Kembang Kertas Untuk Sang Abang

Ida Cholisa

 

Tita termenung. Lagi dan lagi. Aku mendapatinya berlaku hal yang sama sejak beberapa hari ini. Tak tahu apa sebabnya. Aku hanya memperhatikan saja. Tak berani bertanya.

Hingga kemudian aku mendapatkannya berdiri di teras rumahku.

“Masuk, Ta.”

Ia pun mendudukkan pantatnya di sofa ruang tamuku. Kutangkap bias gelisah pada bulat mukanya. Sesekali ia mendesah. Kudiamkan ia, hingga akhirnya ia pun membuka suara.

“Engkau sahabat yang paling aku percaya. Engkau pandai menyimpan rahasia. Untuk kali ini, bisakah kau berlaku hal yang sama?”

Ia menatapku lama.

“Jika kau tak mempercayaiku, tak usah kau menceritakannya kepadaku.” Aku menjawabnya.

Ia diam kembali. Matanya menyiratkan kegelisahan yang amat sangat. Pada akhirnya ia pun kembali membuka mulutnya.

“Aku percaya penuh kepadamu. Tak ada yang aku sembunyikan tentangku kepadamu.”

Ia mulai menata suara.

“An, aku bingung. Kenapa aku seperti jatuh cinta lagi, ya?”

Aku terhenyak. Tapi kusembunyikan raut mukaku, demi sahabat karibku.

“Lama-lama, aku mulai merindukannya. Susah aku menghilangkan bayang wajahnya.”

Aku tertawa. Ia menatapku lekat.

“Aku serius, An! Apa aku mengalami puber kedua, ya?”

Aku kembali tertawa. Tita, sahabat karibku, kadang seperti anak kecil yang sangat tak berdaya. Pada masa kalut ia sering mendatangiku, sekedar untuk curhat atau melepaskan beban masalahnya. Ia sahabat yang enerjik. Penuh semangat. Bahkan aku hampir tak pernah mendapatinya terpuruk oleh suatu apa. Hingga hari ini. Wajahnya begitu berbeda dengan hari-hari biasanya.

“Ehm, memangnya siapa sih yang bikin kamu jatuh cinta?”

Aku mulai “menyelidik” sambil menggoda.

Ia mulai terpancing.

“Ssst, tapi jangan bilang siapa-siapa, ya?”

“Siapa, donk?” Kembali aku menggoda.

“Ia sahabat di dunia maya.”

“Wahahahaaaa….., udah baseeee…..! Jangan gampang tertipu oleh pertemanan dunia maya. Banyak kasus penipuan atau kejahatan lewat dunia maya. Kamu harus tahu itu. Jangan gampang terbawa susana hati. Salah-salah nyesel nanti…”

Tita nampak kecewa dengan “semprotanku”. Ia pun hampir berlalu.

“Aku belum selesai bercerita. Tapi kau memotongnya. Sudahlah, aku pulang saja.”

Kutahan tangannya. Kutahan kepergiannya. Kududukkan ia kembali.

“Teruskan ceritamu. Aku akan menjadi pendengar setiamu.”

Maka mengalirlah kembali cerita indahnya…., cerita yang tak pernah aku duga sebelum-sebelumnya…

***

Hari masih pagi ketika aku bertemu Tita di halaman depan gedung sekolah. Pagi ini aku mendapatinya tergesa-gesa memasuki pelataran sekolah. Aku mencegatnya.

“Hei, nggak bawa motor hari ini?’

“Sial, bannya bocor. Aku numpang ojek jadinya.”

“Gimana, ada kabar dari sang Abang?”

Ia tersenyum. Mukanya merona. Tampak bahagia.

Kami pun menuju ruang guru, kembali disibukkan dengan pekerjaan masing-masing yang menyita waktu…

Hari demi hari dilalui Tita dengan langkah pasti. Ia tetap ceria. Tita yang enerjik. Tita yang pantang menyerah. Tita yang penuh semangat. Hingga kemudian kami, rekan-rekan mengajarnya, kaget dan terhenyak. Tita divonis menderita gagal ginjal. Cuci darah harus dijalaninya tiap seminggu sekali. Tak tanggung-tanggung. Dua kali dalam seminggu ia harus bolak-balik menuju rumah sakit di kota Jakarta. Tak tahan kami melihatnya. Kasihan sekali ia. Tapi kami tak sanggup berbuat apa-apa…

Yang kutahu kemudian, dari mulut Tita, sang sahabat yang sangat dirindukannya itulah yang mengulurkan tangan membantu pengobatan dirinya. Sahabat nun jauh di seberang sana, sahabat di negeri antah berantah.

