Udara Mandi

Atite – Jakarta

 

Partikel udara dini hari masih terasa tipis dan ringkih. Sedap untuk dihirup. Horizon masih meringkuk pulas di balik selimut kabut. Satu lagi putaran yang mempertemukan bulan renta dengan bayi matahari. Manusia-manusia pagi satu per satu menggeliat,  selalu dimulai dari pinggir-pinggir kota, bergelombang, hingga ke pusat. Manusia-manusia di lingkar luar itu memang membutuhkan waktu dua kali lipat lebih banyak. Walau mereka yakin dengan sungguh-sungguh yakin bahwa dirinya pun adalah bagian dari kota, sebuah inti, ruang kosong yang di dalamnya tidak pernah benar-benar tidur…

Remang-remang

hening merayap

mengekori cicak

menyusup ke kolong

bersiaga atau menyeruak

Detik berhitung mundur

degup nan gentar

hampa memulih

menghampa

memulih

kerjap-kerjap mengelopak

menggali-gali di balik bantal

Siapa yang datang pertama?

Gelapkah? Terangkah?

Untungnya pagi masih gelap.

Pagi di pinggir kota ini selalu memiliki kelebihan yang tidak dipunyai oleh siapapun, adalah bahwa ia tidak pernah mengingat-ingat lagi apa-apa yang terjadi di waktu lalu. Ia hanya selalu menggantinya dengan royal lembaran baru, udara pagi yang mengetuk pintu-pintu, membagikan diri cuma-cuma, banyak orang masih terlalu lelah untuk menyambutnya, sejak alat pengkondisi udara telah dengan mudah dibeli dengan cicilan.

Sesuatu yang masih berkelimpahan biasanya memang mudah disia-sia, seperti pamflet yang disempilkan di balik wiper, seringkali orang membuang tanpa membaca pesannya. Lucunya, udara pagi yang baru itu  bukanlah sesuatu yang baru. Adalah atom-atom purba yang selalu berputar untuk kembali dihirup detik ini, adalah atom-atom argon yang sama yang  selama berabad-abad berkeliling bumi, keluar masuk dari satu lubang hidung ke lubang hidung yang lain, tidak ada yang tidak bekas yang lain, menyatukan dunia…Dan pagi adalah masih pak pos yang setia mengantarkan pesan-pesan…

Pagi masih terlalu pagi saat Te memutuskan untuk melakukan variasi pada acara mandinya. Sari pati lavender dari sore kemarin telah habis masa khasiatnya. Entah berapa kilo tetumbuhan terperah dan dibotolkan, mempersembahkan hanya esensi dirinya, benarkah ia masih bunga yang sama, seperti jiwa tanpa raganya? Lavender untuk relaksasi, rosemary untuk menghilangkan lelah, chamomile untuk tidur yang nyenyak, blablabla. Te sendiri sudah lupa sejak kapan ia membuat mandinya sedemikian rumit. Tubuh tidak menjadi tema di pagi ini.

Dengan sunyi Te naik ke atap. Di jam-jam ini suhu terendah terjadi. Dari atas sini Te memandang hamparan rumah-rumah kecil yang berbagi bentuk yang sama dengan sebelahnya, tetangga-bertetangga, hampir sepanjang mata memandang, tidak ada yang identik dengan dirinya. Sekawanan massa di atas lansekap yang seolah dibuat dalam waktu semalam. Beragam nama besar dibubuhi untuk membangun mitos dan tertera dalam brosur warna warni yang tersebar sepenjuru kota, membuat Te dan beramai-ramai orang hampir percaya, bahwa dirinya tinggal di sebuah legenda?

