[Serial de Passer] Astari Memuja Pohon Pepaya (2)

Dian Nugraheni

 

Sepulang dari berkelana ke sawah dan hutan kecil di dekat kali Bogowonto bersama gengnya, Astari segera mandi, berganti baju bersih, dan masuk ke kamarnya. Sejenak dia menghampiri meja kecil, di mana terletak mesin jahit Ibunya, mengelusnya beberapa usapan, seolah dia sedang mengelus pipi Ibunya yang selalu dirindukannya.

Kemudian Astari merasa mengantuk, dan dia menghampiri tempat tidur besi berkelambu di sebelah meja mesin jahit, menghamparkan badannya dan menarik Jarik, kain batik panjang yang selalu dipakainya buat selimut.

Malam hari, sekitar jam 8 malam, Mbah Lukito Kakung membangunkan Astari. Beliau duduk di tepi tempat tidur, dan menepuk-nepuk pipi Astari yang gembul kemerahan terpanggang matahari.

“Astari…, bangun…, kamu ini tidur kok wes rep, sudah senja, jadinya kamu belum makan malam, bahkan mungkin belum mengerjakan PRmu…., ayo bangun, Nduk..” kata Mbah Lukito Kakung.

Astari membuka mata pelan, menggeliat, dan mengambil tangan Mbah Lukito Kakung, dan dibawanya di bawah kepalanya buat bantalan, dan siap memejamkan mata lagi.

“Lho.., kok tangannya Mbah dipakai bantalan tu gimana, kamu ini tak suruh bangun dulu.., makan.., ngerjakan PR….” kata Mbah Lukito kakung lagi.

Akhirnya, Mbah Lukito Kakung sedikit menggelitik pinggang Astari, dan mau nggak mau, Astari benar-benar terbangun.

Sambil mengelendot Mbah Lukito Kakung, malas-malasan Astari berjalan menuju meja makan.

Di meja makan hanya tersisa sepiring nasi, seperempat bagian dari telur dadar yang dibuat dari satu telur, dan sayur, entah sayur apa di mangkok kecil. Dan sebelum Astari bertanya, Mbah Lukito Kakung sudah langsung menjelaskan, “Astari, hanya ini makan malam yang kita punya…, kali ini nggak ada telur asin kesukaanmu…ayo makan yaa…”

Astari menurut, diambilnya nasi di piring, seperempat bagian telur dadar, dan sesendok sayur. “Sayur apa ini, Kung..?” demikian Astari bertanya. Astari menyebut Mbah Lukito Kakung dengan sebutan pendek “Kung”, dari kata Kakung.

“Itu sayur Oseng pepaya muda. Agak pedas, hati-hati makannya, jangan banyak-banyak dulu. Siapkan air putih kalau tiba-tiba kamu kepedesan. Pepayanya diambil Mbahmu Putri tadi dari pohon Pepaya di halaman depan, dari pohon Pepaya Jinggo itu…” Mbah Lukito Kakung menjelaskan.

Astari, sambil makan, dia manggut-manggut mendengarkan Mbah Lukito Kakung bicara.Tapi angannya langsung menuju ke halaman depan rumahnya, ada sebatang pohon Pepaya Jinggo yang selalu berbuah, selalu ada yang matang buat dimakan begitu saja, tapi baru sekarang Astari tau, Pepaya juga bisa dimasak menjadi Oseng-oseng.

“Habis ini kamu belajar dan ngerjain PR, Astari…” kata Mbah Lukito Kakung.

“Besok kan Minggu, Kung.., aku ngerjain PRnya besok siang aja yaa..” tawar Astari.

“OOhhh, iyaa, Kakung lupa kalau besok hari Minggu..” sahut Mbah Lukito Kakung.

_______________

Lain waktu, ternyata Mbah Putrinya lebih sering menghidangkan makanan yang berasal dari pohon Pepaya, kali ini Oseng-oseng daun Pepaya.., agak pahit sih, tapi Astari tahankan saja untuk memakannya. Menurut Astari, enak juga kok, apalagi Mbah Putrinya pandai memasak, jadinya Oseng Daun Pepaya ini terasa sangat “mirasa”, tidak hambar, tidak hanya terasa pahitnya, tapi juga terasa bumbunya. Sampai di sini, Astari tambah kagum pada Sang Pohon Pepaya.

Dan ternyata, sudah seminggu lebih, menu makan keluarga Mbah Lukito tak beranjak dari sekitar Oseng Pepaya Muda, Oseng daun Pepaya, atau, Daun Pepaya rebus dan Pepaya muda kukus yang dicolek dengan sambal terasi, dan makanan penutupnya juga Pepaya Jinggo yang sudah masak. Semua serba Pepaya.

