Tentang Senyum Ayah

Bamby Cahyadi

 

Ya, mayat itu ayahku.

Hari Jumat, menjelang sore. Setelah menempuh perjalanan udara dengan pesawat terbang, kami telah sampai di rumah nenek. Di sebuah kota di mana matahari terlampau dekat di ubun-ubun kepala sehingga cahaya teriknya selalu membuat mata silau.

Sebuah tenda besar berdiri sunyi di pekarangan rumah, kursi-kursi lipat dibentangkan dan disusun berjajar. Karangan bunga berjejer rapi dari mulut jalan hingga ke pintu rumah. Beberapa bendera kertas berwarna kuning berkibar-kibar sendirian di setiap ujung jalan.

Wajah ayah tampak pucat, warna kulitnya serupa kapas, putih dan bersih, ketika kami membuka tutup peti jenazah di mana ayah terbaring dengan tenang. Aroma formalin langsung menyeruak berhamburan di antara bau kembang melati dan bubuk kopi.

Ekspresi wajah ayah sungguh memukau, ia terlihat hanya sekadar tertidur lelap. Tapi ia juga tampak seperti tersenyum. Sudut-sudut bibirnya membentuk lekukan indah yang sangat kami kenal dengan baik. Senyuman tulus dan penuh kehangatan.

Mana mungkin senyum mayat yang beku bisa melumerkan suasana kesedihan yang mengental ini menjadi sebuah keriangan yang menghangatkan? Aku menyusut airmata yang kembali meleleh membanjiri pipiku dengan punggung tangan. Ibu menatap tanpa berkedip pada wajah ayah yang sedang tersenyum itu. Tatapannya kosong. Hampa. Penuh kepedihan, pun penuh pengharapan.

Aku tahu, ibu berharap ayah akan membuka kelopak matanya, menggerakkan kepala, tangan dan kakinya. Lantas ayah melompat dari peti itu dan ia berbicara pada kami dengan candaan khasnya dan tentu saja diselingi tawanya yang keras. ”Hei, kenapa kalian bersedih?” Aku pun mempunyai pengharapan seperti yang ibu dambakan. Kulihat kakakku bersimpuh di depan peti jenazah, ia menudukkan kepala sangat dalam, ia enggan melihat ayah yang sedang tersenyum. Mungkin kakakku terlampau sedih,  ia pasti berharap yang dialaminya hanya mimpi buruk yang terjadi saat tertidur.

Celakanya kami tak sedang tidur, apalagi bermimpi. Kenyataannya ayah telah mati tadi malam, jantungnya tak berdetak lagi, kini ia terbujur kaku dalam peti mati. Sebentar lagi tubuhnya akan musnah ditelan bumi. Dilumat tanah dan dimakan cacing.

Pelayat yang lain mulai terisak-isak, mereka memandang ayah dengan mata nanar yang sekujur tubuhnya telah dikafani itu. ”Ia orang baik,” gumam beberapa orang sambil memegang pundak dan kepalaku. Aku makin sedih, aku kembali menangis tersedu-sedu. Ayah telah mati. Nenek memelukku untuk memberi kekuatan.

”Jangan sedih, jangan sedih! Ikhlaskan ayahmu,” kata nenek dengan suara tegas bergetar. Tapi airmata nenek malah berlinang-linang, sekelebat aku melihat kesedihan yang sama di bolamatanya ketika kakek meninggal tiga tahun yang lalu.

Bersambung…. di Majalah Story Edisi 22, tgl 25 Mei-24 Juni 2011 bagian Cerpen Utama

Cerpen saya di Majalah STORY terbaru

 

9 Comments to "Tentang Senyum Ayah"

  1. non sibi  16 June, 2011 at 01:12

    HAPPY FATHER’S DAY – 19 JUNE – to every father on earth.

  2. J C  15 June, 2011 at 10:16

    Bamby Cahyadi, ditunggu postingan yang utuh ya…

  3. Kornelya  14 June, 2011 at 20:44

    Pa Bamby, terima kasih, kisah yang sangat menyentuh, membangkitkan kembali kenangan ditinggal ayah. Aku tunggu sambungannya. Salam.

  4. Bamby Cahyadi  14 June, 2011 at 14:21

    @ Mas Joko: hehe iya ya… baiklah kalo masa edar Majalah Story edisi Juni 2011 sudah selesai, akan aku posting utuh cerpen tersebut di sini…

  5. Handoko Widagdo  14 June, 2011 at 12:32

    Setugel saja?

  6. Djoko Paisan  14 June, 2011 at 11:11

    Sangat disayangkan, di Mainz tidak mungkin didapat majalah STORY…..
    Jangankan majalah STORY, majalah Indonesia yang lainnya juga tidak ada…
    Hhhhmmmmm…..nah ya, siapa tau , lain kali ada sambungan dari cerita tentang “Senyum Ayah” ini.
    Terimakasih.

  7. Linda Cheang  14 June, 2011 at 11:10

    mengingatkan bahwa kelak kita akna menjadi tua, harusnya semakin bijak, ya.

  8. Bamby Cahyadi  14 June, 2011 at 10:56

    @ Mas Joko Paisan: Terima kasih mas joko telah membaca cerpen ini, selengkapnya cerpen ini dimuat di Majalah STORY edisi 22 bulan Juni 2011…

  9. Djoko Paisan  14 June, 2011 at 10:40

    Mas Bamby….
    Terimakasih sudah dingatkan…
    Suasana yang telah dan akan kita semua alami…..
    Satu saat kita akan meninggalkan / ditinggalkan dan berjalan sendirian.
    Salam Sejahtera dari Mainz…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.