School Gank & Kids Bullying

Aimee

 

Rabu sore  yang mendung, aku dijemput sopir kakakku untuk menginap di Bukit Sentul. Menemani kedua anak cewenya yang hanya bersama dengan ART.  Kakakku dan suaminya sedang ada bisnis ke Shanghai selama seminggu. Sesungguhnya aku tidak perlu menemani, karena mereka sudah ada ART dua orang di rumah. Fungsiku hanya sebagai sogokan, karena anaknya yang pertama, Caroline tidak mengizinkan mamanya untuk ke Shanghai. Namun mamanya bilang ke Caroline, nanti dede Rein nginep sini temenin kamu. Makanya aku dan Rein terhitung sogokan agar Caroline mengizinkan ciciku ke luar negeri.

Nah ya, dengan itu makanya aku menginap di Bukit Sentul selama seminggu, dari Rabu sampai Selasa. Makanya jangan heran pas masa masa itu kenapa aku bisa menggila di koment, karena akses internet yang sangat baik di rumah ciciku. Sedang dirumah aku hanya bermodal handled. Jadi agak malas untuk koment.

Caroline ini memang cukup dekat denganku. Aku melihat Carol sebagai anak yang aktif, energik, tak pernah kehilangan semangat, ceria, cerdas, jiwa sosialnya tinggi, tidak pelit bahkan terkadang malah terlalu aktif, sehingga kalau orang yang tidak tahan akan menjulukinya sebagai anak nakal. Dia baru kelas 2 SD. Bersekolah di sebuah sekolah bergengsi  di Sentul City.

Namun, penilaianku tentang  Carol sangat berbeda ketika suatu malam minggu. Malam itu aku ngopi terlalu banyak sehingga tidak bisa tidur. Kemudian aku browsing-browsing internet di luar kamar. Ternyata Carol pun tak bisa tidur. Sehingga dia menyusulku keluar.

“Auntie sedang apa sih?” tanyanya

“Lagi baca berita unik”

“Coba aku baca juga”

Kemudian kami bersama sama membaca berbagai hal hal unik dan aneh yang terdapat di website tersebut. Sehingga satu saat dia melihat “10 bayi terunik di dunia”. Dia menyuruhku meng kliknya. Ternyata berita itu tentang 10 bayi dengan kondisi fisik yang menyedihkan, terlahir cacat dengan ekor, muka seperti harimau (seperti terkena penyakit stephen johnson syndrome), bertangan 4 dan kaki 4, dan lain sebagainya.

Karena melihat berita itu dia menjadi ngeri, dan mengajak aku tidur. Dia bilang. “Auntie aku takut ah, aku tidur deket auntie ya”

Aku mengijinkannya untuk tidur dekat denganku, walau sempit sekali karena ada Rein di sebelah kanan yang suka berguling-guling kalo tidur. Karena sebenarnya aku merasa bersalah membiarkan dia melihat gambar itu. Aku takut nanti dia jadi trauma. Dia bertanya padaku mengapa bisa ada bayi bayi terlahir cacat mengerikan seperti itu? Aku sebisa mungkin memberikan penjelasan yang mungkin dia mengerti, dari ibu hamil yang merokok, minum minuman keras, hingga radiasi nuklir, sampai cacat bawaan karena genetik. Dasar anak polos dia malah bilang, “Untung mami aku pinter ya auntie, ga minum keras dan rokok. Kalo gak aku kayak gitu ya…ihhh ngeri. Jadi sayang mami aku”

Aku yang sok tua merasa perlu mengajarkannya arti bersyukur dengan melihat keadaan bayi-bayi kurang beruntung itu. Aku bilang kepadanya “ Nah kamu itu beruntung, punya mama papa sayang kamu, mau beli apa bisa, cantik, mau makan apa aja bisa, pakai baju bagus, ke sekolah dianter sopir. Jadi kamu gak boleh ngeri lihat mereka yang cacat, harus bantuin, jangan menghina orang cacat”.

Kemudian dia menjawab “Siapa bilang aku beruntung?”

