Thursday, 23 June 2011
Handoko Widagdo – Solo
(diringkas dan dialihbahasakan dari: ”Traditional Honey Collection in the Kelay River Villages, East kalimantan” oleh Susan O’Farrel. World Education Indonesia).
Panen madu hutan adalah bagian dari budaya Orang Punan sejak dulu kala. Sampai saat ini, madu masih menjadi bagian penting dari kehidupan orang Punan. Madu bukan sekedar barang ekonomi, tetapi menjadi bagian hidup dan budaya mereka.
Baiklah saya jelaskan sedikit tentang orang Punan. Istilah Punan dipakai oleh banyak peneliti Kalimantan untuk membedakan suku ini dari suku Melayu dan Suku Dayak. Suku Melayu adalah mereka yang tinggal di pesisir dan beragama Islam. Suku Dayak adalah mereka yang tinggal menetap di pedalaman dan tidak beragama Islam.
Sedangkan Punan adalah suku nomadic yang tinggal terus berpindah di dalam hutan. Berbeda dengan suku Melayu dan Dayak yang menetap dan bertani/berdagang, suku Punan hidup dari berburu dan mengambil hasil hutan.
Suku Punan dalam tulisan ini adalah suku Punan yang tinggal di sepanjang Sungai Kelay di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Mereka sendiri menyebut sukunya dengan nama Mapnan. Mereka tinggal di kampung-kampung sepanjang Hulu Sungai Kelay.
Pohon LebahMadu
Lebah hutan tidak menempatkan madunya disembarang pohon. Hanya pohon khusus yang dipakai oleh lebah hutan untuk bersarang. Pohon tersebut adalah pohon Mengaris (Kompassia excelsa). Pohon Mengaris tumbuh menjulang mengatasi pohon-pohon lainnya. Ketinggian Mengaris bisa mencapai 85 meter. Pohon Mengaris dipilih oleh lebah hutan untuk meletakkan sarangnya karena selain tinggi, kulit pohon mengaris sangat licin. Dengan demikian, sarang lebah akan aman dari gangguan beruang madu.
Ritual Panen Madu
Dahulu kala, sebelum suku Punan Kelay memeluk Agama Kristen, pemanenan madu didahului dengan ritual. Ritual pertama adalah yang mereka sebut sebagai ’Keluwung; Ritual Memanggil Madu’. Ritual ini dilakukan pada awal musim madu (sekitar Bulan Oktober). Mereka mengambil cabang pohong dengan ranting yang bagus. Kemudian mereka membuat bentuk sarang madu dari tanah liat dan menempelkan pada ranting-ranting tersebut.
Ritual kedua adalah ritual yang dilakukan saat mereka mempersiapkan memanjat pohon madu. Ritual ini disebut sebagai ritual mengusir hantu pohon. Caranya ialah dengan melemparkan telur ayam hutan ke pangkal pohon yang akan dipanjat, atau memecahkan telur tersebut di batu dekat pohon tersebut. Tentu saja pelemparan telur tersebut dilakukan dengan doa-doa. Namun kini, setelah mereka memeluk Agama Kristen, mereka melakukan doa (secara Kristen) sebelum memanjat pohon.
Selain dua ritual tersebut, Orang Punan juga akan memperhatikan tanda alam sebelum memanjat. Jika sebelum memanjat ada suara burung ’teljan’, burung ’sit’ atau burung ’telgis’ dari sebelah kirinya, maka adalah sangat berbahaya untuk memanjat. Jika suara burung tersebut berasal dari sebelah kanan, maka kematian akan terjadi. Biasanya mereka akan mengurungkan untuk memanjat pohon. Sebab alam telah memperingatkan mereka.
Proses dan Alat Panen Madu Tradisional
Musim madu di Hulu Kelay terjadi dari Bulan Oktober sampai Bulan Januari. Orang Punan memanen madu pada malam hari saat bulan tidak terang. Pemanjatan pada malam yang gelap dimaksudkan untuk menghindari serangan lebah. Pada malam gelap, lebah biasanya tidak aktif. Orang Punan menggunakan peralatan tradisional dalam memanen madu. Peralatan tersebut adalah:
Luah tong, yaitu tali dari rotan kecil (sekarang ada juga yang menggunakan tali plastik, sepanjang kira-kira 30 meter, dengan ujungnya diberi bandul batu sebesar telur ayam. Luah tong digunakan untuk menghubungkan pohon mangeris yang akan dipanen madunya dengan pohon yang akan dipanjat. Karena mangeris tidak mempunyai cabang rendah, dan batangnya sangat licin, maka orang Punan tidak memanjat pohon mangeris secara langsung. Mereka memanjat pohon terdekat untuk sampai ke sarang madu. Nah Luah tong ini dilemparkan ke pohon mangeris dari atas pohon yang dia panjat.
