Kicau Kacau Yang Benar-benar Mengacaukan

Odi Shalahuddin

 

4 Maret 2011, ketika saya tengah berada di kota kecil, kakak sepupu saya men-tag foto cover buku ke wall FB. Buku karya adik lelakinya. Sontak saya tertarik, menyatakan minat untuk mendapatkannya. “Cari di Gramedia, pasti sudah ada,” katanya.

Sepulang dari kota kecil yang disusul kepergian ke berbagai kota lainnya, membuat saya melupakan untuk segera mencari buku tersebut. Diingatkan kembali ketika buku tersebut dibahas di TVone. Tapi belum menggerakkan untuk ke toko buku.

Sampai akhirnya, sepulang dari Ambon, kemarin (28/4) saya menyempatkan mampir ke rumah Ibu di Bogor, kulihat buku tersebut tergeletak di meja. Segera saja jadi teringat kembali akan janji yang belum terlunasi.

Tanpa banyak menunda, lembaran demi lembaran buku segera terbuka dengan cepat. Ah, menarik sekali buku ini, menurutku. Setidaknya aku merasa tulisan-tulisan yang hadir sesuai dengan apa yang sering kukatakan untuk mendorong kawan-kawan untuk menyisihkan waktunya untuk menulis. Menulis apa saja. Peristiwa-peristiwa sehari-hari sangatlah kaya untuk menjadi bahan tulisan. Peristiwa pasti bermakna bila dimaknakan. Nah, perasaan itulah yang kental ketika membaca buku: Kicau Kacau, Curahan Hati Penulis Galau, karya Indra Herlambang.

Lantaran tidak selesai membacanya, maka saya minta ijin kepada Ibu agar bisa meminjamnya. Jadilah buku tersebut menjadi kawan dalam perjalanan dengan Damri dari Bogor menuju bandara Soeta, mengisi kejengkelan lantaran pesawat delay, dan perjalanan Jakarta-Yogya. Kukira baru kali ini perjalanan tidak aku lalui dengan tidur.

Buku setebal 332 halaman , terbitan PT Gramedia Pustaka Utama yang berisi kumpulan 50 buah tulisan yang pernah termuat di Free Magazine, U Magazine, dan ME Asia, pada periode 2007-2010, memang benar-benar terasa bagaikan kicauan. Kicauan-kicauan ini terbagi ke dalam empat bab, yaitu Bab I: Kicauan tentang Gaya Hidup, Hidup Gaya dan Hidup Gak ya? Bab II: Kicauan tentang single, in relationship, atau it’s complicated. Bab III: tentang Jakarta, Indonesia dan Kesehatan Jiwa, dan bab IV: Kicauan tentang Keluarga. Pada dua bulan pertama, buku ini sudah dicetak ulang dua kali.

Melalui tulisan-tulisannya, Indra benar-benar telah berhasil mengacaukan pikiran kita dengan kicau kacaunya. Ia berkicau tentang persoalan sehari-hari yang sering kita pandang sebagai hal yang remeh temeh menjadi sebuah persoalan yang serius. Cobalah baca misalnya pada “DNTR PLNG HBT”, “Pembungkus Masa Depan”, “Bunga Pernikahan”, dan keseluruhan tulisan pada bagian IV.  Sebaliknya pula, ia mampu membawa kita untuk memandang persoalan yang serius menjadi seakan-akan persoalan yang sangat remeh-temeh atau bisa disikapi dengan bercanda. Lihatlah tulisan-tulisan yang paling menonjol tentang ini pada bagian III.

Melalui gaya bertutur yang sangat subyektif mensikapi suatu fakta, terbalut dengan imajinasi liarnya, Indra berhasil menampilkan persoalan keseharian menjadi bermakna. Ia berkicau dengan sangat bebasnya, termasuk memasuki wilayah-wilayah tabu dan menjadi manusia merdeka yang sempurna, artinya menampilkan dirinya secara utuh dengan keberagaman sisi manusia.  Ia tidak segan-segan mengejek dirinya sendiri, menampilkan apa adanya perasaan yang dirasa, dan tidak sungkan untuk menyampaikan pandangannya atas suatu peristiwa dengan pernyataan-pernyataan ataupun pertanyaan-pertanyaan cerdas yang kerapkali mengejutkan dan membuat pikiran-pikiran kita bisa ikut terkacaukan.

Pada DNTR PLNG HBT, ia menulis tentang sms yang masuk dari pengurus osis dari SMA di mana ia pernah berada di dalamnya untuk meminta kesediaan sebagai donator untuk acara yang akan dibuat mereka. “Tp udah H-12 hri, kita msh kurang 500jt”, demikian penggalan dari sms tersebut. Ia menyoroti tentang perubahan jaman. Dikatakan oleh Indra: “Sekarang zaman berubah, Bung. Anak OSIS masa kini harus sudah terbiasa mengatur uang ratusan juta rupiah (mungkin ada gunanya ketika mereka sudah jadi  pejabat tinggi nanti) dan membuat acara akbar yang sama sekali tidak ecek-ecek. (hal. 23)

