Balawan Band & Ethnic Fusion dari Bali

Nunuk Pulandari

 

“…………….bahwa KBRI Brussel akan menyelenggarakan Indonesian Jazz Concert yang akan menampilkan musisi terkenal Wayan Balawan dan bantuan Ethnic Fusion dari Bali.

Demikian kami sampaikan, atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

Pensosbud.”

 

Demikian terbaca dalam sepotong undangan dari KBRI Brussel yang masuk kesalah satu e-mail sebelum saya berangkat ke Brussel. Long weekend dua minggu yang lalu berlangsung cukup lama. Lima hari. Untuk mengisinya saya dan Lei sudah sepakat akan pergi ke Berlin memenuhi undangan teman kuliah yang sudah lebih dari 25 tahun tidak pernah saling berjumpa. (cerita tersendiri)

Karena Lei tinggal di Brussel, undangan tersebut di atas sangat mudah untuk dikombinasikan dengan acara jalan-jalan di Brussel sebelum berangkat ke Berlin. Jadi liburan ke Berlin sebetulnya sudah dimulai dengan menonton pertunjukan Jazz dari Wayan Balawan, di Brussel. Kemudian diikuti dengan jalan-jalan melihat indahnya alam Berlin dan sekitarnya. Ceritanya akan dapat teman-teman baca dalam tulisan saya.

Flyer  di atas dapat diperoleh sebelum kita menuruni tangga menuju ke theater. Di halaman satu tampak  informasi  tentang para pendukung acara malam itu. Di halaman berikutnya terdapat  daftar acara pertunjukannya (lihat flyer di bawah ini) dan informasi tentang Gitaris Wayan Balaman sendiri.

1. Indonesian Jazz Concert. Wayan Balawan dan Batuan Ethnic Fusion

Teman-teman di Baltyra, terus terang sebelum saya menerima undangan dari KBRI ini, nama (Wayan) Balawan belum pernah singgah di” komputer” belakang kepala saya.  Apalagi pernah tahu bahwa Balawan adalah gitaris dan pemusik terkenal dari tanah air….Aduuuuh maaf. Saya betul-betul nol kosong dalam hal ini. Yang saya tahu hanya beberapa pemusik / penyanyi JAZZ Indonesia seperti: Ermie Kulit, Rien Djamain, Bubby Chen dan beberapa lainnya.

Daftar acara dan informasi tentang Balawan dan Batuan ethnic Fusion

Rabu malam itu, dengan penuh rasa keiingintahuan yang besaaarrrr dan juga penasaran,  kami (saya, Lei dan mbakyu Mamiek) hadir tepat pada waktunya di Chamber Music Hall, Istana Seni “Bozar” di Brussel. Setelah menuruni beberapa tangga, di tengah hal bawah para hadirin disambut sendiri oleh bapak Dubes kita, Dubes RI di Brussel, Bpk. Arif Havas Oegroseno, dan bapak  Royhan dari Pensosbud. Satu kebiasaan yang sangat apik dari bapak / ibu Dubes di Brussel adalah bahwa beliau selalu hadir, entah hadir lebih dahulu atau tepat pada waktunya. Suatu kebiasaan yang sudah lama hilang dan ditinggalkan di kalangan KBRI di Den Haag …

“Hampir” dimana-mana para jajaran atas KBRInya lebih sering datang terlambat daripada tepat waktu… Apalagi menyempatkan diri menyambut dan mengobrol dengan para undangannya…  Wouwwww…Tetapi yang jelas, De heer Oegroseno is een heer van tijd… Chapeau.

Sambutan Pembukaan yang singkat dan padat dari bapak Dubes pada dasarnya berisi bahwa dalam pagelaran malam itu dapat dilihat adanya musik yang uniek dan apart yang dipersembahkan oleh Balawan dengan iringan suatu Musik hasil olahan paduan musik tradisional Indonesia. Suatu hasil kerjasama dalam bidang seni irama yang merdu ketika sampai di alat dengar kita.

Bapak Dubes sedang memberikan sambutannya yang sangat ringkas dan padat.

