Langit dan Kita

Wesiati Setyaningsih

 

Langit membiru. Aku selalu berharap Tuhan bersinggasana di atas sana. Memandangiku sambil tersenyum. Menolongku saat aku kepayahan menjalankan skenarioNYA dan menepuk hangat punggungku saat aku berhasil menjalankan kehendakNYA dengan baik.

Kamu di sampingku. Menatapku menikmati angkasa yang indah seperti lukisan tanpa pola dan berubah dari detik ke detik.

“Kamu suka?” tanyamu dalam senyum.

Mungkin kamu melihat senyumku mengembang dengan kepala tengadah.

“Ya,” kataku tanpa menoleh.

Senyumku semakin lebar.

***

“Kemana kita saat kita mati?” tanyaku.

Menoleh padamu.

“Aku selalu berpikir rohku akan naik ke langit yang biru itu”

“Entahlah” gumammu.

“Biasanya kamu selalu tahu..”

“Hei..” jemarimu mengacak rambutku. ” Aku tak tau apa-apa. Semua orang punya pengetahuan dalam batinnya. Dan itu buat dirinya sendiri. Bukan untuk orang lain…”

“Oke, aku ganti pertanyaan. Menurutmu, kemana kita saat kita mati?”

“Tergantung apa yang kamu yakini,”

“Maksudmu?”

“Kalau kamu meyakini kamu akan masuk surga setelah mati, maka di sanalah kamu berada..”

“Dan sebaliknya?”

“Ya. dan sebaliknya…atau bahkan ketika kamu tak mempercayai apa-apa, maka kamu tak akan menemui apa-apa..”

“Begitu?”

“Ya. kamu tanya apa pendapatku kan? Ya itu pendapatku..”

***

Aku kembali menatap langit. Tiba-tiba awan yang tadi bergelung di sana sudah pergi. Yah, tak ada yang sama. Itulah kenapa aku suka sekali menatap langit saat aku sedih. Karena dengan melihat langit aku tau, tak akan ada yang lama. Juga kesedihanku. Seperti awan yang selalu berubah-ubah, hidupku juga akan segera berubah. Kesedihanku akan segera pergi.

“Dan menurutmu, apa yang akan kamu temui ketika kamu mati?” gumamku.

“Orang-orang yang aku cintai..”

“Ah…begitu?” Aku tertawa kecil. Senang.

“Ya… menurutku orang-orang yang mencintaiku dan sudah meninggal lebih dulu, akan menjemputku, ” kamu tersenyum.

“Lalu?”

“Aku akan berada di suatu tempat yang tak ada rasa sedih. Tak ada lagi rasa sakit. Tak ada rasa kuatir. Tak ada rasa iri. Tak ada semua rasa yang membuatku tak nyaman. Semua rasa adalah bahagia..”

“Well, sounds like heaven…”

“Yah… memang. heheh…” sekarang kamu tertawa.

Aku selalu suka mendengar tawamu.

Kutatap matamu. Cerah. Aku selalu merasa berada di danau yang sejuk saat menatap matamu.

“Kalau kamu mati lebih dulu, apakah kamu akan menjemput aku saat aku mati kemudian?”

Kita bertatapan. Lama. Dalam. Senyummu masih ada. Matamu tetap cemerlang. Jemarimu menjalin diri dalam jemariku.

“Aku akan menjemputmu dan melangkah kembali ke surga. Tempat aku sebelumnya berada. Menunggumu..”

Senyummu begitu hangat.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

12 Comments to "Langit dan Kita"

  1. kembangnanas  15 June, 2011 at 08:18

    saya juga suka langit biru…

  2. J C  13 June, 2011 at 08:42

    Kamu, aku, kita, kami…wis pokok’e semua lah…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *