Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Seragam Sekolah dan Ranking Tiga

Monday, 27 June 2011

Viewed 4042 times, 2 times today | 130 Comments |

Lembayung – SOLO the spirit of java

 

Cenil & Lik Gembus

Tak ada yang lebih menyenangkan daripada duduk bersantai sembari menikmati koran hari ini yang ditemani dengan pisang goreng yang kemudian dibakar, dikeceri susu kental manis dan ditaburi meises cokelat, dan segelas kopi pahit panas. Liburan semester sudah tiba, tetapi saya tidak bisa pulang kampung karena harus mengambil semester pendek, suatu upaya untuk merubah nasib, memperbaiki deretan nilai demi nilai yang agak memalukan. Hahaha…

Lik Gembus membiarkan saya menekuri berita-berita dalam koran, sementara dia duduk di kursi kayu usang sambil menggerakkan kipas untuk menjaga arang tetap menyala. Tak banyak customer Lik Gembus malam itu. Cuma ada saya dan Pakde Bejo. Mungkin karena ini saatnya kenaikan kelas, banyak orang tua yang menyiapkan keperluan anak-anaknya untuk memasuki kelas yang baru, atau bahkan untuk mencari sekolahan baru.

”Kenthus ranking berapa Lik?” tanya saya tiba-tiba teringat anak satu-satunya Lik Gembus itu sambil melipat koran yang berusaha keras saya baca dalam temaram sinar lampu teplok kecil khas angkringan.

”Ranking tiga, Mbak Cenil. Dari dulu kok ranking tiga terus. Ndak ada peningkatan sama sekali. Ndak ada improvement.” keluh Lik Gembus.

Saya malah cengar-cengir mendengar kosa kata In English Lik Gembus. Wah, Lik Gembus ini memang pribadi yang sangat mengagumkan. Gampang menangkap informasi yang baru dan merekamnya dengan baik dalam memorinya. Meski terkadang pengucapannya masih dengan logat Bayat-Klaten-nya yang kental.

”Wah, sajen nya si Kenthus kurang kali Lik!” jawab saya.

Lik Gembus merengut dengan mulut mengumpul di tengah, ”Wong anak kok disajeni to Mbak Cenil? Memangnya anak saya dhemit po piye? Aneh-aneh saja.”

Segera saya menanggapi protesnya Lik Gembus, ”Lho, sampeyan itu koyone pinter tapi jebule yo belum pinter-pinter amat Lik. Sampeyan tidak bisa menangkap makna implisit dari statement saya tadi.”

”Lha kalau statement , saya mudeng artinya. Tapi kalau implisit, saya belum dhong Mbak. Wis, maksudnya apa gitu aja. Jangan susah-susah bahasanya. Lha wong ngomong sama orang susah kok bahasanya juga disamakan susahnya.” Protes Lik Gembus sambil menyisir rambut berminyaknya itu dengan tangan kirinya.

Sambil tertawa terkekeh saya jelaskan maksud saya, ”Gini lho Lik, intinya ya implisit itu makna yang tidak kelihatan. Seperti dhemit itu lho… Hahaha…. Anu Lik, maksud saya mungkin Kenthus itu kurang dirangsang sehingga motivasi belajarnya tidak meningkat. Semacam ada hadiah gitu lho Lik, kalau dia bisa berprestasi. Bisa naik nilainya. Bisa naik rankingnya. Rata-rata pasti begitu itu teman-temannya Kenthus.”

”Ho oh Lik, anak saya itu ndak pernah ranking lho, begitu saya janjikan handphone tahun ini langsung dapat sepuluh besar. Jaman sekarang anak-anak sudah tidak seperti jaman kita dulu Lik!” sahut Pakde Bejo yang ikut mendengarkan pembicaraan kami sedari tadi.