Aku kaget mendengarnya, kukira Carol tidak mensyukuri nasib bagusnya. Ternyata aku salah, dan inilah awal mula aku mengenal secara mendalam keponakanku tersebut. Kukira ini moment yang bagus bagiku untuk menggali lebih dalam tentang Carol. Walau sebenarnya mataku sudah sepet dan ngantuk. Aku berusaha terus bertanya tentang kata-kata “kurang beruntung” dalam dirinya tersebut.  Karena kalau aku melewatkan kesempatan ini, mungkin dia tak akan pernah menceritakan ini kepadaku di waktu mendatang.

“Memang kenapa kamu gak beruntung?”

“Iya aku gak beruntung, aku gak ada temennya”

“Masa sih, di sekolah kan banyak temen kamu”

“Iya sih…” tapi tatapannya menerawang ke langit-langit kamar, jari-jarinya memilin-milin rambut.

“Auntie ada musuh gak? Mami aku ada musuh gak, auntie?” tanyanya lebih lanjut

Bingung, itu yang kurasakan, namun membuat aku makin penasaran akan jiwa anak ini. Adakah dia terluka di dasar hatinya. Jam sudah menunjukkan pukul  11 malam, di Bukit Sentul jam segitu berarti kesunyisenyapan. Dingin yang mengigit tulang, dan waktu ternyaman untuk bergelung di dalam selimut. Namun instingku menyatakan aku harus terus mengorek kesehariannya.

“Ya adalah….masa orang  di dunia ini hidup disenangi semua orang. Pasti adalah yang gak suka dia”

“Siapa musuhin auntie?”

“Ada, dulu temen kerja. Tapi sekarang auntie kan gak kerja. Jadi udah gak ketemu dia lagi”

“Namanya siapa auntie?”

“Ah, auntie sebutin aja kamu gak kenal kok, kan temen kantor auntie yang dulu”

“Sebut aja namanya…gak papa gak kenal juga. Kan pasti ada namanya”

“Namanya Y, kamu gak kenal kan?”

“Iya gak kenal”

“Kalo Carol, siapa memangnya yang musuhin kamu?”

“Riri and the Gank di sekolah aku”, jawabnya dengan muka lesu

Gank apa?” tanyaku makin penasaran.

“Iya, gini ya auntie aku ceritain. Di kelas aku itu ada 16 orang. Nah gank Riri itu namanya BFF, Best Friend Forever, anggotanya 11 orang, sisanya kan 5 orang yang gak masuk ke gank dia. Salah satunya aku dan Kailin. Yang tiga lagi itu anak cowo, jadi gak masuk ke gank Riri”

Hah?? Ada namanya, udah bikin gank gank-an begitu. Dikasih nama pulak ya…ya ampun ya ampun…..aku yang sudah ngantuk buanget, jadi melotot mendengar cerita Carol. Please…mereka itu kelas 2 SD loh. Kepikiran darimana membuat gank dan dikasih nama? Mencontek sinetron atau memang anak jaman sekarang lebih cepat dewasa atau pengaruh sekolahnya ini? Apakah karena sekolah ini sekolah orang-orang berduit, terbiasa di rumah nge-bossy. Jadi di sekolah begini? Ataukah karena apa?

Aku semakin ingin tau tentang Carol, Riri dan Gank BFF ini.

“Memangnya kenapa Carol gak masuk ke BFF aja?”

“Gak bisa auntie, aku dimusuhin sama Riri. Tiap hari aja aku  suka di blame

“Di blame itu apa sih?” (langsung merasa bahasa Inggrisku kalah sama ponakan)

“Gini loh auntie, kalo ada masalah kecil yang aku buat, langsung deh mereka itu gede-gedein masalahnya, terus bilang  Carol tuh…makanya  kamu sih”

“Oh..biarin aja”

“Tapi mereka suka teriakin aku auntie, rame-rame diteriakin gitu di kelas”

“Kamu gak lakuin kan?”

“Lakuin kadang-kadang, tapi mereka juga gitu kan? Karena aku gak masuk di BFF aja makanya aku diteriakin. Kalo anggota BFF gak pernah di blame walau mereka lakuin juga”

“Hanya itu aja kan? Kamu gak pernah digangguin kan, misal dipukul gitu?”

“Pernah lah, tangan aku suka di geplak gini nih (sambil meragain ke aku), itu mereka kalo lewat suka gitu. Kadang injak sepatu aku”

Aku tambah merasa prihatin dengan keponakanku, masa sih hari-hari masa sekolahnya harus menjalani semua ini. Bukankah masa sekolah adalah masa yang menyenangkan. Banyak bertemu teman, belajar dan bergembira.

