Senja di Chao Phraya (22)

Endah Raharjo

 

Bab 4: Bulan Setengah Purnama di Atas Chao Phraya (Tamat)

Osken keluar dari ruang perpustakaan yang dipakai pemilik rumah sebagai ruang kerja dan ruang baca. Di tangannya ada dokumen yang baru saja ia cetak untuk ditunjukkan pada Laras. Beralaskan sandal hitam kaki-kakinya melangkah tanpa suara, menuju teras samping tempat Laras bekerja membantu Mila menyelesaikan laporan. Teman kerjanya itu masih berada di Amerika mengikuti lokakarya yang seharusnya ia ikuti juga. Perbedaan waktu 12 jam antara Bangkok dengan Washington DC mempermudah komunikasi. Bila Mila memerlukan beberapa informasi untuk keesokan paginya, Laras bisa membantu mengumpulkan atau mencarikan 12 jam sebelumnya.

“Laras, I had them printed,” lelaki berkaus polo putih dipadu dengan celana pendek coklat lempung itu menyerahkan dokumen pada Laras.

You had them translated, too,” ucap Laras begitu ia membaca halaman pertama Undang-undang Perkawinan yang sudah berbahasa Inggris itu.

“Ya. Staf kantor cabang Jakarta yang mengurusnya,” Osken duduk di samping perempuan yang pagi itu mengenakan gaun chiffon batik biru langit. Kulit lengannya yang langsat dan telanjang tampak begitu lembut. Sinar matahari pukul 10 pagi yang dipantulkan air kolam menari-nari di wajah keduanya. Osken mempermainkan seikal rambut panjang Laras yang jatuh melewati lengan atasnya sementara perempuan itu membukai halaman-halaman dokumen.

Belasan ikan koi berkumpul di sudut kolam tak jauh dari teras, berusaha mengintip sepasang manusia yang beberapa hari terakhir banyak menghabiskan waktu di dekat mereka. Meskipun terletak di tengah kota, suasana di rumah besar itu tenang, sesekali terdengar tukang kebun memotong reranting kering dengan gunting, sementara pembantu rumah tangga bekerja di dalam rumah nyaris tanpa suara. Mary Jane mempekerjakan dua orang pengurus rumah dan seorang penjaga merangkap supir. Mereka bekerja profesional dan hanya menampakkan diri bila dipanggil atau ada keperluan saja.

“Kamu sudah pelajari semua?” tanya Laras.

Osken mengangguk tanpa melepaskan matanya dari pundak dan rambut Laras. Uban sepanjang beberapa milimeter mengintip di dekat akar rambut di pelipisnya. “Menurut undang-undang itu, kita bisa menikah di catatan sipil di Indonesia. Atau di negara lain yang punya hubungan diplomatik dengan Indonesia. Singapura. Australia.” gumamnya.

“Ya. Aku tahu. Temanku baru saja menikah di KBRI di Washington DC.” Laras lalu bercerita tentang teman kuliahnya yang bulan lalu menikah di sana. “Satu-satunya yang membuatku khawatir hanya restu orangtuaku….”

Osken melepaskan matanya dari rambut Laras, berdiri dari sofa bambu dan melangkah menuju kolam. Kedua tangannya terlipat di dada, lengan kanan tersandar pada tiang kayu bercat gading penyangga atap teras. Beberapa saat mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Lelaki itu merenungi perjalanan cintanya. Sejak cinta terakhirnya kandas ia tak lagi berniat melabuhkan hatinya. Jiwanya mengembara tak searah dengan keberadaan raganya. Pekerjaan memaksanya berpindah dari satu negara ke negara lain. Sebelum bertemu Laras ia punya pacar di Bangkok dan New York. Para perempuan itu menjadi persinggahan hasrat jasmaniahnya; begitu pula mereka memperlakukan Osken, tak ada yang berniat membuka pintu hati, bukan karena tidak mau, namun karena tak cukup waktu untuk saling menyelami isi hati. Selain pacar sesekali ia menghabiskan waktu senggang dengan teman-teman perempuan yang sama-sama tak berkeinginan menjalin hubungan; sekedar menikmati kebersamaan yang dangkal, yang hanya menyentuh permukaan, sebatas suka belaka, lalu memudar ditelan jarak dan waktu.

