Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Panen Madu Tradisional ala Punan Hulu Kelay

Thursday, 23 June 2011

Viewed 3063 times, 6 times today | 52 Comments |

Handoko Widagdo – Solo

 

(diringkas dan dialihbahasakan dari: ”Traditional Honey Collection in the Kelay River Villages, East kalimantan” oleh Susan O’Farrel. World Education Indonesia).

Panen madu hutan adalah bagian dari budaya Orang Punan sejak dulu kala. Sampai saat ini, madu masih menjadi bagian penting dari kehidupan orang Punan. Madu bukan sekedar barang ekonomi, tetapi menjadi bagian hidup dan budaya mereka.

Baiklah saya jelaskan sedikit tentang orang Punan. Istilah Punan dipakai oleh banyak peneliti Kalimantan untuk membedakan suku ini dari suku Melayu dan Suku Dayak. Suku Melayu adalah mereka yang tinggal di pesisir dan beragama Islam. Suku Dayak adalah mereka yang tinggal menetap di pedalaman dan tidak beragama Islam.

Sedangkan Punan adalah suku nomadic yang tinggal terus berpindah di dalam hutan. Berbeda dengan suku Melayu dan Dayak yang menetap dan bertani/berdagang, suku Punan hidup dari berburu dan mengambil hasil hutan.

Suku Punan dalam tulisan ini adalah suku Punan yang tinggal di sepanjang Sungai Kelay di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Mereka sendiri menyebut sukunya dengan nama Mapnan. Mereka tinggal di kampung-kampung sepanjang Hulu Sungai Kelay.

 

Pohon LebahMadu

Lebah hutan tidak menempatkan madunya disembarang pohon. Hanya pohon khusus yang dipakai oleh lebah hutan untuk bersarang. Pohon tersebut adalah pohon Mengaris (Kompassia excelsa). Pohon Mengaris tumbuh menjulang mengatasi pohon-pohon lainnya. Ketinggian Mengaris bisa mencapai 85 meter. Pohon Mengaris dipilih oleh lebah hutan untuk meletakkan sarangnya karena selain tinggi, kulit pohon mengaris sangat licin. Dengan demikian, sarang lebah akan aman dari gangguan beruang madu.

 

Ritual Panen Madu

Dahulu kala, sebelum suku Punan Kelay memeluk Agama Kristen, pemanenan madu didahului dengan ritual. Ritual pertama adalah yang mereka sebut sebagai ’Keluwung; Ritual Memanggil Madu’. Ritual ini dilakukan pada awal musim madu (sekitar Bulan Oktober). Mereka mengambil cabang pohong dengan ranting yang bagus. Kemudian mereka membuat bentuk sarang madu dari tanah liat dan menempelkan pada ranting-ranting tersebut.

Ritual kedua adalah ritual yang dilakukan saat mereka mempersiapkan memanjat pohon madu. Ritual ini disebut sebagai ritual mengusir hantu pohon. Caranya ialah dengan melemparkan telur ayam hutan ke pangkal pohon yang akan dipanjat, atau memecahkan telur tersebut di batu dekat pohon tersebut. Tentu saja pelemparan telur tersebut dilakukan dengan doa-doa. Namun kini, setelah mereka memeluk Agama Kristen, mereka melakukan doa (secara Kristen) sebelum memanjat pohon.

Selain dua ritual tersebut, Orang Punan juga akan memperhatikan tanda alam sebelum memanjat. Jika sebelum memanjat ada suara burung ’teljan’, burung ’sit’ atau burung ’telgis’ dari sebelah kirinya, maka adalah sangat berbahaya untuk memanjat. Jika suara burung tersebut berasal dari sebelah kanan, maka kematian akan terjadi. Biasanya mereka akan mengurungkan untuk memanjat pohon. Sebab alam telah memperingatkan mereka.