“Ani, aku tak bisa membalas kebaikannya. Ia banyak berkorban untukku. Ia banyak berjuang untukku. Aku…, aku sangat menyayanginya. Aku takut kehilangan dirinya.”

“Hm, memangnya kamu pernah bertemu dirinya?” Kembali aku bertanya.

“Iya.”

“Lantas?”

“Ya, aku tak bisa membohongi kata hatiku, bahwa aku sangat menyayanginya. Kebaikannya, perjuangannya, yang telah ia lakukan kepadaku membuatku tak mampu mengenyahkan perasaan itu. Salahkah aku, An?”

Aku menggeleng.

“Tidak, kamu tak salah. Perasaan yang kamu alami wajar adanya. Itu bukan dosa. Bukankah kau tak pernah berkuasa atas sesuatu yang kau rasa? Tapi kamu harus ingat, suami dan anak-anakmu tetap yang terbaik. Kau tak salah menyayangi sahabatmu. Tapi kau salah jika kau berpaling dari keluargamu hanya karena kebaikan sahabatmu itu.”

Tita diam seribu bahasa. Gundah menyelimuti wajahnya.

***

Sudah lima hari ini Tita absen mengajar. Ternyata ia sakit. Kondisi badannya melemah. Kami menengoknya di sebuah rumah sakit pemerintah.

Ia tersenyum memandang kami. Senyum tak biasa. Wajahnya pucat, tak seperti biasa. Ia sempat menanyakan keadaan  murid-murid. Menanyakan tugas sekolah. Menanyakan jadwal ulangan umum. Ia ceritakan keinginan besarnya untuk memajukan anak-anak melalui tangannya. Ya, kami tahu Tita guru musik yang handal. Ia sering membawa anak-anak mengikuti lomba kesenian ke berbagai event. Dan untuk itu gelar juara sering disabetnya.

“Bu, tak usah mikir yang macam-macam dulu. Utamakan kesehatan Ibu. Okay?” Bu Shinta, rekan mengajar bahasa asing di sekolah kami, memberi semangat pada Tita. Hanya itu, hanya semangat dan doa yang mampu kami berikan pada Tita. Tak lebih dari itu.

Kami meninggalkan rumah sakit beberapa menit setelah menjenguk Tita. Sengaja aku pulang belakangan. Demi sahabat karibku, Tita Anggraini, aku meluangkan waktu khusus  sekedar menemaninya mengobrol. Kebetulan suami Tita ada keperluan keluar sebentar.

“Ani.”

Ia menjulurkan tangan rapuhnya. Kupegang tangannya. Panas terasa.

“Iya, Ta?”

Ia memandangku lama. Ada sesuatu yang tampaknya ingin ia kemukakan.

“Ani, boleh aku menitip pesan?”

Aku mengangguk.

“Jika suatu saat aku tinggal nama, tolong kirimkan kembang kertas yang ada di halaman rumahku. Kembang kertas yang aku tanam di pot merah di pojok taman. Kirimkan untuk sahabatku, untuk abangku. Kamu mau melakukannya?”

Sungguh, aku tak bisa menolak permintaannya. Ada kesedihan merayap di sudut jiwa. Perkataan Tita seolah tanda bahwa ia akan pergi untuk selamanya…

“Tita, kau tak boleh bicara begitu. Insya Allah kau akan bisa bertemu kembali dengan sahabatmu itu. Kau harus semangat. Ingat suamimu, ingat anak-anakmu. Mereka sangat membutuhkanmu.”

Ia mengangguk. Tersenyum kecil kepadaku.

***

Tita telah mengajar kembali. Kondisi kesehatannya telah pulih. Kami, rekan-rekan mengajar dan seluruh murid menyambutnya dengan suka-cita. Absennya Tita selama dua minggu karena sakit ginjalnya, serta merta membawa secercah harapan dengan kehadirannya kembali yang nampak lebih segar. Ia menyalami kami, menampakkan senyum terbaiknya, serta menyalami setiap murid yang menyapanya.