Perempuan itu berbalik ke belakang memandang ke arah bukit. Beberapa cluster rumah di sana terhenti pengerjaannya setelah hampir 80% selesai. Krisis datang, si developer angkat kaki meninggalkannya. Sebuah masa berganti. Rumah-rumah baru setengah jadi, kini menjadi kerajaan alang-alang. Jendela, pintu, kusen, dan segala yang berbau kayu telah lenyap terjarah sekelebat-sekelebat manusia, sebelum sempat rayap mencicipinya. Rumah-rumah tanpa sejarah, tanpa jejak penghuni, seolah diciptakan hanya untuk diabaikan… Aneh. Terkadang, di sana, Te dapat melihat keindahan yang tak banyak diketahui tetangga-tetangganya…

Biasanya sore hari, di hari-hari minggu dulu yang santai, dimana ia masih menikmati detik-detik berakhirnya sebuah liburan kecil. Sekedar sensasi kecil. Di dunianya yang kecil. Te baru-baru saja tiba di rumah barunya. Ia memandang bukit itu di sebuah sore. Rumah-rumah kecil yang penuh lubang, matahari sore memilih untuk bersemayam di sana. Alang-alang purba menyembul dari balik jendela-jendela, berbunga.

Angin menerbangkan benang sari – benang sarinya, di antara putik-putik yang menjulang menggapainya. Capung-capung berpatroli. Cat-cat kusam, tak cukup tua untuk berlumut. Genteng-genteng yang terlepas, cahaya mentari menerobos mengajaknya bermain petak-petak catur. Bayang-bayang membuat rumah-rumah itu kian bersinar kala menyambut gelap. Kemerahan. Sebelum akhirnya benar-benar ditinggalkan. Te hanya memandangnya dari kejauhan… Aneh. Kadang ia merasa rumah-rumah itu lebih berjiwa ketimbang rumah-rumah lain dengan penghuninya…

Di atas dag kecil di samping atap pelana, kedua betis itu sibuk menggenjot udara ke dalam kolam karet mini peninggalan masa kecilnya. Inilah yang dipikirkan Te sejak semalam. Menumpahkan seember air panas yang sudah dipersiapkan, sebuah selang mengalirkan air dari keran terdekat, ia merasa sedikit terhibur, mengingat keputusannya yang tepat saat bersikeras untuk menyimpan semua benda-benda kesayangan masa kecilnya (ibunya menyebutnya rongsokkan), dan memboyong serta saat ia dewasa dan sanggup menyicil rumah mungil ini. Mereka bilang ia terlalu muda untuk melakukannya. Namun sungguh keputusan yang sangat dewasa, untuk sebuah alasan yang kekanakkan…

Ibunya tak pernah mengerti, mengapa sulit membuat anak perempuan yang satu ini untuk melipat selimutnya sebelum berangkat kerja. Mengapa tas-tas, sepatu-sepatu dan baju-baju itu seperti gelandangan di luar tidak pernah kembali ke tempatnya? Demi Tuhan anak itu meninggalkan kamarnya selalu dengan komputer menyala! Dan Te tak kalah kecewa. Ia tak sanggup menembus apa yang dipikirkan ibunya, membereskan kamar seperti hidup dan mati saja.

Ia tidak mengerti, mengapa kamar tidurnya, satu-satunya skala pribadi yang dimilikinya di rumah itu, harus selalu mengikuti aturan yang bukan dari dirinya. Sebuah ruang ego yang harus disterilkan? Tak bisakah ia menentukan bahwa sepatu-sepatu itu tergeletak di sana sini karena memang  seharusnya mereka berada di situ? Sebuah karya instalasi orisinil miliknya?

Dan tak ada lagi yang bisa membendungnya untuk keluar, melihat rumah-rumahan mungil itu di sebuah mall suatu hari, dan memutuskan untuk memulai cicilan pertamanya. Namun sejak itu sebuah penjara tengah dibangunnya sendiri dari dalam. Ia pikir hal itu paling tidak dapat memecutnya untuk terus bekerja keras selama limabelas tahun ke depan. Sementara penjara yang dibangunnya kian tinggi, cicilan-cicilan, standar-standar, gaya hidup, pada saat yang sama Te juga berusaha menggali terowongan pembebasan dirinya, walau seperti sebuah pekerjaan sia-sia, menggali di tempat yang salah, muncul masih di penjara sebelah!

