Gue Bukan Elo (2)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Jennifer masih sakit hati, ia gagal membeli sepatu D&G yang di-incar-nya. High heels hitam dari bahan lack, yang tadinya akan dipakai di pesta ulang tahun Lucas yang bertema”black beauty”. Ia sudah memutuskan akan membuat kedua orang tuanya bersedih karena sudah membuatnya kecewa.

Lima hari setelah ia bertengkar dengan Papi, ia mogok bicara, dan tentu saja ditambah sikap yang ektra menyebalkan. Malam itu Jen tiduran di sofa sambil makan kacang kulit. Dibuangnya begitu saja semua kulit itu diatas karpet Persia di ruang keluarga. Big screen menayangkan film musical favorite-nya.

Tiga kaleng minuman bersoda ada di atas meja dan sebagian tumpah di atas coffee table. Bantal kursi dari bahan kashmir berhamburan di karpet dan lantai. Mbok beberapa kali ingin membereskan namun justru dibentak bentak olehnya. Volume diputar sekencang mungkin hingga membuat ruang itu hingar bingar. Jen kesal 4 hari demo dan tak ada kata-kata penyesalan dari kedua orang tuanya. Dan hari ini ia memutuskan akan membuat orang tua-nya menyesal.

*****

Seorang sales alat rumah tangga bernama Tunas Pardi sudah lebih 45x menelpon dalam 2 bulan terakhir, menawarkan kredit kompor, magic jar, microwave, blender dan tetek bengek lainnya, selalu ditolak, namun tadi sore Jen sengaja memesan semua benda itu dan minta dikirim hari Sabtu, tentu saja untuk mengerjai orang tua-nya.

*****

Pardi lelaki berusia 28 tahun, selalu merasa ganteng dan senang menggoda calon client-nya dengan candanya, maksudnya biar akrab dan dagangannya laku.

“Halloooo mas Pardi cayang, ini Jennifer, pasti deh mau nawarin barang barang yaa”Sapa Jen dengan suara genit, dibuat buat. Pardi agak terkejut, karena beberapa kali Jen yang angkat selalu menjawab dengan ketus.

Pardi melonggarkan tenggorokannya supaya bersuara bening”ehem ehemm”lalu mulai berbicara”apakabar nih artis Jakarta, Siti Markonah, tadi gimana acaranya ?”Pardi nyerocos dari seberang telpon.

“Ihhh koq artis sih mas, emang aku artis apa ?”Sahut Jen centil

“Ohh apa aja boyeeehhh, mau sinetron, layar lebar, layar tancep, wong ganteng pasti dukung”Ujar Pardi percaya diri. Jen sok terkikik manja, dan selanjutnya Jen memesan segala peralatan yang dikreditkan oleh Pardi. Hati Pardi berbunga bunga, 45x nelpon dijawab penolakan dan telpon ke 46 mendapat order gila-gilaan.

Jen nampak puas, tau rasa Papi dan Mami, Sabtu Jen berencana keluar rumah se-pagi mungkin hingga saat Pardi datang jam 11 maka itu akan menjadi hal heboh, pasti kedua orang tua-nya akan tercengang tiba tiba Pardi datang dengan setumpuk peralatan rumah tangga.

*****

“Non, nanti Tuan dan Nyonya pulang bisa marah lho liat rumah kayak kapal pecah gini”Ujar Mbok membuyarkan lamunan Jennifer.”Ihhh bawel deh, sana Mbok, biar aja mereka marah, biar tau rasa”Pekik Jen sambil melempari Mbok dengan kacang kulit. Ruangan itu benar-benar kotor dan berantakan.

Jam 20.00 Jen mendengar pintu gerbang dibuka Satpam, pasti orang tuanya pulang. Dari layar CCTV di pantry ia melihat Mercedes hitam Papi-nya memasuki carport, Jen belagak tertidur di sofa. 10 menit kemudian terlihat kedua orang tuanya memasuki ‘foyer’ yang menghubungkan ruang tamu, ruang kerja dan ruang keluarga. Keduanya terkejut saat double door dari kaca dibuka, terlihatlah ruangan yang kacau balau, belum lagi suara dari perangkat audio yang diputar keras.

*****

Mami menaruh goodie bag berisi kue-kue di atas meja makan dan meraih remote yang tergeletak di atasnya. Setelah perangkat audio visual dimatikan barulah Mami dan Papi terfokus pada sosok Jen yang tengkurap di atas sofa. Papi sudah habis sabar, rasa penat membuat emosinya meningkat drastis.

“Jennifer !!! Papi tau kamu engga tidur, kamu makin liar ya ?? Anak kurang ajar !!”Bentak Papi. Jen makin sakit hati, ingin hatinya melihat orang tua-nya menyesal sudah membuatnya kecewa, namun bukan itu yang ia dapat namun justru bentakan. Jen bangkit dari sofa dengan kasar, ditatapnya Papi dengan mata menyala. Mami berdiri di samping Papi, berusaha menahan suaminya jangan sampai lepas kendali.