“Oh ya, tapi mereka gak mintain duit kamu kan? “

Aku langsung ingat adegan adegan sinetron yang mana anak jahat vs anak lemah memeras uang  sebagai pajak keamanan.

“Pernah, mereka itu suka secret secret di WC. Di depan WC ada yang jagain, si Riri, Michelle dan lainnya itu di dalam. Jadi kalo ada yang mau masuk ke WC, harus bayar”

“Michelle itu siapa?”

“Tangan kanannya Riri, dia itu suka layanin Riri, tapi dia sebangku sama aku”

Terus aku penasaran soal bayar membayar di WC ini.

“Bayar berapa memangnya ?”

“Lima ribu, bayangin auntie…di WC umum aja aku bayar seribu, masa di WC sekolah mereka minta lima ribu”

“Terus kamu pernah bayar?”

“Pernah”

“Kenapa kamu bayar? Laporin aja ke guru, kalo gak ke WC lain. Kan WC gak cuman satu itu”

“Gini nih auntie ya masalahnya…, WC kelas 2 itu di sini, di sebelah lapangan sini nih (nunjukin satu tempat di  udara gitu sebagai perumpamaan). Di depannya ada lapangan rumput gedeeee banget (sambil bentangin tangan seluas luasnya). Nah WC anak TK dan kelas 1 itu adanya di ujung lapangan ini. Jauhhh kan?”

(safety.amw.com)

“Ohhh…ya udah laporin guru aja”

“Gak ah, aku gak berani. Nanti aku diteriakin lagi”

“Teriakin apa?”

“Tattle telling …..tattle telling” (sambil joget joget n melet melet)…”gitu tuh auntie..”

“Biarin aja…kan cuman diteriakin doang?”

“Ah..auntie gak ngerti sih, rasanya sakit banget tau auntie diteriakin gitu. Aku kadang suka nangis di sekolah. Guru-guru gak tau gimana jahatnya mereka”

“Kalo kamu gak pernah bilang, sama kayak yang lain juga gak berani bilang. Darimana guru guru bisa tau? Yang ada mereka tambah kuat karena gak ada yang berani bilang.”

“Auntie kadang  pinter juga ya”. Waduh buset, baru tau apa kalo auntienya pinter. Ni anak kadang nyeletuknya nyelekit juga. Aku tak menyadari bahwa hubungan sosial anak anak SD demikian rumitnya. Rasa-rasanya aku dulu SD gak pernah di bully atau mem-bully anak lain, sepertinya belum kepikiran malah untuk membentuk gank seperti itu.

“ Kamu jangan bayar lain kali kalo mau ke WC. Nanti mereka kan jadi kebiasaan, ngerasa bisa dapetin duit karena jaga WC”

“Tapi aku kan kebelet auntie, ya terpaksa aku bayar”

“Kamu gak sayang duit mu?”

“Sayang sih, soalnya aku sering laper kan duit jajanku jadi berkurang” (ni anak hobby makan)

“Makanya jangan dikasih”

“Gak papa lah auntie…mereka ambil aja, kan pulangnya aku bisa makan di rumah”

“Kamu gak berani lawan mereka, terobos aja kalo mau ke WC”

“Mereka itu 11 orang auntie, kan aku sendirian”. Ternyata gak anak kecil, gak orang dewasa. Jika membentuk komunitas merasa lebih kuat ya, tergantung digunakan untuk kepentingan apa.

“Cuman duit itu aja kan yang dimintain?”

“Pernah sih dulu disuruh nyumbang buat beli buku member BFF”

“Loh, kamu kan bukan anggota BFF. Kok kamu dimintain juga”

“Iya, mereka bisik-bisik, mintanya. Semuanya kasih, ya aku kasih juga lah, daripada nanti di blame lagi”

“Carol kok dimusuhin Riri, memangnya kenapa?”

“Dulu aku pernah main bola, aku lempar..pas kena ke Riri. Dari itu dia musuhin aku”

“Kamu gak minta maaf”

“Udah”

“Terus?”

“Ya kan aku gak sengaja. Tapi dia tetep musuhin. Ya udah”

“Tapi auntie..aku pernah loh masuk ke BFF itu, tapi cuman 3 hari”

“Loh…kok bisa, bukannya udah dimusuhin Riri?”