Hingga beberapa hari kemudian…

Kudengar bahwa Tita kembali masuk rumah sakit. Belum sempat kaki kami menginjak kamar inap di mana ia dirawat, berita duka itu pun melesat…

Tita telah tiada. Tita telah berpulang ke alam baqa…

Kami menangis mendengarnya, sedih tak terkira…

Tita telah tenang di alamnya. Aku berlinang air mata. Pesan yang ia sampaikan kepadaku terngiang-ngiang di telingaku.

“Kirimkan kembang kertas di pot merah itu untuk sahabatku, untuk abangku…”

Bukan aku tak mau melaksanakan amanat itu. Tapi hingga detik ini, aku sungguh tak tahu harus ke mana aku mengirim kembang kertas itu. Ke negara mana, seperti yang sering ia ceritakan, negeri antah berantah, dan siapa nama sahabatnya, sungguh aku tak mengetahuinya…

Hingga suatu ketika kudapati pesan masuk pada wall facebook-nya;

“Tita, where are you? I miss you. Are you healthy?”

Aku terhenyak. Inikah sahabat yang sering diceritakan Tita kepadaku? Segera ku “add” dirinya. Dan aku masuk lebih jauh dalam account facebook-nya….

Setelah lama saling berkirim pesan, akhirnya kudapati kesimpulan; benar adanya, ia lelaki yang sering diceritakan Tita. Lelaki berkewarganegaraan asing, lelaki yang telah dianggap sahabat terbaik Tita, sang Abang, yang banyak berjasa membantu dan menegakkan langkah kaki Tita…

Kami mengadakan janji untuk berbicara melalui telepon. Kemampuan bahasa Inggris yang kupunya sedikit banyak membantu komunikasi antara aku dan dirinya.

“Tommy, hear me, please. Tita is died…”

“What???”

Kudengar suara penuh keterkejutan dari mulutnya. Ia terguguk. Lama sekali. Pembicaraan pun putus…

Tommy datang ke Indonesia bebarapa hari kemudian. Dengan diantar suami dan anak-anak Tita, mereka pun menuju pusara Tita…

Ia tak bisa menyembunyikan wajah sedihnya. Air matanya menghujani pipi putihnya. Ia memeluk suami dan anak-anak Tita.

“I’m her best friend…”

Kesedihan membuncah. Telah pergi semua kenangan tentangnya, tentang Tita Anggraini, wanita perkasa yang tak kenal menyerah.

Kuberikan kembang kertas dari Tita untuk Tommy. Ia menerimanya dengan mata kembali berkaca-kaca.

“Dear Tita, thanks so much. I love you, I love you honey…”

Pusara diam dalam keheningan. Semua melangkah pulang, dengan menelan masing-masing kesedihan….***

 

Bogor, Sept 2010-

 

12 Comments to "Kembang Kertas Untuk Sang Abang"

  1. Dewi Aichi  26 June, 2011 at 20:43

    BU Ida….aku juga penasaran seperti Lani, apakah ini kisah nyata?

  2. bagong julianto  26 June, 2011 at 20:27

    Bougenvile…….

    Lagu jadul Broery P……

    Suwunnn.

  3. Djoko Paisan  26 June, 2011 at 18:18

    Terimakasih mbak Ida…
    Kemabnf kertas berwarna ungu, memang bikin sedu…
    Olehnya Dj. kirim warna lain dari Bonsai Dj. agar sedikit hangat…
    Bugenvile berwarna orange…

  4. Dewi Aichi  26 June, 2011 at 13:07

    Anoew…hihi…jadi inget sik ora ora…dirimu minjemi buku horor itu dari sejak SMU, kembang kertas telah mengering…kupakai sebagai pembatas halaman yang lembar demi lembar kubaca….halah…nglindur…aku arep turu..

  5. Lani  26 June, 2011 at 11:38

    waduuuuuuh, crita yg mengharu biru…….apakah ini crita beneran to bu Ida????

  6. anoew  26 June, 2011 at 10:35

    Wik, kembang kertasku jangan kau buang lho ya, itu ada terselip di halaman 101 buku eniero yg masih kau pinjam.

  7. Sumonggo  26 June, 2011 at 08:58

    Kalau kembang kertas membuat sedih, pilih kembang gula saja ah .. he he …..

  8. Dewi Aichi  26 June, 2011 at 08:40

    Ceritanya sedih, tapi mungkin ada. Banyak kan yang main main cyber love…

  9. Daisy  26 June, 2011 at 08:34

    wah kembang kertas…

  10. Dewi Aichi  26 June, 2011 at 07:25

    bu Ida…hiks…huaaa…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.