Jen menghentakkan kakinya ke depan dan tanpa diduga sandal kamar yang dipakainya terlontar dan mendarat di atas meja altar antik dekat area tangga, yang di atasnya dipajang beberapa guci dan piring antik ‘Ming blue’ dan tanpa ampun dua piring roboh dari stand-nya dan menyenggol guci ming ukuran 40 cm. Guci itu terguling jatuh ke lantai dan pecah berantakan.

Mami terpekik kaget, semua terjadi dengan cepat, Papi melesat ingin menampar Jen, namun Mami menahan lengan Papi. Mami kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur. Papi kaget melihat istrinya jatuh dan segera menolong, Mami menangis, bukan karena terjatuh, namun sedih melihat Jen begitu kurang ajar bahkan berani merusak koleksi antik kesayangannya yang tentu tidak akan ada gantinya. Mami memeluk Papi, memohon jangan memukul Jennifer, apapun ia anak perempuan. Papi meradang, melihat istrinya sampai menangis, Papi membentak bagai guntur menyuruh Jen pergi ke kamarnya.

*****

Mami masih dipeluk Papi, keduanya duduk di sofa, Mbok sibuk membereskan ruangan dibantu Pak Dayat dan Ari, supir dan satpam. Mami berbicara dengan suara parau”Pi, kita harus jemput anak Pak Rukiyah secepatnya, bisa rusak Jennifer kalo begini terus”. Papi mengangguk setuju dan berkata”Nanti Papi suruh sopir untuk jemput dia ke kantor, biar Papi bisa membicarakan kapan anaknya bisa kita jemput”.

Papi-pun menghukum Jen tanpa uang sesen-pun selama 2 minggu dan ke sekolah diantar jemput supir, tidak memegang HP, tidak menerima telpon dan harus mencuci piring tiap usai makan malam. Mami sebenarnya tak tega melihat Jane dihukum Papi seperti itu, namun Mami juga tak mau Jen tumbuh liar bagai manusia tanpa adab.

“Papi sudah gagal mendidik Jen, kita terlalu memanjakan dia Mi” Ujar Papi prihatin, Mami membersihkan noda eyeliner dan mascara yang luntur karena airmata.”Mami jangan nangis lagi yaa ? Tuh kamu jadi mirip racoon”Lanjut Papi berusaha melucu. Mami tersenyum.

“Iyaa Pi, tapi Mami gak mau kalo Papi mukul Jen, dia anak perempuan dan sikap dia yang kurang ajar toh karena kita juga yang terlalu memanjakan dia”Sahut Mami sambil menyandarkan kepalanya ke dada suaminya.”Kita berdua harus sabar melewati cobaan ini”Ujar Mami setengah berbisik. Sepasang orang tua yang malang itu diam membisu, seolah kehilangan cara, bagaimana cara mencintai putri mereka dengan cara yang tepat.

 

9 Comments to "Gue Bukan Elo (2)"

  1. Lani  28 June, 2011 at 08:48

    wadooooooh, anak demit apa yak????? hajar blehhhhhhh ajalah…….biar tau adat!

  2. Lani  27 June, 2011 at 23:14

    AKI BUTO………DA………walah dalah malah aku dilengkapi gelarnya KAMEHA MEHA GAK PAKE BH senengnya menghajar mejaaaaaa………..wakakakak………woiiiiiii passsssssssss kuwi………rak po2 wes…….yg pasti msh dicintai oleh kedua sedulurku iki…….

  3. anoew  27 June, 2011 at 20:56

    Lho, kemana cerita cewek satuunya yg kemarin suka mengulum-ngulum rambutan? Apa dia sudah berubah jadi suka mengulum-ngulum yg lain?

  4. HennieTriana Oberst  27 June, 2011 at 11:53

    Waduh, amit-amit..jangan sampai ada anak seperti si Jennifer ini.

  5. Dewi Aichi  27 June, 2011 at 10:15

    Huahahahahhahaahahahaaaaa….tuh kan bukan aku yang kenthir…

  6. J C  27 June, 2011 at 10:10

    Ta’lengkapi: Lani Kameha Meha Tak Pakai Beha Favoritnya Meja Hajar Saja Tak Pakai Jeda (kata Lani sendiri dingklik sudah tak layak pakai, sekarang Lani pakainya meja).

    * mana dia ya? kejedug-jedug pasti *

  7. Dewi Aichi  27 June, 2011 at 10:08

    Jennifer edan ha ha ha..ngidam apa dulu mamihnya yaaa….disini Jennifer diperankan oleh Lani Kameha Meha Tak Pakai Beha.

  8. J C  27 June, 2011 at 10:04

    Walaaaaahhh ini anak kayak Jennifer…bener-bener amit-amit…ini yang salah orangtuanya lah kalo sampe super muanja kayak gini ini…

  9. atite  27 June, 2011 at 09:59

    satuuu…!

    waduh sy belum baca yg bagian pertama, nti baca dulu, he3…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.