Mimpi Siang Hari

Anwari Doel Arnowo

 

Judul ini saya terjemahkan langsung dari ungkapan yang terkenal dengan sebutan DAYDREAMING.

Bagaimana sebaiknya kita bisa menempatkan diri kita, kalau saja mungkin, menjadi orang lain? Jadi Presiden Republik Indonesia? Atau setingkat menteri?

Jadi Pak Ketua ERTE (Rukun Tetangga) atau menjadi Kepala Keluarga sebuah keluarga lain? Semua itu hanyalah andai-andai menjadi orang lain.

Tentu saja dengan harapan atau malah pertanyaan dan pernyataan: AKU AKAN BEGINI ATAU BEGITU.

Kalau aku jadi Presiden maka aku akan merombak Kabinet yang ada saat ini.

Kalau aku menjadi Menteri maka akan aku buat organisasi menjadi sehemat dan semangkus mungkin.

Faktanya saya masih saya dan kita masih kita, tidak menjadi Presiden atau Menteri, bahkan Ketua ERTE saja tidak.

Keinginan seseorang itu memang tidak pernah terbatas.

Tetapi saya terbentur kepada sebuah artikel yang ditulis oleh seorang ahli psikologi masyarakat sekitar 30 tahunan yang lalu. Dia tulis antara lain bahwa melamun yang tidak ada batasnya itu, bagus untuk kesehatan jiwa seseorang. Bilamana saya renungkan di dalam kehidupan di sekeliling saya pasti itu ada benarnya, bagaimana tidak? Dia (penulis) itu kan seorang yang ahli di dalam bidangnya. Saya sendiripun merasakan bahwa melamun itu tidak jelek, itu amat tergantung bagaimana kita bisa mampu dalam  mengelola lamunan itu.

Mengelola yang paling benar adalah, kita harus selalu sadar bahwa kita sedang melamun. Sungguh benar, sedang melamun itu bisa dihentikan dan dievaluasi, bilamana perlu. Percayalah kepada diri anda sendiri, jangan hanya karena anda membaca hal ini di sini. Lakukan dan cobalah!!

Bilamana sudah terjadi kesadaran kembali dengan benar, maka anda boleh saja “belajar dari hasil” lamunan tadi. Biasanya tidak ada hasil fisik, tetapi akan ada “perbaikan” dalam bentuk software baru. Itu saja sudah amat menolong.

Saya mendapatkan perbaikan itu sesering saya mengalami “trance” (kerasukan) karena melamun itu.

Begini.

Saya melamun menjadi seorang Presiden sebuah Negara, ya tentunya Negara Kesatuan Republik Indonesia, karena saya memang masih seorang yang ber-kewarganegara-an Republik Indonesia.

Apa isi lamunan?

Sesudah “saya” melambai-lambaikan tangan kepada “rakyat” saya masuk ke istana dan tiba-tiba saja, saya merasa “telanjang”. Eh, telanjang? Iya, ternyata semua orang sudah tau saya ini siapa, bagaimana dan seperti apa dulu dan sekarang. Lalu saya bertanya-tamya lagi apa mereka sudah tau juga mengenai hal-hal yang kurang terpuji yang pernah menimpa diri saya di masa lalu. Wah, semoga jangan sampai tau lah. Wah saya khawatir kepada masa lalu saya dan sekaligus juga bagaimana masa depan saya sebagai Presiden nanti??

Bagaimana kalau saya tidak berhasil baik dalam memimpin pemerintahan saya? Bukankah sebagai Presiden di NKRI ini saya juga Perdana Menteri?

Ternyata saya mendapatkan banyak keistimewaan dan kemewahan, mau atau tidak mau sekalipun.

Lalu merembet ke kemungkinan-kemungkinan sahabat saya dan kawan-kawan saya. Ada kemungkinan mereka akan ada yang ingin lebih “dekat” kepada Presiden yang memang temannya ini, untuk mengambil kesempatan dan tentu saja keuntungan-keuntungan lainnya. Tetapi ada yang sebaliknya. Lho, masa?? Yang sebaliknya ini justru bisa saja menjadi tidak suka kepada saya karena kalau mau berhubungan akan harus melalui protokol dan prosedur yang merepotkan yang otomatis membuat kelompok ini men”jauh” dari saya. Ada juga yang iri hati karena keberuntungan saya, dianggap lebih baik seharusnya jatuh ke dia, karena dia merasa lebih pintar dan mampu dari saya.

Saya melihat secara menyeluruh, maka saya bisa menilai untung rugi yang menyertainya. Eh, kok repot juga ya?!? Saya merasakan bahwa saya akan harus banyak melakukan sandiwara, yang akan menyebabkan saya bisa menjuluki diri saya sendiri dengan : Aku bukan Anwari yang dikenal oleh lingkunganku selama ini. Ha ha. Pasti ada yang secara sinis mengatakan bahwa saya telah terbentur kepada dinding kebudayaan yang berlaianan di dua sisinya yang memang tidak sama itu.

Saya paksa menghentikan lamunan saya dan kembali ke dunia nyata, saya susul dengan menyatakan bahwa diri saya telah kembali menjadi diri saya sendiri yang asli: saya yang apa adanya.

Secara kemiripan maka menjadi Presiden akan hampir sama dengan menjadi Kepala Kelurahan atau Lurah.

Begitu menjabat pasti akan ada beban tambahan. Itu namanya RISIKO JABATAN. Saya tau bahwa saya tidak akan tahan terhadap risiko jenis ini, karena semua risiko itu timbul oleh sebab adanya uang yang membayari ongkos kegiatan jabatan itu, yang notabene menggunakan uang rakyat, yang antara lain hasil dari pajak dan pungutan-pungutan lain. Hati saya tidak tega, karena orang miskin di negeri kita ini masih banyak. Banyak atau sedikit itu relatif siapa yang mengucapkannya.

Koalisi partai-partai yang pro pemerintah pasti mengatakan sudah berkurang jumlah angka kemiskinannya. Sedang kaum partai yang tidak tergabung dengan koalisi pasti akan mengatakan sebaliknya. Apapun kata kedua belah pihak itu, rakyat yang miskin tetap miskin. Berita media akhir-akhir ini justru sebaliknya: berulang-ulang memberitakan bertambahnya individu yang menjadi kaya di Indonesia. Mereka ini sebagian orang yang tidak berbuat benar di dalam kariernya dan sebagian besar juga dari yang mendapatkan “rejeki”nya dari kekayaan alam Negara kita. Mereka bukan mendapatkan kekayaan karena produk hasil kerja serta keringatnya tubuhnya. Itu adalah dua hal yang amat berlainan. Sebagian besar kekayaan alam itu tak terbarukan.

 

Anwari Doel Arnowo

8 Juni, 2011

 

13 Comments to "Mimpi Siang Hari"

  1. atite  18 June, 2011 at 12:08

    …………….”Dia tulis antara lain bahwa melamun yang tidak ada batasnya itu, bagus untuk kesehatan jiwa seseorang”…………
    wah sy setuju sekali dg tulisan ini. sy merasa menjadi monster saat sy gak cukup waktu untuk melamun, ha3x… melamun itu untuk jiwa…
    salam…

    @om D J : wah emang sy pernah jd model lukisannya om D J ya? kok mirip sy? ha3x…

  2. Djoko Paisan  18 June, 2011 at 00:47

    Cak Doel…
    Mimpi disiang hari, cari inspirasi untuk melukis…
    Masih ingat dengan photo dibawah ini bukan….???

  3. Itsmi  17 June, 2011 at 20:54

    JC, sayangnya kita bukan hidup hanya sendiri atau satu kelompok….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.