Ngacir ke Hot Springs

Hariatni Novitasari

 

Minggu malam seminggu yang lalu waktu Amerika atau Senin pagi waktu Indonesia, aku menerima email dari JC. Isinya jelas, singkat, dan padat. Menanyakan kabar karena sudah lama tidak muncul dan menulis di Baltyra. Baru sadar, ternyata memang sudah lama aku tidak nongol dan menulis, lebih dari tiga bulan.

Alasannya, aku lagi sok sibuk dengan kuliah dengan weekly readings yang bisa membuat mual dan terjebak dengan tugas-tugas kecil tetapi cukup menyita waktu. Terlebih, begitu semester Spring selesai langsung dilanjutkan dengan kelas Summer. Praktis, aku hanya punya libur dua hari untuk pergantian semester ini. Nah, dua hari libur inilah yang kemudian aku manfaatkan untuk ngabur ke Hot Spings, Arkansas.

Rencana ini sebenarnya sangat mendadak. Di tengah-tengah minggu ujian dan menyelesaikan final project, tiba-tiba temanku menelpon, menawarkan ide untuk pergi ke Arkansas bersama dengan dua orang lainnya. Tanpa pikir panjang aku bilang iya. Rencana jalan-jalan akan membuatku lebih semangat lagi untuk menyelesaikan final project literature review kelas Prof. Swanstrom yang bikin rambutku tambah beruban…

Kami rencana berangkat jam 6 pagi karena perjalanan darat kesana membutuhkan waktu 8 jam. Kalau berangkat jam 6 pagi sekitar jam 12 sudah sampai di tempat tujuan dan punya sedikit waktu untuk jalan-jalan di kota. Lha, ternyata, semua bangun kesiangan pada hari Sabtu-nya. Aku tiba-tiba terbangun jam 7 pagi ketika temanku menelpon akan menjemputku.

Alamak, semalaman tidur dengan nyenyak untuk merayakan kemederkaan sesaat. Untung aku semalam sudah mandi sebelum tidur. Aku langsung bilang ke temanku “Beri aku waktu 15 menit” Hal pertama yang aku lakukan selain ke kamar mandi adalah memanaskan air untuk kopi. Tidak sampai 15 menit semuanya sudah beres, dan siap berangkat ke Hot Springs. Kami akhirnya pergi berlima. Bepergian dengan sedan yang diisi lima orang agak menyiksa juga karena tempat duduk yang sempit. Tapi itu tidak menjadi soal bagi kami.

Ada dua pilihan untuk mencapai Hot Springs: via Springfield, IL atau Memphis, TN. Kami memutuskan untuk lewat Springfield karena di Memphis sedang banjir akibat meluapnya Mississippi.

Perjalanan ini memang membuktikan kalau daerah Midwest memang kawasan yang datar sekali. Tidak ada gunung. Yang ada hanya hutan kecil-kecil atau kadang pertanian (farm) sepanjang highway. Pemandangan di kiri dan di kanan sangat monoton. Highway juga kadang-kadang sepi. Kadang yang ada hanya mobil kami. Kadang kami bersimpangan dengan kendaraan lain, tetapi kecepatan juga sama-sama tingginya. Tidak membayangkan menyetir mobil sendiri pada malam hari, karena highway di US ini tidak ada lampu jalannya seperti umumnya highway di Indonesia.

Yang justru bikin pemandangan adalah ketika memasuki daerah tidak di highway, tetapi di perkampungan. Akan tampak rumah-rumah orang di desa Amerika dengan halaman mereka yang luas, kadang dengan mesin traktor yang nangkring di depan rumah, atau dengan kotak pos mereka yang sangat khas: terletak di jalan raya, dan ada bendera yang berwarna merah. Kotak pos seperti itu mengingatkan pada film “The Lake House.”

Karena kita berangkat sudah molor, baru sekitar jam 4 kita sampai di Hot Springs. Kita tidak bisa langsung jalan-jalan karena harus menemukan hotel dulu. Akhirnya, kita ketemu yang cocok dengan kantong kita di “Travelodge.” Untungnya, lokasi dekat dengan downtown di Central Avenue.