“Iya, soalnya dia tau aku ada banyak uang. Itu yang aku dapet waktu konghi konghi auntie waktu itu itu” (Imlek maksud dia)

“Terus?”

“Aku diajakin Riri masuk ke BFF, karena dia tau aku ada uang, soalnya dia pas liat waktu aku buka tas. Tapi kata dia ada syaratnya”

“Syaratnya apa?”

“Aku harus belikan dia apa aja yang Riri mau, bayarin makanan dia, terusss…(sambil mikir)..oh iya…harus bawain tas dia, bukain kotak bekalnya..samaa..bersihin kalo dia udah selesai makan”

“Hah?!! Kamu kan bukan pembantu dia. Ngapain kamu bawa bawa sama bersihin kotak bekal dia”

“Tapi kata Riri itu syaratnya”

“Tapi cuman 3 hari itu kan?”

“Iya” , Carol tampak lesu saat menjawab itu.

“Kok bisa 3 hari?”

“Nah ini lah masalah terbesarnya auntie”

“Masalah besar? Kenapa bisa jadi masalah besar? Apa karena kamu out atau ga punya uang lagi gitu?”

“Bukan, ceritanya si Riri bilang mau belanja di bookstore sekolah. Terus suruh aku bayarin. Ya udah pas dia lagi pilih pilih itu. Ternyata mami jemput aku pulang. Terus mami bilang “Carol cepet pulang”. Aku bilang “Mami tunggu dulu”. Mami jawab “Cepetan, udah siang, kita udah mau ke kantor daddy”

“Terussssssss? Apa hubungannya sama Riri”

“Nah itulah auntie, kan Riri suruh bayarin. Tau-tau aku pulang ikut mami. Terus mami tanya aku ngapain aja di bookstore. Terus aku ceritain deh”

“Mami bilang apa?”

“Mami marah, katanya. Gak boleh lagi gitu gitu, repotin diri sendiri, susahin diri sendiri. “

“Kamu bilang apa mami bilang begitu”

“Aku bilang oke mami”

“Nah, masalah besarnya dimana? Kan cuman dimarahin mami doang?”

“Soalnya mami tulis email ke sekolah, ke principle aku, ke guru aku juga, pokoknya mami marah. Besoknya, barang-barang yang udah aku beliin itu dibalikin sama Riri, sambil Riri bilang “Carol, you’re quit from my BFF member”

“Bagus donk, jadi kamu gak perlu jadi pembantu dia lagi. Gak usah beliin dia ini itu lagi”

“Ah auntie ini, kan berarti aku di blame lagi tiap hari”

Oh..aku gak kepikiran ke situ-situ. Benar-benar merasa bukan menyelami dunia anak SD.

“Mereka gangguin kamu doang?”

“Enggak..anak-anak lain juga yang gak di BFF. Bahkan anak anak TK B juga”

“Anak TK B diapain?”

“Kalo anak TK B lagi main bola, bolanya direbut sama gank Riri. Terus dilempar sampe jauhhh banget, udah ampir deket jurang”

“Terus?”

“Mereka ketawa-ketawa gitu auntie, kalo anak TK B udah nangis mereka suruh aku yang ambilin bolanya. Padahal aku takut auntie, itu kan deket jurang. Aku takut jatoh”

“Kenapa kamu mau, kan bukan kamu yang lemparin?”

“Kasian anak TK Bnya nangis nangis, terus nanti aku yang disalahin lagi”

“Jangan mau lain kali, biarin aja anak TK B nangis, nanti kedengeran guru. Kan anak TK B bisa bilang sendiri ke guru siapa yang lemparin. Jadi kamu gak kena ikut ikut dimarahi”

“Oo gitu ya auntie. Ya udah besok-besok aku gak ambil lagi, abis aku takut, udah deket banget ke jurang , kalo aku jatoh gimana?”

“Nah itu kamu tau takut jatoh, masa mami kamu sekolahin kamu kesitu cuman buat ambilin bola buat orang trus jatoh ke jurang. Kan nanti mami kamu sedih. Kalo gank Riri nyuruh-nyuruh jangan mau..bilang aja kamu bukan pembantu dia, Tuhan ciptain tangan kan buat melakukan sendiri. Kan dia punya tangan, masa nyuruh orang. Orang yang cacat..yang kayak di gambar tadi itu aja. Kalau mereka bisa, mereka gak mau gak ada tangan. Biar kalo mau ngambil apa apa gak usah nyuruh orang.”

