Monday, 27 June 2011
Lembayung – SOLO the spirit of java
Cenil & Lik Gembus
Tak ada yang lebih menyenangkan daripada duduk bersantai sembari menikmati koran hari ini yang ditemani dengan pisang goreng yang kemudian dibakar, dikeceri susu kental manis dan ditaburi meises cokelat, dan segelas kopi pahit panas. Liburan semester sudah tiba, tetapi saya tidak bisa pulang kampung karena harus mengambil semester pendek, suatu upaya untuk merubah nasib, memperbaiki deretan nilai demi nilai yang agak memalukan. Hahaha…
Lik Gembus membiarkan saya menekuri berita-berita dalam koran, sementara dia duduk di kursi kayu usang sambil menggerakkan kipas untuk menjaga arang tetap menyala. Tak banyak customer Lik Gembus malam itu. Cuma ada saya dan Pakde Bejo. Mungkin karena ini saatnya kenaikan kelas, banyak orang tua yang menyiapkan keperluan anak-anaknya untuk memasuki kelas yang baru, atau bahkan untuk mencari sekolahan baru.
”Kenthus ranking berapa Lik?” tanya saya tiba-tiba teringat anak satu-satunya Lik Gembus itu sambil melipat koran yang berusaha keras saya baca dalam temaram sinar lampu teplok kecil khas angkringan.
”Ranking tiga, Mbak Cenil. Dari dulu kok ranking tiga terus. Ndak ada peningkatan sama sekali. Ndak ada improvement.” keluh Lik Gembus.
Saya malah cengar-cengir mendengar kosa kata In English Lik Gembus. Wah, Lik Gembus ini memang pribadi yang sangat mengagumkan. Gampang menangkap informasi yang baru dan merekamnya dengan baik dalam memorinya. Meski terkadang pengucapannya masih dengan logat Bayat-Klaten-nya yang kental.
”Wah, sajen nya si Kenthus kurang kali Lik!” jawab saya.
Lik Gembus merengut dengan mulut mengumpul di tengah, ”Wong anak kok disajeni to Mbak Cenil? Memangnya anak saya dhemit po piye? Aneh-aneh saja.”
Segera saya menanggapi protesnya Lik Gembus, ”Lho, sampeyan itu koyone pinter tapi jebule yo belum pinter-pinter amat Lik. Sampeyan tidak bisa menangkap makna implisit dari statement saya tadi.”
”Lha kalau statement , saya mudeng artinya. Tapi kalau implisit, saya belum dhong Mbak. Wis, maksudnya apa gitu aja. Jangan susah-susah bahasanya. Lha wong ngomong sama orang susah kok bahasanya juga disamakan susahnya.” Protes Lik Gembus sambil menyisir rambut berminyaknya itu dengan tangan kirinya.
Sambil tertawa terkekeh saya jelaskan maksud saya, ”Gini lho Lik, intinya ya implisit itu makna yang tidak kelihatan. Seperti dhemit itu lho… Hahaha…. Anu Lik, maksud saya mungkin Kenthus itu kurang dirangsang sehingga motivasi belajarnya tidak meningkat. Semacam ada hadiah gitu lho Lik, kalau dia bisa berprestasi. Bisa naik nilainya. Bisa naik rankingnya. Rata-rata pasti begitu itu teman-temannya Kenthus.”
”Ho oh Lik, anak saya itu ndak pernah ranking lho, begitu saya janjikan handphone tahun ini langsung dapat sepuluh besar. Jaman sekarang anak-anak sudah tidak seperti jaman kita dulu Lik!” sahut Pakde Bejo yang ikut mendengarkan pembicaraan kami sedari tadi.
”Lha itu kan kalau duitnya ada Mbak Cenil, Mas Bejo. Lha kalau orang macam saya yang ibaratnya hidupnya sangat pasrah sekali dengan Gusti Allah karena uang hasil hari ini hanya untuk makan dan sangu sekolah Kenthus besok harinya saja. Gimana sempat mikir hadiah-hadiah segala to Mas? Apa lagi saya itu kok ya heran, setiap ada kenaikan kelas, kok ya selalu saja ganti seragam batiknya. Disuruh membeli batik yang baru. Seragam kok setiap tahun harus ganti. Sampai-sampai Kenthus itu kalo ikut saya ke kondangan tetangga saya suruh pakai batik bekas seragam sekolahnya saja. Lha piye, wong batiknya masih bagus jhe, kok sudah diganti yang baru. Dan kembangan batiknya itu beda Mbak Cenil. Jadi harus beli. Karena setiap tahun kembangan batiknya selalu berubah-ubah. Gek yo ngopo gitu lho, heran saya.” gerutu Lik Gembus memprihatinkan nasibnya.
