Arsitektur Dalam Secangkir Kopi

Avianti Armand

 

Mengherankan. Kopi yang paling saya ingat ternyata tersaji dalam dua cangkir putih di film Blau (Trois Couleurs, Krzysztof Kieslowski).

Cangkir pertama, sesudah hampir habis dituang isinya ke atas dua scoop es krim vanila (mungkin vanila) oleh Juliette Binoche, lalu dibiarkan tergeletak di meja – entah berapa lama. Tanpa suara, matahari menggeser bayangannya dari sisi atas layar ke bawah. Cangkir kedua berisi espresso (mungkin espresso), dengan sepotong gula batu putih yang ujungnya tercelup sedikit, hingga hitam kopi pelan-pelan merasukinya. Secangkir  espresso yang lalu muncrat ketika jari yang menjepit gula batu itu melepaskannya – tenggelam ke dalam cairan hitam pekat.

Mengherankan. Kopi yang paling saya ingat ternyata bukan kopi yang harumnya tinggal lama di liang hidung dan rasanya yang ‘tebal’ duduk  nyaman di lidah. Bukan kopi yang panasnya merembet ke bibir gelas, memenuhi rongga mulut lalu turun pelan-pelan melewati kerongkongan. Bukan juga yang pahitnya menempel tak mau lepas dari bintil-bintil saraf pengecap. Kopi, yang seharusnya diam di memori sebagai sensasi bau, sentuhan, dan rasa, malah muncul sebagai lesatan-lesatan visual: cangkir putih,  cahaya matahari, bayangan yang bergeser, osmose pelahan kopi ke gula batu, muncratan cairan hitam pekat.

Mungkin karena saya bukan pecinta sejati kopi – kopi buat saya hanya minuman yang membantu mata melek lebih lama – sehingga hanya bisa membedakan antara kopi ‘enak’ dan ‘tidak enak’, bukan nuansa bau dan rasa yang terentang di antaranya. Mungkin karena – ini dia – kesadaran dan realitas sensorik kita pelahan tapi pasti semakin didominasi oleh indera penglihatan. Semenjak mesin cetak,  kamera, dan televisi ditemukan, telah terjadi perubahan mendasar pada cara kita mengalami dan memahami dunia. Atau tepatnya, “memandang” dunia.

Lalu, apa yang salah dengan itu? Mungkin tak ada. Kecuali bahwa sebagai sebuah konsekuensi dari berkuasanya mata atas indera yang lain, arsitektur telah berubah menjadi sebuah seni visual yang instan. Alih-alih menciptakan mikrokosmos eksistensial,  sebuah representasi dunia, arsitektur malah memproyeksikan imaji-imaji retinal untuk kepentingan persuasi yang seketika. Apa yang kita lihat di media-media arsitektur dan interior, juga life style, adalah contoh yang paling jelas: bentuk-bentuk yang generik – bidang-bidang dan material yang itu-itu saja – atau yang sibuk dengan akrobatik geometris tanpa fungsi yang jelas.

Pengaturan iluminasi yang seragam, juga penghapusan perbedaan mikro-klimatik, makin mendorong terciptanya pengalaman (ruang) yang menjemukan. Secara umum, kecenderungan budaya teknologi untuk menstandarkan kondisi lingkungan dan membuat lingkungan sepenuhnya tertebak menyebabkan pemiskinan pengalaman indrawi yang serius. Jika kita cukup peka, maka kita akan bisa menyadari bahwa bangunan-bangunan kita telah kehilangan “kegelapan” dan kedalaman, misteri dan bayangan – hal-hal yang menantang untuk dialami dan dijelajahi.

Kita bisa menuding arsitektur modern sebagai biang dari kondisi ini. Untuk mencapai artikulasi yang “sempurna” dari sebuah obyek yang otonom, arsitektur modern lebih menyukai penggunaan  material dan permukaan yang menghasilkan efek abstraksi yang imaterial dan abadi. Seperti bidang-bidang putih, yang dalam kata-kata Le Corbusier: memenuhi nilai-nilai kebenaran  (dengan begitu sekaligus menjembatani nilai-nilai moral dan objektif). Permukaan dari bangunan-bangunan modern ini diperlakukan sebagai abstraksi yang membatasi volume, dan lebih memiliki esensi konseptual dibandingkan sensorik. Bentuk menjadi vokal, sementara material tetap diam.