”Lha itu kan kalau duitnya ada Mbak Cenil, Mas Bejo. Lha kalau orang macam saya yang ibaratnya hidupnya sangat pasrah sekali dengan Gusti Allah karena uang hasil hari ini hanya untuk makan dan sangu sekolah Kenthus besok harinya saja. Gimana sempat mikir hadiah-hadiah segala to Mas? Apa lagi saya itu kok ya heran, setiap ada kenaikan kelas, kok ya selalu saja ganti seragam batiknya. Disuruh membeli batik yang baru. Seragam kok setiap tahun harus ganti. Sampai-sampai Kenthus itu kalo ikut saya ke kondangan tetangga saya suruh pakai batik bekas seragam sekolahnya saja. Lha piye, wong batiknya masih bagus jhe, kok sudah diganti yang baru. Dan kembangan batiknya itu beda Mbak Cenil. Jadi harus beli. Karena setiap tahun kembangan batiknya selalu berubah-ubah. Gek yo ngopo gitu lho, heran saya.” gerutu Lik Gembus memprihatinkan nasibnya.

Hm…., saya juga heran, ketika saya sekolah dulu pun pernah mengalami hal demikian. Setiap tahun selalu ganti buku baru. Setiap tahun ganti seragam baru. Padahal seragam yang lama masih bagus, masih layak pakai. Tapi murid diwajibkan membeli. Kalau tidak memberi maka rapot catur wulan (ketika itu masih memakai sistem catur wulan,dan sekarang sudah dikembalikan lagi ke sistem semester) tidak akan diberikan kepada orang tua murid. Sekolah swasta dan negeri tidak ada bedanya. Semua berlomba-lomba menjadikan sarana dan prasarana pendidikan sebagai ladang bisnis yang menggiurkan. Sebagai lahan basah yang mengundang untuk dipijak. Meski itu lumpur kotor dan berbau. Saya pikir jaman reformasi dan jaman-jaman setelahnya sedikit demi sedikit akan merombak sistem dalam dunia pendidikan. Sistem yang memudahkan murid untuk lebih mudah maju dalam pendidikan dan memudahkan orang tua dalam memberikan pendidikan setinggi-tingginya kepada anaknya. Tapi kenyataannya?

”Lagian yo Mbak Cenil yo, yang namanya kewajiban anak sekolah itu kan belajar dan belajar. Belajar sebaik-baiknya, sehingga bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Bukan karep belajar karena diiming-imingi handphone atau piknik ke luar negeri. Kalo itu namanya bukan mendidik, tapi malah mblondrokke anak. Anaknya memang jadi pintar, tapi belum tentu sifatnya juga baik. Hayoooo… leres mboten Mbak? Lha nanti jangan-jangan anak saya ketika besar nanti akan jadi seperti anggota-anggota dewan yang tukang ngapusi dan nilep duit rakyat itu. Belum lagi ditambah dengan banyak skandal seks di kalangan dewan. Biyuh-biyuh…. amit-amit si Kenthus, ojo tirun yo le yoooo…..” sahut Lik Gembus menggugah lamunan saya.

Jossss….. , touche! Sekali lagi sudut pandang Lik Gembus tepat sasaran. Saya dan Pakde Bejo manggut-manggut berbarengan. Entah apakah Pakde Bejo akan tetap meneruskan budaya hadiahnya kepada anaknya atau akan menghentikannya setelah kena smet dari Lik Gembus ini.

Saya keluarkan selembar lima ribuan untuk membayar makanan dan minuman saya. Sambil memberikan uang kembalian, Lik Gembus berkata, ”Mbak Cenil, besok sore saya libur jualan ya. Mau ke Waduk Gadjah Mungkur. Ngajak Kenthus dolan mancing.”

”Lho, tadi katanya nggak mendidik kalo memberi hadiah-hadiah baik berupa barang atau piknik pada anaknya. Lha kok itu malah mau piknik ke waduk to Lik? Ora sumbut karo omongane dhewe.” protes saya.

