Riri Riza & Mimpi Tentang Rumah Budaya

Ana Mustamin

 

(Catatan menyongsong perhelatan “Makassar International Writers Festival 2011”)

PERNAH merasa terasing di kampung halaman sendiri? Riri Riza pernah. “Saya ke Makassar, dan saya merasa gak punya siapa-siapa di sana, kecuali beberapa orang keluarga. Tapi teman-teman gak punya, tidak ada yang saya kenal. Rasanya benar-benar asing, Kak Ana.”

Mungkin agak sulit dipercaya bahwa pengakuan itu terlontar dari mulut seorang Riri Riza. Di jagad perfilman Indonesia saat ini, siapa yang tidak mengenal namanya? Riri yang bernama lengkap Mohammad Rivai Riza ini adalah satu dari sedikit sutradara film Indonesia terbaik saat ini. Sederet film besutannya – yang umumnya digarap berkolaborasi dengan sahabatnya Mira Lesmana, tidak hanya dikenal sebagai film-film box office, tapi juga dengan kualitas yang mengundang decak. Tak syak, Riri adalah tokoh. Dan sebagai tokoh, ia tentu dikelilingi pengagum tersendiri.

Ana – Khrisna – Riri

Tapi itu di luar. Di depan saya malam itu, di seberang meja bundar kecil di sebuah kafe di Pondok Indah Mall, saya memergoki Riri sebagai putra daerah Makassar yang begitu merindui tanah kelahirannya sendiri. Matanya berbinar ketika bercerita tentang mimpinya membangun Makassar.

Makassar dengan huruf M besar di depannya – seperti yang ditulis dalam banyak buku sejarah dunia sebelumnya. Belakangan ini, Makassar identik dengan kekerasan – anak muda yang akrab dengan tawuran. Padahal Makassar punya sejarah kejayaan di masa lalu. Punya segudang orang-orang muda yang memiliki pencapaian luar biasa. “Saya menyimpan mimpi ini sejak tahun 2000-an,” kata Riri, lirih. “Saya ingin melakukan sesuatu untuk Makassar, untuk anak-anak muda Makassar! Minaml saya punya tempat yang dituju ketika pulang ke Makassar!” sambungnya.

Beruntung, Riri yang lahir di Makassar pada 2 Oktober, 40 tahun silam ini, bertemu dengan Lily Yulianti Farid – cerpenis asal Makassar yang kini bermukim di Melbourne. Dua orang ini seperti  botol ketemu tutupnya. Punya idealisme dan visi yang sama. Punya antusiasme dan ‘kegilaan’ yang sama. “Ya, Lily itu gila,” senyum Riri melebar tentang partnernya yang dikenalnya saat peluncuran kumpulan cerpen Lily di TIM, beberapa tahun silam. “Saya kadang-kadang merasa belum siap, dia sudah datang dengan gagasan yang membuat geleng-geleng kepala. Pokoknya jalan dulu.”

Sinergi dua kepala yang terus ‘berasap’ inilah yang melahirkan “Rumata’ Artspace”. Rumata’ yang dalam bahasa Makassar berarti “rumah kita”, merupakan tempat untuk mewadahi berbagai inisiatif komunitas seni di Makassar. Tak tanggung-tanggung, rumah masa kecil Riri di bilangan Gunung Sari Baru, Makassar, dibongkar dan direnovasi.

Riri & Pembangunan Rumata

Di atas tanah seluas 900m2 itu nanti akan berdiri semacam teater arena dengan kapasitas 200 penonton, galeri, dan kantor utama Rumata’. “Saya sangat berharap pembangunan tahap pertama bisa rampung sebelum Makassar International Writers Festival 2011 digelar,” harap Riri sembari memperlihatkan ke saya rancang bangun Rumata’ di lapotopnya.

Rumata’, dalam impian Riri, akan menjadi semacam rumah budaya tempat mengembangkan seniman lokal. Juga menjadi pintu untuk membuka minat masyarakat Makassar terhadap kegiatan seni sekaligus mendorong penciptaan pasar bagi kegiatan kesenian yang lebih luas.

Tentu juga akan menjadi penggerak kegiatan literasi dan kebudayaan secara umum. “Di beberapa negara, kantong-kantong budaya tidak harus di sebuah gedung mewah di pusat kota. Bahkan banyak di rumah-rumah kecil,” papar Riri – yang tentu saja saya amini. “Di Jakarta, atau Jogja dan Bali, rumah budaya banyak dijumpai. Tapi di Makassar tidak,” timpal saya.

