Level Spiritual Saya

Wesiati Setyaningsih

 

Mungkin saya sudah tersesat atau apa, saya tidak tahu. Tapi saya menciptakan level spiritual saya sendiri. Ibu saya sering menyindir saya karena saya jarang membaca Al Qur’an, malah sibuk fesbukan. Well, saya membela diri dengan mengatakan pada diri saya sendiri bahwa saya tidak cuma fesbukan.

Tapi saya menulis banyak note yang mendapat cukup banyak tanggapan. Saya juga share dengan beberapa teman, yang membuka kesadaran saya. Menurut saya itu juga bermanfaat. Dan lagi, buat apa saya melakukan hal yang tidak ikhlas saya lakukan. Tuhan juga tidak akan ikhlas melihat saya melakukannya.

Ibu saya juga sibuk menyuruh saya untuk tahajud. Ibu bilang, hidup saya akan tenang. Lalu teman saya bilang, “puasalah. hidupmu akan tenang..” jujur, saya dulu juga puasa dan tahajud. Kalo ternyata saya melihat kedua hal itu tidak membuat saya menjadi sadar, mungkin memang saya yang salah. Entah kenapa meski saya melakukan itu semua, saya masih punya tanaman ego yang cukup tinggi.

Mudah tersinggung, mudah melabeli orang lain, lalu juga saya merasa jumawa. Seolah karena ibadah saya, saya akan jadi penghuni surga yang pertama. Well, saya malah tersesat juga jadinya.

Sekarang saya begini saja. saya ikuti saja mau saya bagaimana. Saya hanya membuat level spiritual ala saya sendiri. Saya lihat apakah saya masih mudah tersinggung. Biasanya respon tersinggung muncul ketika ada yang tidak sesuai dengan pendapat saya. Seperti muncul hawa ‘hangat’ dalam tubuh saya. Atau saya merasakan kemelekatan yang sangat.

Khawatir barang saya hilang atau rusak, khawatir utang teman saya tidak dibayar, takut keluarga saya meninggal, itu kemelekatan. Atau saya mudah melabeli orang. “ah, orang itu buruk. Orang itu perilakunya tidak baik.” menganggap orang lain buruk, berarti saya melabeli diri saya sendiri baik bukan? Wah, itu malah lebih parah. Level spiritual saya akan berada di level paling bawah.

Jadi, saya melihat level spiritual saya dari semua itu. Bukan seberapa banyak ibadah saya. Orang lain boleh mengatakan apa saja. Toh nanti yang menghitung malaikat di atas sana. Sebaik apapun ibadah saya, buat apa kalo saya tidak terlalu banyak manfaatnya bagi ketenangan dunia dan orang lain? Setiap saat saya selalu mengamati level saya. Ketika saya masih mudah tersinggung, ketika saya masih mudah kuatir atas harta benda dan keluarga saya, ketika saya masih mudah menghakimi orang lain, buat saya, level spiritual saya belum sampai mana-mana…

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

43 Comments to "Level Spiritual Saya"

  1. wesiati  27 June, 2011 at 13:10

    mas bagong : terima kasih banyak ya…

  2. bagong julianto  26 June, 2011 at 18:37

    Mbak WS<

    Cekak-aos, ringkas-padat tapi jero tenan!
    Satu cap-telunjuk-level-stigma ke orang lain, ingat, tiga jari ke diri sendiri.

    Suwunnnn.

  3. Dewi Aichi  26 June, 2011 at 13:02

    Wesssss….wkwwkwk…kemekelen, numpak supra karo supri ha ha ha…kok podo, 2009 aku beli supra x 125, wuihhh…asik, trus tiap hari mejeng ngalor ngidul sleman Malioboro, padahal aku cuma di Jogja 3 bulan, diperlu2in beli motor hanya buat mejeng …tapi eang tujuan mau tak lungsurke adikku yg sekolah sih.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *