Senja di Chao Phraya (21)

Endah Raharjo

 

 

Bab 4: Bulan Setengah Purnama di Atas Chao Phraya (2)

Laras memunguti bunga kamboja yang berjatuhan di atas rumput lalu mengumpulkannya dalam keranjang bambu kecil. Selain dirinya, di taman belakang itu ada tukang kebun sedang sibuk memotongi tangkai-tangkai bunga. Laras meletakkan keranjang penuh bunga kamboja warna-warni di atas meja, di teras samping tempat ia dan Osken selama seminggu ini menikmati senja, menyambut malam sambil membincangkan banyak hal. Sesekali Mega dan Angka bergabung dengan mereka bila sudah kembali dari jalan-jalan.

Sore itu ia sendirian di rumah Mary Jane. Osken dalam perjalanan pulang dari kantor Konsulat Amerika, mengurus beberapa hal termasuk menanyakan surat-surat yang diperlukan untuk menikahi warga negara Indonesia. Mega dan Angka sebentar lagi tiba, seharian mereka belanja di pasar di Chinatown, masih tak puas setelah malam sebelumnya menghabiskan uang saku di pasar malam Patpong. Osken awalnya tidak setuju mereka belanja di Patpong. Di sana banyak go-go bar dan aneka pertunjukan malam yang ia sendiri tidak mau melihatnya. Namun Mega membujuknya, lalu lelaki itu memaksa si ibu meninggalkan laptopnya, ikut menemani.

Duduk di teras samping, sambil merangkai bunga yang ia petik bersama tukang kebun di taman belakang, yang ia susun dalam vas berbagai bentuk, Laras memikirkan kembali keputusannya.

Beragam persoalan yang muncul setelah cintanya pada Osken hendak ia bingkai dalam pernikahan membuat Laras memahami mengapa banyak orang memilih menghindarinya, takut memasukinya. Ketika cinta masih sebatas rasa, dengan bebas ia bisa dinikmati siapa saja. Namun warna kulit, agama, usia, harta… sebut saja semua… berubah menjadi jeruji yang memenjarakan sang cinta bila sepasang manusia berkulit-tak-sewarna-berbeda-agama-tak-sama-kaya ingin bersatu dalam pernikahan.

Sambil bekerja Laras sering merenung di depan laptopnya, bertanya-tanya dalam hati, ingin tahu pendapat Tuhan tentang rencananya menikahi Osken.

“Sudah ada jawabannya di dalam kitab suci. Kamu juga sudah tahu,” ujar ayahnya suatu sore, ketika pertama kali ia meminta restu. “Cintamu pada Tuhanmu mestinya melampaui cintamu pada yang lain, termasuk pada sesama manusia,” lanjut sang ayah.

Laras terhempas keras saat ayahnya tega membandingkan Osken dengan Tuhan. Bagaimana mungkin sesosok makhluk seperti Osken O’Shea harus berebut cinta dengan Tuhan. Meskipun ia tahu yang dimaksud ayahnya tidak sedangkal itu, namun ia sangsi Tuhan menuntut makhlukNya membuktikan cinta dengan cara seperti itu.

Ia tak yakin Tuhan begitu cemburu pada ciptaanNya sendiri. Ia yakin Tuhan mendengar keraguan yang ia bisikkan dalam lubuk hati. Namun ia tak yakin Tuhan akan menghukumnya. Dalam keraguannya itu, Laras nekat menetapkan pilihan. Ia yakin ada ampunan untuk setiap dosa yang ia perbuat dalam hidupnya. Ia bersumpah, sepanjang sisa hidupnya tak akan ia lewatkan tiap sujudnya untuk memohon ampunan Tuhan atas cintanya pada Osken bila itu ternyata sebuah dosa.

***

Selama beberapa hari di rumah Mary Jane, banyak hal sudah mereka bincangkan. Lewat Skype, Laras dan dua anaknya beberapa kali juga sempat bercengkerama dengan keluarga Osken di Amerika. Ibu Osken sangat antusias mendengar kabar rencana pernikahan anak sulungnya. Dia sempat bercanda, ibarat membeli barang, Osken mendapat bonus ‘buy one get two free’. Semua tertawa tergelak sewaktu perempuan kelahiran Kazakhstan itu mengucapkannya dengan jenaka.

***

Belum pernah terlintas keinginan memiliki anak di benak Osken, itu salah satu sebab ia tidak memaksa diri menikah sebelum bertemu perempuan yang berhasil menyentuh jiwanya. Kini perempuan itu sudah hadir dalam hidupnya dengan membawa dua anak yang sedang memerlukan biaya.

Remember. She comes in a package with her children. You have to take them all.” Demikian nasihat ayah Osken. Lelaki yang pantas menjadi bapak bagi Mega dan Angka itu sudah berpikir masak-masak sebelum ia menyatakan niat menikahi Laras. Ia menyadari konsekuensi yang menyertai pernikahannya dengan Laras dan ia tidak berniat menghindar sedikitpun.

