Pangeran Surga

Ida Cholisa

 

Aku membuka mata ketika kurasakan halus lembut telapak tangan mengusap-usap lutut kaki kananku.

“Dek, aku berangkat pagi.”

Nanar mataku. Seraut wajah bersih memandangku, manis sekali. Ia duduk di tepi ranjang tidurku. Kulit mukanya yang putih tampak bercahaya. Rambutnya telah disisir rapi. Kemejanya telah rapi.

Tersenyum ia. Matanya sangat lembut.

“Tiga hari ke depan ini aku berangkat pagi.” Berkata ia kepadaku.

Aku segera bangkit. Agak terhuyung. Kulirik jam duduk di samping tempat tidurku. Pukul lima pagi. Ah, beberapa hari ini, pasca operasi, aku selalu bangun terlambat dibanding suami. Luka operasi yang membuat sakit dada dan tangan kananku, efek kemoterapi 5 yang semakin dahsat membuatku sering terkapar tak berdaya. Hingga tempat tidur menjadi muara. Ya, aku tenggelam  dalam benaman kasur dan bantal serta selimut, menahan sakit tak terkira!

“Itu sudah kurebusin daun sirsak, sepuluh menit lagi diangkat. Jangan lupa diminum airnya. Minum juga suplemen yang lain. Perbanyak air putih.” Selalu ia berpesan demikian kepadaku.

Ia menyodorkan tangan lembutnya kepadaku. Kurengkuh ia. Kucium tangan halusnya. Kulepas perginya.

“Hati-hati, Yah.”

Kakinya hendak melangkah ketika tiba-tiba turun rintik hujan.

“Bawa payung, Yah?”

“Tak usah, pakai topi saja.”

Kuambilkan topi hitam, kulepas tubuhnya hingga  menghilang ditelan pagi buta yang membayang…

*****

Udara dingin sekali. Menusuk tulang. Kututup pintu, duduk sebentar. Rasa kantuk masih menyerang. Ah, efek kemo membuatku berubah, tak lagi kuat seperti dulu. Ingin rasanya kembali menuju kamar, berbaring barang sebentar. Tapi rebusan daun sirsak hampir masak. Anak-anak mesti aku bangunkan, sebentar lagi jam berangkat sekolah.

“Nak, bangun. Berangkat sekolah, nanti terlambat.”

Satu persatu anakku membuka mata. Agak rewel mulanya, untunglah berikutnya mereka bisa dikendalikan. Kubuatkan mereka roti susu. Hari ini mereka maunya sarapan dulu, baru mandi. Dua tangkap roti susu kosodorkan pada anak-anakku. Lahap mereka menyantapnya. Kubuat lagi dua tangkap roti susu untuk bekal sekolah mereka. Tak seperti biasanya, aku tak menyiapkan bekal nasi untuk anak-anakku. Cukup roti susu saja. Apa lagi kalau bukan kondisi kesehatanku yang membuatku sedikit lemah tak bertenaga.

“Cepat mandinya. Tar terlambat.”

Kulepas anak-anakku mandi, ganti baju dan menyiapkan peralatan sekolah sendiri. Sementara aku mendudukkan pantatku di sofa, meredam tak nyamannya badanku yang selalu naik turun tak berirama.

“Bu, bayar jemputan sekolah. Uang jajan juga.”

Kuselipkan kartu bayaran jemputan sekolah beserta uangnya di saku tas anak lelakiku.

“Ini uang jajannya, tujuh ribu, ya? Ini untuk Dede, tiga ribu.”

Bergegas anak-anakku memasukkan uang jajan itu ke saku tas mereka. Biasa, sepuluh ribu selalu aku siapkan untuk uang jajan mereka. Tak banyak yang kuberikan untuk uang jajan anak-anakku. Sebab jika kuberi lebih, pasti mainan yang akan mereka bawa dari sekolah. Si kecil terutama, gemar koleksi gambar Barbie.

“Berangkat ya, Bu? Assalamu’alaikum…”

“Walaikum salaam, hati-hati ya, Nak? Belajar yang rajin, jangan nakal di sekolah, ya?”