Hm…., saya juga heran, ketika saya sekolah dulu pun pernah mengalami hal demikian. Setiap tahun selalu ganti buku baru. Setiap tahun ganti seragam baru. Padahal seragam yang lama masih bagus, masih layak pakai. Tapi murid diwajibkan membeli. Kalau tidak memberi maka rapot catur wulan (ketika itu masih memakai sistem catur wulan,dan sekarang sudah dikembalikan lagi ke sistem semester) tidak akan diberikan kepada orang tua murid. Sekolah swasta dan negeri tidak ada bedanya. Semua berlomba-lomba menjadikan sarana dan prasarana pendidikan sebagai ladang bisnis yang menggiurkan. Sebagai lahan basah yang mengundang untuk dipijak. Meski itu lumpur kotor dan berbau. Saya pikir jaman reformasi dan jaman-jaman setelahnya sedikit demi sedikit akan merombak sistem dalam dunia pendidikan. Sistem yang memudahkan murid untuk lebih mudah maju dalam pendidikan dan memudahkan orang tua dalam memberikan pendidikan setinggi-tingginya kepada anaknya. Tapi kenyataannya?
”Lagian yo Mbak Cenil yo, yang namanya kewajiban anak sekolah itu kan belajar dan belajar. Belajar sebaik-baiknya, sehingga bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Bukan karep belajar karena diiming-imingi handphone atau piknik ke luar negeri. Kalo itu namanya bukan mendidik, tapi malah mblondrokke anak. Anaknya memang jadi pintar, tapi belum tentu sifatnya juga baik. Hayoooo… leres mboten Mbak? Lha nanti jangan-jangan anak saya ketika besar nanti akan jadi seperti anggota-anggota dewan yang tukang ngapusi dan nilep duit rakyat itu. Belum lagi ditambah dengan banyak skandal seks di kalangan dewan. Biyuh-biyuh…. amit-amit si Kenthus, ojo tirun yo le yoooo…..” sahut Lik Gembus menggugah lamunan saya.
Jossss….. , touche! Sekali lagi sudut pandang Lik Gembus tepat sasaran. Saya dan Pakde Bejo manggut-manggut berbarengan. Entah apakah Pakde Bejo akan tetap meneruskan budaya hadiahnya kepada anaknya atau akan menghentikannya setelah kena smet dari Lik Gembus ini.
Saya keluarkan selembar lima ribuan untuk membayar makanan dan minuman saya. Sambil memberikan uang kembalian, Lik Gembus berkata, ”Mbak Cenil, besok sore saya libur jualan ya. Mau ke Waduk Gadjah Mungkur. Ngajak Kenthus dolan mancing.”
”Lho, tadi katanya nggak mendidik kalo memberi hadiah-hadiah baik berupa barang atau piknik pada anaknya. Lha kok itu malah mau piknik ke waduk to Lik? Ora sumbut karo omongane dhewe.” protes saya.
”Ini bukan piknik hadiah Mbak Cenil, cuma refreshing biar besok pas masuk sekolah lagi si Kenthus sudah semangat lagi belajarnya. Siapa tahu semester depan dia bisa ranking satu. Hehehe…. jawab Lik Gembus.
Walah, saya malah jadi bingung sendiri mengikuti jalan pikiran Lik Gembus. Katanya tidak punya uang kok bisa piknik ke Waduk Gadjah Mungkur. Mungkin saja diundang saudara atau bagaimana, saya tidak mau berprasangkan yang tidak-tidak. Masa saya mau menyamakan Lik Gembus dengan anggota dewan yang terhormat? Lha apa yang mau dikorupsi dari dagangan pisang owol dan wedang jahe?
Ketika saya melangkah meninggalkan angkringan Lik Gembus, lamat saya dengar Lik Gembus nembang Gambuh.
Sekar gambung ping catur
Kang cinatur polah kang kalantur
Tanpa tutur katula-tula katali
Kadaluarsa katutuh
Kapatuhpan dadi awon
”seseorang yang bertingkah laku buruk bukan berarti karena dia bertabiat jahat”
Salam,
Lby (24-06-11;16:17)
Disclaimer:
Tokoh-tokoh yang ada dalam tulisan ini hanyalah fiktif belaka. Ide tulisan diambil dari kejadian yang ada di lingkungan sekitar maupun yang ada dalam imajinasi penulis yang diangkat dalam bentuk cerpen sebagai bentuk refleksi sehingga penulis berharap pembaca bisa saling menyentuh hati satu dan yang lain.
Pages: « 13 [12] 11 10 9 8 7 6 5 4 3 … 1 »
Pages: « 13 [12] 11 10 9 8 7 6 5 4 3 … 1 »
June 29th, 2011 at 21:41
Nasi kucing, enak.
Mandi kucing, lebih enak (mandi sambil digosok dan dibersihkan oleh wanita bukan istri yg kita bayar).
Musik kucing, makin enak (lagu2 Cat Stevens spt Wild World, First Cut in the Deepest dll)
Wanita kucing, cantik-cantik (kayak Catwoman).
