[Serial de Passer] Astari Mencuri (1)?

Dian Nugraheni

 

Di tahun 70an sampai awal-awal 80an, tak banyak orang yang mempunyai Televisi, atau sering juga disebut Tivi. Itu pun masih belum berwarna alias Televisi Hitam Putih. Di kampung tempat Astari tinggal, baru beberapa orang yang memiliki Tivi. Salah satunya adalah keluarga Bu Sri. Bu Sri, di kampung itu lebih terkenal daripada Pak Haryono, suaminya. Ini, mungkin karena Bu Sri seorang yang sangat ramah tapi tegas, baik hati, dan suka menolong orang lain.

Tidak seperti beberapa keluarga yang sudah memiliki Tivi pada jaman itu, di mana rumah mereka selalu tertutup, dan tidak mengijinkan para tetangga untuk ikutan melihat acara Tivi di rumahnya, maka, kebalikan dengan Bu Sri, beliau malah “woro-woro”, atau pengumuman kepada para tetangga dekatnya untuk menyaksikan acara-acara Tivi tertentu di rumahnya. Acara yang paling digemari waktu itu adalah Kethoprak.

Bu Sri membuka lebar-lebar pintu rumahnya. Kursi, meja, dan perabotan yang berada di Ruang Tengah di mana Tivi dipasang, selalu dipinggirkan mepet dinding, agar tersedia ruang lebar yang lega, di mana kemudian dihamparkan karpet di lantainya untuk duduk para tetangga yang akan datang menyaksikan acara Ketoprak, khususnya. Dan ketika tontonan itu hadir, rumah Bu Sri akan gegap gempita dengan celoteh para penonton yang mengkomentari adegan demi adegan dalam Kethoprak.

Meskipun rumah Bu Sri tepat di belakang rumah Astari, tak sering Astari ikutan nebeng nonton Tivi di sana, karena Mbah Lukito Kakung tak selalu mengijinkannya dengan alasan sudah terlalu malam, harus belajar, dan lain-lain. Mbah Lukito pun lebih menikmati sajian Kethoprak yang disiarkan lewat Radio, kisah dijabarkan tanpa gambar. Padahal, Bu Sri sudah sering mengundang Mbah Lukito untuk hadir menyaksikan Ketoprak di Tivi di rumahnya.

“Monggo to, Pak Lukito, tindak kampir, datang ke rumah saya nonton Kethoprak..sekali-sekali…” ajak Bu Sri.

Mbah Lukito Kakung tak langsung menyanggupi undangan. Tapi, sekali waktu,  ketika Pak Haryono sendiri yang datang “menjemput”  ke rumah Mbah Lukito malam itu, menjelang acara Kethoprak ditayangkan, Mbah Lukito Kakung pun beranjak juga. Astari ikut dengan menggandeng tangan Mbah Lukito Kakung.

Sesampainya di rumah Bu Sri, “penonton” sudah banyak yang hadir, duduk tenang di hamparan karpet. Dan, Pak Haryono buru-buru menyeret sebuah sofa tunggal, kursi empuk, menempatkan sedemikian rupa sehingga tidak menutupi pemandangan penonton lain, dan mempersilahkan Mbah Lukito duduk di sana, “monggo, Pak Lukito, pinarak sini, duduk sini…”

Dan Mbah Lukito menolak, “Nggak usah Pak Haryono, saya simpuh saja di karpet  dengan yang lain..”

“Oohhh, mboten-mboten, tidak-tidak, Bapak duduk di kursi, biar saya temani..” buru-buru Pak Haryono menyeret satu lagi kursi, dijejer dekat sofa tunggal yang disiapkan buat Mbah Lukito.

Hanya sekali itu Mbah Lukito Kakung memenuhi undangan nonton Kethoprak di rumah Bu Sri dan Pak Haryono, selebihnya, Mbah Lukito akan menyampaikan alasan macam-macam demi kesopanan, bila menolak undangan keluarga itu. Tapi, sejak itu, Astari lebih dibolehkan untuk ikut serta nonton Tivi di rumah bu Sri, bersama kawan-kawannya yang lain, khususnya Entik dan Witri.

Seperti malam itu juga, Astari, Entik, Witri, berencana dan janjian akan ikutan nonton Kethoprak di rumah Bu Sri, hadir setengah jam lebih awal dari jam mulai acara, ketiga gadis kecil ini, melepas sandal jepetnya di beranda luar rumah Bu Sri, menghampiri pintu dan mengetuknya.

Bu Sri segera membukakan pintu, “Wahh, gasik yaa, ayooo masuk, cari tempat yang enak biar nggak ketutupan nantinya…”

“Ya Bu Sri.., terimakasih..” serempak ketiga gadis kecil ini menyerukan rasa terimakasihnya.

“Bu Sri ke belakang dulu yaa, lagi masak…”, pamit Bu Sri. Anak-anak serempak lagi, mengangguk.

Kira-kira seperempat jam, Bu Sri keluar dari dapur, masuk ke ruang tengah, membawa sebuah nampan kecil, “Mau ngicipin nggak..?”

Ketiga gadis kecil ini langsung menghampiri, ingin mengambil makanan yang ditawarkan Bu Sri, tapi, begitu melihat apa yang ada di nampan, anak-anak langsung mengurungkan niatnya.

“Ini apa Bu Sri..?” tanya Witri.

“Ini Jangkrik goreng. Enak kok, gurih. Jangkrik itu bersih, enggak seperti kecoak, dan dia bergizi karena banyak mengandung protein, seperti ulat Turi, walang, juga anak lebah.., ayo icipin…” kata Bu Sri.

Astari mengulurkan tangan mengambil sebuah, dan memakannya, “hmm, iya kok, enak, asin..”

Entik dan Witri tetap menolak. “ya wes, aku taruh meja yaa, nanti kalau ada yang mau, ambil saja…”, kata Bu Sri lagi.

Seperempat jam selanjutnya, para penonton, anak-anak, muda, tua, laki, perempuan, sudah berbondong-bondong, berjejal memenuhi ruang tengah rumah Bu Sri, siap menyaksikan Kethoprak dengan lakon utama Prabu Angling Dharma….

 

(bersambung…)

_______________________________

Virginia,

Dian NH

Senin, 9 Mei, 2011 jam 5.28 sore

(Ceria adalah bendera kehidupan anak-anak.., akan selalu kukibarkan buat mereka…)

 

13 Comments to "[Serial de Passer] Astari Mencuri (1)?"

  1. Sakura  24 June, 2011 at 07:59

    Kenapa Astari mencuri? Jadi penasaran.

  2. Kornelya  24 June, 2011 at 04:08

    Astari mencuri perhatianku, membuat aku penasaran.

  3. bagong julianto  23 June, 2011 at 23:02

    Tuku kacu nyang Coyudan, cuthel……
    Astari ini mencuri perhatian……
    Hayoohhh, tak tunggu jilid duamu……

    Suwunnnn.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.