Dalam pengembaraannya itu, Laras muncul bagai oase yang semula ia kira hanya fatamorgana. Seperti jatuh dari langit, perempuan itu muncul di ruang pengambilan bagasi bandara Suvarnabhumi, meminta sebuah koper yang baru ia tarik dari conveyor belt yang ukuran dan bentuknya sama dengan miliknya. Selebihnya peristiwa demi persitiwa terangkai seolah potongan-potongan adegan yang diatur oleh kekuatan tak kasat mata.

Osken mengalihkan tatapannya dari ikan-ikan koi ke perempuan yang duduk sejauh dua meter dari tempatnya berdiri; perempuan yang benar-benar menjadi oase di tengah kegersangan jiwanya; perempuan yang telah membuka hatinya untuk ia masuki lalu mengijinkannya tinggal di dalamnya.

Laras tidak menyadari tatapan Osken. Ia sedang terhanyut dalam pikirannya sendiri. Baginya, restu orang tua sangat penting. Semenjak menjanda, mereka menjadi pelipur lara, menjadi tempat bernaung dari deraan duka, menjadi air penghilang dahaga, membantu menyangga beban hidup yang dipikulnya.

Setelah bertemu lelaki yang mau menjadi pendampingnya, Laras tidak mau meninggalkan orang tuanya begitu saja. Ia tidak mau memilih salah satu, antara Osken dan orang tuanya. Ia ingin dua-duanya. Bila harus memilih salah satu, ia takut mengakui siapa yang akan ia sisihkan. Selama 45 tahun orang tuanya tak seharipun lupa membentangkan doa untuk melapangkan jalan hidupnya. Ia tak tahu waktu yang masih ia miliki akan lebih lama dari usia yang telah ia jalani. Ia tak ingin menodai sisa hidupnya dengan menorehkan luka di hati orang tuanya.

Laras juga tak hendak memutus benang-benang cinta yang sudah ia rajut bersama Osken. Meskipun Laras menikmati hidup tanpa suami, ia memilih menikah lagi bila kesempatan itu ada. Mega sebentar lagi pergi menjalani hidupnya sendiri, Angka akan menyusul segera. Kalau ia harus hidup sendiri setelah dua anaknya mandiri, ia yakin tak akan ada masalah. Namun ia ingin menghiasi hari-hari di depannya dengan cinta seorang lelaki yang hendak menikmati masa tua bersamanya.

“Aku ingin bisa menghabiskan sisa hidupku bersamamu…” Getaran hati Osken rupanya memiliki panjang gelombang yang sama dengan bisikan hati kekasihnya. “Aku lelah hidup seperti ini. Berpindah dari satu negara ke negara lain. Menjalin hubungan sebatas memenuhi kebutuhan akan keintiman belaka…” Osken kembali duduk di sofa, berhadapan-hadapan dengan perempuan yang ingin ia nikahi, yang sedang gundah karena terbelah hatinya.

“Kamu punya banyak pilihan, bukan? Aku hanya salah satu dari mereka…” Bukan sekali ini saja Laras mengatakan hal itu.

“Ya… tapi aku sudah memilihmu,” ucapan Osken tak berbeda dengan sebelumnya.

(photobucket.com)

“Kenapa aku? Kamu punya pilihan yang lebih mudah dan mungkin… lebih baik,” pedih suara Laras. Ia mengatakan hal itu berulang kali untuk mengurangi rasa bersalah yang menghimpit sejak orang tuanya menuntut agar Osken mengucapkan syahadat sebelum menikahinya. Ia marah pada diri sendiri karena gagal meyakinkan diri bahwa ia mampu menikah lagi tanpa restu siapapun.

“Berhentilah bicara begitu, Laras. Kamu tahu kalau bagiku kamu yang paling baik.” Getar suara Osken berasal dari hatinya, bukan semata rayuan.

“Aku tidak ingin membuatmu mengatakan atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hatimu.”

Osken mengerti maksud Laras. Mereka telah membahas hal itu beberapa kali. “Look… Aku akan melakukan yang dibutuhkan. Untukmu dan anak-anakmu. Kalau dengan mengucapkan sebaris kalimat itu kita bisa mendapat restu orang tuamu, aku akan mengucapkannya.”

Mata Laras panas, air menggenangi permukaannya. “Aku tidak mau mengubahmu…” Cepat Laras mengusap air mata yang menyusuri pipinya. Akhir-akhir ini ia jadi sering menangis.

