Beasiswa

HennieTriana Oberst – Jerman

 

Di dekat rumah orang tuaku di Medan ada kompleks bangunan bagi masyarakat Aceh. Di luar area itu terpampang tulisan “Aceh Sepakat”. Komplek ini biasa kami sebut dengan Meunasah*, juga ada bangunan di bagian belakang kompleks sebagai Panti Asuhan. Anak-anak yang ditampung hampir semua adalah masyarakat Aceh, baik yang yatim piatu maupun anak yang orang tuanya tidak mampu. Setelah Tsunami memporakporandakan sebahagian wilayah Aceh pada tahun 2004, semakin banyak anak-anak umur sekolah yang menghuni Panti Asuhan tersebut.

Banyak sekali bantuan yang datang untuk sedikit meringankan beban yang mereka tanggung, termasuk juga bantuan beasiswa bagi anak putus sekolah. Sebahagian orang Indonesia bersama orang Jerman yang berada di Jerman berusaha  membantu dan menanggung biaya sekolah anak-anak yang tertimpa musibah tersebut. Panti Asuhan yang lokasinya dekat dengan rumah keluarga kami tersebut menjadi salah satu tempat yagn dipilih untuk menyalurkan bantuan tersebut. Salah satu alasannya tentu urusan yang tidak berbelit-belit dan lokasi yang gampang dijangkau karena terletak di lingkungan tetangga keluarga kami.

Uluran tangan yang tulus tidak akan selamanya disambut baik. Selain ternyata pengurus baru Panti Asuhan tersebut telah berganti generasi, dia juga menolak sumbangan tulus yang telah terkumpul untuk membantu anak-anak putus sekolah tersebut sampai bisa menyelesaikan sekolah mereka.

Sumbangan tersebut ditolak mentah-mentah dengan alasan “Mereka tidak menerima sumbangan dari non Muslim“. Padahal Sumbangan tersebut adalah kumpulan dari berbagai manusia yang tulus membantu yang beragama Islam dan non Islam.

Apakah lebih indah menyaksikan begitu banyaknya anak putus sekolah dan terlantar masa depannya daripada memberikan mereka harapan dan kesempatan untuk mengecap pendidikan dengan menerima uluran tangan tulus orang lain yang tidak sebangsa dan seagama? Atau mungkin di sisi lain kami harus menghormati prinsip yang dipegang teguh oleh mereka.

Catatan setelah Tsunami 2004

 

Meunasah* = bangunan umum di desa-desa sebagai tempat melaksanakan upacara agama, pendidikan agama, bermusyawarah, dsb (di Aceh)

[dikutip dari KBBI]

 

Terima kasih untuk redaksi dan sahabat Baltyra yang telah sudi membaca.

Salam hangat.

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

152 Comments to "Beasiswa"

  1. Heisenberg  8 July, 2011 at 00:12

    Membaca komentar mbak Aimee, jadi tersadar, menilai sesuatu sebaiknya tidak dari satu perspektif saja. Ya, kemungkinan besar si pengurus panti agak waswas, “takut ada lobster di balik batu”. Dan meskipun tidak membawa nama agama, namun tidak bisa dipungkiri bahwa beberapa negara tertentu memang bisa diasosiasikan dengan agama tertentu pula.

    Jadi saya pikir di sini, sebenarnya si pemberi sedang diuji: seberapa besar hasratnya untuk memberi/mengasihi.

  2. HennieTriana Oberst  1 July, 2011 at 10:50

    Aimee, kisah yang membuat dua pihak puas ya. Jalan yang cukup bijaksana, karena sang penolong tidak bermaksud mengambil keuntungan di balik bantuan dan pihak yang dibantu juga tidak mempunyai prasangka buruk atas bantuan tersebut.
    Kalau bantuan yang seperti kejadian dia atas sebenarnya juga tidak membawa nama agama tertentu, karena itu hanya kelompok umum, dari kumpulan manuasia dari berbagai agama.
    Terima aksih Aimee tambahan kisahnya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *