, dandan-dandan dikit.. Selesai, pulang dulu, ganti kostum.., baru berangkat.

Tidak tanggung-tanggung, gedung tempat pernikahan itu letaknya di lokasi wisata di kotaku, kira-kira 14 km jauhnya dari rumah. Okelah, tak apa, agak gasik aja, biar cepet kelar.. Sengaja aku pilih kostum yang model sarung, biar nggak ribet karena harus nyopir sendiri..

Sesuai perkiraan, gedung masih belum terlalu padat tamu undangan, jadi bisa parkir dekat pintu masuk gedung, siap melenggang ke arena. Aku meraba-raba lantai mobil dengan kakiku.. Lho kok sandal selopnya cuma satu, mana yang satunya lagi, ya …Terpaksa tanganku ikut meraba-raba. Nggak ketemu juga..sampai sedikit kemringet nih, nyerah deh…

Setelah yakin sandal selopku cuma satu, aku berpikir cepat, pulang 14 km cuma mau ambil selop, terus, kemari lagi 14 km, kondangan sebentar, pulang 14 km lagi.. Wuah.., kagak deh.., boros waktu, boros energi, boros bensin tentu saja.

Atau masuk saja gak usah pake selop..? Nyeker, gitu ? hihihi.., ntar dibilang terlalu tradisional, sampai-sampai ga pakai alas kaki..

Nah.., untung aku lihat mobil seorang kawan, sudah parkir beberapa jarak dariku, segera aku hubungi dia..

“Hai, Bu.., sudah di dalam ya..” sapaku melalui handphone.

Dia jawab, “Sudah, ini baru ngemil snack.. sudah nyampe belum.., masuk gih..cepetan aku tunggu..”

“Bu, dikau saja yang keluar, aku parkir dekat pintu masuk gedung, sebelah buku tamu..” pintaku.

“Piye to.., kenapa minta dijemput segala..mbok sini segera masuk.., tuh teman-teman lain juga sudah banyak yang datang …”

“Bu.., darurat, tolong ke sini sebentar…”

Mendengar kata darurat, kawanku segera mendapatiku di parkiran, “Ngopo to Bu.., kok pake darurat segala..”

“Sini..tak bilangi..” dan setelah kawanku mendekat, aku bilang, “Selopku kayaknya ketinggalan sebelah.., yang kanan gak ada. Jadi, ibu duduk di mobilku sebentar, nyalain Ac-nya, aku pinjam selopmu, tak masuk, nyemplungin sumbangan trus salaman tok, aku cepetan deh…” rayuku.

Setelah agak bimbang sebentar.., “Lah..dirimu ki ada-ada saja..selop ki ya ke mana gitu, kok cuma sebelah..Ya sudah, sana masuk, sebentar aja lho ya..”

Kawanku masuk mobilku, aku pakai selopnya. Sebelum masuk gedung, aku peringatkan kawanku, “Bu, jangan lupa telpon Bapak, di dalam kan..? Mbokan nyari..he..he..”

Setelah nulis buku tamu, masukin sumbangan, dapat suvenir.., aku jalan cepat menuju pelaminan, salaman, foto sebentar, klik..dah..turun lagi, lari ke parkiran…

“Nggak lama kan..” tanyaku.

“Enggak sih.., lha tapi trus gimana, dirimu gak makan-makan dulu, gak ngobrol-ngobrol dulu..?” balas temanku lagi.

“Nggak lah..lha gimana lagi.., nggak ada selop, he..he..aku pulang ya Bu, salam buat teman-teman..makasih banyak lho..,” kawanku kembali masuk gedung, aku jalan pulang.

Sambil mengemudi, aku mikir-mikir.., di mana gerangan selopku yang sebelah kanan..

Sampai di rumah, masuk carport.., he..he.., ternyata selopku yang sebelah kanan ketinggalan di lantai carport…

Karena apaaaaa..? Kenapa bisa demikiannnn? Karena aku punya kebiasaan “ndeso”, yaitu lepas alas kaki ketika nyopir..Jadi, tadi pas lepas selop sebelah kanan, serasa…, kaki kanan sudah masuk mobil..padahal masih napak lantai..

Wuahh..besok-besok sedia selop cadangan di mobil deh..

 

Kisah Kedua

Ini juga masalah kondangan, kali ini keluar kota, dan kondangan tempat saudara pula… Karena agak jauh dan ada beberapa kerabat yang akan ikut serta kondangan, jadilah kami menyewa mobil yang muat sekitar 8 orang, plus sopirnya..

Karena perjalanan makan waktu kira-kira 1.5 jam, maka kami dari rumah masih memakai pakaian santai. Dan di sebuah rumah makan dekat tempat tujuan kondangan, kami berhenti sejenak, di toilet, berganti kostum kondangan, dandan-dandan, poles-poles.., karena anak-anakku masih kecil-kecil, maka bebanku pun nambah, gantiin baju mereka, bla-bla-bla…

Selesai dandan, melajulah kami menuju sasaran. Yaa.., tuh gedungnya dah di depan mata. Wuahh.., gede banget nih gedung.., model pendopo terbuka gitu..

