Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Seragam Sekolah dan Ranking Tiga

Monday, 27 June 2011

Viewed 4024 times, 3 times today | 130 Comments |

Lembayung – SOLO the spirit of java

 

Cenil & Lik Gembus

Tak ada yang lebih menyenangkan daripada duduk bersantai sembari menikmati koran hari ini yang ditemani dengan pisang goreng yang kemudian dibakar, dikeceri susu kental manis dan ditaburi meises cokelat, dan segelas kopi pahit panas. Liburan semester sudah tiba, tetapi saya tidak bisa pulang kampung karena harus mengambil semester pendek, suatu upaya untuk merubah nasib, memperbaiki deretan nilai demi nilai yang agak memalukan. Hahaha…

Lik Gembus membiarkan saya menekuri berita-berita dalam koran, sementara dia duduk di kursi kayu usang sambil menggerakkan kipas untuk menjaga arang tetap menyala. Tak banyak customer Lik Gembus malam itu. Cuma ada saya dan Pakde Bejo. Mungkin karena ini saatnya kenaikan kelas, banyak orang tua yang menyiapkan keperluan anak-anaknya untuk memasuki kelas yang baru, atau bahkan untuk mencari sekolahan baru.

”Kenthus ranking berapa Lik?” tanya saya tiba-tiba teringat anak satu-satunya Lik Gembus itu sambil melipat koran yang berusaha keras saya baca dalam temaram sinar lampu teplok kecil khas angkringan.

”Ranking tiga, Mbak Cenil. Dari dulu kok ranking tiga terus. Ndak ada peningkatan sama sekali. Ndak ada improvement.” keluh Lik Gembus.

Saya malah cengar-cengir mendengar kosa kata In English Lik Gembus. Wah, Lik Gembus ini memang pribadi yang sangat mengagumkan. Gampang menangkap informasi yang baru dan merekamnya dengan baik dalam memorinya. Meski terkadang pengucapannya masih dengan logat Bayat-Klaten-nya yang kental.

”Wah, sajen nya si Kenthus kurang kali Lik!” jawab saya.

Lik Gembus merengut dengan mulut mengumpul di tengah, ”Wong anak kok disajeni to Mbak Cenil? Memangnya anak saya dhemit po piye? Aneh-aneh saja.”

Segera saya menanggapi protesnya Lik Gembus, ”Lho, sampeyan itu koyone pinter tapi jebule yo belum pinter-pinter amat Lik. Sampeyan tidak bisa menangkap makna implisit dari statement saya tadi.”

”Lha kalau statement , saya mudeng artinya. Tapi kalau implisit, saya belum dhong Mbak. Wis, maksudnya apa gitu aja. Jangan susah-susah bahasanya. Lha wong ngomong sama orang susah kok bahasanya juga disamakan susahnya.” Protes Lik Gembus sambil menyisir rambut berminyaknya itu dengan tangan kirinya.

Sambil tertawa terkekeh saya jelaskan maksud saya, ”Gini lho Lik, intinya ya implisit itu makna yang tidak kelihatan. Seperti dhemit itu lho… Hahaha…. Anu Lik, maksud saya mungkin Kenthus itu kurang dirangsang sehingga motivasi belajarnya tidak meningkat. Semacam ada hadiah gitu lho Lik, kalau dia bisa berprestasi. Bisa naik nilainya. Bisa naik rankingnya. Rata-rata pasti begitu itu teman-temannya Kenthus.”

”Ho oh Lik, anak saya itu ndak pernah ranking lho, begitu saya janjikan handphone tahun ini langsung dapat sepuluh besar. Jaman sekarang anak-anak sudah tidak seperti jaman kita dulu Lik!” sahut Pakde Bejo yang ikut mendengarkan pembicaraan kami sedari tadi.

”Lha itu kan kalau duitnya ada Mbak Cenil, Mas Bejo. Lha kalau orang macam saya yang ibaratnya hidupnya sangat pasrah sekali dengan Gusti Allah karena uang hasil hari ini hanya untuk makan dan sangu sekolah Kenthus besok harinya saja. Gimana sempat mikir hadiah-hadiah segala to Mas? Apa lagi saya itu kok ya heran, setiap ada kenaikan kelas, kok ya selalu saja ganti seragam batiknya. Disuruh membeli batik yang baru. Seragam kok setiap tahun harus ganti. Sampai-sampai Kenthus itu kalo ikut saya ke kondangan tetangga saya suruh pakai batik bekas seragam sekolahnya saja. Lha piye, wong batiknya masih bagus jhe, kok sudah diganti yang baru. Dan kembangan batiknya itu beda Mbak Cenil. Jadi harus beli. Karena setiap tahun kembangan batiknya selalu berubah-ubah. Gek yo ngopo gitu lho, heran saya.” gerutu Lik Gembus memprihatinkan nasibnya.