Di hadapan plus minus 400 pencinta musik Jazz, dengan didampingi oleh musik tradisionil Batuan Ethnic Fusion, Gitaris Balawan segera menyuguhkan suatu perpaduan musik jazz dengan musik tradisional Indonesia  Memang untuk pertama kali mendengar musik hasil paduan gamelan dengan peralatan musik modern,  diperlukan adanya semacam proses “assimilasi” di telinga untuk kemudian dapat menikmatinya. Pertunjukan ini berlangsung selama lebih dari dua jam, dengan hanya selingan jeda pendek selama plus minus 20 menit.

Kekompakan  para anggota pemain alat musik terdengar indah melalui alunan nada yang dihasilkannya..

Pada malam itu gitaris Balawan tidak hanya memainkan fusion jazz dengan musik gamelan Bali tetapi juga menunjukkan kemahiran, kelincahan dan keajaiban “petikan jari-jari”nya di atas snaar gitarnya. Suatu permainan yang sangat piawai yang menghasilkan irama indah.

Suatu pertunjukan yang diawali dengan lagu “Prelude,” dan dilanjuti dengan  “Dance of Janger”, “Guitamelan” (yang merupakan singkatan dari nama alat musik gitar-gamelan,)  “Bird Song”, dan “See You Soon”,  memang Wayan Balawan telah berhasil memukau para penontonnya.  Ini diperlihatkan  dengan bergemanya suara tepuk tangan yang berkepanjangan dan siulan serta seruan yang terdengar dari seluruh sudut ruangan, setelah lagu-lagu itu selesai diperdengarkan. Di samping nomor musik ciptaan sendiri, gitaris Balawan dengan paduan  musik tradisionalnya juga mengiringi seorang penyanyi wanitanya yang membawakan antara lain lagu ciptaan komponis terkenal di dunia Gesang dengan “Bengawan Solo”-nya.

Juga lagu-lagu “Semua Bisa Bilang”,  “Satu Dua Tiga” telah disajikan dengan indahnya untuk telinga kita. Iringan lemah gemulainya olah tubuh dalam gerakan tarian yang dipersembahkan oleh sang penyanyi tentunya telah mempesona  para pengunjung malam itu… Bravo.

Penampilan (Balawan) memang sangat apik dan menarik. Di antaranya melalui keahliannya berkomunikasi dan berinteraksi  dengan penonton yang telah membuat suasana lebih akrab dan hangat. Pertunjukan langka semacam ini tentunya dapat memberikan suatu tambahan gambaran tentang betapa berlimpahnya dan beraneka ragamnya seni budaya musik di Indonesia yang bisa disuguhkan ke dunia luar. Dan itu semua bisa disajikan bersamaan dengan irama-irama yang dihasilkan dari peralatan musik modern lainnya….

Sebagai bagian dari acara music malam itu juga disajikan permainan  musik tradisionil hasil olahan kelompok gamelan “Saling Asah”. Suatu kelompok music tradisionil gamelan Bali yang beranggotakan warga Belgia dan Indonesia yang bermukim di Belgia. Terdengar sangat lincah irama yang mengiri penari malam itu. Tentunya hal ini sangat tepat dengan thema malam itu yang bernafaskan  alunan irama musik JAZZ…..

Kelompok gamelan”Saling Asah” sedang mengiringi penari Bali menyajikan tarian….. ??? (lupa namanya).

Untuk mendampingi penampilan Balawan dalam pertunjukan malam itu juga disertakan  penampilan dari Group Amritha Band.  Sebuah group yang anggota pemainnya terdiri dari staf KBRI dan keluarga KBRI. Sebuah kelompok band yang pemainnya juga cukup canggih menyajikan musik berirama Jazz… Hebaaat! Sayang sekali mas Restu,  pemain organnya tidak tampak dalam foto yang saya klik… Wat jammer;  andere keer beter……

Salah satu penampilan Band Amritha

Setelah sajian penutup dari music dari Balawan dan Batuan Ethnic Fusion, acara malam itu diakhiri dengan pemberian bunga oleh Bapak Oegroseno, sebagai ungkapan rasa terima kasih atas kesedian Balawan untuk bermain di Brussel di antara padatnya acara yang mereka telah tersusun selama di Eropa.