Anak-anakku menyalamiku. Kukecup mereka satu persatu. Si sulung melambaikan tangan, disusul senyum dan lambaian tangan si kecil…

Pagi terasa hening. Hening sekali. Telah kulepas suamiku menuju tempat kerja, telah kulepas anak-anakku menuju tempat belajar mereka. Rumah serasa tak bernyawa. Senyap tiada tara…

*****

Kumasuki kamar tidur kembali. Sebuah radio tape tua  merk Sony tergeletak di ujung ranjang. Benda berwarna hitam itu sudah beberapa bulan ini menjadi sahabat setiaku. Siaran bernuansa Islami dari salah satu stasiun radio swasta menggelitik hatiku hingga kutempatkan ia di dalam kamarku. Lantunan ayat-ayat suci, siaran pengajian yang kental dengan pengetahuan islami, membuatku hanyut hingga sakitku serasa terobati setiap kali menyimak siaran apapun dari stasiun radio Islam ini.

“Seorang mukmin yang paling sempurna imannya adalah seorang mukmin yang paling baik akhlaknya.”

Kata-kata itu terngiang di telingaku. Akhlak. Ya, akhlak. Ah, kebaikan akhlak apa yang telah aku punya? Mendadak aku teringat pada suamiku…

Suamiku yang kini tengah bekerja. Ia seorang guru bahasa asing di sebuah sekolah di Jakarta. Ia lelaki yang sangat baik, sangat baik. Kesabarannya, kelembutannya, kebersahajaannya, ah…, berbanding terbalik dengan diriku yang terkenal keras, lugas, temperamental dan “srudak-sruduk”. Kukatakan “srudak-sruduk” karena aku memang jauh sekali dari kesan lembut. Tak heran ratusan muridku “takut” melihatku. Mereka bilang aku galak dan jutek. Ya, kuakui itu. Meski sebenarnya hatiku lembut, kesan luarku tak akan menampakkan sisi terdalam hatiku. Sangat berbeda dengan suamiku.

Itulah jodoh, begitu kata orang. Yang lembut disandingkan dengan yang keras. Yang lemah disandingkan dengan yang kuat. Apa jadinya jika keras disatukan dengan keras? Akan hancur jadinya. Itulah harmoni alam, harmoni cinta, keserasian pertautan jiwa. Hm, aku sedikit memainkan kata. Tapi itulah kenyataannya. Sebuah doa di antara banyak doa yang sering kutambatkan siang dan malam saat aku masih perawan, adalah dikirimkannya padaku lelaki sholeh berhati lembut yang mampu menjadi imam bagi hidupku. Dan Allah mendengar doaku. Hingga dipertemukanlah aku dengan suamiku, sebelas tahun silam…

(http://ssdhapudkar.blogspot.com/)

Aku tak salah memilih. Itu yang kurasa kemudian. Suamiku adalah intan yang mengilaukan hatiku. Ia selalu menopangku, mengangkatku, meringankan duka laraku. Bahkan ia adalah perawat pribadiku, dokter pribadiku…

Saat rasa ngeri menghantuiku, terhadap luka bekas operasi pengangkatan payudaraku, ialah yang selalu sabar mengganti perban dan mengobatiku. Ia berbeda dengan dokter-dokter yang pernah kutemui. Untuk mengurangi rasa sakitku,  sebelum membuka perban yang membalut jahitan operasiku, ia mengusap-usap sekitar luka dengan tangan halusnya dan memberiku “jampi-jampi” doa hingga berkurang sakit yang kurasa. Dibukanya perban itu, ditiupnya jahitan luka itu, hingga tak berasa sakit apa-apa. Sementara kututup kedua mataku dengan telapak tanganku, ia begitu cermat dan cekatan menutup kembali perban baru di atas jahitan luka operasiku. Demikian ia melakukan itu, kepadaku.

Banyak kebaikan budi suamiku. Banyak sekali. Hingga tak mampu aku menguraikannya. Menyaksikan dan merasakan kebaikannya, aku seolah tengah bersanding dengan pangeran cinta, pangeran yang dikirim olehNya dari taman surga.

Sesungguhnya, di antara beribu rasa yang meliuk-liuk di hatiku, sering terselip rasa khawatir yang melandaku. Hingga terucap doa dan pengharapanku, agar Dia selalu menguatkan dan menyehatkan suamiku. Bagaimana tidak. Aku tidaklah sekuat dulu. Aku kini rapuh. Sakit yang menyerangku telah memakan sebagian keperkasaanku.