Ia sudah meminta tolong adiknya untuk mengurus rumahnya di Bethesda, Maryland, sejuah kira-kira 30 menit dengan mobil dari rumah orang tuanya di Washington DC, yang belum pernah ia tempati dan hanya ia kontrakkan selama belasan tahun. Meskipun si penyewa sudah meminta, Osken tidak akan memperpanjang kontraknya yang berakhir pertengahan 2011.

“Kamu akan memboyong mereka ke sini?” tanya si adik.

“Meskipun belum ada keputusan, tidak ada salahnya bersiap-siap, bukan?” jawab Osken menjelaskan bahwa ia ingin semuanya berjalan baik bila akhirnya ia bisa memiliki keluarga.

Selain mengumpulkan informasi, Osken sibuk menghitung asetnya. Ia tak akan menikahi Laras bila situasi keuangannya pas-pasan. Ia ingin keluarganya tinggal di rumah yang hangat dengan kamar yang cukup untuk dirinya sendiri dan sang istri, untuk dua anaknya yang sudah memerlukan privacy dan minimal satu kamar tambahan untuk tamu atau saudara yang bertandang dan ingin menginap. Rumah semacam itu, lengkap dengan dapur cantik serta halaman depan dan belakang yang asri telah ia miliki.

Namun itu tidak cukup. Laras dan dua anaknya harus memiliki asuransi kesehatan. Ia juga ingin membantu membiayai pendidikan Mega dan Angka. Ia ingin ada jaminan semasa pensiun nanti. Ia ingin membawa mereka berwisata paling tidak setahun sekali. Sebuah pondok musim dingin telah pula ia miliki di Killington, Vermont. Mega pasti akan senang belajar ski, downhill maupun cross country. Angka akan melihat pemandangan secantik kartu pos yang bisa mengilhami karya-karya ilustrasinya nanti. Sementara ibunya akan ia biarkan bersembunyi dalam kehangatan pelukannya sepanjang hari.

Begitu banyak rencana ia susun – tidak hanya dalam angan-angan – sampai ia perlu menuangkan dalam tulisan, seperti layaknya proposal untuk proyek-proyeknya. Dalam usianya yang tak lagi muda ia tak ingin berspekulasi. Segera setelah siap, ia akan membahas semuanya dengan Laras dan dua anaknya.

***

“Kalau Mama menikah dengan Osken, apa kita pindah ke Amerika?” tanya Angka.

“Mama harus bicara dengan Osken dulu. Biaya kuliah kalian akan sangat mahal di sana. Belum tentu Mama mampu membiayai,” jujur Laras pada anaknya. Ia tak mau pernikahan keduanya membuahkan masalah. Hal-hal semacam itu harus mereka bicarakan sebelum ikrar terucapkan.

Mendengar jawaban ibunya, Angka menjadi khawatir sekali. Ia membayangkan ibunya dibawa pergi ke Amerika oleh Osken, sementara ia dan kakaknya ditinggal di Jogja, dititipkan pada kakek-neneknya. Tiba-tiba muncul rasa tidak suka pada lelaki yang mulai dikaguminya itu.

Ketika ayahnya meninggal ia masih 10 tahun. Yang ia ingat tentang ayahnya tidak begitu banyak, namun semuanya serba menyenangkan. Komputer pertama sebagai hadiah ulang tahunnya, oleh-oleh satu set mainan lego dari Eropa, ditemani menonton konser band favoritnya, buku-buku Harry Potter, permainan komputer Diablo II yang tidak dirancang untuk anak seusianya namun ia dibelikan versi aslinya sebagai oleh-oleh. Ya. Ayahnya tak pernah lupa membawa oleh-oleh setiap kali pulang dari dinas luar kota dan luar negeri. Semua yang ia bawa selalu benda-benda yang disukainya.

Osken memang keren dan baik, tapi tidak sebaik ayahnya. Ia tidak mau diajak jalan-jalan naik sepeda motor Mary Jane, bahkan hanya menyentuhnya saja dilarang. Ia tak mau mengantar jalan-jalan, dengan alasan banyak urusan yang harus diselesaikan. Jangan-jangan lelaki itu hanya ingin berduaan dengan ibunya. Ingin memilikinya tanpa peduli pada dirinya dan kakaknya.

“Apa dia tidak mau bantu Mama membiayai sekolah kami?” gerutu Angka.

“Bukan begitu… Mama hanya belum membicarakan hal ini dengannya. Mama salah bicara. Pendidikan kalian sangat penting, itu maksud Mama. Jadi harus kita bicarakan. Harus kita rencanakan dengan matang.”

Ibu dan anak itu saling memandang. Laras tidak tahan ditatap begitu rupa oleh anak lelakinya, tatapan yang meragukannya. Dengan lembut perempuan itu mengulurkan tangan kanannya untuk menyentuh pipi Angka yang mulai ditumbuhi jenggot halus.

