Rumah Abadi Kita

Bamby Cahyadi for Dinar Atfa Cholifah

 

Puisi terakhir karya Dinar Atfa Cholifah. Dinar atau Nina, meninggal dunia pada hari Minggu, 19 Juni 2011 akibat kecelakaan lalulintas saat hendak bersilaturahmi dan kopdar komunitas penulis Fiksi di Surabaya.

Ijinkan saya memposting puisi karya Dinar ini sebagai wujud penghormatan saya kepadanya.

 

Rumah Abadi Kita

Rindu ini tak lagi bertepi
Bayangan wajahmu yang lalu
Selalu menjamahku
Mencoba mengajak menari-nari
Di tengah kesunyian

Ah biarlah aku dalam fatamorgana ini
Jangan sadarkan aku!
Kumohon!
Jangan coba hilangkan bayangmu dari benakku

Biarlah air mata ini mengalir deras
Biarlah hati ini menjerit
Karena…
Sejauh apapun ku melangkah
Setegar apapun ku berlari
Aku takkan bisa memasukki rumah surgamu

Biarlah aku dalam khayalku
Menari-nari dengan imajinasi
Kau ada bukan untuk dikenang
Kau ada karena aku ada
Kau dan aku…
Kita adalah padu

Hari ini kau masih menari-nari dalam khayalku
Tersenyum manja dalam belaianku
Tapi mungkin esok, lusa, atau tak tentu waktu
Kau dan aku akan bersama
Hati kita menyatu
Di antara peluk dan air mata

Mungkin nanti…

Di rumah abadi kita, selamanya…

Puisi saya dapatkan dari Grup FB Diskusi Fiksi. Menulis Fiksi. Membaca Fiksi

 

Note Redaksi:

Selamat jalan Dinar Atfa Cholifah. Walaupun belum pernah kenal dan baru pertama sekaligus terakhir puisimu di sini, Bamby Cahyadi mengirimkannya untuk penghormatan terakhir untukmu.

 

10 Comments to "Rumah Abadi Kita"

  1. Bamby Cahyadi  21 June, 2011 at 15:45

    Terima kasih teman-teman, rencananya untuk mewujudkan cita-cita Dinar, pihak Universal Nikko (Mayoko Aiko) akan menerbitkan buku kumpulan puisi dan prosa karya Dinar dalam waktu dekat. Kita doakan semoga Dinar senang dan bukunya sukses. Amin

  2. Djoko Paisan  21 June, 2011 at 03:00

    Bung Bamby….

    Berarti Rumahnya di surga ( yang abadi ) sudah jadi.. sehingga Tuhan panggil pulang untuk bisa
    segera menempatinya..
    Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan penghiburan dari
    Tuhan… Amin!

  3. atite  21 June, 2011 at 00:33

    ………Sejauh apapun ku melangkah
    ………Setegar apapun ku berlari
    ………Aku takkan bisa memasukki rumah surgamu………….

    berbahagialah mereka yg merendahkan diri di hadapanNya… selamat sampai di rumah abadi…
    salam.

  4. J C  20 June, 2011 at 20:10

    Turut berduka cita juga. Dewi Aichi, mungkin yang berjudul “Dijemput Malaikat” bisa juga diposting di sini? Sepertinya almarhumah memang sudah merasa ya, 2 puisi berjudul demikian sepertinya merupakan pertanda yang sangat jelas.

  5. Dewi Aichi  20 June, 2011 at 17:35

    Turut berduka cita yang mendalam..!

    Puisi ini sepertinya firasat bahwa kepergiannya sudah dekat, juga satu lagi puisi yang Dinar tulis berjudul “dijemput Malaikat”

  6. Daisy  20 June, 2011 at 16:56

    Innallillahi wa inna lillahi rojiun, turut berbelasungkawa…

  7. HennieTriana Oberst  20 June, 2011 at 16:30

    Selamat jalan dan beristirahat dengan tenang.

  8. [email protected]  20 June, 2011 at 15:07

    waw… turut menghormati….
    ….
    Hormat….
    Grak…
    ….

    *maaf penghormatannya terkesan seperti main2, padahal serius…*

  9. nu2k  20 June, 2011 at 11:41

    Meskipun belum pernah pernah jumpa dan saling kenal, tidak ada salahnya kalau saya mengucapkan dan menyampaikan rasa duka bagi keluarga yang ditinggalkan. Melalui Bung Bamby Cahyadi.

    Inna llillahi wa inna lillahi rojiun. Semoga Engkau dapat memberikan tempat yang layak bagi almarhumah dan Engkau maafkan semua yang tidak Engkau ridhoi. Amien.

    Sajak, Puisi atau apapun namanya, “Suatu permainan kata, yang menyiratkan banyak arti”….

    Semoga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. gr. Nu2k

  10. Djoko Paisan  20 June, 2011 at 11:27

    1.
    Maaf mau ngarit dulu, sampai nanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.