Rumah Dunia, Rumahku!

Yuni Astuti

 

Hiks! Sedih rasanya, karena di antara kawan-kawan lain, mungkin aku berada di barisan alumni yang tak tahu balas budi, alumni yang gagal. Huhuhuhu…..

Kalo ketemu temen sama-sama alumni Rumah Dunia, kami selalu menanyakan hal yang sama: “masih suka nulis? Masih suka ke RD gak?”

Ketika pertanyaan itu harus kujawab, aku menjawabnya dengan senyuman malu. Arghhh aku sekarang tak sempat (tak menyempatkan) untuk sekadar berkunjung ke sana.

Oya, ada yang belum tahu Rumah Dunia (RD).? itu rumahku….. Eits, bukan berarti Rumah Dunia ini antonym dari Rumah Akherat ya! Maksud Mas Gol A Gong menamainya demikian adalah: agar seluruh dunia masuk ke dalam rumah. Nah lho, maksudnya apa? Ya hanya dengan buku! Bukankah buku adalah jendela dunia?

Terlalu indah dikenangkan, terlalu manis dilupakan. Rumah Dunia adalah rumahku, dulu. Ya, ketika aku masih 17an tahun. Awalnya, aku menemukan selebaran: bedah buku “Panggil Aku Bunga” karya Teh Najwa Fadia & Ibnu Adam Aviciena di Masjid al-Hidayah Ciceri. Alhamdulillah di acara itu aku mendapat doorprize buku mereka karena menjawab pertanyaan. (perlu diketahui, aku yang SMA adalah remaja yang pemalu dan malu-maluin, sumpeh deh!). pertanyaan waktu itu adalah: Apa penerbit yang menerbitkan buku Panggil Aku Bunga? Kujawab: GIP! Kepanjangannya? Gema Insani, P-nya gak tau. Grrrrrr………..

Dan, orang yang paling keras tertawanya adalah lelaki gondrong pakai kaos oblong. Dialah Mas Gong! Jahaaaaaat. >.< (dasar akunya aja yang bego,…..kan aku SMA adalah remaja kuper yang e-mail aja gak tau, pegang mouse aja gemeteran).

Singkatnya, aku ikut FLP. Di sana, aku tercerahkan! Subhanallah…. Aku ketemu lelaki gondrong itu lagi. Dia bilang, menulis itu ibadah. Dakwah bil qolam. Berdakwah lewat pena. Dan….dan….dan…..aku jadi terharuuuuuuuuuuuuuu.

Sejak itu, aku jadi rajin ikut FLP tiap minggu. Padahal Minggu adalah jadwal latihan Paskibra di sekolah. Ampun dah meski jadi anggota capas, belum pernah sekalipun ngibarin bendera merput (mungkin karena aku pendek). Akhirnya aku lebih memilih FLP deh. Paskibra aku talak tilu.

Minggu jam 9 training menulis di Ciceri, jam 12 siang ke Rumah Dunia jalan kaki di Ciloang. Haha, itu adalah saat matahari lagi percaya diri banget menyeringai. Tapi kami hepi aja, karena ada mutiara yang akan kami temukan di sana.

Jadi, seharian aku di luar. Pulangnya ba’da ashar jalan kaki lagi ke Ciceri mau naik bis. Masya Allah, perjuangannya bikin kaki pegel. Tapi ada banyak inspirasi yang kudapat sepanjang jalan. Sehabis dapat materi jurnalistik, kupraktikkan dengan ngobrol sama siapa aja yang kutemui di jalan, termasuk kakek bersepeda  yang lagi duduk di halte. Weladalah ternyata dia tua-tua keladi, mau ngajak aku boncengan ke rumahnya. Hiiiy.

Perjalanan ke Rumah Dunia pun penuh pemandangan alam yang indah. Ada sawah yang warnanya kadang hijau kadang kuning, ah indah banget. Walaupun pada hari itu gak ada Aam atau Najma, mereka adalah dua sahabat seperjuangan yang entah bagaimana kini nasibnya, semoga mereka masih suka nulis. Aku jalan kaki sendiri, Sambil mikir sendiri, ngomong sendiri, senyum juga sendiri. Ih, pokoknya seru!

Di RD tuh semuanya gratis. Mas Gong gak pernah minta bayaran kayak lembaga kepenulisan yang netapin tariff atas nama penghargaan sebuah ilmu. Mas Gong malah yang nraktir kita. Begitu banyak pengalaman yang gak bisa dilupakan, terlalu indah kawan! Saat gerimis kami praktik wawancara dengan pedagang roti bakar, sambil nyicip roti bakarnya juga. Saat Gramedia Book Fair kami makan enak di dapur sama temen-temen….