Setelah sampai Hot Springs, aku baru tahu, kalau kota ini adalah tempat kelahiran mantan Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton. Baru sadar setelah mulai masuk kota. Banyak plang yang menunjukkan kota ini adalah tempat Clinton. Sebelum menjadi presiden, Clinton dulunya adalah gubernur Arkansas.

Kesan pertama ketika sampai di Hot Springs, kota ini memang kota liburan. Sudah hawanya sejuk dan enak, kotanya juga kecil. Mirip-mirip kota tempat tujuan wisata di pegunungan macam Batu, Jatim atau Dieng, Wonosobo. Karena letaknya ini, sepertinya tidak ada kendaraan umum yang bisa sampai ke Hot Springs kecuali memakai mobil sendiri. Hanya saja belum mencoba survey. Kalaupun bisa dijangkau dengan kendaraan umum, mungkin hanya sampai ke Little Rock, ibukota Arkansas.

Karena sudah terlalu sore, banyak tempat wisata yang sudah tutup. Pilihan kita hanya jalan-jalan di Central Avenue yang merupakan downtown Hot Springs. Sampai di sana, banyak sekali bath houses (atau dalam pikiranku rumah-rumah tempat spa). Tempat mereka berderet dan berjajar di sepanjang Central Avenue. Yang bikin cantik bath houses di sana adalah gaya arsitektur mereka yang mirip dengan hacienda di Meksiko.

Di beberapa bath houses yang terkenal, di depan gedung mereka dibuatkan monumen kecil yang mengisahkan sejarah bangunan itu. Dan, untuk bangunan-bangunan di Hot Springs memang dianjurkan untuk menggunakan Californian style alias gaya hacienda itu. Hasilnya, bangunan-bangunan di Hot Springs memang bagus. Dan, masuk akal juga kalau namanya Hot Springs.

Selain banyak bath houses, di sepanjang Central Avenue terletak banyak restoran dan café. Salah satunya adalah Ohio pub dan resto. Resto ini merupakan salah satu tempat makan tertua di Hot Springs. Di luar restoran ini, banyak motor-motor gedhe (moge) yang parkir. Para pemilik moge banyak yang bergerombol di luar café. Mereka umumnya bertubuh gedhe-gedhe, bertato dan menggunakan jaket kulit.

Di Hot Springs sini, banyak sekali dijumpai pengendara moge beserta motornya. Bahkan hotel-hotel di kota ini juga langsung menyediakan tempat parkir untuk moge. Tempat hiburan yang buka sampai dengan malam itu hanyalah wax museum Josephine Tussaud. Iseng saja masuk ke dalamnya, ternyata setelah agak dilihat-lihat, patung-patung lilin yang ada di sana tidak terlalu mirip dengan yang sebenarnya, tidak seperti di Madame Tussaud yang pernah aku kunjungi di Washington D.C.

Entrance fee-nya juga lumayan, $10. Jadi memutuskan untuk tidak masuk saja. Ada lagi satu museum yang sebenarnya menggelitik, Museum Gangster. Tapi, sore itu, dia sudah tutup. Akhirnya malam itu diputuskan untuk jajan es krim di toko bernama Nut Cellar yang menyediakan berbagai macam homemade ice cream, sandwiches, kopi, dan beberapa makanan lainnya. Es krimnya cukup enak, dan kemudian terjebak percakapan tentang pencarian religius si pemilik toko es krim yang nyentrik. Setelah itu, kami balik ke hotel, dan makan malam dengan gulai kambing. Sedapnya…

Trekking di Cedar Falls

Inilah tujuan kita datang ke Hot Springs sebenarnya: trekking di Cedar Falls. Jam 8 tepat, kami meninggalkan hotel. Sebelum menuju ke sana, kami mencoba melihat Hamilton Lake yang lumayan bagus. Hanya saja, kami tidak bisa masuk karena sebagian besar area Hamilton Lake diakusisi oleh hotel-hotel besar dan menjadikannya “private property.”

