Coffee Stories (5): Luwaaakkk…where are you??

Anastasia Yuliantari

 

“Goedemorgen mevrouw Juragan Koffie… Wouwww hebaat dan uletnya anda, maksud saya anda berdua dalam menangani dunia perkopian… Saluut.
Mbak Anastasia sang Juragan Koffie, Saya baru tahu kalau koffie paling baik rasa awalnya asam..Sudah gitu harga bibitnya Per Biji Rp 250.00,-? Teruuuusss, berapa lama jangka waktu tanam sampai berbuah dan bisa dinikmati produk akhirnya… De Arabica- Koffie… Maksud saya, De Arabica-Manggarai Koffie.. Teruuusss, berapa banyak berkeliaran, musang si pemakan kopi di kebun anda…” (Komentar Mbakyu Nunuk Pulandari di baltyra.com)

Aku malah deleg-deleg alias tertegun-tegun setelah baca komentar Mbakyu nan jauh di Holland ini. Lha, saat itu masih dini hari di Ruteng. Max masih enak-enak meringkuk diselimuti bedcover rangkap dua karena semakin hari udara semakin dingin saja di tempat ini. Sementara pengetahuanku hampir tak ada untuk menjawab pertanyaan itu secara baik dan benar karena selama ini kebanyakan aktivitasku yang berhubungan dengan kebun hanya sebatas foto-foto dan terima uang setelah menjual hasilnya.

Kalau pun mengambil sumber dari buku tentang budidaya tanaman itu, aku pikir Mbakyu Nunuk dan lainnya juga bisa membaca sendiri, itu artinya aku seperti mengkhianati tanggapan beliau yang ingin tahu pengalaman para petani kopi di sini, yang bisa jadi berbeda dengan segala macam teori dari dalam buku-buku itu.

Lalu serasa berkebaya encim dengan kain sarung bertumpal warna menyala mirip Lola Amaria dalam film Ca Bau Kan, mungkin juga seperti itulah para mevrouw dalam buku Max Havelaar karya Multatuli yang menurut Pak Handoko Widagdo terasa sekali sense-nya dalam komentar di atas, aku mulai membuat secangkir kopi coklat untuk membangunkan si narasumber. Setengah memejamkan mata dia mulai menjelaskan padaku tentang penanaman kopi sejak dari semaian.

“Berapa lama biji kopi disemai?” Tanyaku sambil menggoyang-goyang bahunya agar dia benar-benar terjaga. “Dua bulan.” Jawabnya singkat sambil meloloskan kuap. Lama sekali? “Sudah berapa kali kamu katakan itu?” Ujarnya. Penyemaian bibit kopi memang dilakukan selama 2 bulan sampai tumbuh akar dan menyembulkan daunnya. Dulu setiap kali pergi ke tempat bedengan aku memang selalu meributkan belum munculnya tunas. Jangan-jangan memang tak akan tumbuh, nih. Tapi Max tenang-tenang saja dan selama menunggu ia mempersiapkan koker (polybag atau seed bag) untuk tempat penanaman selanjutnya. Setelah cukup besar dengan 4 daun itulah tanaman dipindah ke polybag sampai dapat ditanam dalam lubang-lubang di kebun.

“Setelah umur berapa tanaman dipindahkan ke lahan, ya?” Memang butuh waktu cukup lama untuk memindahkan tanaman kopi ke kebun, setahun sampai satu tahun setengah bagi kopi Arabica. Jadi total jendral dari pemindahan tanaman ke kebun sampai berbuah adalah dua setengah sampai tiga tahun. Itu pun dengan catatan, tanaman dirawat dan dibersihkan (istilah untuk dipangkas) secara benar dan teratur.

Waktu ini menjadi tak relevan lagi bila menyangkut penanaman kopi Robusta, karena biasanya petani mencabut saja belak (anakan kopi yang tumbuh di kebun karena biji yang cukup tua jatuh saat dipanen) dan menanamnya tanpa memperhatikan berapa umur tanamannya, juga tak perlu membuat lubang tanam dulu dengan persiapan selama beberapa bulan sebelumnya, langsung ditanam. Dan selama ini baik-baik saja tanpa ada gangguan berarti.

Dalam teorinya, sebelum ditanam, kopi muda itu membutuhkan tanaman pelindung. Para petani menggunakan pohon dadap, gamal, atau lamtoro. Setelah itu baru dipersiapkan lubang berdiameter sekitar 30 cm dengan jarak antara lubang sekitar 4 meter. Jika lahan yang kita miliki tidak begitu luas bisa dibuat jaraknya sekitar 3 meter. Selama ini tak pernah dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk buatan, semuanya hanya menggunakan pupuk kotoran hewan dan humus dari daun-daunan di kebun yang membusuk dengan sendirinya.

