Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari

Cinde Laras

 

Di pertemuan terakhir murid-murid SDN Bintaro 04 dengan jajaran kepala sekolah dan guru di pertengahan tahun 2009, terdengar pesan itu.

“Bagi yang pintar : lihat depan-belakang-kiri-kanan. Berikan jawaban untuk teman yang membutuhkan !”.

Sejenak mata tertegun memandangi kepala sekolah yang sudah menjelang pensiun itu. Terkejut sekaligus kecewa. Beliau yang santun dan ramah, disiplin dalam memberikan pengarahan pada anak buah dan anak didiknya. Tiba-tiba hari itu mengutarakan hal yang membuat miris sebagian orang dengan pesannya yang sangat gamblang tentang kerjasama antar murid saat ujian.

Kerjasama ? Hmm…, ijinkan saya akan menyebutnya simbiosis parasitisma. Karena hanya akan ada satu pihak diuntungkan dengan proses itu, dan yang lain hanya akan mendapatkan kerugian. Siapa yang rugi ? Tentu saja murid pandai yang dilibatkan. Betapa tidak adilnya mandat yang dia terima dari engku gurunya.

Sebuah arahan yang sama sekali tak beretika – memerintahkan anak murid yang sudah dipercayakan padanya oleh semua orangtua murid, untuk melakukan hal yang melawan kebenaran. Melawan ! Againts ! Anti ! Padahal haqqul yaqqin saat masih berstatus guru kelas dulu, beliau pasti menjadi orang pertama yang akan menghukum bila mengetahui anak murid asuhannya main contek saat ulangan.

Dan sampai detik ini beliau masih bersikap ramah dan santun tiap kali bertemu orang tua murid yang datang ke kantornya. Seakan tanpa dosa. Jadi rupanya tak ada sangkut-paut antara santun/ramah dengan etika kejujuran. Sikap dualisme kepala sekolah itu buktinya.

“Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”

Pepatah itu sudah sedemikian lama kita pelajari semenjak masih duduk di bangku SD. Adalah para guru yang mengajarkan hal ini pada kita yang menjadi muridnya. Sebuah pesan yang saat ini tak lagi dijadikan pedoman bagi sebagian guru yang ada. Logikanya, bila guru memberikan contoh untuk saling kerjasama saat ujian, maka tak heran bila suatu saat nanti murid-muridnya akan meneladani caranya dengan saling bekerjasama untuk suatu kebohongan, kejahatan, kebathilan.

Bahwa pengaruh nurture akan memberikan andil hingga 80% dari pembentukan sikap seorang individu. Lalu apa jadinya kalau sepanjang masa pendidikannya, si anak hanya mendapatkan pengalaman di’suruh’ kerjasama memberi/menerima contekan ?

Guru adalah individu yang mendapatkan kepercayaan para orangtua murid yang berpengharapan agar anak-anak mereka tidak hanya bisa mendapatkan transfer ilmu pengetahuan, tapi juga kepandaian beretika. Guru adalah individu yang seharusnya mutlak memiliki sikap adil, jujur, dan bijaksana. Sebagaimana para ulama yang bertugas menyampaikan pesan agama kepada umat, guru adalah manusia yang ditugaskan untuk meletakkan fondasi etika berpikir bagi anak-anak muridnya, di samping para orangtua. Dalam arti kata lain, jangan pernah bermimpi menjadi guru kalau tidak bisa bersikap adil, jujur, dan bijaksana. Itu sebabnya para guru disebut engku, kata lain dari tuanku, orang yang dihormati.

Guru bukan pengacara, orang-orang yang hanya akan membela siapa yang membayarnya. Guru bukan dokter, orang-orang yang akan menyembuhkan selama diberi bayaran. Guru adalah profesi yang jauh lebih mulia, yang dipercaya bisa memberikan andil besar dalam pembangunan karakter seorang anak didik. Lalu apa jadinya bila guru hanya berpedoman pada target kenaikan pangkat ? Teringat pesan Ahmad Dahlan dalam film Sang Pencerah yang sempat kami tonton tempo hari : “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup dari Muhammadiyah”. Hmm…, sama sekali tak seiman dengan sebagian guru yang menjadikan motto “Hidup adalah Uang” sebagai pedoman.

Lalu ‘nyanyian’ sumbang terdengar lagi akhir-akhir ini. Bukan dari TV dan koran yang dipenuhi kasus Alif dan ibunya, Siami. Tapi dari anak sulungku sendiri yang baru saja dinyatakan lulus dari SMA 70. Dia yang di semester akhir ini lagi-lagi didapuk jadi ranking 1 di kelasnya, membeberkan kisah tentang betapa sekolah telah melakukan pembiaran sms jawaban soal yang massal dikirimkan pada semua murid menjelang try out resmi dari DIKNAS dan UN.

Pembiaran, bukan pemberian. Karena konon sudah ada tim sukses yang dibentuk siswa tertentu untuk meloloskan hal ini. Try out DIKNAS adalah saat untuk uji coba sms massal, kalau sukses berarti sms saat hari UN juga pasti aman. Dan terbukti banyak murid tiba-tiba mendapat nilai sangat tinggi untuk try out dan UN, keduanya dimasukkan dalam nilai raport.

