Seragam Sekolah dan Ranking Tiga

Lembayung – SOLO the spirit of java

 

Cenil & Lik Gembus

Tak ada yang lebih menyenangkan daripada duduk bersantai sembari menikmati koran hari ini yang ditemani dengan pisang goreng yang kemudian dibakar, dikeceri susu kental manis dan ditaburi meises cokelat, dan segelas kopi pahit panas. Liburan semester sudah tiba, tetapi saya tidak bisa pulang kampung karena harus mengambil semester pendek, suatu upaya untuk merubah nasib, memperbaiki deretan nilai demi nilai yang agak memalukan. Hahaha…

Lik Gembus membiarkan saya menekuri berita-berita dalam koran, sementara dia duduk di kursi kayu usang sambil menggerakkan kipas untuk menjaga arang tetap menyala. Tak banyak customer Lik Gembus malam itu. Cuma ada saya dan Pakde Bejo. Mungkin karena ini saatnya kenaikan kelas, banyak orang tua yang menyiapkan keperluan anak-anaknya untuk memasuki kelas yang baru, atau bahkan untuk mencari sekolahan baru.

”Kenthus ranking berapa Lik?” tanya saya tiba-tiba teringat anak satu-satunya Lik Gembus itu sambil melipat koran yang berusaha keras saya baca dalam temaram sinar lampu teplok kecil khas angkringan.

”Ranking tiga, Mbak Cenil. Dari dulu kok ranking tiga terus. Ndak ada peningkatan sama sekali. Ndak ada improvement.” keluh Lik Gembus.

Saya malah cengar-cengir mendengar kosa kata In English Lik Gembus. Wah, Lik Gembus ini memang pribadi yang sangat mengagumkan. Gampang menangkap informasi yang baru dan merekamnya dengan baik dalam memorinya. Meski terkadang pengucapannya masih dengan logat Bayat-Klaten-nya yang kental.

”Wah, sajen nya si Kenthus kurang kali Lik!” jawab saya.

Lik Gembus merengut dengan mulut mengumpul di tengah, ”Wong anak kok disajeni to Mbak Cenil? Memangnya anak saya dhemit po piye? Aneh-aneh saja.”

Segera saya menanggapi protesnya Lik Gembus, ”Lho, sampeyan itu koyone pinter tapi jebule yo belum pinter-pinter amat Lik. Sampeyan tidak bisa menangkap makna implisit dari statement saya tadi.”

”Lha kalau statement , saya mudeng artinya. Tapi kalau implisit, saya belum dhong Mbak. Wis, maksudnya apa gitu aja. Jangan susah-susah bahasanya. Lha wong ngomong sama orang susah kok bahasanya juga disamakan susahnya.” Protes Lik Gembus sambil menyisir rambut berminyaknya itu dengan tangan kirinya.

Sambil tertawa terkekeh saya jelaskan maksud saya, ”Gini lho Lik, intinya ya implisit itu makna yang tidak kelihatan. Seperti dhemit itu lho… Hahaha…. Anu Lik, maksud saya mungkin Kenthus itu kurang dirangsang sehingga motivasi belajarnya tidak meningkat. Semacam ada hadiah gitu lho Lik, kalau dia bisa berprestasi. Bisa naik nilainya. Bisa naik rankingnya. Rata-rata pasti begitu itu teman-temannya Kenthus.”

”Ho oh Lik, anak saya itu ndak pernah ranking lho, begitu saya janjikan handphone tahun ini langsung dapat sepuluh besar. Jaman sekarang anak-anak sudah tidak seperti jaman kita dulu Lik!” sahut Pakde Bejo yang ikut mendengarkan pembicaraan kami sedari tadi.

”Lha itu kan kalau duitnya ada Mbak Cenil, Mas Bejo. Lha kalau orang macam saya yang ibaratnya hidupnya sangat pasrah sekali dengan Gusti Allah karena uang hasil hari ini hanya untuk makan dan sangu sekolah Kenthus besok harinya saja. Gimana sempat mikir hadiah-hadiah segala to Mas? Apa lagi saya itu kok ya heran, setiap ada kenaikan kelas, kok ya selalu saja ganti seragam batiknya. Disuruh membeli batik yang baru. Seragam kok setiap tahun harus ganti. Sampai-sampai Kenthus itu kalo ikut saya ke kondangan tetangga saya suruh pakai batik bekas seragam sekolahnya saja. Lha piye, wong batiknya masih bagus jhe, kok sudah diganti yang baru. Dan kembangan batiknya itu beda Mbak Cenil. Jadi harus beli. Karena setiap tahun kembangan batiknya selalu berubah-ubah. Gek yo ngopo gitu lho, heran saya.” gerutu Lik Gembus memprihatinkan nasibnya.