Jadi kopi kami tanpa perlu diiklankan sejak puluhan tahun lalu memang organic. Apalagi tanah di kampung Bapa masih sangat subur sehingga setiap tanaman tak perlu sering-sering dipupuk, paling-paling hanya dibersihkan setiap kalinya. Dan banyak dari tanaman kopi itu yang belum diremajakan sejak Max masih duduk di bangku sekolah menengah. Tapi sekali lagi ini hanya berlaku bagi kopi Robusta yang telah mengurat dan mengakar di tanah Manggarai. Sementara kopi Arabica yang sedang kami tanam lebih intensif pemupukannya walau tetap pakai pupuk kandang dan daun-daunan saja. “Rasanya aneh memupuk kopi pakai pupuk buatan.” Itu komentar Bapa mertua. Selain harganya mahal, biasanya hanya padi dan palawija saja yang menggunakannya.

Setelah kopi berbuah, bukan berarti pekerjaan telah selesai, pemrosesan menjadi biji kopi masih membutuhkan beberapa minggu karena tak setiap orang punya mesin pengupas biji kopi, belum lagi penjemuran dan pembersihan kopi dari kotoran selama penjemuran dan penumbukan. Bapa dan Mama mertua pernah bercerita, suatu saat dulu, ketika tanaman kopi mereka sedang dalam masa puncak produksinya, mereka bisa menumbuk biji-biji itu semalaman untuk mengupas kulitnya selama berhari-hari sampai semua buah selesai dipetik. Sungguh kerja keras dan keuletan yang patut dikagumi dan hargai.

Pertanyaan lain yang berputar dalam otak saya adalah apa memang ada luwak di Manggarai? Perasaan selama tinggal di sini tak sekali pun suami atau mertua menghadirkan topik pembicaraan tentang kopi yang diganyang luwak. Kalau luwak seberat 70 kilogram dengan menyandang karung dan bersenjata senter memang sering merangsek di malam buta. Terutama kalau musim kopi sedang tengah-tengahnya.

Jawaban Max pun ternyata sungguh tak pasti. “Memang dahulu ada, namanya kula tapi sekarang kayaknya sudah tak terlihat lagi.” Barangkali karena orang Manggarai adalah pemburu segala hewan sehingga kula sudah lenyap dari tempat ini? Sambil menyeruput kopinya dia angkat bahu, “Bisa jadi.” Wah, jadi tak mungkin, dong memproduksi kopi nomor satu dan termahal di dunia sampai-sampai Oprah  Show yang sangat terkenal itu pun pernah membicarakannya.

Komentar Pak Handoko dalam tulisan sebelumnya memberi ide. “Ke Jember membawa pulang luwak?”

Why not? Kalau memang ada tempat budidaya luwak alangkah senangnya.

Heyyy Luwak….here I come!!”

 

30 Comments to "Coffee Stories (5): Luwaaakkk…where are you??"

  1. Kornelya  14 June, 2011 at 20:45

    Tak ada luwak kelalawarpun jadi. Pemilik kebun kopi lagi kemana ya?.

  2. nevergiveupyo  14 June, 2011 at 11:38

    luwak yang paling ganteng-nya lagi berburu di hutan sumatera sana…
    xixixixixi

  3. Lani  13 June, 2011 at 22:12

    DA gimana gak tau?????? ada pengalaman ktk camping, tetangga camping anjingnya disemprot LUWAK…….naaaaaah baunya ampyuuuuuuuuun sampai kemana-mana, mrk siram pakai tomato sauce……..aku yg liat ngekel sampai kejungkel………anjingnya dimandiin………yg punya anjing ngomel2……..gak abis2nya………tp luwak di Amerika mkg tampilannya lbh cantik bulunya panjang, hitam dan putih……..katanya ada yg dipelihara setelah dioperasi dan diambil bagian yg buat nyemprot bau itu…………dan bs jinak spt binatang rumahan…………pie apa mau coba di disemprot LUWAK??????? pesan sama AY satu………tp jgn luwak sing doyan kemulan yoooooooooo…………….sudrunku kumat iki…….

  4. Dewi Aichi  13 June, 2011 at 22:06

    Kemekelen…..Lani, kowe segitu perhatiannya sama luwak, nyemprot aja sampai tau wkwkwkwkw…..kenthir gawan bayi

  5. Lani  13 June, 2011 at 22:01

    AY………LUWAK…………LUWAAAAAAAAAK……….dimanakah dikau? apakah siluwak malah jik kemulan???? hahaha……..luwak-e rak doyan kopi………..tp doyan yg dikemuli???????? wakakakaka………jian kumat ………kumat…….setauku luwak itu bulunya kecoklatan? lain dgn luwak yg di Amrik……..tp klu baunya mah sama klu pas nyemprotttttttt

  6. Dewi Aichi  13 June, 2011 at 21:49

    Ayla….mana foto luwak ya yang ganteng itu…..?

  7. atite  13 June, 2011 at 18:12

    huahaha3x… komen no.13, mas Handoko jgn buka kartu resep budidaya kopi ter-enak gitu dong…
    makasih infonya mbak Ana…salam.

  8. Handoko Widagdo  13 June, 2011 at 17:49

    Ayla, jika tidak dapat luwak, produksi sendiri dengan cara melalu saluran pencernakan sendiri…bisa kok

  9. Sumonggo  13 June, 2011 at 16:15

    Keterangan foto 1: Barang bukti dan tersangka (inzet)
    Kok bisa ya orang pada demen yang prongkol-prongkol ……

  10. Linda Cheang  13 June, 2011 at 15:28

    impor ajah luwaknya dari Jawa….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.