Fokus Kehidupan Fian dan Ifan

Yeni Suryasusanti

 

Memiliki 2 orang putra yang terpaut jauh usianya, membuat saya mulai belajar mengenai pergeseran fokus seiring dengan bertambahnya usia.

Fian, saat ini berusia 3 th, memandang kehidupan dengan fokus kejadian sehari-hari di sekitarnya. Keluarga adalah pusat perhatiannya. Sungguh membuat terharu dan terkadang lucu, Fian bereaksi terhadap setiap kejadian yang mengganggu atau salah baginya.

“Ayah, minta maaf sama bunda!” kata Fian dengan tegas sambil melotot ketika melihat saya meringis karena kaki saya tanpa sengaja terinjak oleh suami :D

“Kog ‘Nen’? Bukan ‘Nen’… Bundaaaaa…..” protesnya saat Ibu memanggil saya dengan nama kecil saya – ‘Neni’ :)

“Kog ‘Papa’? Bukan ‘Papa’…. Akiiiii…..” Fian juga protes saat saya memanggil papa saya ‘Papa’ bukan dengan panggilan ‘Aki’ seperti cucu-cucunya heheheh…

Suatu hari ketika saya sedang haid, saya mengalami kram perut ketika pulang kerja. Saya duduk di tempat tidur, sambil sedikit meringis dan memijit-mijit perut saya.

“Bunda kenapa? Sakit peyut ya?” tanya Fian.

“Iya, nak…” sahut saya.

“Oh… bentar ya Bunda, Fian ambil kiranti duyu!” dan Fian pun berlari ke kulkas dan membawakan saya sebotol kiranti :D

Sungguh luar biasa, semua tidak ada yang lolos dari pengamatannya. Dengan memperhatikan kebiasaan saya membeli kiranti pada saat belanja bulanan dan iklan di TV Fian langsung menghubungkan kiranti dan sakit perut hehehe…

Hal-hal praktis yang kita ajarkan pun langsung mereka kerjakan secara otomatis, tanpa perlu disuruh lagi.

Ketika Fian menumpahkan air di lantai, Fian akan berlari mengambil keset handuk sambil berkata, “Bentar ya bunda, Fian pel dulu biar nggak jatuh!”

Setiap kali melihat kecoa dan di ruangan itu ada saya, maka Fian akan berkata,

“Bentar ya Bunda, Fian ambil sapu lidi dulu!”

Kemudian Fian akan mengusir kecoa tersebut. Setelah kecoa kabur, Fian berkata dengan bangga,

“Udah Bunda, udah Fian usir kecoanya!”

Pernah setelah Fian mengusir kecoa, saya berkata, “Fian, mama (kakak saya) bilang, di rumah mama juga banyak kecoa…”

Reaksi Fian, “Oh, oke Fian telepon mama dulu ya Bunda…”

“Lho, kenapa, kog langsung mau telepon mama?”

“Soalnya Bun, mama itu kan takut kecoa… Fian mau bilang nanti Fian usir kecoanyaaaaa…” heheheheh…..

Ketika sedang menelpon kakak saya dan membicarakan soal “Pengusiran Kecoa”, saya yang memang sedang batuk, mulai terbatuk-batuk.

Kakak saya bertanya, “Siapa yang batuk, Fian?”Fian menjawab, “Bunda,”

Lalu Fian tiba-tiba berkata, “Bentar ya ma, Fian mau ambil minum untuk Bunda duyu. Bunda batuk tuh…” kemudian menyerahkan gagang telepon kepada saya yang seketika tertegun.

“Ini Bunda, minum,” kata Fian.

Duh, terharuuuuuu……… Saya tahu Fian begitu karena melihat saya melakukan hal serupa disaat Ifan dan Fian batuk :)

Ifan, saat ini usianya menjelang 11 tahun.

Dulu persis sama seperti Fian perhatiannya pada keluarga terutama saya :)

Namun seiring dengan bertambahnya usia dan hal baru yang dilihat dan dipelajarinya, perlahan-lahan fokusnya bertambah. Bukan tidak lagi mengutamakan keluarga, namun mulai memiliki banyak fokus, bukan hanya keluarga.

Sekolah, teman-teman seusianya baik teman sekolah maupun sepupunya, buku cerita, game di facebook, TV, dan masih banyak lagi.