”Ini bukan piknik hadiah Mbak Cenil, cuma refreshing biar besok pas masuk sekolah lagi si Kenthus sudah semangat lagi belajarnya. Siapa tahu semester depan dia bisa ranking satu. Hehehe…. jawab Lik Gembus.

Walah, saya malah jadi bingung sendiri mengikuti jalan pikiran Lik Gembus. Katanya tidak punya uang kok bisa piknik ke Waduk Gadjah Mungkur. Mungkin saja diundang saudara atau bagaimana, saya tidak mau berprasangkan yang tidak-tidak. Masa saya mau menyamakan Lik Gembus dengan anggota dewan yang terhormat? Lha apa yang mau dikorupsi dari dagangan pisang owol dan wedang jahe?

Ketika saya melangkah meninggalkan angkringan Lik Gembus, lamat saya dengar Lik Gembus nembang Gambuh.

Sekar gambung ping catur
Kang cinatur polah kang kalantur
Tanpa tutur katula-tula katali
Kadaluarsa katutuh
Kapatuhpan dadi awon

”seseorang yang bertingkah laku buruk bukan berarti karena dia bertabiat jahat”

 

Salam,

Lby (24-06-11;16:17)

 

Disclaimer:

Tokoh-tokoh yang ada dalam tulisan ini hanyalah fiktif belaka. Ide tulisan diambil dari kejadian yang ada di lingkungan sekitar maupun yang ada dalam imajinasi penulis yang diangkat dalam bentuk cerpen sebagai bentuk refleksi sehingga penulis berharap pembaca bisa saling menyentuh hati satu dan yang lain.

Share This Post

Posted by Monday, 27 June 2011 on 09:24.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

130 Responses to “Seragam Sekolah dan Ranking Tiga”

Pages: « 13 12 11 [10] 9 8 7 6 5 4 3 … 1 »

  1. 100
    Kornelya Says:

    Nuchan Itsmi buat deposition tertulis bukan pleidoi. Aku bantu pa Iwan tutupin diskusi ini pake gembok segede gambreng, karena pakai palu, malah palunya direbut buat saling menggetok. Klik-klik gembuk ditutup.

  2. 99
    Nuchan Says:

    Hahahha Itsmi habis baca literatur hahahha panjang amat pledoinya hahhahaa…
    Itsmi udah bikin tauco belon? aku lagi masak kangkung pake tauco Medan hehhehhe
    Pernah makan kangkung ditauco pedas nga? pake cabe hijau yg besar2 hehhehe…
    Cobain yah…ntar kalo mau resepnya aku punya koq hehhehhee…tapi nga tahu cocok nga dilidahmu hehhehe

    Salam tauco yah hehhehehe

  3. 98
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Mari kita tutup diskusi tentang neolib dan sejenisnya. Bagi kita tak penting ideologi apapun, selama membuat manusia senang dan bermartabat.

    Dengan ini kita tutup diskusi ini.

    (tok…tok…tok)

  4. 97
    Itsmi Says:

    JC, Seperti saya udah janji, saya akan baca komentarmu nomor 66

    Jc, mungkin kamu benar karena saya di Belanda dan bukan di Amerika atau di Indonesia. Jadi pemikiran berbeda tetapi di Indonesia atau di Amerika pun, ada juga yang berpikir seperti saya.
    Jc mengenai nasi kucing saya bersikeras karena saya bicarakan pada inti dari nasi kucing. Tentu saya terimah kalau kamu (kalian) mengatakan pada saya bahwa nasi kucing bukan simbol kemiskinan lagi. Tetapi saya masih bertanya, apa sebabnya, sudah berubah simbol sedangkan, yang saya alami berlainan. Dan saya saksikan sendiri di kaki lima pada waktu itu siapa konsumennya, udah jelas bukan seperti kamu.
    Jadi muncul pertanyaan seperti : apakah ini karena banyak mahasiswa yang tak berduit, makan nasi kucing dan sesudah selesai kuliah sudah familiar dengan nasi kucing
    Atau apakah karena warung warung begini di buka 24 jam, jadi malam malam orang cari makanan dan hanya bisa membeli nasi kucing ? jadi karena hanya terjual nasi kucing, nasi kucing jadi populer.
    Nah, tentu selalu ada pengusaha yang jeli dan mengadopsi nasi kucing ini ke restorannya karena dia sudah liat popularitasnya. Setiap malam banyak Mobil yang parkir di Kafe kaki lima untuk makan nasi kucing.