Hm…., saya juga heran, ketika saya sekolah dulu pun pernah mengalami hal demikian. Setiap tahun selalu ganti buku baru. Setiap tahun ganti seragam baru. Padahal seragam yang lama masih bagus, masih layak pakai. Tapi murid diwajibkan membeli. Kalau tidak memberi maka rapot catur wulan (ketika itu masih memakai sistem catur wulan,dan sekarang sudah dikembalikan lagi ke sistem semester) tidak akan diberikan kepada orang tua murid. Sekolah swasta dan negeri tidak ada bedanya. Semua berlomba-lomba menjadikan sarana dan prasarana pendidikan sebagai ladang bisnis yang menggiurkan. Sebagai lahan basah yang mengundang untuk dipijak. Meski itu lumpur kotor dan berbau. Saya pikir jaman reformasi dan jaman-jaman setelahnya sedikit demi sedikit akan merombak sistem dalam dunia pendidikan. Sistem yang memudahkan murid untuk lebih mudah maju dalam pendidikan dan memudahkan orang tua dalam memberikan pendidikan setinggi-tingginya kepada anaknya. Tapi kenyataannya?

”Lagian yo Mbak Cenil yo, yang namanya kewajiban anak sekolah itu kan belajar dan belajar. Belajar sebaik-baiknya, sehingga bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Bukan karep belajar karena diiming-imingi handphone atau piknik ke luar negeri. Kalo itu namanya bukan mendidik, tapi malah mblondrokke anak. Anaknya memang jadi pintar, tapi belum tentu sifatnya juga baik. Hayoooo… leres mboten Mbak? Lha nanti jangan-jangan anak saya ketika besar nanti akan jadi seperti anggota-anggota dewan yang tukang ngapusi dan nilep duit rakyat itu. Belum lagi ditambah dengan banyak skandal seks di kalangan dewan. Biyuh-biyuh…. amit-amit si Kenthus, ojo tirun yo le yoooo…..” sahut Lik Gembus menggugah lamunan saya.

Jossss….. , touche! Sekali lagi sudut pandang Lik Gembus tepat sasaran. Saya dan Pakde Bejo manggut-manggut berbarengan. Entah apakah Pakde Bejo akan tetap meneruskan budaya hadiahnya kepada anaknya atau akan menghentikannya setelah kena smet dari Lik Gembus ini.

Saya keluarkan selembar lima ribuan untuk membayar makanan dan minuman saya. Sambil memberikan uang kembalian, Lik Gembus berkata, ”Mbak Cenil, besok sore saya libur jualan ya. Mau ke Waduk Gadjah Mungkur. Ngajak Kenthus dolan mancing.”

”Lho, tadi katanya nggak mendidik kalo memberi hadiah-hadiah baik berupa barang atau piknik pada anaknya. Lha kok itu malah mau piknik ke waduk to Lik? Ora sumbut karo omongane dhewe.” protes saya.

”Ini bukan piknik hadiah Mbak Cenil, cuma refreshing biar besok pas masuk sekolah lagi si Kenthus sudah semangat lagi belajarnya. Siapa tahu semester depan dia bisa ranking satu. Hehehe…. jawab Lik Gembus.

Walah, saya malah jadi bingung sendiri mengikuti jalan pikiran Lik Gembus. Katanya tidak punya uang kok bisa piknik ke Waduk Gadjah Mungkur. Mungkin saja diundang saudara atau bagaimana, saya tidak mau berprasangkan yang tidak-tidak. Masa saya mau menyamakan Lik Gembus dengan anggota dewan yang terhormat? Lha apa yang mau dikorupsi dari dagangan pisang owol dan wedang jahe?

Ketika saya melangkah meninggalkan angkringan Lik Gembus, lamat saya dengar Lik Gembus nembang Gambuh.