Hm…., saya juga heran, ketika saya sekolah dulu pun pernah mengalami hal demikian. Setiap tahun selalu ganti buku baru. Setiap tahun ganti seragam baru. Padahal seragam yang lama masih bagus, masih layak pakai. Tapi murid diwajibkan membeli. Kalau tidak memberi maka rapot catur wulan (ketika itu masih memakai sistem catur wulan,dan sekarang sudah dikembalikan lagi ke sistem semester) tidak akan diberikan kepada orang tua murid. Sekolah swasta dan negeri tidak ada bedanya. Semua berlomba-lomba menjadikan sarana dan prasarana pendidikan sebagai ladang bisnis yang menggiurkan. Sebagai lahan basah yang mengundang untuk dipijak. Meski itu lumpur kotor dan berbau. Saya pikir jaman reformasi dan jaman-jaman setelahnya sedikit demi sedikit akan merombak sistem dalam dunia pendidikan. Sistem yang memudahkan murid untuk lebih mudah maju dalam pendidikan dan memudahkan orang tua dalam memberikan pendidikan setinggi-tingginya kepada anaknya. Tapi kenyataannya?

”Lagian yo Mbak Cenil yo, yang namanya kewajiban anak sekolah itu kan belajar dan belajar. Belajar sebaik-baiknya, sehingga bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Bukan karep belajar karena diiming-imingi handphone atau piknik ke luar negeri. Kalo itu namanya bukan mendidik, tapi malah mblondrokke anak. Anaknya memang jadi pintar, tapi belum tentu sifatnya juga baik. Hayoooo… leres mboten Mbak? Lha nanti jangan-jangan anak saya ketika besar nanti akan jadi seperti anggota-anggota dewan yang tukang ngapusi dan nilep duit rakyat itu. Belum lagi ditambah dengan banyak skandal seks di kalangan dewan. Biyuh-biyuh…. amit-amit si Kenthus, ojo tirun yo le yoooo…..” sahut Lik Gembus menggugah lamunan saya.

Jossss….. , touche! Sekali lagi sudut pandang Lik Gembus tepat sasaran. Saya dan Pakde Bejo manggut-manggut berbarengan. Entah apakah Pakde Bejo akan tetap meneruskan budaya hadiahnya kepada anaknya atau akan menghentikannya setelah kena smet dari Lik Gembus ini.

Saya keluarkan selembar lima ribuan untuk membayar makanan dan minuman saya. Sambil memberikan uang kembalian, Lik Gembus berkata, ”Mbak Cenil, besok sore saya libur jualan ya. Mau ke Waduk Gadjah Mungkur. Ngajak Kenthus dolan mancing.”

”Lho, tadi katanya nggak mendidik kalo memberi hadiah-hadiah baik berupa barang atau piknik pada anaknya. Lha kok itu malah mau piknik ke waduk to Lik? Ora sumbut karo omongane dhewe.” protes saya.

”Ini bukan piknik hadiah Mbak Cenil, cuma refreshing biar besok pas masuk sekolah lagi si Kenthus sudah semangat lagi belajarnya. Siapa tahu semester depan dia bisa ranking satu. Hehehe…. jawab Lik Gembus.

Walah, saya malah jadi bingung sendiri mengikuti jalan pikiran Lik Gembus. Katanya tidak punya uang kok bisa piknik ke Waduk Gadjah Mungkur. Mungkin saja diundang saudara atau bagaimana, saya tidak mau berprasangkan yang tidak-tidak. Masa saya mau menyamakan Lik Gembus dengan anggota dewan yang terhormat? Lha apa yang mau dikorupsi dari dagangan pisang owol dan wedang jahe?

Ketika saya melangkah meninggalkan angkringan Lik Gembus, lamat saya dengar Lik Gembus nembang Gambuh.

Sekar gambung ping catur
Kang cinatur polah kang kalantur
Tanpa tutur katula-tula katali
Kadaluarsa katutuh
Kapatuhpan dadi awon

”seseorang yang bertingkah laku buruk bukan berarti karena dia bertabiat jahat”

 

Salam,

Lby (24-06-11;16:17)

 

Disclaimer:

Tokoh-tokoh yang ada dalam tulisan ini hanyalah fiktif belaka. Ide tulisan diambil dari kejadian yang ada di lingkungan sekitar maupun yang ada dalam imajinasi penulis yang diangkat dalam bentuk cerpen sebagai bentuk refleksi sehingga penulis berharap pembaca bisa saling menyentuh hati satu dan yang lain.