“Tidak akan ada yang berubah. Aku hanya akan mengucapkan sederet kata yang bisa menyatukan kita.” Osken meraih dua tangan Laras. “Seperti mengucapkan abrakadabra atau alakazam… lalu pintu terbuka… untuk kita… apa susahnya?” Osken mengangkat tinggi kedua tangannya, “Abrakadabra…!” serunya.

Laras tak bisa menahan tawa. Ia jatuhkan tubuhnya ke pelukan Osken. Lelaki itu mengusap-usap kepala kekasihnya. Suara isak bercampur tawa membuat ikan-ikan koi warna-warni di kolam itu berhenti mengibas-ibaskan ekor mereka.

***

Dengan bangga Angka memamerkan gaya rambut baru yang katanya membuat wajahnya menyerupai seorang bintang televisi lokal.

“Kata siapa?” tanya Laras antusias, mengamati penampilan baru anaknya.

“Kata orang-orang di salon,” tukas Angka malu-malu.

“Salon dimana? Di Siam Paragon, ya? Jangan-jangan uang sakumu habis hanya untuk potong rambut.”

“Kami dapat uang saku dobel…” jawab Mega membantu adiknya yang ragu-ragu mau mengaku telah diberi uang tambahan oleh Osken.

Sambil pura-pura menggerutu Laras menyentuh pelan rambut sang perjaka. “Tapi kamu memang tambah cakep. Jangan beri tahu ongkosnya, ya… nanti cakepnya hilang…” Terdengar derai tawa di ruang tengah yang cukup luas untuk duduk-duduk semua warga di kampung mereka itu.

Osken muncul dengan wajah menyesal karena ketinggalan peristiwa yang memancing gelak tawa. “Kita akan keluar sejam lagi, ya. Aku akan minta Pon menyiapkan mobil.” Osken menyebut nama panggilan Ponlawit, salah satu penjaga rumah yang sekaligus supir keluarga Mary Jane.

“Kita mau naik mobil yang mana? Yang silver atau yang hitam?” Cepat sekali Angka bertanya.

“Angka…” Laras menegur anaknya.

“Kamu mau pilih yang mana?” tanya Osken.

“Yang silver…”

“Pilihan yang bagus!” Osken tertawa. “Tapi kita hanya pinjam, ya…” Osken mengingatkan.

“Biar pinjam, tapi aku senang.” Kejujuran Angka menyentuh hati calon suami ibunya itu.

“Kita harus memberi tahu Mary Jane sebelum memakai mobilnya,” tukas Laras, memandang Osken

“Sudah…” ujar Osken. Kemudian ia memberi isyarat agar semua segera bersiap-siap.

***

Sedan silver buatan Jerman keluaran terbaru itu meninggalkan sebuah rumah tak jauh dari Lumpini Park. Rambut perak pengendaranya berkilat tersorot lampu mobil yang lewat sebelum sedan itu masuk ke jalan raya. Di jok belakang Mega dan Angka sibuk bercerita tentang reruntuhan Central World yang siangnya mereka lihat. Bersama Laras, dua anak muda itu mengingat-ingat kunjungan mereka di pertengahan 2008, ketika di plaza depan pusat belanja dan hiburan high-end itu diselenggarakan festival minum bir besar-besaran. Ada dua merk bir internasional dan satu merk bir nasional yang memeriahkan acara itu. Mega masih menyimpan foto-fotonya.

Sambil menerobos padatnya lalu lintas kota, Osken bercerita tentang konflik yang terjadi di bulan Mei 2010; konflik antara dua kelompok besar, Kaus Merah yang pro petani dan Kaus Kuning yang pro kelompok konservatif dan kelompok elite yang dekat dengan keluarga kerajaan. Meskipun begitu mayoritas rakyat Thailand sangat mencintai dan memuja rajanya; mereka tidak menginginkan monarkhi berakhir. Film sepanjang 5 menit tentang darma bakti Sang Raja pada negerinya selalu dipertontonkan di semua bioskop mengawali setiap film yang akan diputar dan para penonton diminta berdiri untuk menghormati raja yang dipuja rakyatnya itu.

“Kita harus ke bioskop, nih!” cetus Angka.

Sedan itu menyusuri jalan Rama 4 menuju kawasan Bang Lumpoo. Osken memilih tempat itu bukan tanpa alasan. Ia ingin bercerita pada anak-anak Laras tentang pertemuannya dengan ibu mereka. Ia ingin membawa mereka ke sebuah restoran di tepi sungai Chao Phraya; sungai yang arusnya tidak hanya menghanyutkan kapal-kapal feri, namun juga hati penumpangnya, berayun, naik turun, lalu menyatu di muara cinta.