June 29th, 2011 at 21:33
Lo koq Mas Iwan nongol hahhahaa..kan diskusi udah ditutup sama Mas Iwan hahhaha…
Maaf lo aku ikutan lagi gara-gara Lembayung yg buka lagi hehhehe..katanya belon tuntas hehhehe…
Sekarang udah skak-mat kayaknya hehhehehe…
Btw dimana sih beli nasi kucing? koq nuchan nga pernah tahu ada nasi kucing…

Mas JC dimana makan nasi kucing di Jakarta? Kasih info yah…malah penasaran sama nasi kucing hehehhe..mandi kucing sih tahu hehhehhee
June 29th, 2011 at 21:24
Saya bingung dengan Om Itsmi. Cara berpikirnya terlalu rumit dan ‘text book thinker’. Nasi kucing kok dianggap dan dikaitkan dengan teori pemikiran noelib segala. Hmmm..betapa sedihnya hidup berpikir terlalu rumit. Bagi saya nasi kucing ya nasi kucing. It’s about a lifestyle. Kalau saya punya 1 milyar, lagi ingin makan nasi kucing, ya…silahkan. Bukan berarti saya miskin dan korban neolib.
Otak Om Itsmi berisi labirin. Mirip rektor nuklir bahan bakar kapal perang Nimitz.
Saya tetap fleksibel. “Terserah kucing hitam putih atau putih, yg penting bisa menangkap tikus.
June 29th, 2011 at 21:09
Akhirnya Itsmi dan JC skak-mat hahhahhahaa..rasain deh hhehhehe
June 29th, 2011 at 21:08
Nuchan, kamu jangan di pengaruhi si Jc, dia masih frustrasi hahahaha,
Lapo itu enak sekali……. kalau sudah makan menjadi neolib (seperti kata Iwan) atau bibir baru…. ini dikarenakan terlalu banyak makan cabeh hijau sampai bibir jadi bengkak hahahah
June 29th, 2011 at 21:05
Jc, sudah pasti kamu kejar saya terus dengan hal ini yah hahahahahah
June 29th, 2011 at 20:11
hahhaha mana si Atheis ???? Itsmi mau makan di lapo aja atau mau makan nasi kucing? ayo tetapkan dari sekarang..biar kami bisa nabung dulu hahhahahha…mana ini si Itsmi neolib hhahhaha….
June 29th, 2011 at 18:51
Nuchan, Itsmi, bukan masalah pelit traktiir 10 bungkus nasi kucing. Lha dia sudah biasa makan ikan salmon, caviar, minum good wine, champagne, vodka. Sampai sini, mana sanggup kita traktir Itsmi makan seperti itu? Mau ditraktir apa coba? Sushi atau sashimi? Itsmi makan haring tiap hari, sudah bosan dia. Apa coba? Chinese food? Rijstafel? Wah, mana sanggup. Kelas kita hanya sanggup traktir Itsmi nasi kucing pinggir jalan, makannya sambil kaki nangkring di bangku, minumnya nyeruput bandrek atau wedang jahe.
Itupun belum tentu Itsmi mau. Mana tahan perut dia sudah biasa hidup bersih, higienis, di negara neolib dan neosocialist sana itu. Makan di pinggir jalan bisa-bisa dia hospitalized. Itupun dia tidak kuatir, sudah dicover oleh asuransi kesehatan di Belanda sana, kalau kita? Mau tebus obat pilihnya obat generik. Yang neolib siapa sebenarnya hayo?
June 29th, 2011 at 17:29
Oh boleh boleh nanti kita makan di Senayan aja yah ..ada Lapo tuak di sana hahhahha..makan sambil angkat kaki aja boleh koq….hahhahhahha
…Enak makan pakai tangan sambil angkat kaki yah…si JC udah tahu itu..khan JC juga mantan anak Medan yah hahhahhaa…tanya aja bakpang ama dia hahhaha ..tahu dia semuanya….Kalo cuma makan di lapo …masih kuatlah kocek dikantongku hahhahhaa….nanti kuajak aja Itsmi naik angkot dan naik busway hahhahhaa..supaya bisa ngamen di bis hahhahhaa…kadang2 hidup prihatin itu enak lo..jadi kreatif pulak hahhahhaa…( ini pembelaan orang yg sok neolib kayak gue hahahha..sebenarnya aku aliran Sufi lo Itsmi hahhahhaa..anti kemapanan hahhahhaa….kalo ada yg kenal baca pengakuan ini hahhaha jamin aku dilemparnya pake batu hahhahhaa…
Nga apa-apalah Mother Theresa dianggap neolib..yg penting aku suka dialah…Mantafffsss…
Nah kalo Mathatma Ghandi itu memang satu-satunya pria India yg aku sukalah di dunia ini hahhahha…selebihnya alamak pusing lihat cowo India hehhehe…segalanya panjang hahhahhaa…(jangan ngeres yah…
June 29th, 2011 at 16:23
Nuchan, Mother Theresa itu lahir dari pemikiran neolib. Agama senang bergandengan dengan neolib karena selama neolib Berjaya, agama juga ikut Berjaya karena agama hidup dari kemiskinan dan di bayar sama yang kaya supaya orang miskin tetap diam……
Jc, pelit amak kau hahahah
Nuchan kapan kamu traktir makan di Lapo ??? hmmmmmm, apalagi makan dengan tangan dan sambal hijaunya…. Surga tak usah jauh jauh