Hal-hal kecil yang terjadi dalam lingkup keluarga terkadang luput dari perhatiannya seperti saat saya sekedar batuk, mungkin karena hal itu menjadi “biasa” baginya. Namun, jika saya terlihat sakit dan tidak bangkit dari tempat tidur, baru lah Ifan bereaksi, memberi perhatian dan bertanya :)

Karena fokus yang mulai tersebar inilah, terkadang Ifan harus “diingatkan lagi” untuk hal-hal praktis yang sebenarnya sudah diajarkan sejak kecil, seperti mengelap lantai jika menumpahkan air, mengucapkan terima kasih jika mendapat bantuan sekecil apapun, langsung bertanya ada apa jika adik menangis dan mematikan lampu dan AC kamarnya jika tidak digunakan.

Pertambahan usia, biasanya berbanding lurus dengan pertambahan pengetahuan, karena semakin banyak kita menemukan hal-hal baru.

Saya sekarang akhirnya semakin menyadari, beratnya amanah yang diberikan Allah kepada seluruh orangtua.

Usia 10 tahun dan remaja, sepertinya sungguh merupakan critical point dari seorang anak dalam fokus hidupnya.

Saya tidak boleh bosan menginspirasi, mengarahkan dan melatih Ifan untuk tetap memfokuskan pikirannya pada keluarga diantara fokus-fokus baru hidupnya.

Semoga dengan latihan-latihan kecil dalam memperhatikan keluarga, kelak jika Ifan dewasa diantara fokus-fokus hidupnya : agama, karir dan lain sebagainya, Ifan akan tetap memiliki perhatian pada keluarga yang dibuktikan dengan sikap dan cinta.

Bukan hanya kata-kata kosong tanpa makna : “Keluarga adalah Fokus hidup saya” namun kenyataannya hal itu hanya berlaku secara materi saja karena kehadiran, perhatian dan cintanya tidak pernah dirasakan oleh seluruh anggota keluarga…

 

Jakarta, 18 Juni 2011

Yeni Suryasusanti

 

26 Comments to "Fokus Kehidupan Fian dan Ifan"

  1. anoew  24 June, 2011 at 12:38

    Lho Lan..? Yo pakai terapi khusus tho yooo…

  2. Lani  24 June, 2011 at 11:11

    KANG ANUUUU……hah? gimana caranya memberi kesembuhan? tuh komentar no 18????? wis tambah sudrun dikau……

  3. Lani  24 June, 2011 at 11:09

    KORNEL baca komen mu no 21 hahahah……..kamu dan aki buto pd sok tau ya?????? gilanya udah gawan bayi……..la, salah masuk disini tambah semangkin gilaaaaaaaa kkkkkkk……tp banyak pengikutnya lo………

  4. Yeni Suryasusanti  24 June, 2011 at 09:51

    DJ, saya geli sama kaki kecoa, apalagi kalo yg udah terbang2 gitu iiihhhhh hehehehhe…. tapi nggak tega injek atau pake sapu, biasanya saya ambil semprotan nyamuk, biar dia mati kaku ajah

    Bagong, Ifan katanya belum mimpi basah. Tapi kesepakatan bersama, itu urusan suami utk menjelaskan heheheh…. kalo jerawat masih bisa urusan bunda

    Kornelya, iya, sangat bersyukur…

    Atite, kebayang pasti diprotes si kecil kalo ngomel2 wkwkwkkwkw…. belum lagi kalo nantinya dia niru ngomel2 waks makin jadi masalah huahauhua

  5. atite  24 June, 2011 at 09:28

    hi3x.. betul2… anakku waktu umur 3 tahun lg jadi ‘polisi moral’ di rumah, mama-papanya hampir setiap saat di suruh bermaaf2an …. skrg 3,5 thn saat ini lg seneng memperhatikan ekspresi2 sekitarnya. dia akan selalu tanya “kenapa mama ngomong ‘O-ow’?”, atau “kok mama barusan ‘grrrrr’?”. atau kl sy abis menghela nafas panjang atau menjentikkan jari… paling capek kl sy lagi nyetir di jalan raya yg semerawut & anak sy duduk di sebelah, kebayang brp banyak ekspresi emosi yg sy keluarkan & masih harus meladeni bombardir pertanyaan dr si kecil…
    Fian & Ifan perlu dicatet, siapa tau jd calon mantu, ha3x… salam

  6. Kornelya  24 June, 2011 at 04:19

    Mba Yeni, betul mengikuti perkembangan anak, membuat kita bersyukur diberi kesempatan menjadi orang tua. Hahaha, JC bilang dulu ortu Lani, tobat tobil ngurus Lani waktu kecil. Padahal, dulunya subo itu alim, sudrunnya baru, setelah ketemu sobat sepersudrunannya di Baltyra. Salam.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.