Ia tak menyesali maupun mensyukurinya. Semua tampak sempurna pada awalnya. Keinginan untuk mandiri, kedewasaan diawali dari cara ia mengatasi hal-hal sederhana (seperti cara mengatasi ketidakmampuan diri meletakkan sepatu-sepatu pada rak yang telah disediakan!). Ia rela menepi ke pinggir kota dengan ambisi untuk memulai segalanya dari awal. Beberapa teman mengagumi keputusannya. Sekalipun ia menangis-nangis di telepon, meminta ibunya untuk datang menemani seminggu pertama. Setiap orang toh harus memutuskan satu langkah kecilnya suatu hari.

Menghadap ke timur, separuh tubuhnya kini terendam. Piyamanya terserak di pinggir. Sayang belum banyak cahaya terkumpul untuk menjelaskan keindahan di atas bak karet bekas ini. Pucuk-pucuk rambutnya mulai mengempis basah. Angin dingin menerpa pipi dan pundaknya, hangat air merindingkan bulu-bulu kuduk, membuat gadis itu merasa menjadi mahkluk yang hidup di dua dunia. Kepadatan di dalam batok kepalanya, ingin ia kembali ke air. Dan dengan otak manusia yang tiga per empatnya air, bukankah seharusnya dunia ini menjadi semakin baik karena semua orang berotak ‘encer’?

Perlahan dengan penuh penghayatan Te mengenakan kaca mata renangnya. Semua yang direncanakan telah siap. Sepasang mas koki dari aquarium kecil yang dibawa serta, belingsatan ketika diajak menemani, akhirnya tercemplung juga di dekat  pusar. Gadis itu membenamkan kepalanya, sebuah selang membantunya bernafas. Ikan-ikan meliuk-liuk, berjelajah di antara selekuk-belekuk  tubuhnya, melintas di atas kacamatanya, sempat ia mendapati salah satu ikan yang berkulit tipis ini tengah memproduksi segaris sampah organik setebal benang wol (Te menyesal telah memberinya makan terlalu pagi!).

Dan gadis itu melayang dalam air, berat jenisnya bersaing dengan kotoran ikan yang melintas di atasnya. Sejenak ditinggalkannya alam yang tengah sibuk mempersiapkan pertunjukkan perdana. Barangkali bayi matahari terlalu menor dibedaki, mungkin berkali-kali harus dicek berapa lapis jubah keemasan yang harus dikenakannya…Sebelum tirai kelabu bergelung-gelung dibuka…Te tenggelam dalam planet batinnya…

Tepat tiga tahun sudah berlalu di rumah ini. Sebuah waktu yang singkat, hanya tiga putaran matahari buat planet bumi ber-jogging. Te mengingat malam sebelum pagi ini… Malam itu sudah sangat malam. Te terkapar di atas kasur. Hanya berbalut kemeja putih yang sama yang dipakai seharian tadi, kedua tungkainya bersandar di dinding, masih merasakan pedal-pedal gas, rem, dan kopling menempel di ujung-ujung kakinya. Aliran darah menderas ke kepala, memproduksi ketegangan-ketegangan baru. Pandangannya yang mengabur walau kedua mata terbuka lebar…

 

Kadang

malam menyurati

udara hampa

tuk kau hirup

paru paru kosong

agar hanya hening yang kau baca…

Keheningan

melingkar-lingkar

bertumbukkan

mencipta dentum sunyi !

senyap…

Saatnya

malam semakin malam

semakin terang gelapnya

jendela di atas menara

jendela paling benderang

yang terkelam di dalam hidupmu

terpilu…

tergetir…

menyelinap

di sela-sela pejaman matamu

serapat apapun

Ialah sang pencuri!

gelisahmu

menggeledahmu

laci-laci usang

ranjang yang berdebu

dengarlah anak-anak tanggamu

menderit-derit

wahai kau yang bersembunyi

wahai puri tua…!