    Jc tentu pajak itu sebagai keharusan tetapi bukan berarti kita tidak punya pilihan. Pilihannya itu lewat pemilu kan, nah kalau saya pilih partai yang berdasarkan neo liberal, sudah jelas pajak akan turun untuk orang kaya dan perusahaan sedangkan kalau saya pilih partai sosialis, pasti pajak untuk perusahaan dan orang kaya naik.

    Jc, neo liberal, sosial liberal, sosial demokrat, sosialis dan lain lain semua bertujuan supaya rakyat makmur, Cuma caranya berbeda. Yang saya tidak setujuh dengan neo liberal itu, orang kaya tambah kaya dan miskin tambah miskin. jadi mengutamakan prinsip kesempatan yang sama bagi semua orang tetapi untuk saya bukan semua orang kesempatannya sama Bukan semua orang yang dari tukang becak bisa jadi jutawan. Apalagi dengan pengetahuan sekarang, seperti kita sudah tau kemiskinan itu bisa jadi turunan karena sudah berada di gen nya. Begitu juga dengan orang yang sukses, menurut penelitian kalau saya tidak salah 30 – 40% dari ortu.

    Juga dengan neo liberal bukan hanya pajak yang mereka selalu mau menurunkan dan pemerintahan di kecilkan tetapi begitu juga dengan gaji kalau bisa gratis. Sedangkan partai yang social gaji buruh di perhatikan dan supaya hidup bisa berkwalitas. Dan pemerintah banyak pegang peranannya.

    Mengenai fitness, sebenarnya saya tidak perlu melaporkan tapi saya sengaja tulis, benar pikiranku, kamu akan memakainya hahahaha

  5. 96
    Lani Says:

    PHIE lo, ganti to? skrg gedang???? emank udah gak dodolan apem methutuk lagi to dikau????? aku kangen je karo sing methuthuk itu tadi

  6. 95
    phie Says:

    kowe yo diiming2i gedang yo yung pas dipinang? wkwkwkwkwk…..

  7. 94
    Lani Says:

    LEMB wah, pinter nembang dandang gula po yo??????

  8. 93
    Lani Says:

    NUCH……..aku bawain kompor……komplittttttt, HAJAR BLEEHHHHHH……..!!!!!

  9. 92
    Nuchan Says:

    Hmmmm sepertinya Atite ini cepat beradaptasi terhadap kewarasan dan kelogisan si Itsmi hehhehhe…bagus bagus bagus…..bicara ama Itsmi itu memang kudu dicampur dengan serbagado-gado atau serbaTAUCO..Itsmi itu penggemar tauco pedas..makanya mulut dan lidahnya tajam setajam silet dan pedas sepedas cabe rawit purwokerto hahahhaha

  10. 91
    Nuchan Says:

    Hahhahaha ketawa ampe nangis lihat lagu Mas Iwan hahhaha…Ampun dah dengar lagu Bimbo ini Itsmi bakalan stress dan sibuk menghujat orang yg beragama hhahahhaa…. Itsmi bakalan menjerit2 histeris menyebut orang disini bodoh semuanya hahhahahha… Dasar Itsmi mak lampir hahhahhaa…Itsmi see ya!! gue udah tepar nie….

Pages: « 13 12 11 [10] 9 8 7 6 5 4 3 … 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)