Kreativitas Selalu Lahir Dari Keterjepitan

Odi Shalahuddin

 

Pandangan saya terpaku pada link yang dishare oleh Mbak Shinta Miranda, seorang penyair Perempuan yang tinggal di Bogor. Tentang sebuah berita dari Kompas.com berjudul “Inilah Modus Mengemis ala Reality Show”. (http://regional.kompas.com/read/2011/03/10/14581014/Inilah.Modus.Mengemis.ala.Reality.Show)  Tanpa ragu saya klik dan tibalah saya pada sebuah berita tentang modus anak jalanan Semarang yang memanfaatkan sebuah acara reality show.

Reality show yang dimaksud adalah acara “Minta Tolong” yang diputar oleh sebuah stasiun televisi swasta yang sebagian besar menggunakan Semarang sebagai lokasi programnya. Ada berbagai modus yang digunakan, tapi pada intinya adalah sosok seorang kesusahan berusaha meminta tolong kepada orang-orang yang dijumpai di ruang-ruang public terutama di jalanan.

(http://regional.kompas.com/read/2011/03/10/14581014/Inilah.Modus.Mengemis.ala.Reality.Show)

Sebenarnya mudah ditebak; seseorang datang, menjual sesuatu dengan harga selangit atau menukar sesuatu barang dengan barang lain yang sama sekali tidak sebanding, dan dipoles dengan alasan ada kebutuhan mendesak.

Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia, sedangkan lawan bicara yang dimintai tolong kerapkali tetap menggunakan bahasa Jawa yang merupakan bahasa sehari-hari. Tapi begitulah, namanya saja acara untuk disajikan di televisi, masih bisa menyedot perhatian pemirsa (dan iklan) dan menguras air mata. Pelajaran yang dipetik sesungguhnya bisa bermakna: Masih ada orang yang memberikan perhatian terhadap orang lain. Dari berbagai episode yang sempat saya ikuti, justru perhatian itu diberikan oleh orang-orang yang juga berada dalam kekurangan.

Nah, kaitan dengan ketertarikan saya adalah, berita itu menggambarkan anak-anak bisa memperoleh penghasilan yang lebih banyak dengan menirukan cara-cara yang dimunculkan oleh acara televisi tersebut.

”Waktu itu malam Minggu. Kalau malam Minggu kan banyak orang yang sedang pacaran. Nah, saya ditanya seperti itu malah bingung karena tidak pernah menonton televisi. Tapi ketika saya mengangguk, dikasih Rp 50.000. Habis itu saya langsung pergi,” kata Ricky, Kamis (10/03/2011). Demikian saya kutip dari pemberitaan tersebut yang mengungkapkan pernyataan anak ketika ditanya apakah dari tim “Minta Tolong”.

Hal senada juga dialami oleh beberapa anak jalanan lain. Jadi, ada persepsi yang tumbuh di masyarakat Semarang, yang terpengaruh oleh acara tersebut. Orang-orang memberi lebih dengan harapan bisa mendapatkan pundi-pundi yang berlipat-lipat dari yang dikeluarkan. Harapan ini tentu saja ditangkap dengan baik dan dijadikan peluang. Maka, menyebarlah dari mulut ke mulut yang menggerakan para anak jalanan untuk turut mensiasati situasi. Dicontohkan dalam berita tersebut, seorang anak menjual krupuk yang harganya bisa dibeli dengan uang dua ribu rupiah tapi dijual dengan harga limapuluh ribu, masih saja ada orang yang sudi membelinya.

Lahirnya situasi semacam itu, siapakah yang patut dipersalahkan? Saya kira tidak adil-lah bila kesalahan hanya ditimpakan kepada para anak jalanan dengan memvonisnya sebagai penipu. Kedua belah pihak sama-sama salah. Satu pihak memberi dengan harapan bisa mendapatkan keuntungan berlipat ganda, pihak penjual memfaatkan kelengahan ini.

Namun secara umum, situasi ini mencerminkan realitas sosial dalam kehidupan kita. Betapa budaya instan untuk mendapatkan sesuatu dengan mudah, tiba-tiba, seperti mendapat durian runtuh, telah menyelimuti pikiran dan rasa kita. Tak aneh-lah bila tawaran rejeki yang terselip atau bonus-bonus selalu menyertai iklan dari produk-produk yang ditawarkan. Bila-pun tak dapat, anggap saja belum beruntung, perlu untuk dicoba lagi.

Kembali ke anak jalanan, saya dulu pernah menyatakan bahwa para anak jalanan adalah manusia-manusia cerdas. Ia bisa sangat kreatif membangun berbagai model untuk bisa mengundang rasa iba (atau juga ketakutan) sehingga orang-orang merogoh koceknya untuk diberikan kepada mereka. Selain menjadi pedagang asongan, mengamen (yang dianggap sebagai pekerjaan karena menjual sesuatu dan jasa) dan mengemis, terus bertumbuhan berbagai bentuk kegiatan yang bisa menghasilkan uang.

