Baca – Warna – Gaya

Prasodjo Chusnato Sukiman

 

Membaca di ruang gelap? Mungkin saja.

Barangkali tepatnya, membaca di ruang yang tidak begitu terang. Saya tidak menyarankan ini terjadi oleh siapapun, kecuali ada kesempatan yang sangat mendesak seperti yang sudah saya lakukan…

Ceritanya, dua tahun silam tepat di awal bulan Ramadhan tahun 2007 saya sedang melakukan “parash-tangi”, semacam “aksi-terapi air” dari tradisi kuna suku pedalaman India yang menyebabkan saya harus menenggak air lebih dari 8 liter dalam sehari sebelum melakukannya “terapi tanpa air” yang di keesokan harinya. Tadinya saya pikir akan lebih pas jika dilakukan menjelang dengan saum, sehingga puasa sebulan kali itu akan lebih punya kesan “India gimana gitu…”

Mau bagaimana lagi, jadwal saya melorot. Tugas dari Nias baru saja kelar sehari sebelum pra-terapi yang sedang saya jalankan ini. (Akhirnya) saya “kalah” satu hari di puasa kali itu, dengan tujuan, terapi dan saum berjalan seiring selama Bulan Suci.

Saya dan Yanti, seorang seniman foto, akan melakukan wawancara seorang praktisi kuliner, Bara Patiradjawane di ujung selatan Jakarta. Sebelumnya kami sepakat mampir ke sebuah kedai untuk bertemu. Saya tak mau terusik oleh persiapan Yanti yang “ribet” dengan kamera dan barang bawaannya. Saya membunuh waktu dengan membaca sekaligus minum jus dan beberapa botol air mineral.

Dia jeprat-jepret sana-sini. (Saya tahan nafas, jujur, inilah saat-saat yang selalu membuat hati saya senang). Jika seorang seniman foto sedang mempersiapkan peralatnya, banyak sekali momen yang natural, spontan dan (sekaligus) spektakuler. “Dia pasti membutuhkan obyek gratis,” kata saya dalam hati…

Buku yang sedang saya tuntaskan kali itu berjudul “Quantum Ikhlas”, seingat saya lebih dari satu bab saya habiskan dari menunggu kehadirannya sampai persiapan kami berangkat ke tempat Bara. Kedai itu tidak begitu terang, meski ada cahaya dari jendela kaca besar di sisi utama.

“Bacanya di meja sana saja, bisa? Warnanya bagus, gelap dikit tapi gaya,” yang saya ingat begitu kalimatnya saat dia mengarahkan saya.

Saya nurut saja: duduk manis, membaca dengan nyaman, dan tampil wajar tanpa harus merasa rikuh. Saya tak ingin merusak konsentrasi membaca. Sebisa mungkin saya menikmati segalanya tanpa perlu merasa harus dikuntit: terus membaca, minum jus, menghabiskan beberapa botol air mineral, merokok, dan merasa yakin, bahwa saya tak perlu menyiapkan hal apapun…

Sedangkan Yanti sibuk jeprat-jepret entah apa. (Biarkan saja begitu…)

Hari itu saya melanggar banyak hal. Melakukan terapi air sehingga saya “kalah” 1 hari puasa, membaca di tempat yang tidak begitu terang dan penuh pendar cahaya warna dari wallpaper penuh corak buah, dan difoto tanpa persiapan apapun…

Dan, eiitt… satu lagi, kami datang terlambat ketika sampai di rumah Bara. Kami ngaret hingga sejam lebih, semua berantakan… :(

Hati saya sumbing jika mengingat kejadian itu. Saya berniat untuk melupakan foto-foto ini, dalam hati saya “seperti mengingat sebuah dosa saja…”.

Saya yang sering mencintai sesuatu dengan melanggar aturan ini, ingin sekali berbagi cerita. jadi, mohon maaf jika saya harus meng-uploadnya kembali…

Semoga Tuhan memaafkan saya…[email protected] Holistic Writer.

 

13 Comments to "Baca – Warna – Gaya"

  1. J C  9 August, 2011 at 19:56
    إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ

    Turut berbela sungkawa mas Chus…

  2. Dewi Aichi  9 August, 2011 at 17:44

    Innalillahi wa innaillahi rajiun…semoga ibunda mas Prasodjo Chusnato Sukiman bahagia di sisi Allah SWT, semoga mas Chus tabah dan ikhlas…doa kami untuk mas Chus sekeluarga

  3. anoew  21 June, 2011 at 08:53

    Semoga Tuhan memaafkan saya…[email protected]

    Holistic Writer

    Gara-gara ada tulisan itu di akhir tulisan, saya nggak jadi ngrusuh wis..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.