Dalam lemahnya diri, suamikulah tempat bergantung aku tuk mengokohkan pijakan kaki. Sementara, sementara…, suamiku tidaklah seperkasa yang terlihat. Ia tak boleh capek. Ia tak boleh menanggung beban berat. Sebab ia, sebenarnya menderita sakit maut sepertiku. Ya, sakit jantung yang telah lama bersemayam dalam dadanya…

Anak-anakku beribu bapak orang kuat, dahulu. Tapi kini mereka menyaksikan Ayah Ibunya berjuang melawan sakit. Maka dalam perjuangan ini, dalam pemandangan tulus kebaikan suami, aku senantiasa berharap agar Allah memberi kekuatan dan kesehatan pada kami, agar kami mampu membesarkan dan menghantarkan anak-anak kami, menjemput kedewasaan dengan bekal ilmu, iman dan kesholehan…

Tak mudah kami mengarungi hidup yang dipenuhi lautan ujian ini. Tapi inilah karunia yang mesti selalu disyukuri. Sabar dan ikhlas menjalani, disertai doa dan tawakal yang tak pernah berhenti.

Suamiku, pangeran cinta dari taman surga, selalu memberiku cahaya cinta. Hingga selalu benderang hatiku oleh semangat, hingga tak luntur kekuatanku meski berbagai ujian datang mendekat. Aku, di tengah sakit kankerku, tetap tersenyum menatap dunia. Ada ia di sisiku, suamiku, yang selalu menguatkanku. Jika dahulu aku menguatkannya saat sakit jantung menderanya, maka kini berganti ia menguatkanku saat sakit tak biasa menderaku.

Kami adalah bahu yang saling menguatkan, kami adalah jiwa-jiwa yang terus tumbuh tanpa ada yang mampu menghentikan. Maka kami, di tengah segala keterbatasan, tetap berjuang menyambung kehidupan kami, demi dua anak kami, yang masih membutuhkan dukungan tangan-tangan kami…***

We’re a little fam, live in little house, but make a great life….

 

*Untuk pangeran cinta, pangeran surga, terima kasih atas semuanya.

 

Bogor, Jan 2011-

 

45 Comments to "Pangeran Surga"

  1. Dewi Aichi  5 November, 2013 at 04:17

    Saya berdoa untuk kesehatan pak DJ…semoga Tuhan selalu memberikan anugerah kesehatan kepada pak DJ…aminnn..

  2. Matahari  5 November, 2013 at 03:32

    In this sorrowful time, may the love of family and strength from friends comfort you. ………………………….My deepest Condolences…

  3. Dj. 813  5 November, 2013 at 02:58

    Mbak DA…
    Terimakasih sudah memberi informasi yang baik, sehingga kami jadi tahu.
    Semoga mbak Ida tabah dan ikhlas. Karena yang pergi sudah tenang.
    Dj. tahu benar, karena Dj. juga penderita jantung dan Tgl. 20 November ini,
    akan masuk Regab lagi untuk 5 minggu, bisa dipersingkat, atau biisa juga ditambah.
    Tergantung keadaan.
    Jadi bukan hanya mbak DA saja yang setiap harii harus minum obat.
    Dj. setiap hari ada 8 macam obat, pagi sebelum sarapan, sesudah sarapan, siang, dan malam sebelum makan malam dan sebelum tidur.
    Olehnya Dj. kadang juga mikir, kalau hidup di Indonesia, mungkin suduah bangkrut.
    Bukan hanya untuk obat saja, tapi setiap 6 bulan harus Check up, untuk EKG, Stress Echo dan untuk yang lainnya. Juga pemeriksaan dengan Katheter, apa perlu ring ( stent ) atau tidak.
    Puji TUHAN…!!!
    Semua ditanggung asuransi, bahkan Dj. sudah 1 tahun dirumah, gajih juga dibayar oleh asuransi.

    Nah ya, life must go on…!!!
    Kadang Dj. tidak mau mikir lagi.
    Salam manis dari Mainz.

  4. Dewi Aichi  5 November, 2013 at 01:53

    Betul pak DJ, dan Elnino bersama Emilia sudah mewakili kita , hadir di rumah bu Ida…semoga bu Ida tabah.

  5. ariffani  1 November, 2013 at 10:28

    nangis baca tulisan ini :’

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.