Yang hilang kemudian adalah “tactile value” – hal-hal yang berkenaan dengan sentuhan atau perabaan. Padahal, Ashley Montagu, seorang antropologis dan humanis, meyakinkan keutamaan dari perabaan : “Kulit adalah organ tubuh kita yang paling tua dan paling sensitif, medium komunikasi kita yang pertama, dan pelindung tubuh kita yang paling efisien. Sentuhan atau perabaan adalah induk dari mata, telinga, hidung, dan mulut kita. Ia adalah indera yang terdiferensiasi menjadi indera-indera lain, ‘ibu dari indera-indera lain’”. Dengan kata lain, tanpa tactile value, sulit bagi kita untuk mendapatkan pengalaman ruang yang komperehensif.

Tactile value menyaratkan penggunaan material dan hal-hal yang lebih teraba, bukan saja oleh kulit namun juga indera lain. Sayangnya, aspirasi arsitektur modern untuk mendapatkan kemurnian geometri dan dan keindahan yang reduktif makin melemahkan “kehadiran” dari material. Abstraksi dan upaya penyempurnaan menggiring kita ke dunia ide dan konsep, sementara material –  termakan cuaca dan membusuk –  memiliki kualitas yang dapat memperkuat atau memperjelas pengalaman kita dengan waktu, kausalitas, dan realitas. Dua hal yang berada di dua kutub berbeda.

Padahal, setiap pengalaman arsitektur yang penting selalu bersifat multi-inderawi di mana kualitas dari material, ruang dan kondisinya di”ukur” seketika oleh mata, telinga, hidung, kulit, lidah, kerangka tulang, otot – seluruh tubuh. Saya tak mungkin bisa lupa pengalaman ruang yang menakjubkan ketika berada di Angkor. Batu-batu berlumut yang menyusun candi-candi raksasa, patung-patung Apsara berbagai rupa, lorong-lorong sempit yang lembab, bau jamur dan tanah kering, suara turis dan pemandu yang terus menerus terpantul-pantul di dinding, pohon-pohon berusia ratusan tahun yang memberi sejuk dan hijau, yang akar-akarnya menjajah dan menjelajah ke mana-mana….

Saya berani bilang bahwa arsitektur yang dihasilkan untuk memuaskan mata akan tampak seolah berasal dari sebuah momen dalam waktu, sebuah pengalaman dari temporalitas yang datar. Penglihatan menempatkan kita dalam present tense, sementara arsitektur dengan tactile value menggugah pengalaman tentang sebuah waktu yang berantai. Waktu yang di dalamnya tercatat proses penuaan, pengaruh cuaca, jejak-jejak bekas pakai.

Arsitektur tak melulu tentang penguasaan ruang, tulis Karsten Harries, Profesor Filosofi di universitas Yale, melainkan juga sebuah pertahanan yang kuat melawan teror waktu. Tugas arsitektur untuk menandai tempat kita dalam ruang disadari oleh hampir semua arsitek, tapi tugas keduanya dalam menjembatani hubungan kita dengan dimensi waktu yang tak kekal biasanya diabaikan.

Lalu, bagaimana agar kita selalu ingat? Mungkin menyesap secangkir kopi bisa membantu.

 

15 Comments to "Arsitektur Dalam Secangkir Kopi"

  1. Arief Munandar  17 November, 2019 at 20:53

    Selalu ada yang menarik dari kopi

  2. Mo Riza  22 June, 2011 at 12:05

    Great Article, two of my favorite things. Coffee and Architecture

  3. alfred tuname  21 June, 2011 at 19:37

    hem… asiknya minum kopi sambil menulis… kadang sentuhan kopi di bibir lebih indah dari sentuhan pacar sebab kopi lebih setia duduk bersama saat menulis…

  4. [email protected]  20 June, 2011 at 10:49

    waduh… gak mudeng jg….
    dicampur ama kopi sih… gak bisa minum kopi… kalo minum kopi jadi pusing…

    gimana kalo

    arsitektur bersama secangkir coklat panas + pisang goreng….
    atau
    arsitektur bersama INTERNET (INdomie TEloR dan korNET <— makanan anak mahasiswa dl) + segelas teh hangat…

    (ini mau ngomongin arsitektur atau makanan yaa…

  5. Handoko Widagdo  20 June, 2011 at 06:40

    Itulah sebabnya temanku menulis buku: “Air untuk secangkir kopi bagi petani”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.