Kejamnya Bangsa Terhadap Bangsa Sendiri

Faizal Ichall

 

Aku ingin mengisahkan sebuah bangsa yang dikorbankan oleh bangsanya sendiri. Sebuah bangsa dari kebanyakan anak petani di sebuah negri yang subur, sebuah bangsa yang mencari buah dari tumbuhan langka yang tidak dapat ditemui di dalam negrinya, tumbuhan yang menghasilkan buah yang memiliki rasa menyenangkan. Konon menurut para pedagang jiwa, pohon tersebut dapat dijumpai di daerah gurun sebuah bangsa, ya… di gurun sebuah bangsa yang panas hatinya, sepanas matahari yang mencoba memanggang bangsa tersebut karena Tuhan pernah mengutuknya.

Pedagang jiwa sangatlah pintar bersilat lidah, mereka merayu saudara, teman dan tetangga mereka, mereka mengatakan bahwa sangat mudah menanam pohon langka di sana, di samping mendapatkan buah langka, petani pun diberi jaminan nirwana, bayangkan! Nirwana…buah langka… itu yang mereka sugestikan kepada anak bangsa tersebut, sebuah cara atas nama dogma dan kebutuhan hidup.

Perempuan, Laki-laki, anak anak yang belum dewasa, lho bagaimana bisa untuk seorang anak anak? Bisa, karena di negri itu pihak kerajaan turut mengaminkan usaha para pedagang jiwa, hal itu disebabkan pihak kerajaan sangat menggemari rasa buah itu, sehingga untuk mendapatkannya mereka rela mengorbankan rakyatnya.

Untuk dapat megelabui aturan yang dibuat dewa dewa, para pedagang jiwa biasa bekerjasama dengan penyihir dan pesulap di negri itu, menyihir anak belasan menjadi orang dewasa, atau menyulap seseorang berganti rupa, bahkan mereka bisa merubah sekop menjadi pelana, apakah pihak kerajaan tahu itu? Mereka tahu dan mengerti, tetapi rasa buah itu telah memabukan mereka, alhasil mereka tertidur karena kenyangnya saat proses serah terima jiwa berlangsung.

Mengapa mereka tidak menanam pohon itu ditempat asal mereka? Yah…itulah keprihatinan dari bangsa itu, rasa buah langka itu telah membuat candu mereka para pihak kerajaan, sehingga pihak kerajaan tak lagi memperhatikan rakyatnya, kerakusan mereka yang membuat mereka enggan memberi bibit pohon langka tersebut untuk sekedar memfasilitasi rakyatnya, ketika mereka memiliki buah tersebut berlebih pun, mereka lebih memilih membuatnya sebagai manisan, disimpan agar dapat dinikmati keturunannya mendatang.

Ketika sampai di negri yang panas itu, kebanyakan dari para pekerja kecewa, kekecewaan mereka bukan karena telah mendatangi negri yang aneh itu, melainkan kekecewaan karena telah merasa ditipu dan diperdaya oleh para pedagang jiwa yang tidaklah lain adalah saudara sebangsanya. Tidak juga itu, jika mereka mendapatkan masalah, dan mereka meminta tolong pada para mandor perkebunan yang ditugasi pihak kerajaannya untuk mengawasi dan melindungi para pekerja perkebunan, mereka hanya mendapat ketidak pastian bahkan ada yang merasa seperti dirampok, karena mereka harus menyerahkan buah langka tersebut kepada para mandor agar para mandor bisa membantunya, tetapi tetap saja hanya kesia-siaan yang mereka dapatkan. Mereka para mandor perkebunan lebih pantas dikatakan sebagai anjing penjaga para tuan tanah.

Banyak dari kaum perempuan yang menderita oleh perlakuan bangsa panas ini, tetapi tidak akan kuceritakan kali ini, aku hanya akan menceritakan kejamnya suatu bangsa di negri sebuah bangsa terhadap bangsanya sendiri.

Para perempuan yang tidak kuat terhadap perlakuan tuan tanahnya, mereka berlari untuk meloloskan diri dari tuan tanahnya, biasanya mereka berlari sebelum matahari terbit, dimana tuan tanah dan seisi rumahnya sedang tertidur pulas, mereka biasa dibantu oleh mereka yang bekerja sebagai para pengendara kereta kuda para tuan tanah, dengan waktu yang telah direncanakan sebelumnya, atau para perempuan tersebut mencoba kabur setelah melakukan ritual suci di sebuah kuil di kota itu, hanya dengan cara itu mereka bisa melepaskan diri dari tuan tanahnya, karena di dalam kesehariannya para perempuan itu dikurung dan tidak bisa ke mana-mana seperti para pria.

