PPDB: Guru Juga Orangtua

Probo Harjanti

 

TAHUN Pelajaran 2011/ 2012 akan segera tiba. Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)  SMP, SMA/ SMK akan segera dilaksanakan. Ini adalah acara rutin di setiap awal tahun pelajaran baru. Secara umum PPDB dimulai bulan Juli, namun  untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), juga swasta sudah lebih dahulu start, bahkan sudah  ada yang diterima.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, PPDB selalu diwarnai kecemasan orang tua. Para guru pun (yang memiliki anak lulus SD atau SMP) turut cemas dan  sport jantung menjelang penutupan PPDB. Apalagi saat terjadi serbuan calon peserta didik yang sudah terlempar dari sekolah favorit/ sekolah di kota, kecemasan pun semakin memuncak.

Dalam hal ini, guru sama saja dengan orang tua lain saat berburu sekolah, karena guru juga orangtua. Kecemasan itu kadang tercampur rasa pedih dan trenyuh. Betapa tidak, para guru ini pun tak berdaya menolong anak kandungnya, ketika anak kandungnya tergeser dari daftar calon siswa yang kemungkinan diterima.

Jangankan menolong agar bisa diterima di sekolah tempatnya mengabdi. Menolong membelikan  formulirpun  (untuk RSBI) tidak bisa, kalau syarat administrasi tidak terpenuhi. Mendaftar di RSBI harus lolos seleksi administrasi terlebih dahulu,  meski tidak sama persyaratannya. Ada RSBI mensyaratkan nilai rapor semester 1-5 untuk 5 mata pelajaran (Mapel) minimal rata-ratanya 75 (4 mapel UN ditambah IPS), namun RSBI lain nilai rata-rata hanya 65. Nilai UN pun ada yang mensyaratkan minimal 28, namun RSBI lain justru melaksanakan seleksi sebelum pengumuman kelulusan SMP.

Masuk RSBI nampaknya menjadi pilihan sebagian peserta didik di beberapa kota, meski di Jawa Tengah ditentang habis-habisan. Itu, karena dinilai menimbulkan kesenjangan antara si kaya dengan si miskin. Juga, ada kesan hanya anak orang mampu saja yang diterima di RSBI       ( harga formulir pendaftaran berkisar 100-200 ribu rupiah).

Memang membuat hati miris, ketika orangtua mengajar di sekolah favorit, atau RSBI untuk turut mendidik anak bangsa, namun tidak bisa sekalian mendidik anak sendiri. Transparansi PPDB (sekolah negeri) di  Daerah IstimewaYogyakarta memang tidak diragukan lagi. Semua calon siswa diperlakukan sama, tak peduli orangtuanya guru atau karyawan di sekolah tersebut, bahkan anak kepala sekolah sekali pun.

Dapatkah anda bayangkan, betapa pilunya hati, saat menjadi panitia PPDB, namun anak sendiri tak bisa didaftarkan di sekolah tempatnya mengabdi. Yang pedih bukan hanya anak dan orangtuanya saja, teman-teman guru pun nelangsa, karena tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali mengikuti aturan main yang berlaku. Menyakitkan memang melihat anak teman berurai airmata karena terganjal masalah administrasi. Hal ini jarang diketahui umum, bahwa di sekolah negeri tak ada istilah ‘jatah’, bahkan untuk anak kandung!

Penulis pernah didatangi orang tua calon peserta didik, yang mau meminta tolong menitipkan anaknya. Mereka pikir penulis bisa memasukkan anak mereka ke tempat penulis mengabdi. Tentu saja harus diterangkan panjang lebar bahwa PPDB di DIY amat transparan, tak ada istilah titip-menitip! Meski nampaknya mereka kurang percaya.

Dari peristiwa semacam ini, timbul pertanyaan usil penulis, tidak mungkinkah anak kandung guru dan karyawan (tetap) diberi kemudahan khusus  di  sekolah tempatnya bekeja? Kenapa pertanyaan ini muncul, karena di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ‘jatah’ untuk anak kandung  bisa, kenapa di jenjang SMP, SMA/ SMK tidak bisa? Jadi, selamat untuk guru-guru di kota Salatiga, yang anak-anaknya mendapat tambahan nilai 3 (KR 28 Juni 2010). Mereka tentunya  ‘nyicil ayem’  anaknya bisa turut bersaing  di sekolah tujuan.  Toh nantinya akan terjadi seleksi secara alamiah, yang tidak mampu akan tersingkir dengan sendirinya. Tetapi orang tua lega karena mendapat kesempatan untuk memasukkan anak kandungnya ke sekolah tempatnya  mendedikasikan seluruh kemampuan. Anda setuju?

 

(dimuat 6 Juli 2010 di harian Kedaulatan Rakyat, saya sesuaikan sedikit dengan situasi terkini)

 

44 Comments to "PPDB: Guru Juga Orangtua"

  1. probo  16 July, 2013 at 12:07

    Dhimas Hand…kan sudah almarhum sekarang

  2. Handoko Widagdo  14 July, 2013 at 13:50

    RSBI = Rintisan Sekolah Berbasis Iman. Orangtua harus punya iman yang teguh supaya bisa tetap menyekolahkan anaknya di sana.

  3. probo  14 July, 2013 at 12:49

    terima kasih sudah mampir bp/ibu sulis….

    teman saya yang anaknya kebetlulan diterima (secara normatif), selalu menghidari mengajar kelas anak-nya

    kalau yang model gitu (suka KKN) ada di semua sektor kok…..kalau memang tipe -merdeka’ biar anak teman juga diberi nilai sesuai perolehannya…..

    anak saya juga tidak ada yang sekolah di tempat tugas saya, hanya saja ada yang karene pertimbangan tertentu anak disekolahkan di tempatnya mengajar
    ada pula daerah tertentu yang memberi kemudahan guru, dengan kebijakan tertentu

  4. sulis  14 July, 2013 at 12:11

    Saya guru, tapi saya sangat benci nepotisme. Nepotisme membuat saya sulit bertindak objektif dalam memberikan nilai. Demi kenyamanan mengajar, anak saya tidak satupun saya sekolahkan di tempat saya mengajar, di sekolah swasta pun tidak apa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.