“Iya auntie”

“itu ya mbak Wanda dan mbak Lili aja jadi pembantu di rumah ini aja. Kalo bisa mereka gak mau jadi pembantu disuruh-suruh. Masa kamu yang sekolah, mau disuruh-suruh sama orang untuk bersihin kotak bekal dia segala”

Aku menasehati panjang x lebar..mudah-mudahan dia memahami penjelasanku. Berkali-kali aku tanyakan “Kamu ngerti kan maksud auntie?” dan dia bilang “Iya auntie”

“Kamu ada ceritain ini ke mami kamu?”

“Sebagian cerita tapi gak semuanya.”

“Kenapa?”

“Karena nanti jadi masalah gede lagi, mami email lagi ke principle sekolah aku”

“Ooo….” aku kasian sampai dia harus cerita kepadaku, tak berani bercerita kepada mamanya sendiri. Karena takut jika mamanya bertindak. Maka kemungkinan bullying terhadapnya akan semakin parah.

“Pernah ketauan guru gak sih mereka gangguin anak TK B itu?”

“Gak tau, tapi guru aku pernah bilang gini..ada anak nge gank gitu gangguin anak TK B sampai nangis. Tapi auntie tau gak Riri dan ganknya bilang apa?”

“Bilang apa?”

“Waduhhh…kasian ya…… tapi muka meraka gak ngerasa salah. Padahal kan mereka yang suka gangguin anak TK B itu”

“Kemungkinan guru kamu udah tau, makanya bilang begitu”

“Iya kali auntie ya..”

“Kamu gak sayang duit angpao kamu abis bayarin belanjaan Riri?”

“Gak papa lah auntie, yang penting aku ada temennya.”

Anak ini polos banget, gak berasa dimanfaatkan. Duit abis tapi masih bilang gak papa yang penting ada temennya.

“Ya udah. Udah pagi loh…yuk kita tidur aja. Lihat dedek Rein udah bobok dari tadi”

“Yuk auntie, aku juga udah ngantuk, kan besok mau main sepeda sama dedek Rein”

Dia bisa segera tertidur, namun aku masih belum bisa tidur memikirkan cara menyampaikan ke ciciku. Beberapa hari lagi aku akan kembali ke Jakarta ketika ciciku kembali ke Bukit Sentul.

============================================================

“Cak, kamu harus lebih memperhatikan Carol”…begitu awal bunyi BBMku kepada ciciku.

“Kenapa”…itu balasan darinya

Aku pun menceritakan kronologi semua yang Carol ceritakan padaku. Sebelumnya aku memintanya terlebih dahulu untuk berbicara dengan Carol apakah ini terjadi terus setiap hari dan masih berlangsung hingga kini atau tidak. Jangan sampai menegur kedua kalinya tapi ternyata itu kejadian masa lampau.

============================================================

“Hallo auntie, lagi ngapain, dede Rein lagi ngapain. Aku kangen dede Rein” …itu BBM dari Carol kepadaku via BB mamanya.

“Baik, dede rein lagi bobok. Carol di sekolah gimana, di blame gak?”

“Hari ini enggak, karena aku bagiin coklat ke temen-temen dari mami”

Aku tak tau apakah itu strategi dari orang tua Carol untuk mendekatkan anaknya kepada teman-temannya. Aku hanya berpikir, Carol begitu menyukai sekolah ini. Dia sendiri sudah jatuh cinta pada sekolah ini di hari pertama melihat gedungnya saja. Sampai dia menjulukinya sekolah Tao Ming Tse, karena ada fasilitas kolam renang.  Tapi bagaimana pun, jika lingkungan kurang sehat seperti itu. Aku khawatir akan berpengaruh kepada pengembangan karakternya di masa depan. Sebagus apapun sekolahnya jikalau tidak bisa atau tidak mensupport pemberantasan bullying pada anak, maka menurutku kurang bagus. Jiwa muda anak-anak, jika mengalami penindasan karakter maupun fisik akan berakibat buruk.