Pada tahun 90-an, pernah trends di kalangan anak-anak jalanan Jakarta untuk berperan sebagai orang berkaki buntung. Majalah Tempo pernah membuat liputan khusus mengenai hal ini dan cara-cara bagaimana membuat mereka seakan terlihat buntung. Hampir bersamaan juga ada trend menampilkan kaki mereka yang terluka parah dengan lalat-lalat beterbangan di sekitarnya. Kegiatan yang juga pernah trend adalah sebagai penyemir sepatu. Mereka bahkan membuat ramuan sendiri yang bisa membuat sepatu lebih mengkilap bila dibandingkan dengan menggunakan semir sepatu.

Berbagai jenis kegiatan anak jalanan terus berkembang. Di perempatan jalan, misalnya, mudah dijumpai anak-anak yang hanya bermodalkan lap kotor, dan segera menghambur ke kendaraan (dulu hanya mobil sekarang motor juga jadi sasaran), melap seadanya, dan mendapatkan uang. Lap berkembang dengan menggunakan kemoceng.

Di Semarang, Gubernur Jawa Tengah telah menghimbau pemerintah kota Semarang untuk mengambil langkah-langkah untuk menjadikan kota itu bebas anak jalanan pada tahun 2013. Langkah yang tampaknya juga terpengaruh oleh Pemerintah DKI yang telah mencanangkan tahun 2011 anak jalanan akan bebas dari Jakarta.

Tapi saya sendiri, sungguh sangat menyangsikan program tersebut bisa berhasil sejauh tidak ada langkah-langkah untuk memberdayakan masyarakat, terutama para orangtua mereka, agar memliki pendapatan yang memadai sehingga bisa merawat dan menjaga anak-anak mereka serta bisa mendukung proses penyelesaian pendidikannya. Bila tidak, anak-anak (dan komunitas jalanan) tetap akan berjuang keras mencari remah-remah yang berceceran demi menghidupi diri dan keluarganya. Untuk ini, jangan sangsikan kreativitas yang akan terus lahir !

 

Yogya, 11.03.11

 

20 Comments to "Kreativitas Selalu Lahir Dari Keterjepitan"

  1. Itsmi  26 June, 2011 at 21:13

    Oleh karena itu kalau mendidik anak, penting sekali memberikan hak mereka,
    Yaitu memberikan ruang kebosanan.

  2. J C  26 June, 2011 at 20:49

    Ini sejalan dengan apa yang Yohanes Surya pernah tulis: MESTAKUNG, seMESTA menduKUNG, harus dihadapkan pada kondisi yang sulit dan kepepet, baru terlihat hasilnya…

  3. bagong julianto  26 June, 2011 at 20:06

    Mas Odi,,

    Dijepit, baru muncul kreativitasnya, begitu?
    Haa, mau ah, dijepit…. biar kreatif…..

    Suwunnnn.

  4. Djoko Paisan  26 June, 2011 at 18:54

    Mas Odi….
    Terimakasih untuk ceritanya….
    Jadi ingat satu kejadian di rumah kaka di jakarta.
    Ada teman kaka ipar yang ingin jual diamond nya, karena perlu uang.
    Katanya aslinya seharga Rp. 3 juta ( 1978 ) dan dia ingin jual hanya Rp.1 juta.
    Dj. beli dan haiahkan ke susi.
    Saat pulang dan kami tengok mertua, kaka ipar Susi adalah pengasah Diamond di Idar Oberstein.
    Dia lihat yang Susi pakai dan dilihat dengan kaca pembesar, dia tertawa, karena banyak cacatnya dan dibilang tidak ada harganya, malah emasnya ( cincin ), yang sedikit ada harganya…..
    Nah ya…maunya nolong, taunya kena tipu….
    Salam Damai dari Mainz…

  5. anoew  26 June, 2011 at 10:32

    Kreatifitas absurd tapi membangkitkkan rasa salut.

  6. Dewi Aichi  26 June, 2011 at 09:33

    mas Sumonggo, yang meremehkan itu ya siapaaa….wong aku promosi gitu, cuma mulutnya mas Sumonggo untuk sample wkwkwkw…berfungsi ngga jepitannya gitu..

  7. Sumonggo  26 June, 2011 at 09:23

    Mbak Dewi Aichi, jangan meremehkan omzet bisnis jepitan lho …. ha ha ……

  8. Dewi Aichi  26 June, 2011 at 09:04

    ha ha..jepitan mulut khusus untuk mas Sumonggo pagi ini..

  9. Sumonggo  26 June, 2011 at 08:53

    Jepitan rambut itu hasil kreativitas
    Mungkin kita perlu juga jepitan hidung, jepitan kuping, dan jepitan mulut ….

  10. Dewi Aichi  26 June, 2011 at 07:31

    Kalau pas pulang ke Jogja, aku sering banget lihat acara ini, hanya ingin mencerna tujuan acara ini apaan? Kalau aku lebih ke sisi bisnis, jual acara, menaikkan rating..iklan , sponsor, dan tau sendiri masyarakatnya suka sinetron…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.