Akhirnya kami hanya bisa melihat dari dekat dan meneruskan perjalanan ke Cedar Falls yang terletak di Jane Petite State Park. Dari Hot Spring perjalanan ke sana membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Sepanjang jalan menuju kesana, kami menyusur hutan yang ada di kiri dan kanan jalan tol. Kadang juga pertanian luas. Banyak sekali sapi milik Pak Tani Amerika yang dilepaskan dengan bebas.

Jam 12 siang kami sampai di information centre Jane Petite National Park. Kami membaca kalau mau trekking harus minta ijin. Kami tanya di sana, ternyata tidak membutuhkan ijin untuk trekking. Langsung kami ke tujuan. Sebelumnya, mampir dulu di Cedar Falls Overlook. Di overlook, trekking sudah dibuat enak dari bambu. di sini, kita hanya melihat overlook sisi lain air terjun yang sudah mengering. Waktu yang paling tepat untuk datang ke overlook ini adalah di awal musim semi ketika salju-salju pada meleleh. Hanya sebentar saja kami melihat air terjun yang sudah mengering dan melanjutkan ke air terjun yang sebenarnya.

Berbeda dengan overlook yang dibuatkan trekking rail dari kayu, trekking trail yang di sini masih benar-benar alami. Batu dan tanah yang tidak diapa-apakan. Bahkan kami menjumpai batu cadas yang super duper besar. Pohon-pohon juga terlihat sangat tua. Tak jarang yang roboh menghalang jalan dan dibiarkan saja. Ada aturan di sini, kalau property yang ada di national park tidak boleh diambil atau dipindahkan. Bahkan batu kecil dan ranting pohon.

Banyak sekali orang yang ikutan trekking. Lelaki-perempuan, tua-muda, bahkan anjing-anjing juga pada ikutan tuannya trekking. Ketika kami mulai trekking, kami menjumpai seorang nenek-nenek yang terjatuh dan sepertinya kakinya patah. Kami melihat rangers datang dengan tandu daruratnya.

Kami tidak tahu berapa miles kami berjalan (karena aku lupa iPodku) dan berapa jam kami berjalan (karena aku lupa melihat jam sebelum trekking), yang jelas perjalanan ini sedikit agak panjang tapi menyenangkan. Kami mendapatkan payoffs yang sebanding ketika menjumpai air terjun yang unik. Kiri-kanan air terjun adalah batu cadas. Batu-batu besar di sungai bawah air terjun.

Karena batu yang besar dan sungai yang kecil, banyak orang yang malah membaringkan diri di batu nan besar. Sambil menikmati air terjun, aku sesap Starbucks dinginku. Aih, aku ga pernah suka Starbucks, tapi dalam kondisi yang patut dirayakan seperti ini, karena adanya cuma kopi itu, mau bagaimana lagi. Setelah lelah hilang, kami kembali ke main parking lots. Jalan kembali tidak selama jalan pergi ke air terjun. Kami siap kembali ke St. Louis dan perjalanan panjang 8 jam di jalan tol. Pas itu kami baru sadar, kalau kami belum sarapan dari pagi…Hihihihihi. Akhirnya, kami mampir di Subway yang ditemukan ketika akan masuk ke jalan tol.

 

43 Comments to "Ngacir ke Hot Springs"

  1. nevergiveupyo  22 June, 2011 at 13:27

    ya kan emon yang nesu..emon yang ngasih duit..bukan dia yg dapat….
    kalo sama tante brazil itu sih satus ewu-nya rupiah….

  2. Lani  22 June, 2011 at 13:21

    NEV…….lo pie to????? maksudku 100 ewu USD…….mmg HN gak mau duit sak mono?????

  3. bagong julianto  22 June, 2011 at 13:18

    HN, mau esuk kompiku lelet’ok…… Brad diwoco Rmd……. wis mbhethek’e ngawur tenanan……….
    Opo mungkin yo: Hariatni, songko susahe di-spelling londo amerika dadi Jenny wae, terus nek nulis neng watu dadi Jen thok….. Banjur Brad kuwi opo Braddy koncomu sing Amerika kuwi lho?! Piye, genahe?
    Usil tenan iki…….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.