 

Proses dan Alat Panen Madu Tradisional

Musim madu di Hulu Kelay terjadi dari Bulan Oktober sampai Bulan Januari. Orang Punan memanen madu pada malam hari saat bulan tidak terang. Pemanjatan pada malam yang gelap dimaksudkan untuk menghindari serangan lebah. Pada malam gelap, lebah biasanya tidak aktif. Orang Punan menggunakan peralatan tradisional dalam memanen madu. Peralatan tersebut adalah:

Luah tong, yaitu tali dari rotan kecil (sekarang ada juga yang menggunakan tali plastik, sepanjang kira-kira 30 meter, dengan ujungnya diberi bandul batu sebesar telur ayam. Luah tong digunakan untuk menghubungkan pohon mangeris yang akan dipanen madunya dengan pohon yang akan dipanjat. Karena mangeris tidak mempunyai cabang rendah, dan batangnya sangat licin, maka orang Punan tidak memanjat pohon mangeris secara langsung. Mereka memanjat pohon terdekat untuk sampai ke sarang madu. Nah Luah tong ini dilemparkan ke pohon mangeris dari atas pohon yang dia panjat.

 

Guy kal. Guy kal adalah dua utas tali rotan kecil. Di bagian tengahnya diberi gelang-gelang rotan. Fungsi guykal adalah sebagai jembatan antara pohon yang dipanjat dengan pohon mangeris. Setelah Luah tong mengait salah satu cabang di pohon mengaris, maka selanjutnya guy kal disambungkan ke Luah tong sehingga pohon yang dipanjat terbubung dengan pohon mangeris yang akan dipanen madunya. Tentu saja guykal diikat dengan baik sehingga aman saat dirambati oleh si pemanjat. Guy kal dipasang pada ketinggian antara 20-30 meter dari tanah. Jarak antara pohon yang dipanjat dengan pohon mengeris antara 35-40 meter. Selanjutnya si pemanjat akan merambat melalui guy kal untuk mencapai cabang pohon mengaris. Beberapa pemanjat mengikat kedua telapak kakinya dengan menggunakan serabut kulit pohon untuk mempermudah saat merambat guy kal. Sedangkan gelang-gelang rotan yangtersambung di guy kal digunakan untuk sandaran telapak kaki saat si penajut memerlukan kedua tangannya saat mengambil madu.

 

Bub dan guy luh. Bub adalah obor yang dibuat dari kulit kayu. Sedangkan guy luh adalah tali rotan untuk menaikkan bub ke atas. Teman si pemanjat akan menyalakan bub dan mengikatkannya pada guy luh yang dilemparkan ke bawah oleh si pemanjat yang sudah ada di salah satu cabang. Selanjutnya si pemanjat akan menarik bub ke atas dan meletakkan ke dekat sarang lebah. Bub menghasilkan banyak asap sehingga lebah-lebah yang menjaga sarang akan berhamburan. Kadang si pemanjat juga mengoser-oserkan bub ke sarang supaya semua lebah pergi.

 

Giang. Giang adalah pisau dari kayu yang digunakan untuk memotong sarang madu. Orang Punan tidak menggunakan pisau dari logam karena logam akan melukai kulit cabang mangeris. Jika kulit cabang terluka, maka lebah tidak akan mau menempati cabang tersebut pada tahun berikutnya.

 

Lekhung. Selanjutnya sarang madu diwadahi dalam lekhung, yaitu wadah yang dibuat dari kulit kayu. Setelah lekhung penuh, kemudian diturunkan dengan tali rotan (guy luh) ke bawah. Teman yang ada di bawah memindahkan madu dari lekhung ke jerigen-jerigen yang sudah disiapkan.

 

Guy hing. Guy hing adalah tali yang digunakan untuk berpindah dari satu cabang mangeris ke cabang lainnya. Biasanya pohon mangeris memiliki lebih dari satu sarang lebah. Nah untuk berpindah dari satu cabang ke cabang lainnya, si pemanjat akan melemparkan guy hing ke cabang lain yang akan dipanen sarang lebahnya.