Share This Post

Posted by Monday, 27 June 2011 on 09:24.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

130 Responses to “Seragam Sekolah dan Ranking Tiga”

Pages: « 13 … 12 11 10 9 8 [7] 6 5 4 3 2 … 1 »

  1. 70
    HennieTriana Oberst Says:

    Lby, numpang ketawa ya..lucu liat foto di komentar ISK jadul abis.

  2. 69
    J C Says:

    Fitness, spinning, body jump…hhhmmm…ini neolib tulen yang menyamar dan mengaku jadi neosocialist…
    (Bisa-bisanya fitness sementara orang mencari sesuap nasi jadi kuli panggul di pelabuhan, kalau Itsmi fitness karena pilihan, bayar membership, kalau kuli pelabuhan memang HARUS ‘fitness’ untuk makan. Duit membershipnya khan bisa untuk beli beras kuli pelabuhan tsb untuk sekeluarga selama satu tahun)

    Nuchan, waduh jangan donk, otakku tidak sampai kalau harus pakai literatur segala…

  3. 68
    Nuchan Says:

    Hahahhaa kayaknya si Itsmi mau cari literatur dulu Mas Josh hahhaha

    Kalo Itsmi lagi pening, dia mesti cari-cari kamus dulu hahhahhaa..kalo nga malas dia jawab hahhahha…Dasar Atheis!Mak Lampir! hahhahaha ampun dah…

  4. 67
    Itsmi Says:

    Jc, komentarmu nanti dibaca sekarang mau pergi fitness, spinning dan body jump…..

  5. 66
    J C Says:

    Waduuuhhh…si Nuchan sampai lompat keluar dari pertapaannya…

    Itsmi, sekali lagi saya katakan juga, bahwa pemikiranmu begitu karena kamu pindah, tumbuh dewasa, tinggal dan bekerja di negara sosialis. Aku cukup yakin kalau kamu di Amerika, cara berpikirmu bisa jadi bertolak belakang dengan apa yang kamu pikir sekarang. Tapi aku tidak mau berandai-andai, faktanya kamu di Belanda.

    Kamu sendiri tetap pada pendapatmu mengenai nasi kucing adalah simbol neolib. Dulu nasi kucing memang simbol kemiskinan, sekarang bukan lagi. Kamu bersikeras begitu karena kamu tidak pernah tinggal, menetap dan berpenghidupan di sini dalam kurun waktu cukup lama. Mungkin seperti kamu bilang, bahwa kamu tinggal bersama kaum miskin, itu berapa lama? Ada 5 tahun? Tiga tahun mungkin? Atau hanya beberapa minggu atau bulan saja?

    Ayo kita hitung sekarang. Jumlah pegawai kami 10 orang, sudah bekerja sekitar 3 tahun, berarti ada penghidupan 10 orang PLUS keluarganya. Dari situ bisa membiayai anaknya sekolah, bisa membiayai anaknya menempuh pendidikan, mengirimkan uangnya ke kampung halaman untuk orangtuanya, saudara-saudaranya. Aku dan istri tahu jelas dan persis ke mana semua overhead cost tiap bulan itu pergi. Kamu ngomong masalah PAJAK? Tidak fair donk membandingkan perpajakan di Belanda dan di sini. Harus diakui bahwa pajak di Indonesia lebih banyak bocornya daripada tahu ke mana duit pajak rakyat itu. Kalau kamu mau membandingkan perpajakan, bandingkanlah dengan negara yang sama-sama tingkatnya, misalnya Swiss, Germany, dan negara Eropa lain, yang jelas ke mana duit pajak itu digunakan. Tidak fair kamu membandingkan pajak di sana dan di sini.

    Aku lebih suka dan lebih jelas dengan kegiatan nyata yaitu employment yang chain effect’nya jauh lebih besar daripada sumbangan. Kalau aku terus terang keberatan, bayar pajak mencapai 30%? 40%? Kemudian duit pajak itu digunakan untuk membiayai gelandangan homeless dan jobless. Waktu aku kuliah, dapat uang saku dari beasiswa NLG 1350, sementara gelandangan di depan C-1000 tiap hari kerjanya mabuk, jalan kesana kemari, jaket kumal dan bau, sambil menyeret satu crate beer, itupun masih dikasih duit sama pemerintah NLG 1800. Aku yakin seyakin-yakinnya, kalau kamu BISA MEMILIH untuk tidak membayar pajak segitu tinggi dan tahu duit pajak untuk membiayai gelandangan homeless dan jobless, aku yakin kamu juga keberatan membayar pajak segitu. Masalahnya adalah SISTEM HUKUM di sana membuat kamu TIDAK PUNYA PILIHAN lain, tapi HARUS BAYAR PAJAK…

    Kondisiku di Indonesia membuatku memiliki PILIHAN, yaitu MEMBAYAR PAJAK yang persentasenya tidak segila di sana, PLUS creating employment. Membuatku tidak merasa berdosa ketika baru saja selesai nonton film di AXN TV cable di rumah ada Hawaii Five-O. (tetap dibilang neolib ini…enak-enak nonton tv cable dengan flatscreen tv sambil ngemil stroopwaffel dan nyeruput kopi, sementara banyak orang yang kata Itsmi hanya sanggup beli nasi kucing sehari-harinya… ).