Mereka yang berlari tidaklah semua bernasib lebih baik, bagi yang bernasib sedikit lebih baik mungkin akan mendapatkan pekerjaan baru dari tuan tanah lainnya yang licik karena enggan memberikan sesaji kepada para dewa sebagai sebuah tanda penebusan jiwa, bagi yang kurang beruntung, hidup mereka terkatung katung, setiap hari merasa takut dan tercekam karena pengawal kerajaan negri panas itu akan menangkap mereka yang tidak memiliki restu dari dewa, memenjarakan dan menyiksanya, pun memperkosanya. Untuk bertahan hidup mereka akhirnya pasrah dan menyerah, mereka bersedia menjadi pelayan-pelayan setan, melayani segala kebutuhan setan yang tidak mungkin didapatkan di negri yang panas itu, dan dukun yang mendalanginya adalah saudara sebangsa dengan perempuan itu, setan-setan itupun ada juga yang dari jelmaan para pria saudara sebangsanya yang dimana setan telah menguna-guna hasrat kelelakiannya.

Kota itu bernama Dejjah, sebuah kota di tepi laut. Sebuah kota tujuan utama bagi mereka yang coba melepaskan diri dari kesemena-menaan para tuan tanah, sebuah kota yang membuat ribuan orang lebih terkapar dan menderita, sebuah kota harapan terakhir agar bisa dianggap sebagai manusia.

Pembunuhan, penyiksaan, pemerkosaan, pelecehan, dan kesemena menaan adalah fenomena yang sering terjadi di tanah yang tandus ini, dimana darah dan air mata dari para pendatang sangat dibutuhkan agar membuat tanah yang kering dan tandus ini menjadi subur.

Yang memprihatinkan adalah sebuah bangsa yang tidak perduli pada saudara sebangsanya, apakah karena negri yang gersang ini telah membuat hatinya menjadi gersang pula? Atau rasa buah langka itu juga telah membuat candu pada mereka, sehingga rasa dari buah itu lebih bernilai dari harga sebuah jiwa? Lalu pada siapa mereka(perempuan) harus meminta perlindungan, sedang pihak kerajaan malah sedang asyik membuat manisan?

[…]

Salam

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung, Faizal Ichall. Make yourself at home dan ditunggu juga tulisan-tulisan lainnya. Terima kasih Dewi Aichi yang sudah mengenalkannya ke Baltyra.

 

20 Comments to "Kejamnya Bangsa Terhadap Bangsa Sendiri"

  1. Djoko Paisan  21 June, 2011 at 02:01

    Mas faizal… terimakasih…!!!
    Penyampaian yang sangat bagus dan bisa dimengerti….
    Salut….!!!
    Semoga
    kerajaan ( Bangsa ) akan bisa satu saat menanam buah itu, sehingga anak bangsa tidak perlu mencarinya sampai kepadang gurun….
    Dj. juga salah satu dari mereka.
    Puji TUHAN….!!!
    Tidak harus mengalami hal-hal yang negativ.
    Salam damai dari Mainz…

  2. atite  21 June, 2011 at 00:27

    wah tulisan ini betul menampar semua org… sampai mas Anoew pun bs berkomentar panjang
    saya suka metafora ini… makasih mas Faizal… salam

  3. Dewi Aichi  20 June, 2011 at 21:47

    Ini malah main pegang pegangan ha ha….Itsme….mau dong di pegang……ngibrit….takut dipegang beneran.

    JC …bener kan tuh Anoew, kalau aku nyebut arus bawah….langsung muncul kayak jangkrik habis kehujanan.

  4. Itsmi  20 June, 2011 at 21:31

    Agama selalu akan berusaha memegang kuasa urusan bawah karena dengan memegang urusan bawah, mereka juga memegang kamu… itu intinya…

  5. J C  20 June, 2011 at 20:13

    Wuiiiiiihhh…telak sekali mengena tulisan Faizal ini…

    Dewi Aichi, Kang Anoew, PamPam, Hennie, kalo laskar satu itu ya gitu lah, mana berani menghadapi ‘negeri onta’ tsb, beraninya sama saudara sebangsa sendiri, kalau sudah ada urusan begini, mereka yang nomer satu ambles, tiarap…

  6. anoew  20 June, 2011 at 18:11

    Waaah…, yg dijadikan poin sama DA malah urusan bawah

  7. anoew  20 June, 2011 at 18:08

    @Pak Hand: PLOOOK…!!

  8. anoew  20 June, 2011 at 18:01

    Pas Australia mengetahui bahwa eksport sapinya diperlakukan tak
    beradab di Indonesia, Australia langsung protes atas perlakuan itu dan melakukan pembelaan terhadap hewan tersebut dengan ancamam akan menghentikan ekspor sapi.

    T
    A
    P
    I

    Pas Indonesia mengeksport TKWnya ke Arab. (juga Malaysia) dan mendapat perlakukan tidak
    beradab di sana, Indonesia tak melakukan protes keras terhadap perlakuan itu.. pun tidak membela “pahlawan-pahlawan devisanya”
    tanpa mengancam menghentikan ekspor TKW.

    TERNYATA

    Sapi masih dianggap
    lebih berharga dibanding manusia..

    Hoeeeeekkk…

  9. Dewi Aichi  20 June, 2011 at 17:40

    iya tuh FPI mingkem…!

    Tapi kalau urusan arus bawah….wuahhhhh…FPI malah nomer satu..!

    mas Faizal…sangat mengena tulisanmu ini…!

  10. Handoko Widagdo  20 June, 2011 at 17:22

    Sebuah tamparan yang keras di pipi saya…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.