Para pengumpul madu tradisional bisa mendapatkan 150-350 liter madu dalam satu musim panen madu. Rata-rata satu malam, satu kali pemanjatan, mereka bia mendapat sekitar 10 liter madu. Sayangnya, hutan hulu Kelay sudah mulai dirambah HPH. Meski pohon mangeris bukanlah pohon kayu bagus (tidak ditebang oleh pengusaha HPH), namun kerusakan hutan akan mengganggu habitat lebah hutan. Kerusakan tutupan di sekitar pohon mangeris juga berakibat pada berkurangnya sarang lebah. Oleh sebab itu, hendaknya para pengusaha hutan bisa berbagi dengan Orang Punan, yaitu tidak menebangi pohon disekitar pohon mangeris. Semoga…

Foto dan ilustrasi diambil dari artikel aslinya.

 

Share This Post

Posted by Thursday, 23 June 2011 on 10:42.

Categories: Agriculture. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

52 Responses to “Panen Madu Tradisional ala Punan Hulu Kelay”

Pages: « 6 5 4 [3] 2 1 »

  1. 30
    Kornelya Says:

    Pa Handoko, FB ini seperti demam HP. Dikampungku selain dirumah-rumah, warnet bertebaran dimana-mana, tanya aja sama ibu dosen Tia. Hahaha.

  2. 29
    Handoko Widagdo Says:

    Kornel, silahkan dipajang di fb-nya. Emang di kampungmu semua penduduknya punya fb?

  3. 28
    Handoko Widagdo Says:

    Kang Bagjul, sebenarnya di banyak tempat di Indonesia model panen madu liar seperti itu masih banyak.

    Atite sebagian memang dipakai untuk dikonsumsi sendiri (orang Punan tidak memakai gula untuk pemanis, tetapi memakai madu). Tapi sebagian besar saat ini sudah dijual. Terutama kepada para pekerja kayu yang ada di sekitar desanya.

  4. 27
    Handoko Widagdo Says:

    Kang Sirpa terima kasih sudah mengingatkan Ilhampst. Saya selalu mendorong Ilhalpst jadi Gubernur di Kalimantan supaya Kalimantan tidak diacak-acak orang luar.

  5. 26
    Handoko Widagdo Says:

    Wah Kang Anoew harus balik ke Mangunjayan

  6. 25
    atite Says:

    mas Handoko, menarik sekali… pengen tahu rasanya berburu madu malam2 gelap… jagoan betul mereka, tekniknya ninja pun kalah … mereka ngambil madu hanya utk konsumsi sendiri atau ada yg buat dijual jg ya? (mungkin bs kerja sama sm pengusaha biar pohon mangeris lebih banyak?) baru saja sy dapat oleh2 madu sebotol aqua dari teman yg pulang dari Waerebo (NTT), enak bener manisnya gak bikin belenger…
    salam

  7. 24
    Kornelya Says:

    Pa Handoko, terima kasih, sangat informatif. Aku share di FB ya, biar orang dikampungku bisa ikut baca. Salam.

  8. 23
    bagong julianto Says:

    Mas Hand,

    Di Acheh Timur, seputar Tanjung Geuleumpang, awal th 2000′an, kami masih sempat jadi saksi kesosialan budaya panen madu di hutan. Saat penen madu, selalu malam hari, siapapun yang ikut (kenal nggak kenal, akhirnya kenal), akan dapat bagian yang rata. Team pemanjat tentu lebih banyak porsinya. Kalau yang ikut lebih banyak, madu dihitung-diperkirakan, jika tak memadai maka tak jadi dipanen.

    Sekarang relatif susah cari madu 100% murni…….
    Suwunnn.

  9. 22
    Sirpa Says:

    Assyik banget artikelnya Mas Hand , tengkyu banget ! (* membuat Ilhampst jadi kepingin menelusuri ansestor nya )

    @ Bubuhan Ilhampst : ikam dan unda kalah lawan Mas Hand , banua mu sudah diudak lawan inyak …. )
    apa habar nya ? masih di Makassar kah atau sudah bulik lagi ditanah Jawa ?

  10. 21
    anoew Says:

    Kalau pas ke lapangan saya lebih suka berburu bunga dari pada madu. Kalau berburu bunga paling tertusuk duri, kalau berburu madu bisa dientup tawon atau, malah diuber beruang madu.

    Komentar bu Nunuk tepat sekali..! Tapi lebih tepat lagi kalau diluluri madu sama Bunga dan duduknya di dingklik.

Pages: « 6 5 4 [3] 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)