Aku hanya berharap kedua orang tua Carol bisa menyelesaikan masalah ini dengan pihak sekolah, bila perlu mungkin menemui Riri dan kedua orang tuanya. Ketika kedua orang tua sudah saling mengenal mungkin mereka akan lebih memperhatikan anak-anak mereka berteman dengan siapa dan bermusuhan dengan siapa. Agar mereka bisa lebih cepat mengenali jika nanti ada karakter anak yang menyimpang, tidak sesuai umur. Sehingga mereka bisa menyadari dimana letak kesalahan dalam membina anak.

Aku mungkin hanya bisa berbicara dan memberikan pendapat karena belum sampai waktuku untuk menyaksikan dan mendampingi buah hatiku menyongsong masa sekolah.

 

66 Comments to "School Gank & Kids Bullying"

  1. Alvina VB  4 October, 2011 at 12:07

    Aimee…

    Numpang kampanye di sini ya, soalnya masih topik bullying kan…he..he…

    Tolong Voting di: http://www.avivacommunityfund.org/ideas/acf11257

    Mohon register dulu baru voting. Thanks.

  2. Lani  25 June, 2011 at 12:32

    AIMEE : nih aku copykan komentar aki buto “Yang penting cepetlah suruh belajar beladiri. Biar mantaaaapppp…buk,buk,buk…jebreeettttt”

    AYOOOOO CEPET SURUH LATIHAN…..dengungkan genderang perang…….bikin gank itu bertekuk lutut ditangan keponakanmu…….

  3. Alvina VB  24 June, 2011 at 09:33

    Aimee,
    Blm bisa panjang2 nich komentarnya. Cuma mau kasih sedikit masukan aja, anak2 yg seneng bullying anak lainnya itu punya sesuatu yg kurang dlm diri mereka, entah itu kurang diperhatikan org tuanya (krn dua-duanya sibuk dan hidup dgn pembantu/ nanny), kurang kasih sayang krn sering digebukin/ dilecehkan di rumah, kurang percaya diri (makanya pake gank, gak berani sendirian kan), kurang didikan moral/ agama dari rumah dan kurang ajar banget, he..he…

  4. J C  23 June, 2011 at 15:15

    Yang penting cepetlah suruh belajar beladiri. Biar mantaaaapppp…buk,buk,buk…jebreeettttt…

  5. aimee  23 June, 2011 at 15:13

    Piper : nah ada satu kali carol jg mengatakan kepada mama nya , kalau dia dikucilkan justru krn dia tidak pya kelebihan. Tp menurut saya dia pya kelebihan kok, dia jago renang, pintar dalam sekolah. Tp secara fisik mmg dia lbh ndut. Muka nya cantik tp ya ndut…mgkin dalam gank itu mengutamakan fisik jg.
    Saya jg sudah mengatakan padanya, org yg sukses dalam kelompok jika berdiri sendiri belum tentu berhasl, jd banggalah kamu bisa berhasil krn berdiri sendiri

  6. Piper  23 June, 2011 at 14:56

    Aimee, thanks sharing-nya.

    Wah masalah kids bullying ini memang perlu dapat perhatian ekstra dari ortu, keluarga, sekolah dan lingkungan. Di Jepang juga sama aja parahnya. Sudah berapa kali di TV keluar berita anak mati bunuh diri hanya karena capek dikucilkan dan dikerjain temen temennya. Bener bener mati konyol. Saya gak habis pikir, kemana orang tua, guru dll ..kok bisa si anak berasa dunianya kiamat sampai memutuskan bunuh diri.

    Di sini juga banyak artis cerita kalo mereka waktu kecil juga habis sering dikerjain karena beda dengan teman temannya. Haduh parah banget mereka cerita … sampai main fisik segala. Untung mereka berhasil melewati semua itu dan malah lebih kuat saat terjun ke dunia artis.

    Menurut saya dari kecil anak juga mesti dididik punya karakter kuat, gak gampang terpengaruh lingkungan. Gak perlu merasa dunia kiamat kalo dirinya beda dengan teman lainnya. Harus punya kelebihan sendiri juga, terserah di bidang apapun jadi punya self confidence sendiri. Gak perlu capek2 berusaha masuk genk ..toh akhrinya justru memang dia yang dicari karena kelebihannya. Ada gula ada semut. Nah berusalah jadi gulanya hehehehe


    Piper

    Punya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.