Perpus yang paling suka kumasuki, bahkan karena gak puas baca di situ, aku umpetin beberapa buku ke dalam tas untuk minggu depannya aku kembalikan. Hapunten……………

Aku menemukan nama Barep Hayatie ketika Mas Gong menyuruh kami mencari nama pena pada sebuah kelas menulis di bawah pohon besar berbuah bulat kecil yang hingga kini aku tak tahu apa nama pohon itu. Saat aku maju dan harus mengartikan namaku, hmmmm apa ya? Barep: anak pertama. Hayatie: hidup… Yah silakan artikan sendiri.

Kini aku semakin sedih, karena gak bisa lagi seperti dulu. Waktu terus berjalan. Aku sibuk kuliah…(awal-awal sih masih suka main lewat belakang kampus), sekarang setelah jadi Ibu Rumah Tangga, aku makin sibuk ngurus anak dan suami. Menulis masih kujalani, walau hanya di diary. Aku pernah kirim karya ke penerbit tapi ditolak. Aku belum optimal kayaknya, tapi aku terus nulis walau sekadar status di FB. Aku selalu mengingat Rumah Dunia. Kalau bercerita tentangnya kepada siapapun, aku sangat antusias. Itu rumahku!

Banyak kenangan yang gak akan cukup bila kutulis di sini. Intinya sih, Rumah Dunia adalah titik tolak perubahanku. Alhamdulillah….semoga Allah senantiasa meridhoi kebaikan Mas Gong dan semua yang telah berjasa kepada kami. Aku gak bisa menjadi donator karena keterbatasanku, aku juga belum bisa membuat buku seperti Kak Langlang atau Teh Najwa, aku juga bisa dibilang pengkhianat karena telah lama meninggalkan RD. ah…..tapi di lubuk hatiku yang tulus, aku sangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat merindukan masa-masa indah itu.

Aku pun pernah berjanji: Mas Gong, suatu saat nanti, Barep akan persembahkan buku kepadamu. Semoga Rumah Dunia tetap eksis dan segera keluar dari masalah. Ya Allah, bukalah hati para aghniya yang membaca notes ini agar bersedia membantu pembebasan tanah al-Quds, eh salah, tanah untuk RD. karena, RD berjuang untuk merubah peradaban menjadi lebih maju dengan literasi.

Menulislah karena menulis itu KEREEEEEEEEEEEEEEEEEEENNNNNNNNNNNNNNNN!!!!

 

*To kawan-kawanku yang baik hati: kak hilal, makasih ya

Suka ngasih pinjeman uang, teh Mey dan Teh Fey, di manakah kalian?

Teh Najwa, Kak Langlang, Aam, Najma, semuanyaaaaaa……

Kapan ya kita jalan kaki bareng lewat Bhayangkara? hmmmmmm

 

16 Comments to "Rumah Dunia, Rumahku!"

  1. Ahmad Ragen  10 October, 2011 at 13:58

    Salam.. Senang bisa bernostalgia dengan Rumah Dunia melalui tulisan Mba Yuni. Saya angkt. 9 Kelas Menulis.. Saya pikr sebagian besar alumni kelas menulis merasakan hal yang sama seperti yang mba rasakan.. Tapi itu pula yang kemudian menjadi penggerak para alumni RD untuk terus menulis dan berkarya.. Thx 4 sharing..

  2. lida  1 July, 2011 at 12:02

    wah kepingin main kesana. Gol A Gong suka banget baca cerita2 dia.
    pertama kalai baca cerita dia tentang Balada Si Roy

  3. yuni  27 June, 2011 at 13:55

    iyyyya mba,aku udah lihat tulisan ini di http://www.rumahdunia.net

  4. Dewi Aichi  26 June, 2011 at 20:19

    Yuni, tulisanmu ini aku share ke Gol A Gong, dan ditanggapi, malah TU
    Isanmu akan dipajang di sana lho….

  5. yuni  26 June, 2011 at 19:18

    wealah sing peenting nulis lak yo kenthir wes gen masa laluuuuuu. jenenge anak SMA kuper tho yoooo. yuni atau barep sami mawon.

  6. Dewi Aichi  26 June, 2011 at 07:58

    Komen no 6 wkwkkww…kenthir..!

    Yun…wah…lupa, mau aku share ke lelaki berkaos oblong dan berambut gondrong ahhh….go to Gol A Gong..!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Image (JPEG, max 50KB, please)