  6. 65
    Nuchan Says:

    Ahhhhhhhhhhhhhhh aku marah sama kamu Itsmi aaaahhhhhhhhhhh…aku berharap kamu kebakaran jenggot hahhahahhaa…

    Koq kamu tau sih aku sedang menggoda kamu hahhahahhaa

    Payah si Itsmi!!! makin pintar aja dia menganalisa komen sekaranh hahhahhaa….

    Okay bro, tos dulu yah…Salam jitak dari gue yah…muaaaccchhhh!!!!

  7. 64
    Itsmi Says:

    Hai Nuchan, apa kabar ? lama nggak muncul, senag ketemu kamu lagi biar kepalamu harus di ketok hahahah

    Jawaban saya pada Jc tidak ada kaitan dengan pamer karena saya di tanya langsung olehnya. Kalau kamu melihat jejujuran menjawab pertanyaan JC sebagai pamer, itu sudah jelas bukan pemikiran saya. Juga dalam diskusi, problemnya saya tinggal di Belanda jadi, yang saya bisa lakukan itu hanya sumbangan. Antara lain pada yayasan piatu dan famili famili yang kurang.

    Juga kalau pamer, itu juga tidak masalah kan ? kalau kita menganalisakan kedalam itu pemikiran bilang pamer itu dari kecemburuan, nah dengan pemikiran kecemburuan supaya orang diam. Seperti aja kalau orang bilang, duit tidak penting, tentu sangat penting, Cuma karena orang yang berkata begitu tidak punya duit jadi, katakan duit tidak penting….

    Begitu juga jawaban Jc, saya tidak melihat Jc sebagai pamer tapi sebagai penjelasan dari pemikirannya bahwa dengan aktif dalam sosial dan mempunyai pegawai 10 orang dia bukan neo liberaal.

  8. 63
    lembayung Says:

    Mbak Saw, hehehe…. Saya blm ngalami punya anak sih. Jd ya blm pusing2 amat. Kalo ada asuransi pendidikan utk anak, kira2 bisa menolong ngga ya?

  9. 62
    lembayung Says:

    Kang anoew, lho, kan saya nulisnya “kurang keranjang”. Hahaha….

  10. 61
    Nuchan Says:

    Hmmm..baca komennya udah kemana-mana nie….ini si Itsmi cerewet kayak nenek lampir aja sich…semua komen nga ada yg pas buat Itsmi…ITSMI kalo di Indonesia kamu pasti dikasih 2 gelar paling yahud..nenek lampir dan OMDO hehehehehe

    Tentu saya sadar, oleh karena itu saya sebagai individu dalam pekerjaan saya, saya selalu mengkombinasikandan dengan sosial nya. Seperti dari keuntungan 10% untuk sosial.

    CKCKCK KALO KAMU PAMER BOLEH…KENAPA JC NGAK? KALO CUMA NYUMBANG 10% ITU NGA ADA APA-APANYA ITSMI…ITU TAK BERARTI SAMA SEKALI…

    KAMU PERNAH DENGAR ISTILAH, MEMBERI DARI KELEBIHAN KAMU ITU TIDAK BERARTI..TAPI MEMBERI DARI KEKURANGAN KAMU ITU BARU LUAR BIASA….

    SAYA KASIH CONTOH BEGINI :
    KAMU MENYUMBANG 10% DARI UANGMU YG 10JUTA : ARTINYA KAMU NYUMBANG 1JUTA

    TAPI SEORANG MISKIN YG HANYA MEMILIKI UANG CUMA 10,000 RUPIAH
    TAPI SELURUHNYA DISUMBANGKANNYA..ARTINYA DISUMBANGKANNYA 100%…

    COBA KAMU PIKIRKAN BAIK-BAIK SELAKU ORANG ATHEIS…BUKANKAH KAMU SANGAT BANGGA DENGAN BERPIKIR LOGISMU?

    YG DILAKUKAN JC MEMANG KECIL TAPI DARI HATI…ITU LEBIH BAIK….

    NACH KAMU SILAKAN NGAMUK SEKARANG HAHHAHAHAHAHA EGP!DASAR MAK LAMPIR HAHHAHHA

Pages: « 13 … 12 11 10 9 8 [7] 6 5 4 3 2 … 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)