Guy kal. Guy kal adalah dua utas tali rotan kecil. Di bagian tengahnya diberi gelang-gelang rotan. Fungsi guykal adalah sebagai jembatan antara pohon yang dipanjat dengan pohon mangeris. Setelah Luah tong mengait salah satu cabang di pohon mengaris, maka selanjutnya guy kal disambungkan ke Luah tong sehingga pohon yang dipanjat terbubung dengan pohon mangeris yang akan dipanen madunya. Tentu saja guykal diikat dengan baik sehingga aman saat dirambati oleh si pemanjat. Guy kal dipasang pada ketinggian antara 20-30 meter dari tanah. Jarak antara pohon yang dipanjat dengan pohon mengeris antara 35-40 meter. Selanjutnya si pemanjat akan merambat melalui guy kal untuk mencapai cabang pohon mengaris. Beberapa pemanjat mengikat kedua telapak kakinya dengan menggunakan serabut kulit pohon untuk mempermudah saat merambat guy kal. Sedangkan gelang-gelang rotan yangtersambung di guy kal digunakan untuk sandaran telapak kaki saat si penajut memerlukan kedua tangannya saat mengambil madu.
Bub dan guy luh. Bub adalah obor yang dibuat dari kulit kayu. Sedangkan guy luh adalah tali rotan untuk menaikkan bub ke atas. Teman si pemanjat akan menyalakan bub dan mengikatkannya pada guy luh yang dilemparkan ke bawah oleh si pemanjat yang sudah ada di salah satu cabang. Selanjutnya si pemanjat akan menarik bub ke atas dan meletakkan ke dekat sarang lebah. Bub menghasilkan banyak asap sehingga lebah-lebah yang menjaga sarang akan berhamburan. Kadang si pemanjat juga mengoser-oserkan bub ke sarang supaya semua lebah pergi.
Giang. Giang adalah pisau dari kayu yang digunakan untuk memotong sarang madu. Orang Punan tidak menggunakan pisau dari logam karena logam akan melukai kulit cabang mangeris. Jika kulit cabang terluka, maka lebah tidak akan mau menempati cabang tersebut pada tahun berikutnya.
Lekhung. Selanjutnya sarang madu diwadahi dalam lekhung, yaitu wadah yang dibuat dari kulit kayu. Setelah lekhung penuh, kemudian diturunkan dengan tali rotan (guy luh) ke bawah. Teman yang ada di bawah memindahkan madu dari lekhung ke jerigen-jerigen yang sudah disiapkan.
Guy hing. Guy hing adalah tali yang digunakan untuk berpindah dari satu cabang mangeris ke cabang lainnya. Biasanya pohon mangeris memiliki lebih dari satu sarang lebah. Nah untuk berpindah dari satu cabang ke cabang lainnya, si pemanjat akan melemparkan guy hing ke cabang lain yang akan dipanen sarang lebahnya.
Para pengumpul madu tradisional bisa mendapatkan 150-350 liter madu dalam satu musim panen madu. Rata-rata satu malam, satu kali pemanjatan, mereka bia mendapat sekitar 10 liter madu. Sayangnya, hutan hulu Kelay sudah mulai dirambah HPH. Meski pohon mangeris bukanlah pohon kayu bagus (tidak ditebang oleh pengusaha HPH), namun kerusakan hutan akan mengganggu habitat lebah hutan. Kerusakan tutupan di sekitar pohon mangeris juga berakibat pada berkurangnya sarang lebah. Oleh sebab itu, hendaknya para pengusaha hutan bisa berbagi dengan Orang Punan, yaitu tidak menebangi pohon disekitar pohon mangeris. Semoga…
Foto dan ilustrasi diambil dari artikel aslinya.
June 25th, 2011 at 17:06
wah jian…….jago plesetan……wis ora rendheng Dhimas…aja mleset-mleset…ndhak tiba
June 25th, 2011 at 09:03
Ilhampst mau memetik Bu Lan? Wah harus pergi jauh ke Kona…
June 24th, 2011 at 21:30
hehehe…iya….panjang suku, biar bisa memetik madu di bulan
June 24th, 2011 at 17:47
haha..pak hand.. kalo dia mah panjat meringis…. (loh??)
June 24th, 2011 at 17:28
Nev, kalau diadakan lomba panjat mengaris, Ilhampst pasti pemenangnya
June 24th, 2011 at 17:27
Setuju Mbak Probo, Ilhampst panjang suku
June 24th, 2011 at 17:20
wah…saya masih saja suka menganggap mahal madu yang saya nikmati.. padahal perjuangan dalam memanen kan luar biasa berbahaya….
*gimana kalau lomba panjat pinang saat perayaan ultah negeri ini diganti dengan “panjat batang mangeris” ya?? kan ga perlu oles2 jelaga lagi tokh….
makasih pak hand pelajarannya
June 24th, 2011 at 15:51
panjang kaki…dan panjang akal……kakehan penekan tower jare……
June 24th, 2011 at 15:32
MBAK PROBO komentar 31……baru dengar ada SUKU PANJANG?????
June 24th, 2011 at 15:29
Handoko Widagdo Says:
June 23rd, 2011 at 13:15
Ilhampst, wah saya belum menemukan kategori orang Kalimantan yang suka manjat tower masuk suku apa…
kayaknya yang pas suku panjang……