Kadang, waktu juga terasa amat panjang. Mungkin karena itu orang banyak membuang-buangnya di jalan, di depan tv, di mall, di depan meja kerjanya, di dalam hidupnya… Kadang, sebaliknya, Te gemetar merasa waktunya tidak pernah cukup, dan ia belum juga mendapatkan waktu-waktu terbaiknya. Kadang, karena itu pula ia sering memperpendek waktu tidur, mengerjakan sesuatu yang ia anggap kelak dapat membuatnya ‘besar’! Kadang, ia merasa harus terburu-buru menyelesaikan semua itu, dengan meninggalkan begitu saja ‘hal-hal kecil’, agar nanti semakin banyak waktu terakumulasi untuk menikmati waktu-waktu terbesarnya suatu hari nanti.

Belakangan semua menjadi terbolak-balik. Ukuran besar-kecil. Semua gambar  besar  yang nampaknya fokus dan kontras di depan mata selama ini kini buyar bercabang-cabang tak terkendali. Te begitu mengkhawatirkan dirinya yang semakin lama begitu mudahnya terserap ke dalam lubang apapun di sekitarnya. Bahkan saat-saat sepi, saat-saat menjenuhkan, saat-saat gagal sekalipun sudah mulai bisa dinikmatinya, dan ia tidur lebih banyak dari biasanya… Ia takut, lubang-lubang kecil itu membuatnya tertinggal dari dunia yang ia tahu…

Takut, justru karena mungkin hanya lubang-lubang kecil itu saja yang dapat menerbangkan dirinya bebas… merdeka… tanpa iming-iming… tanpa pamrih… Dan pun Te tertarik ulur di tengah kedua kutubnya, tak kunjung kemana-mana pun…

Di atas tempat tidur itu, Te menarik-narik sepreinya, meraba-raba, mencari remote tv, acara-acara di jam-jam tengah malam itu bukan terfavorit, beberapa saluran hanya mengulang-ulang isi tayangannya, Te memilih satu, sebuah tayangan dari negeri seberang menyergap melalui seutas kabel. Di dalam kotak kecil itu ia menyaksikan seorang ahli genetika pemilik salah satu laboratorium tercanggih di bumi tengah mengumumkan temuan-temuan mutakhirnya.

Ada hal yang menggelitiki pikiran Te, profesor itu berkata-kata mengenai keabadian : “Bahwa, mana tahu, jawaban dari misteri ‘kehidupan kekal’, seperti halnya yang dijanjikan oleh hampir setiap kitab-kitab suci di dunia, ada di dalam sini (sang profesor menunjuk-nunjuk dadanya), diri kita sendiri…di dalam tiap gen-gennya, yang sedikit demi sedikit mulai terpetakan…suatu hari nanti umat manusia akan terhindar dari rasa sakit, penuaan, dan kematian…setiap bayi yang lahir dengan gen-gen sial akan diganti dengan yang unggul…Segala penyakit akan tersembuhkan…segala organ akan tergantikan…segala yang tua akan termudakan… manusialah yang akan mengendalikan evolusinya sendiri dan hidup kekal selama-lamanya…!”

Hah? Sesaat wajah Te nampak berbinar-binar, dalam gelap sekalipun, selama beberapa detik, dipenuhi harapan-harapan akan ‘waktu’nya yang pasti akan cukup, hingga berikutnya ia nampak tercenung dan sedih…Sebuah hidup selama-lamanya? Di dunia ini? Dalam tubuh ini? Apa enaknya sebuah hidup selamanya bila tak ada lagi misteri di akhir perjalanannya? Sebuah drama menjadi hambar dengan konflik usang yang diproduksi ber-episode-episode tanpa akhir…membosankan! Betul-betul film horor sejati! Sebuah hidup selamanya yang tidak membuat dirinya ‘kemana-mana’…?