Sore itu, Astari mencuri dengar ketika Mbah Putrinya bicara pada Mbah Lukito Kakung, dan ada juga salah satu paman Astari, alias, adik dari Ibu Astari yang paling kecil, Aris. “Sekarang kita sedang tidak punya uang cukup, orang-orang tak lagi banyak yang mau nggadaikan barang, atau beli barang gaden di tempat kita, mungkin mereka sekarang lari ke Pegadaian, katanya lebih cepat urusannya. Nahh, makanya, sekarang kita harus hemat, sementara kita makan hasil tanaman sekitar rumah kita, ada pohon pepaya, daun cikla-cikli, pohon singkong, dan lain-lain yang sudah kita tanam…”

Minggu pagi, tepatnya masih subuh, Astari sudah terbangun, dan nggak sabar ingin keluar rumah. Astari ingin benar menghampiri pohon pepaya Jinggo yang ada di depan rumahnya itu. Sejak seminggu yang lalu, setiap malam, dia berpikir banyak hal tentang Pohon Pepaya itu.

Sesampainya di bawah Pohon Pepaya Jinggo, Astari langsung memeluk batang Pohon Pepaya yang cukup gemuk itu. Rasanya dingin, tapi Astari tetap memeluknya. Sejenak, dilepaskannya pelukannya, dan ditatapnya batang pohon Pepaya itu. Sedikit-demi sedikit, pandangannya merayap naik pada dedaunan dan buah-buah Pepaya yang berdompol-dompol seperti kekurangan tempat.

Tiba-tiba, terdengar suara Mbah Lukito Kakung menyeru, “Astari, adakah Pepaya yang matang hari ini..?

“Nggak tau Kung, masih agak gelap, nggak kelihatan. nanti agak siangan Astari tengok lagi ya…” kata Astari. Dia sedikit khawatir kalau-kalau Mbah Kakungnya memergoki dia memeluk pohon pepaya itu barusan.

Kemudian terdengar suara sapu lidi menyaruk-nyaruk beradu dengan tanah, Mbah Lukito Kakung menyapu halaman.

Sampai matahari pagi oranye menyembul dari arah timur, dan pendaran-pendaran cahayanya menerobos jemari dedaunan pohon pepaya, Astari belum juga beranjak dari bawah pohon itu. Dia bahkan duduk di sebuah batu yang agak besar yang terletak di dekat akar-akar Pohon pepaya itu. Dan sebentar-sebentar, dielusnya batang Pohon Pepaya itu dengan sangat sayang.

Dalam otaknya yang kecil, Astari bilang, dengan penuh syukur dan perasaan berterimakasih, “Pohon Pepaya, aku sayaaang… sama kamu, karena kamu selalu memberiku Pepaya matang, juga memberi Pepaya mentah dan daunmu untuk Mbah Putri, buat dimasak jadi Oseng-Oseng. Andaikan tidak ada kamu, mungkin kami hanya makan daun singkong dan daun cikla-cikli…”

Dalam otak Astari yang masih belia, sekarang, bertambah lagi satu Kesayangannya, sesuatu yang disayang-sayangnya, yang berada dalam jangkauannya, yaa.., ada Mesin jahit Ibunya, itu adalah benda yang suka dipeluk-peluknya ketika Astari kangen Ibunya. Sepeda Mini yang dibelikan Bapaknya, Mbah Kakung dan Mbah Putrinya, jelas itu juga kesayangannya, dan tak lupa mainannya yang disimpannya dalam kardus, itu adalah bagian dari kesayangannya, ada kertas-kertas warna-warni, botol bekas dengan berbagai bentuk, macam-macam kaleng bekas, dan juga batu halus berbentuk telor yang ditemukannya ketika pulang main dari sawah kemaren.

Astari memuja semua kesayangannya dengan caranya sendiri, yang kadang tidak bisa, atau sulit dimengerti oleh orang dewasa…..

 

Salam Puja Pohon Pepaya…

Virginia

Dian Nugraheni

Selasa, 3 Mei 2011, jam 7.20 sore….

(Ketika para setan saling memberi dukungan…)

 

9 Comments to "[Serial de Passer] Astari Memuja Pohon Pepaya (2)"

  1. J C  15 June, 2011 at 10:20

    Kisah Astari ini memang apik tenan!

  2. probo  14 June, 2011 at 20:28

    Astari…daun cikla-cikli kayak apa ya? atau ada nama lain?

  3. Kornelya  14 June, 2011 at 20:03

    Astari memuja pohon Pepaya penopang hidup. Salam.

  4. HennieTriana Oberst  14 June, 2011 at 13:17

    Astari gadis kecil yang mengagumkan sekaligus mengharukan.
    Pasti banyak yang menyayangi anak seperti ini.

  5. Handoko Widagdo  14 June, 2011 at 12:38

    Dian suka memanjat pohon pepaya?

  6. Linda Cheang  14 June, 2011 at 12:09

    sederhana itu indah dan menyenangkan

  7. nevergiveupyo  14 June, 2011 at 11:43

    selalu..inspiratif…
    makasih ya mbak Dian

  8. Djoko Paisan  14 June, 2011 at 11:04

    Mbak Dian…
    Terimakasih untuk cerita Astari…..
    Kita bisa belajar dari Astari yang selalu bersyukur, walau hidup dalam kesederhanaan.
    Salam manis dari Mainz…

  9. stefanus  14 June, 2011 at 10:14

    …..mengambil tangan Mbah Lukito Kakung, dan dibawanya di bawah kepalanya buat bantalan…

    Suka sekali dengan kebiasaan Astari yang ini, kebayang deh kehangatannya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.