From Kudus to Semarang With Pain

Ikha Ismawatie

 

Begitu aku tahu kalau launching buku Selaksa Makna Ramadhan akan diadakan di Semarang aku memutuskan untuk datang. Kapan lagi aku bisa mengikuti acara seperti ini, pikirku. Kalau menunggu acara seperti ini diadakan di Kudus sepertinya hanya menjadi angan-anganku saja. Semarang tidak jauh dari Kudus, walaupun aku tidak begitu mengenal kota ini, tapi aku mempunyai banyak teman yang tinggal di sana, setidaknya aku bisa bertanya pada mereka tempat yang aku tuju.

Tidak hanya satu atau dua orang yang aku tanya, sebagian besar sales atau medrep yang datang ke kantorku berasal dari Semarang, aku menanyakan sedetail mungkin dimana RM. Primarasa dan harus naik apa kalau aku akan kesana. Bahkan satu di antara mereka rela menggambarkan peta agar aku tidak tersesat. Ada juga yang sengaja SMS memberikan petunjuk begitu dia tahu aku akan ke Semarang. Merekapun menawarkan diri untuk menjemputku di Terminal Terboyo dan akan mengantarkan aku sampai ke lokasi.  Ternyata banyak yang perhatian padaku ya. Alhamdulillah….

Aku menolak tawaran teman-teman yang akan mengantarku, bukan berarti aku tau benar tempat yang kutuju, bukan juga karena aku sudah mengenal kota Semarang. Aku tidak ingin mengganggu hari libur mereka hanya untuk mengantarkan aku. Aku juga merasa sudah cukup tau tempat yang aku tuju dengan petunjuk yang diberikan teman-teman.

Hari itu, Minggu 29 Mei 2011, aku menjadi bimbang apakah jadi berangkat ke Semarang atau tidak. Bukan karena takut nyasar, tapi perut ini sepertinya tidak bisa diajak kompromi setelah kejadian malam sebelumnya (yang ini teman-teman ga perlu tau kejadian apa). Dari pagi mbak Roesmi sudah bekali-kali SMS, dia yang meyakinkan aku untuk berangkat. Ibu juga bilang berangkat saja, ga akan terjadi apa-apa. Akhirnya aku memutuskan untuk berangkat walaupun hati ini rasanya ga yakin.

Dari rumah menuju terminal Kudus aku diantarkan adik bungsuku. Setelah mendapatkan bus, aku segera menuju Semarang. Sepanjang perjalanan aku hanya SMS mbak Roesmi dan mas Salam. Aku mengemukakan kekhawatiranku akan terlambat sampai ke lokasi, tapi mas Salam meyakinkan ga akan terlambat karena masih cukup waktu menuju lokasi. Baru sampai Demak, HP-ku berbunyi, ternyata telepon dari mbak Mae. Aku mengangkatnya, mungkin karena suara yang berisik mbak Mae bertanya, aku sedang dimana, aku jawab kalau aku dalam perjalanan menuju Semarang. Mbak Mae menyarankan untuk mampir ke rumah mbak Pinky. Aduh, gimana mau mampir, rumahnya aku ga tau, dan sepertinya waktunya ga cukup. Akhirnya aku SMS mbak Pinky hanya untuk memberi kabar kalau aku di Semarang tapi aku ga bisa mampir, mungkin lain kali aku akan main ke rumahnya.

Sesampai di Terboyo, aku turun di luar terminal seperti pesan adekku karena kalau turun di dalam pasti akan lebih lama, jalan masuk dan keluar terminal macet. Sambil tanya sana sini aku mencari bus kota jurusan Karang Ayu, akhirnya dapat. Bus kota yang aku tumpangi masih kosong, penumpangnya hanya aku. Aku memilih duduk disamping sopir, aku bertanya apakah melewati tempat yang aku tuju, kata sopirnya nanti akan lewat di depan RM. Primarasa, berarti aku ga salah naik bus kota.

Sambil menunggu penumpang lain, kami berbincang-bincang. Aku bertanya kira-kira berapa lama aku bisa sampai ke tujuan, katanya hampir satu jam. Lumayan lama, hampir sama dengan perjalanan Kudus – Semarang, tapi ga pa pa aku pasti bisa sampai tepat waktu atau kalaupun terlambat ga akan lama. Tapi entahlah, hati ini rasanya ga tenang walaupun aku yakin aku ga akan tersesat. Bus yang aku tumpangi berjalan pelan sekali sambil mencari penumpang.

Sampai di daerah Kota Lama (nama inipun aku tau dari adekku setelah aku sampai di rumah) di depan seperti ada ramai-ramai, tapi apa? Sopir bus yang aku tumpangi wajahnya mulai panik, dia memakai sabuk pengaman (bukan memakai tepatnya hanya diduduki saja), ternyata di depan ada operasi polisi Lalu Lintas. Hari minggu masih ada operasi? Benar juga bus yang aku tumpangi dihentikan, polisi meminta surat-surat kendaraan. Setelah ditunjukkan bukannya disuruh jalan, sopirnya malah disuruh masuk ke Kantor Polisi. Perasaanku makin ga enak, apa yang akan terjadi?

Bus itu kena tilang dan ga boleh melanjutkan perjalanan. Nasibku gimana? Aku masih beruntung, sopir bus itu masih bertanggung jawab pada penumpangnya, penumpang di oper ke bus lain sesuai daerah tujuan penumpang. Aku harus menunggu paling lama karena bus yang melewati tempat tujuanku agak jarang. Udah bisa dipastikan aku telat ke acara launching SMR. Hanya ada dua pilihan, lanjutkan perjalanan atau balik kanan pulang ke Kudus.