Tak jarang ia merasa bersalah, seakan ia telah membiarkan suaminya pergi begitu saja, tanpa berusaha menahannya. Dua tahun pertama setelah kepergian suaminya, ia menjalani malam-malamnya dengan penyesalan yang mengganggu tidur. Seandainya aku lebih memperhatikan kesehatannya; seandainya aku tahu ia akan pergi secepat itu; seandainya aku boleh tawar menawar dengan Tuhan…

“Mama tidak akan meninggalkan kalian. Tidak ada siapapun yang bisa memisahkan Mama dari kalian. Tidak ada siapapun di dunia ini yang lebih penting dari kalian, yang Mama cintai melebihi kalian. Seperti yang sudah Mama buktikan selama ini.”

Ada genangan di sudut-sudut mata Angka. Semasa kecil ia jarang sekali menangis. Seingat Laras, sudah lima tahun ia tidak melihat anak bungsunya itu mengeluarkan air mata.

“Mama boleh peluk kamu?”

Angka mengangguk. Air yang membasahi sudut-sudut matanya bergulir cepat sekali melalui pipinya.

Mega tertegun di ambang pintu kamar, menyaksikan adik dan ibunya berpelukan dengan cara yang tidak biasa. “Ma…?” Mega melangkah mendekati mereka. Pasti ada sesuatu yang terjadi yang membuat mata adiknya memerah dan basah. Baru saja mereka tertawa-tawa di dalam kamar sambil memilah oleh-oleh untuk teman-teman di Jogja. Belum lama mereka saling lempar bantal gara-gara Angka meledek kakaknya yang membelikan pacarnya boxer hitam bercorak gajah yang sedang mengangkat belalai.

“Tidak ada apa-apa. Hanya salah paham saja,” Laras membuka lengan kiri, memberi isyarat agar anak perempuannya bergabung dalam pelukan. Rasa haru menyelimuti mereka. Tiba-tiba Laras sesenggukan, teringat tubuh kecil Angka yang lima tahun lalu ia peluk sedemikian rupa saat membiarkan ayah si anak dibawa pergi oleh para pengusung keranda. Kini anak yang sama telah tumbuh besar nyaris setinggi ayahnya. Namun ternyata ia masih tetap membutuhkan cinta dan perlindungan ibunya.

Hello! Am I missing something?” Tiba-tiba Osken sudah berada di ambang pintu besar yang menghubungkan ruang tengah dengan ruang makan utama. Ada kotak besar di tangannya yang tampak seperti kotak kue. “Ada yang mau kue?” Osken mengangkat kotak itu. Pemandangan yang baru dilihatnya mengatakan sesuatu baru saja terjadi antara Laras dan dua anaknya. Ia tak ingin mengganggu, lalu berbalik sambil mengatakan kue itu akan ia taruh di atas meja makan. Nanti Laras pasti akan memberitahunya kalau ada hal penting yang harus ia ketahui.

“Ditaruh di atas piring dan kita bawa ke teras samping,” Laras menyusul Osken. “Aku akan siapkan teh dan kopi,” katanya.

“Ada sesuatu yang aku perlu tahu?” Suara Osken rendah, tidak ingin didengar orang lain.

“Ya,” jawab Laras sambil menjerang air untuk menyeduh teh. “Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan.”

“Aku akan siapkan kopi,” ujar Osken. “Mumpung tidak ada rencana keluar malam ini.”

“Ini soal Angka…” Laras berhenti beberapa saat, menuang air mendidih ke dalam poci berisi teh. “Dia khawatir kita akan meninggalkan mereka setelah menikah. Aku juga khawatir kalau harus pindah dari Jogja… Aku…”

“Kita akan bicarakan semua. Tunggu…” Osken meninggalkan Laras untuk memanggil Mega dan Angka, mengajak mereka bicara, menyuruh mereka membawa piring kue ke teras samping.

Lelampu halaman sudah dinyalakan oleh penjaga rumah saat Laras meletakkan nampan berisi empat cangkir di atas meja di teras samping.

“Bulan baru…” ucap Osken, mendongak memandangi bulan sabit, memecah ketegangan suasana, “Empat malam lagi, malam terakhir sebelum kalian pulang ke Jogja, kalau tidak mendung, kita akan melihat bulan setengah purnama,” lanjutnya.

Osken tidak mau membuang waktu. Segera setelah semua berkumpul di teras samping, lelaki itu mulai bicara. Bagai sedang berhadapan dengan anak buahnya, ia menjelaskan beberapa urusan yang harus mereka selesaikan dan proses yang harus mereka lalui bila impiannya untuk menikahi Laras menjadi nyata. Saat mereka berempat berbicara, sekelompok serangga menari-nari mengitari lampu gantung di teritisan. Dari arah rumah belakang sayup-sayup terdengar para pembantu Mary Jane berkelakar. Kekhawatiran Angka sirna sebelum malam menua.

***

 

11 Comments to "Senja di Chao Phraya (21)"

  1. nevergiveupyo  17 June, 2011 at 09:42

    mantep… selalu menunggu episode selanjutnya dr rankaian senja ini
    *ntar muncul sekuelnya : Malam di Maryland… hum boleh juga tuh judul…

    (memangnya ini sinetron?? pake sekuel ga hbs2…hehehehe)

    maturnuwun mbak Endah

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.