Sekar gambung ping catur
Kang cinatur polah kang kalantur
Tanpa tutur katula-tula katali
Kadaluarsa katutuh
Kapatuhpan dadi awon

”seseorang yang bertingkah laku buruk bukan berarti karena dia bertabiat jahat”

 

Salam,

Lby (24-06-11;16:17)

 

Disclaimer:

Tokoh-tokoh yang ada dalam tulisan ini hanyalah fiktif belaka. Ide tulisan diambil dari kejadian yang ada di lingkungan sekitar maupun yang ada dalam imajinasi penulis yang diangkat dalam bentuk cerpen sebagai bentuk refleksi sehingga penulis berharap pembaca bisa saling menyentuh hati satu dan yang lain.

130 Comments to "Seragam Sekolah dan Ranking Tiga"

  1. lembayung  1 July, 2011 at 11:30

    oom Han, lho bukannya memang sudah terbukti kalau orang Indonesia itu kreatif-kreatif? hihihi….

  2. Handoko Widagdo  1 July, 2011 at 09:12

    Jualan seragam itu bentuk dari latihan entrepreneurship alias kewirausahaan lho Mbak Cenil

  3. lembayung  30 June, 2011 at 09:35

    OMA SLIPI, emang ada ya orang tua yang cuma tanam saham aja? Kalo cuma begitu kan namanya bukan orang tua, tapi pelaku persetubuhan yang membuahkan kehamilan. wkwkwk…

  4. Lani  30 June, 2011 at 01:52

    NUCH cm mo nanya 112 apane yg dowoooooooooo?

  5. Nuchan  29 June, 2011 at 23:22

    Hahhahaha bener-bener Itsmi memang berpikir cerdas hahhahhaa….
    Lah kalo ada mangga kudu dibawa aja ke pasar biar “pasar yang menentukan” hahahahaha…
    all about money hahhahhaa…bagus bagus bagus…Ini gaya pikir pedagang hhehhehe…semuanya kalo bisa dijadikan uang yah hehhehee…bagus…
    Iwan itu memang cocok kerjanya dibagian iklan hahhahhaa…pintar bikin iklan apa saja hehhehe termasuk mengiklan dirinya sendiri hehhehhee….

  6. Itsmi  29 June, 2011 at 23:04

    Iwan dan Nuchan, jangan lempar mangganya,
    bawah aja ke pasar biar “pasar yang menentukan” hahahahahah

  7. Nuchan  29 June, 2011 at 22:11

    Mas Iwan di depan rumahku ada pohon mangga yg buahnya lebat banget dan ada pohon nangka juga hehhehe..mangga manis dan sawo manis yg tumbuh di halaman rumahku tidak ditanam tapi tumbuh karena adekku kalo makan mangga atau buah, suka lempar bijinya sembarangan hhehehhee..sekarang mangganya lagi matang dipohon rasanya manis banget hehhehe..malah kalo makan mangganya kita kupas pake gigi dan makan daging mangganya nga pakai garfu lagi tapi langsung dimakan pake mulut dan gigi hahhahahhaa..Aku sih nga ngerasa rumit dan nga mungkin rumitlah…khan aku anti kemapanan hahhahhaaa..salah besar itu dugaan aku rumit…hehhehehe..(membela diri booo hahhahhaha..takut hilang pamor soalnya hehhehhee..bukan pamer lo… nanti photo mangga dan buahnya aja dikirim ke Mas Iwan hahhahaa biar ngiler abis hehhehee….

  8. IWAN SATYANEGARA KAMAH  29 June, 2011 at 21:52

    Nuchan, Om Itsmi dan JC adalah orang-orang malang yang terbius denga teori-teori kiri-kanan berdasarkan buku. Jika ada buah mangga masak di pohon, mereka akan berpikir riumit. “Berapa harga mangga sekarang yang dikaitkan dgn inflasi dan pertumbuhan suku bunga Dow Jones. Lali vitamin apa yg dikandung dlm mangga? Apakah cukup dengan AKG (angka Kebutuhan Gizi) saya hari ini?” Pokoke rumit…

    Kalau saya simpel. Lempar aja tuh mangga. Jatuh dan makan. Kenyang, Selesai.

  9. IWAN SATYANEGARA KAMAH  29 June, 2011 at 21:49

    Nuchan, saya ketok kepalamu biar rasah (pakai huruf /h/ kalau Om Itsmi yg nulis.

  10. Nuchan  29 June, 2011 at 21:47

    Hahhahaha koq jelas kali menerangkannya mas hahahhaha…maaf aku numpang ngakak ngakak aja baca komen mas Iwan hahhahhaa…maaf ya Lemb…numpang ngerecokin artikelmu..jangan salahkan aku yah..salahkan saja Itsmi dan JC…sama-sama neolib juga hahhahhaa….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.