***

Mega memilih meja di sudut, paling dekat dengan sungai. Angka sibuk sekali dengan ponselnya, berkabar pada teman-temannya. Osken dan Laras meminta mereka memilih makanan dari buku menu.

“Kami mau jalan ke sana. Sebentar, ya…” Osken menggamit pinggang Laras yang terbalut sarung Makasar hadiah seorang teman. Sepotong kebaya encim berbordir sewarna sarungnya membuat perempuan itu tampak sangat Asia. Ia hanya perlu setangkai catleya untuk melengkapi nuansa Thai yang terpancar dari penampilannya.

Dengan celana dan kemeja warna gelap Osken tampil sempurna sebagai ‘Farang’, sebutan orang lokal untuk ras Kaukasia. Sebutan yang bisa bermakna negatif, yang berawal dari masa perang Vietnam akibat kehadiran militer Amerika di Thailand. Tak bisa dipungkiri, sosok Osken sebagai Farang membuatnya lebih dihormati daripada pendatang bukan kulit putih. Mereka, para wisatawan dari ras Kaukasia, para manusia kulit putih, sering dihubungkan dengan limpahan uang. Meskipun demikian, Osken tak merasa berbeda, selain tidak kaya ia menganggap diri sebagai warga dunia.

Dua insan itu berhenti di sudut pagar yang membatasi restauran dengan tebing sungai. Bulan setengah purnama ikut menikmati pemandangan magis di tepi sungai, menyaksikan para rivalnya, kerlap-kerlip lampu yang menyerupai kunang-kunang di belantara kota.

“Kamu benar-benar menganggap hal itu sesederhana seperti mengucapkan abrakadabra?” tanya Laras, menggamit lengan Osken.

“Aku tidak menganggapnya enteng, kalau itu yang kamu maksud. Namun aku tidak ingin hal itu menghalangi kita. Banyak penderitaan dan kekerasan dialami dan dilakukan oleh banyak orang atas nama agama. Kita lihat sendiri, orang menjadi beringas dan mampu membunuh sesamanya demi membela agama mereka. Sejarah menunjukkan kalau setiap agama ditegakkan di atas kucuran darah para pemeluknya. Aku tidak ingin menjadi salah satu dari mereka, Laras. Aku tidak akan membiarkan agamamu memisahkan kita, menyakiti kita. Itu yang penting… Aku harap kamu bisa menerimanya…”

“Terima kasih,” kata Laras tulus. Perempuan itu tidak butuh penjelasan lagi.

“Bulan setengah purnama…” bisik Osken di telinga Laras.

Laras mendongak. “Indah sekali, meski belum bulat sempurna,” Laras ikut berbisik, seakan takut mengganggu desir angin yang menimbulkan riak-riak kecil di permukaan air sungai.

Di sudut lain riverfront restaurant, Mega dan Angka sibuk memilih makanan. Sebuah feri penuh penumpang yang tengah asyik menikmati dinner cruise melintas, lelampunya yang benderang menaburkan cahaya berkilauan di permukaan sungai.

t a m a t

 

Catatan:

Terima kasih untuk Baltyra, yang merelakan ruangannya dipakai belajar menulis cerita. Terima kasih untuk teman-teman yang telah mengikuti kisah Laras dan Osken. Semoga penulis bisa segera menyelesaikan versi novelnya.

Tulisan-tulisan lain Endah Raharjo bisa dibaca di: http://kampungfiksi.blogspot.com dan http://endahraharjo.blogspot.com/

 

14 Comments to "Senja di Chao Phraya (22)"

  1. probo  21 July, 2011 at 21:53

    syukurlah……akhirnya…..

  2. mimin mumet  21 July, 2011 at 21:38

    akhirnya hepi endingggggg….

    baru baca endingnya doang …. belum baca lika liku perjalananya ..
    nitip sendal dulu yah bunda

  3. Lani  24 June, 2011 at 11:05

    KORNEL……lo, yg menikah mrk yg minta kado kok kamu????? wakakakak

  4. Kornelya  24 June, 2011 at 09:34

    Endah, daku lega, Osken & Laras jadi menikah. Yang mau kirim kado, boleh nitip ke aku.hahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.