Sesampainya di parkiran, si Pengemudi bilang, “Bu, saya mohon ijin ke tempat saudara sebentar boleh kan.., sementara Panjenengan kondangan.., deket kok.., nanti jam berapa saya sudah ada di sini?” gitu katanya bertubi-tubi..

“Ya, boleh saja. Jangan kesorean ya Pak Mudi, jam 2an sudah harus kemari..mbokan anak-anak capek..,” kataku.

“Injih Bu, maturnuwun lho.., terimakasih banyak..” kata pak Mudi. Segera pak Mudi melaju dengan mobil sewaan yang dia kemudikan menuju rumah kerabatnya.

Pelan-pelan, berjalanlah rombongan kami menuju pendopo. Belum juga masuk arena, sudah ketemu banyak saudara lain yang berdatangan dari beberapa kota. Bisa bayangin kan, lama gak jumpa.., rame deh..

Akhirnya rombongan kami bukan cuma 8 orang, nambah banyak dengan saudara-saudara lain..Aku milih paling belakang sajalah, anak-anakku pada jalan lambat, tengok kiri, tengok kanan..liat ini, itu, pegang ini, itu, disapa sana sini..

Sampai di pendopo, suasana masih agak lengang, tiba-tiba anakku yang kecil lepas dari gandengan tanganku, dan siap-siap melarikan diri.. Anakku ini memang jago ngilang, di supermarket, di pameran, di kondangan, bahkan di rumah, sukanya ngumpet, duduk, diam, sambil nggambar, meski dipanggil sampai serak juga gak akan nyaut kalau sudah asyik sendiri…

Khawatir sampai dia ngilang, segera aku kejar tangkap tangannya. Wuihh.., entah gimana kok aku kepleset.., dan reflek, bagai pendaki gunung yang bertahan di tanjakan tanah basah yang licin, aku mencengkeramkan kaki supaya nggak jatuh..”ciiittt..”

Hah..? Kok bunyinya “ciiittt..?” Jangan-jangan.., aku segera melihat ke bawah.., aduhhh, bener deh.., ternyata aku belum ganti selop buat kondangan..aku masih pakai sepatu kets..Halah.., wes ayu-ayu pakai kostum kondangan kok ya lupa ganti selop…nangsib..nangsib.. Ya sudahlah, gimana lagi.., selop di mobil yang dibawa pak Mudi. Tabahkan hati deh…

Sudah gitu, salaman sama pengantin, karena saudara sendiri, lama gak ketemu, si pengantin perempuan minta dicium..Hualah.., tahu gak kemalangan selanjutnya yang terjadi?

Kacamataku nyangkut di rambut pengantin perempuan..Bisa bayangin nggak..? Gemrobyos, aku buka kacamata dari mukaku, pelan-pelan.., tapi masih nyantel di rambut sang pengantin.. Entek atiku, aduhh..gimana kalo dandananan pengantin jadi rusak..

Untung Periasnya sigap, segera beliau menghampiri, dan entah gimana, kacamata yang tersangkut itu, terbebas dari rambut pengantin…, lega aku ngliatnya…

Wuihh, kondangan kok sport jantung mlulu nih…

Tibalah duduk-duduk santai bersama banyak saudara, kontan aja mereka mencandai daku..”Lha wong ya wes dadi Ibu-Ibu, kok yo nganggone esih sepatu kets..mending to nek sepatu ketsnya ki apik.., lha wong wes butut gitu lho..”

He-he.., aku diem aja deh, terima jadi bahan candaan.., semakin lama malah semakin meriah nih, obrolan.. Bertemu banyak saudara yang lama tak jumpa, telah mengobati sport jantungku tadi..

Sambil ngemil makanan kecil, aku tatap ujung sepatu ketsku..ya, kets ini sudah butut, kumel, kayak kolohan kethek (kayak bekas diisep-isep monyet, gitu..), tapi kalau aku nggak pakai sepatu ginian, mana bisa bergerak cepat, lari sana sini, nangkep-nangkep salah satu anakku yang suka ngilang itu..he..he…

Halah, mbuhlah.., mung arep nggaya we kok angel.., cuma mau tampil cantik aja kok susah.., kayaknya nggak punya bakat tampil bergaya dehh…

Kesimpulannya, perlu persiapan lebih akurat untuk hadir kondangan selanjutnya…

 

Salam kondangan..

Virginia

Dian Nugraheni

(Sebuah Kenangan Masa Lalu…)

 

21 Comments to "[Serial Masa Terus Berganti] Kondangan"

  1. anoew  12 June, 2011 at 11:45

    Komen dari Kornelya malah bisa menginspirasi pembaca.. Aku gk ikut-ikut lah..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.