Sang Penafsir (1)

Atite

 

Ini tentang foto-foto yang dibuang sayang. Foto-foto yang diambil tanpa tujuan, tanpa momen khusus, tanpa konsep, berbekal kamera pocket, dan hanya bisa terjadi kalau hati sedang ringan.

Entah kenapa saya senang sekali menemukan foto-foto gagal, entah karena buram, goyang, terlalu gelap, terlalu terang, terlalu biasa, dll, di atas panorama sehari-hari yang jenuh orang temui. Seolah saya mendapat kesempatan kedua untuk memberikan makna atas perbuatan yang awalnya nampak sia-sia, bahwa tidak ada yang tanpa makna…

Menjadi media baru untuk saya berkata-kata, bahkan dari satu sumber foto yang sama, bisa menghasilkan beberapa foto baru berkata-kata ke berbagai penjuru yang saling bertolak belakang sekalipun, tergantung ke arah mana tangan  menggerakkan mouse di komputer.

Ada yang sekali klik jadi, ada yang puluhan kali diubah sampai gambarnya pecah! Terima kasih kamera digital & Photoshop, karena sekarang semua orang bisa memotret & melukis. Gagal atau tidak kesempatan kedua ini saya tidak peduli lagi. Semoga saya tidak dikutuk oleh mereka yang beraliran murni… Salam.

 

S e n j a   y a n g   T i d a k   M e r e k a   L i h a t

 

Seandainya cinta saja yang mengambang di langit

yang membangkiti listrik memancari rumah-rumah senegeri ini

maka kita tidak perlu mati bergiliran

Orang-orang hanya akan berlari-larian saja di luar sini

berbaring-baring menghadap langit merah jambu

bak gulali yang dulu sekali pernah kau bawa pulang untuk kukulum cepat

di senja yang tidak mereka lihat ini, ibu

Tak ada lagi yang kita punya yang mampu merantai tubuh yang ringan ini

untuk melayang-layang di hamparan langit

dari atas sana jembatan itu hanyalah sehelai bulu saja

kan kuwarnai langit dengan rona pipimu yang merekah

akibat berjemur seharian memperjuangkan apa yang kau sangka milik kita?

Saat ini aku merasa begitu bebas, ibu

Sepetak rumah di kolong gelap beratap seng

yang karat jingganya membarakan cinta kalian di sore-sore dulu

yang berayun-ayun ditiup angin hujan badai

yang hanya membuat kalian bertindihan lebih erat

di malam-malam dia mengucap seribu mimpi

dia tak lagi disana menantiku hadir

tuk mendengar eranganmu beradu tangis pertamaku

 

Kupikir-pikir merekalah yang benar, ibu

Anak-anak dunia itu

kau selalu bilang bukan dari bawah sini aku berasal, dan kau juga

karena itu bukan tanah ini yang kau warisi

dan aku tak menuntutnya

sekalipun tak ada yang bisa kupijak lagi di bawah sini

takkan ada yang mampu menghimpit kepala kita berhenti tengadah

bukan tuk bersombong

hamparan senja merah jambu ini selalu milik kita abadi

 

Tidakkah kita lebih beruntung, ibu?

Cinta mereka terkurung di ruang-ruang kaca

listrik hanya mengirim dingin sedingin-dinginnya ke rumah mereka

mengapa mereka memuja dingin, ibu?

jika hangat saja dapat mereka peroleh di senja merah jambu ini?

Hanya karena mereka tak melihatnya

mereka tak mampu merampasnya sekalipun iri dan serakah

 

Berbaringlah aku di sampingmu

kau usap keringatku, bergandengan erat

berbisik… “Tataplah langit merah jambu…

bersiaplah pulang…”

Oo… begitu bahagianya aku, ibu

sehingga mati pun aku mampu

kau bilang seandainya kita beruntung,

roda besi yang meratakan istana kita tak melihat kita pula di bawah kakinya.

 

(Jakarta, 12 Maret 2010)

 

45 Comments to "Sang Penafsir (1)"

  1. Vee  29 June, 2011 at 15:53

    Atite, ada fotomu di FB-ku

  2. Vee  28 June, 2011 at 20:26

    J C Says:
    June 21st, 2011 at 22:25

    Atite…lhooooo malah ke mana-mana toh mikirnya… maksudnya si Vee sebenarnya juga suka foto-foto dan bikin foto berpuisi juga…tapi sudah lama tidak ngirim-ngirim gitu lho…

    ———————————————

    kok aku merasa tersindir, ya? *sensyiii iiih………ahahahaha

    ya-ya-ya, aku memang sudah lama tdk berpuisi di sini

  3. anoew  23 June, 2011 at 23:03

    Hahah… tak tunggu kiriman gulali wae lah di bagian kedua kalau begitu, supaya jelas dan nyata dan tak perlu tafsir..

  4. atite  23 June, 2011 at 22:49

    waduh mas Anoew, dr sekian banyak kata yg ditulis ternyata ‘kulum-mengulum’ jg yg bikin mas Anoew mentok, wakakakakk… nti sy belikan permen saja biar gampang tdk perlu ditafsir2

  5. anoew  23 June, 2011 at 22:31

    komennya musti diperjelas
    lg soalnya keliatannya dalam sekali, sy takut
    nti salah tafsir

    Lhooo… Kulum mengulum memang tidak dalam kok…, paling cuma sekian centimeter…

    Tapi salut, aku sampai puyeng menafsirkan baris-baris di atas.., apalagi bagian kulum.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.