Te teringat akan ayahnya saat pensiun tiba… Sepanjang hari, mondar-mandir naik turun loteng sendirian, melalui tangga tegak, satu buah ember plastik dengan peralatan pertukangan, kertas-kertas lecek berisi coretan, dan macam-macam rahasia lain di dalamnya…Semua orang di rumah bertanya-tanya, dunia apa yang ada di loteng? Sang ayah waktu itu hanya sengaja tersenyum-senyum penuh misteri, tak pernah membaginya dengan siapapun…bahkan istrinya. Suatu kala, terduduk di anak tangga paling bawah, sambil melepaskan sepatu, Te mencoba menebak misteri apa gerangan yang ada di atas sana…

Suara ibunya memanggil-manggil semua orang untuk makan malam, sesekali ia berseloroh, “Jangan-jangan bapakmu sedang merakit mesin waktu di atas! Misterius amat…”, disambut derai tawa seisi rumah. Namun sekali lagi sang ayah dengan rahasia kecil di balik senyumnya, menuruni tangga, kaki kurus bersepatu bot menyangga perut buncitnya, beserta seluruh peralatan dalam ember plastik, melewati Te, menikmati kesendiriannya di tengah-tengah keramaian…Gurauan ibunya membuat Te teringat akan sebuah film yang pernah ditontonnya sewaktu kecil: seorang ayah yang sering mengunci diri di kamar kerjanya ternyata tengah mengembangkan sebuah taman rahasia yang berisi tumbuhan-tumbuhan langka dari jaman purbakala…!

Te tercenung. Adakah ayahnya segila itu? Ia mulai membayangkan sebuah mesin waktu telah teronggok di atas rumah mereka…! Barangkali dengan itu sang ayah memang ingin menghentikan waktu…menciptakan waktu…dan menjalani waktu itu sendiri…Namun lucunya, walau penasaran sekalipun, Te dan orang-orang rumah lainnya tidak pernah berminat naik ke atas loteng itu. Mereka tidak memiliki ‘waktu’ untuk itu…

Dan waktunya telah tiba. Matahari memecah kuning telurnya, memburai cahaya jatuh lolos ke dalam air bak mandi. Gadis itu sontak bangkit berdiri, membelah air, ikan-ikan hampir saja terpental dari mediumnya. Sendirian, telanjang, di atas atap, tiga tahun di rumah yang sama, menyambut matahari terbit…Kedua tangannya terbentang menggapai langit…Ia ingin menghirupnya! Dalam sekali tarikan nafasnya. Walau ia seorang peragu…walau seseorang yang meragukan segala hal, hanya ingin mengetahui apa yang sejati di balik semua…Yang tak pernah gentar untuk meragukan apapun, apapun!…sebelum mengertinya…Walau mungkin Te terlalu berusaha. Kini ia ingin hidup tak lagi air, ia ingin adalah udara…

*****

Theresia Astrid Wulaningsari

Jakarta, bertahun-tahun yang lalu

 

24 Comments to "Udara Mandi"

  1. Daisy  14 June, 2011 at 19:51

    Uuppss soriii kukira Te = Atite
    beda ya? hehe

  2. atite  14 June, 2011 at 18:15

    Aduh Daisy, jgn salah terka… kamu mustinya tooos sama si Te… dia gak identik loh dg penulisnya, ha3x… memang kamar penulisnya jg gak kalah amburadul, tapi sm pensil, crayon, & mainan anak kecil, ha3x…
    terima kasih… salam…

  3. atite  14 June, 2011 at 18:09

    Mas Anoew teliti sekali urusan mandi… bukan blm tuntas, tp mmg belum mandi…!
    terima kasih… salam.

  4. anoew  14 June, 2011 at 15:17

    Kesimpulanya, Te mandinya gk tuntas..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.