Bapak Oegroseno sedang menyerahkan buket bunga pada penyannyi tunggal wanita

Juga ibu Tanty menyampaikan karangan bunga pada kelompok “Saling Asah” atas partisipasinya mengisi acara pada malam itu. Juga pada kelompok band Amritha diberikan tanda terima kasih melalui sebuah buket bunga yang indah…..

Ibu Tanti sedang menyampaikan buket bunga pada kelompok gamelan Bali “Saling Asah” .

Sebuah pertunjukkan yang berhasil  memukau para pengunjungnya .  Sebuah sajian yang berhasil mempertontonkan kepiawaian dan kekompakan para pendukungnya dalam memainkan alat-alat music yang tersedia. Dan sebuah suguhan acara music yang cukup prima yang hanya bisa terlaksana berkat adanya kerja sama  baik dari pihak KBRI maupun dari pihak para pendukung pesertanya sendiri…. Juga dukungan para pengunjungnya bisa mengungkapkan kesuksesan pertunjukan yang ada.

Dank je en petje af … Gr. Nu2k

 

54 Comments to "Balawan Band & Ethnic Fusion dari Bali"

  1. nu2k  2 July, 2011 at 21:25

    Mbak Lida dear, goedemorgen. Waaaahhh, musik Jazz (terutama yang ringan) juga salah satu musik favorit saya. Suatu irama yang dengan mendengarkannya sekaligus kita bisa menggambarkan /membayangkan tarian yang energik. Dengan musik Jazz ini kita juga mendapatkan ruang-ruang untuk berimprovisasi dalam membawakan lagunya… Wouwwww..Fly me to the moon, That’s life, More…
    Saya baru dapat kiriman dua CD berisi musik Jazz, Ireng Maulana + Ermy Kulit dan Bubi Chen (mungkin masih satu fam dengan JC) . .. Bukan CD Balawan

  2. lida  1 July, 2011 at 11:56

    Bu Nunuk, saya sekarang juga lagi kecanduan jazz, mulai sering searcing balawan, tohpati, budjana…
    sekarang Balawan lagi NY kayaknya..

  3. nu2k  29 June, 2011 at 05:16

    Dimas Ilhampst, saya tahu groep Giogi.. saya senang lagu yang berjudul “Janji”.. Betul khan. Waaahhh, mau juga lihat pertunjukan JKris… Pasti lagunya nyaman-nyaman didengar di telinga ya…

    Saya boleh tanya dong, motor apa sih, motor ATV..jadi diams yang satu ini dari pertambangan toch.. Pertambangan mana? .. Ya ngantukan jadinya kalau selalu ada di daerah pertambangan… Rak sepi dan menjenuhkan…Atau saya salah ya… Maaf…

    Sekarang saya yang harus ke Pulau Kapuk… Tot andere keer, Nu2k

  4. ilhampst  28 June, 2011 at 13:11

    Bu Nunuk, maaf baru membalas komentar Ibu di nomor 44.

    Kalau Budjana alirannya etnik juga, dia gitaris grup band Gigi, seingat saya sudah pernah bikin album rekaman sendiri.

    Jubing Kristianto, dia dulunya bekerja di tabloid, tapi beralih jadi gitaris karena panggilan jiwa. Permainan gitarnya seperti orkestra, padahal hanya 1 gitar akustik saja.

    Nah, kalau Eet Sjahranie dan Ian Antono ini alirannya musik cadas. Ian Antono gitarisnya God Bless, yang vokalisnya Ahmad Albar. Eet Sjahrenie juniornya Ian Antono, alirannya juga cadas, grup bandnya EdanE.

    Adalagi Tohpati, kalau yang ini alirannya jazz.

    Gambar saya itu naik ATV Bu, kebetulan waktu bertugas di pelosok Sulawesi dan di area pertambangan jadi saya bisa numpang gaya naik kendaraan itu.

    Nama saya Ilham P. ST itu karena saya ngantukan, jadi kependekan dari Suka Tidur, Bu hehehe…

    Terimakasih

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.