Sudah menempuh perjalanan jauh kenapa harus pulang tanpa hasil, aku ga mau menyerah, aku lanjutkan perjalanan dengan bus kota yang kedua. Aku sudah menjelaskan tempat yang aku tuju dengan jelas, dan aku minta tolong pada kondekturnya kalau sudah sampai tolong aku diberi tahu. Semakin panik, perasaan makin ga enak karena pemuda di sebelahku ngajakin ngobrol terus, tanya kemana tujuanku, setelah aku jawab, dia bertanya lagi, aku ga tau jawaban dari pertanyaannya, dan wajahku jelas-jelas menunjukkan kalau aku ga tau daerah tersebut. Dia bertanya lagi, kenapa aku pergi sendirian? Semakin ga nyaman rasanya, ingin pindah tempat duduk takut menyinggung perasaan, aku cuma bisa diam dan tersenyum.

Aku terus memperhatikan jalan, sambil mencocokkan peta yang digambar seorang teman. Masih jauh sepertinya karena aku baru saja melewati Tugu Muda. Tak berapa lama kondektur menyuruh aku untuk bersiap turun, aku agak ga yakin karena di peta yang aku bawa aku harus melewati Banjir Kanal. Walaupun aku ga tau Banjir Kanal itu apa, tapi temanku menjelaskan kalau itu sebuah sungai besar lebih besar dari Kali Gelis yang ada di Kudus. Aku bilang ke kondekturnya kalau tempat tujuanku masih jauh, tapi dengan sedikit marah dia bilang kalau udah mau sampai, katanya aku ga tau dikasih tau kok ngeyel.

Ya udah, mungkin memang aku yang salah, akhirnya aku mau turun. Tempat itu benar-benar sepi, ga ada satu orangpun yang lewat kecuali kendaraan berlalu lalang. Tengok kanan kiri tidak ada tanda-tanda tempat yang aku tuju, tak ada orang yang bisa ditanya. Untunglah di dekat situ ada apotik yang buka, aku berniat untuk bertanya di situ, tapi rasanya ga mungkin kalau hanya bertanya, aku putuskan untuk beli obatku sepanjang masa, Vitacimin, walaupun di tasku masih ada persediaan. Barang yang aku beli harganya hampir dua kali lipat dari harga normal, tapi tak apalah toh aku mendapatkan informasi.

Aku melanjutkan perjalanan dengan angkutan kota, di dalamnya hanya ada seorang sopir yang agak tua, dan seorang ibu-ibu. Baru masuk ke angkutan kepalaku terbentur pintu, aduh nasib sial apalagi ini. Sopir itu bertanya mana tujuanku, aku menjelaskan kemana tujuanku dan berterus terang aku ga tau tempat yang akan aku tuju itu. Pak sopir itu heran karena aku yang berasal dari Kudus bisa naik angkutannya di tempat itu, aku ceritakan semua yang aku alami. Pak sopir ini baik sekali, aku ditunjukkan tempat yang aku tuju dan bahkan beliau menjelaskan bagaimana nanti kalau aku mau pulang.

Aku benar-benar terlambat, tapi tak apalah setidaknya aku sudah sampai. Setelah bertanya ruangan mana yang digunakan aku memasuki ruangan itu. Begitu aku membuka pintu, aku merasa semua mata memandangku, semua tempat duduk telah teisi. Untunglah ada mbak-mbak yang baik hati mau berbagi tempat duduk denganku. Belum lama aku duduk di situ, acara sudah memasuki sesi makan siang. Oh my God, aku datang dan cuma untuk makan. Malu banget rasanya. Pada satu kesempatan aku meminta maaf pada mas Tridju penyelenggara acara tersebut. Untunglah beliau bisa memakluminya.

Setelah acara selesai aku memutuskan untuk segera pulang, aku tidak ikut bergabung dengan yang lain yang masih ngobrol-ngobrol. Aku hanya kuatir kalau kemalaman sampai rumah. Dari tempat itu aku tidak mampir kemana-mana, aku langsung menuju ke terminal Terboyo dan segera pulang ke Kudus. Alhamdulillah, perjalanannya lancar sampai ke rumah.

Ini adalah sebagian kecil dari apa yang aku alami. Seperti juga dengan kehidupan, kita pasti punya tujuan, punya cita-cita. Untuk mencapai itu semua bukanlah hal yang mudah, diperlukan perjuangan dan usaha untuk meraihnya. Tidak jarang kita menemui kesulitan dalam meraihnya, tapi pasti banyak orang-orang disekitar kita yang akan membatu kita.

Aku akan terus mengejar mimpiku…..

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung Ikha Ismawatie. Make yourself at home dan ditunggu tulisannya yang lain. Terima kasih Dewi Aichi yang sudah mengenalkan satu lagi penulis ke Baltyra.

 

24 Comments to "From Kudus to Semarang With Pain"

  1. bagong julianto  22 June, 2011 at 15:43

    JC>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> kuntul ‘no jenenge! Iki ethok-ethok ‘to?

  2. nia  22 June, 2011 at 14:50

    jiaaahhh… ini kok malah ganti judul from PWR to SMG…

  3. Lani  22 June, 2011 at 14:01

    AKI BUTO……halah iki buto……….kan aku bolak balik SRG-PWR……..bus nya lewat mana hayooooooooo…………hadoh wis pikun tenan dirimu wakakak

  4. J C  22 June, 2011 at 14:00

    Laaaahhh kuliahmu khan di Semarang bawah tho? Jurusanmu khan di Pleburan, Imam Barjo? Lha kalo liwat bolak-balik di depan BR situ berarti kowe saba tho?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.