Mengingat Lupa, yang menceritakan tentang pengalaman seorang kawannya yang merekam video tentang proses kelahiran anaknya, ada pernyataan menarik yang membuat saya tercenung: “Saya sih cukup yakin bahwa manusia dibikin untuk bisa lupa demi kebaikan kita sendiri. Karena ada banyak hal yang lebih baik dilupakan supaya kita bisa tetap waras. Lupa menurut saya, adalah anugrah terbesar dari Sang Maha. Bayangin kalau kita bisa dan selalu ingat semua hal? Apa nggak ribet hidup kita?” (hal. 37)

Lalu pada “Hanya Soal Kimia”, kalimat pembukanya menarik hati. ”Dalam beberapa kepercayaan, 13 dianggap sebagai angka sial. Tapi untuk urusan percintaan, angka tiga-lah yang lebih menakutkan. Anda bisa lihat buktinya saat menonton infotainment. Akhir-akhir ini sepertinya semakin banyak saja pasangan selebriti yang berpisah karena kehadiran orang ketiga.”

Wah, mengutip bagian-bagian dari tulisan yang ada, saya kira malah bisa kehilangan nafas roh dari tulisan tersebut. Sebaiknya anda segera saja cari bukunya dan segera baca. Saya jamin mata anda tidak akan berhenti sampai kata-kata berakhir. Keyakinan saya pula, ada banyak hal yang bisa kita petik dari buku ini.

Indra Herlambang, sebagai salah seorang selebritis yang dikenal sebagai salah seorang presenter, turut bermain dalam beberapa sinetron dan film, serta pernah membuat skenario film bersama Djenar Mahesa Ayu yang berhasil memperoleh piala citra untuk Skenario Cerita Adaptasi Terbaik di FFI 2009,  telah menunjukkan diri sebagai sosok selebriti yang memiliki kepekaan terhadap peristiwa-peristiwa yang hadir di sekitarnya, yang mungkin kita pandang remeh, menjadi sesuatu yang bermakna dan layak direnungkan. Ia menampilkan dengan renyah, penuh canda, dan pandangan yang kritis dan cerdas, sehingga tanpa sadar kita terhanyutkan dengan kicauan-kicauan kacaunya, yang sungguh akan mengacaukan pikiran kita. Selanjutnya, kita tunggu buku-buku berikutnya dari Indra Herlambang.

 

20 Comments to "Kicau Kacau Yang Benar-benar Mengacaukan"

  1. Odi Shalahuddin  19 June, 2011 at 10:13

    Pak Bagong, lupa manusiawi, niat juga manusiawi, niat melupa, nah, apa ya…
    ha.ha.h.a.ha.ha

  2. bagong julianto  17 June, 2011 at 08:01

    Coba nanti kalau ke Palembang, ngintip Kicau Kacau ini…. tapi mesti diniati untuk tidak lupa……

    Lho, bisa berniat lupa ya?!

    Suwunnnn

  3. Odi Shalahuddin  14 June, 2011 at 19:52

    Ha.h.a.ha.h.ah.ah.a
    Bung Gebe di sini pula rupanya…
    Selamat malam, ya, anggap saja anugrah

    tapi bener juga kata Mbak Lani bisa rugi kalau para pnghutang kita pada alasan lupa… hah.ah.a.ha.h.a

    Ayo, diajakin aja Mbak Lani…. Dugem bareng begitu…. qiqiqiqiqiqi

  4. Dewi Aichi  14 June, 2011 at 08:49

    I love Indra Herlambang, kocak tapi smart, seleb tapi ngga murahan, si Mr Bego nih ha ha..mimpiku untuk bisa dugem bersamanya..

  5. Dewi Aichi  14 June, 2011 at 08:44

    Woooo..lupa itu anugerah to? Bencana buat aku, sik do utang aku ra do mbayar ki…

  6. Gebe  14 June, 2011 at 08:21

    wah gebe orang yang pelupa………….. jadi harusnya lebih banyak beryukur
    terima kasih tulisan nya om ODy

    salam

  7. Odi Shalahuddin  14 June, 2011 at 07:46

    Mbak Atite: He.h.e.he.h.e.he. lupa bisa membuat pemakluman sekaligus mengamankan diri.. qiqiqiqiqiqi

    Pak JC: Tapi, kalau para penguasa dan pengusaha yang telah melakukan pencideraan terhadap bangsa dan negara, lupa-nya kebangetan, nanti kalau kualat jadi lupa ingatan gimana ya….? Saya saja, soal uang 10,000 ketika lupa menjadi susah banget mengingatnya untuk beli rokok. Tapi lebih dari itu, pastilah tak lupa.. Apalagi kalau uangnya bermilyar rupiah, pasti juga tak terlupa asalnya dari mana dan terbagi kemana saja.. Ha.h.ah.a.ha.ha

  8. Odi Shalahuddin  14 June, 2011 at 07:43

    Tak mengapa kok Mbak Lani… he.he.h.e.he.
    selamat pagi waktu Indonesia, sehat dan semangat selalu

  9. J C  13 June, 2011 at 08:43

    Wow…anugerah terbesar adalah kemampuan manusia untuk lupa…

    Berarti si Nazaruddin dan Nunun sungguh menikmati anugerah tsb…

  10. atite  12 June, 2011 at 09:55

    wah ‘lupa’ anugerah terbesar… syukurlah sy pelupa…
    cari… cari…!

    salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.