“Apa kamu membacanya ?”, tanya saya.

“Cuma melihat. Untuk apa diingat pake cape-cape ditulis di pensil kayak yang laen ?”, dia balas tanya.

“Lalu kamu hapus ?”, saya menyelidik.

“Sebagian. Yang sebagian lagi masih ada tuh, buat bukti kalau nanti ada yang tanya !”, jawabnya dengan bibir manyun.

Hmm…, sms itu hadir berurutan selama try out DIKNAS dan UN. Berhari-hari.

“Tidak ada guru yang tahu ?”, tanya saya lagi.

“Mana mungkin gurunya nggak tahu ? Itu kan mata ?! Emang bisul ? Orang gurunya matre !”, jawabnya ngasal.

“Terus kalau yang lain dapat nilai bagus gimana ?”, tanyaku.

“Biarin. Mau aku dapat berapa yang penting gak nyontek !”, jawabnya sambil ngeloyor.

 

Yaa…, Guru…. Jadikan dirimu terhormat dengan akhlaqmu, agar muridmu ini menghormatimu….

 

45 Comments to "Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari"

  1. probo  2 July, 2011 at 17:05

    Cinde….ngomongin masalah pendidikan memang mbulet….campur bundhet……dan kadang kami nyaris frustasi juga…….

  2. Cindelaras  2 July, 2011 at 16:53

    @atite : Ini komen seorang alumnus 70 yang sekarang kuliah di UGM soal sms contekan –

    “komentar saya sederhana: ‘itu hal BIASA’

    Yang atas ga bisa memberi contoh yang baik, yang bawah ngikutin atasannya, tapi masih banyak yang baik cuma sedikit yang mengikuti
    20 June at 06:12 ”

    Artinya, ini sudah bergenerasi terjadi (berapa angkatan ya ?). Yang jelas, prosentase pengikutnya belum dijumlah secara riil. Tapi baru ketahuan ikut nyontek saja sebenarnya sudah harus malu. Malu ah kalau anak-anak pintar kayak siswa 70 ada yang nyontek pakai sms menjelang try-out dan UN. Berhari-hari lagi.

  3. Cindelaras  2 July, 2011 at 16:49

    @probo : Semoga realisasinya cepat terjadi. Kondisi di lapangan sudah gawat sekali. Untuk Jakarta, guru SD banyak yang tidak fokus pada tugasnya mengajar, tapi malah ngobyek cari tambahan mengajar di sekolah lain. Tempo hari ada wacana guru akan dirolling ke semua wilayah tergantung tugas yang diberikan pemerintah, itu bagus sekali. Itu juga yang beberapa waktu lalu saya bicarakan dengan diknas jaksel saat dengar pendapat. Tujuannya agar mutu sekolah merata untuk tiap gugusnya, jangan sampai ada sekolah favorit dan sekolah buangan. Setiap anak berhak mendapat pendidikan yang sama layaknya. Kalau Jakarta saja gak rata, apalagi yang di luar Jawa sana, kasihan sekali mereka.

    Saya pernah ungkapkan kisah yang sama pada dirjen dikdasmen, jawaban beliau ya karena ada muatan politik yang membebani kinerja guru (yang harus lulus 100% itu), dengan alasan BOS dan BOP sudah diampu oleh pemerintah via pemda setempat. Lha kalau diknas gak punya wewenang 100% begini terus kapan beresnya ? Diknasnya sudah bener, pemdanya ngawur.

  4. probo  2 July, 2011 at 16:43

    komen 41, memang mestinya begitu…..kayaknya kalau yang saya kenal nggak gtu juga, tapi memang ada….dan memang terasa tidak adil. kalau seperti itu……
    saudara saya (ngajar SD kelas I) malah ngasih les yang mau dan butuh saja, mau dikasih syukur…enggak juga nggak papa.

    di beberapa SD memang agak parah ‘kerusakannya’, ngajari anak nyontek massal dan memberi contekan juga…..
    ngeri memang!

  5. probo  2 July, 2011 at 16:37

    komen 41, setuju! sayangnya banyak pihak memaknainya selalu begitu, yang handal di bidang lain dianggap enteng……beberapa tahun lalu penambahan nili prestasi terasa amat tidak adil, sama-sama juara kab/ propinsi, untuk seni/ olahraga/ kreativitas lain tambahan hanya sedikit, padahal usahanya jauh lebih berat
    sementara juara olimpiade mat/ IPA, dan yang sejenis tambahanya ‘lumayan’ banyak…
    untung sekarang ‘lebiih adil’
    kemampuan guru di pend dasar memang tidak merata, yg belum pinter tapi keminter dan ngeyel saat diberi tahu juga ada. jadi ada guru sd yang salah konsep mat saat ngajar, dibenerin nggak mau…ngeyel,
    yang malas belajar juga tidak sedikit,
    sekarang kan ada wacana guru akan ditarik ke pusat lagi, jadi penguasa daerah tidak bisa seenaknya intervensi dan mengancam guru kalau siswanya tidak 100% lulus, juga untuk pemerataan kualitas

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.