Baik Riri maupun Lily – yang berbincang dengan saya tentang rencana pembangunan rumah budaya ini sejak setahun silam, sangat berharap Rumata’ kelak menjelma menjadi pusat seni dan budaya melalui berbagai kegiatan profesional dan berkesinambungan. Tentu, dengan menciptakan iklim berkesenian yang sehat, dinamis, hangat, akrab, egaliter dan terbuka.

Rumah Masa Kecil

Sayang, di luar malam makin larut. Sebentar lagi kafe ini tutup. Khrisna Pabhicara – penulis asal Makassar yang saya ajak bergabung dengan Riri malam itu, pun mulai meracau tentang sop konro dan coto makassar. Perut saya mendadak lapar. Saya masih ingin mendengar cerita Riri sebetulnya – terutama tentang rencananya menggarap karya sastra “Bumi Manusia” dari penulis besar Pramudya Ananta Toer yang akan diterjemahkannya ke layar sinema. Tapi kami harus beranjak dari tempat itu.

Di perjalanan pulang, diam-diam saya berharap akan banyak orang-orang Makassar yang sukses di perantauan, mengalami alienasi ketika pulang kampung. Mungkin dengan begitu, akan banyak yang pulang melahirkan gagasan-gagasan besar tentang pembangunan masyarakat kampung halaman saya itu.

Oya, informasi tentang Rumata’ ArtSpace selengkapnya bisa diakses melalui situ http://rumata-artspace.org/. Jangan lupa pula, gelaran Rumata’ pada 13-17 Juni 2011: Makassar International Writers Festival 2011. Ayo rame-rame ke Makassar. Mari dukung gagasan Riri dan Lily!!!***

 

Jakarta, 09062011

 

25 Comments to "Riri Riza & Mimpi Tentang Rumah Budaya"

  1. Sirpa  16 June, 2011 at 22:47

    @ Ana : cerita mimpinya ada berlanjut di Detik.com : http://us.detiknews.com/read/2011/06/16/222701/1662137/10/menikmati-hidangan-aroma-sastrawi-di-miwf-2011?9911022

  2. Djoko Paisan  15 June, 2011 at 00:18

    Dewi Aichi Says:
    June 14th, 2011 at 04:34

    Pak DJ sama Pak Sirpa ehem ehem..pada nostalgia yaaaaa

    Mbak DA…..
    Lha iyalaaaah…..
    Karena sama-sama kenal lokasi dimana kami dulu pernah ngacau….hahahahahahaha…..!!!

    Handoko Widagdo Says:
    June 14th, 2011 at 06:44

    Mohon yang masih muda tiarap dulu. Beri kesempatan kepada dua kakek untuk saling bercengkerama mengingat masa lalunya.

    Mas Handoko…..
    Hahahahahahahahahaha…..!!!
    Kapan lagi kan….

    ana mustamin Says:
    June 14th, 2011 at 19:56

    @djoko: wahhhh…jadi bernostalgia, mas. saya juga anak kolong… tapi gak pernah tinggal di cendrawasih…

    Ana…..
    O…anak kolong juga ya….
    Dmana dulunya….
    Jujur Dj. juga tidak di Jln.Cendrawasih, itu hanya tempat ngumpul dan pacaran….hahahahaha….!!!
    Dj. dulu di Maindai ( Lanud Hasanuddin = AURI ) atau Air Port.
    Bayangkan, mau tawurab saja, mesti dijemput dengan motor dan jalan 20 Km lebih….

    Salam Damai dari Mainz….

  3. Sirpa  15 June, 2011 at 00:01

    @ Mas Hand n Mbak Dewi Achi : Yihaaaa … salam Legiman aja ya ( * Legi tur Manis …. wkwkwk)

    Mbak DA : di Kalipornia mulai anget Mbak … ( lha Mbak-e dimana sekarang ? Masih di Amazone kah atau dah balik ke Kali Code ? )

  4. bagong julianto  14 June, 2011 at 23:28

    Selamat dan semoga sukses buat mBak Ana dan juga Bung Riri dkk.

  5. probo  14 June, 2011 at 21:20

    sukses buat MIWF 2011 dan Rumata-nya ya mbak….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.