Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Reuni, apa kata kawan?

Tuesday, 28 June 2011

Viewed 4181 times, 2 times today | 47 Comments |

Bagong Julianto, Sekayu-Muba-Sumsel


Awal Mei 2011

Satu sms saya terima. Ternyata dari kawan kuliah 30 tahun yang lalu. Isinya: undangan dan permintaan konfirmasi untuk reuni temu kangen setelah pisah sekian waktu.. Diundang ke Kampus Kentingan Solo, konfirmasinya maksimal seminggu sebelum hari H tanggal 04 Juni: apakah mau tidur/menginap di hotel seputar kampus yang telah digratiskan panitia atau tidak mau ikuti permintaan panitia, artinya tidur di rumah keluarga dan atau lain tempat. Saya tentu saja pilih ngumpul keluarga, ada Ibu, adik dan keponakan yang menyapa : ”Pak Dhe”.

 

03 Juni 2011

Sekayu-Palembang-Jakarta-Solo. Sendirian. Sebetulnya Agus mau ikut. Batal, nyaris bentrok dengan jadwal semesterannya. Mama Agus jaga gawangan di Sekayu. Apa boleh buat.

Senja di bandara Adisumarmo-Panasan, Solo. Wong Solo memang nggumunke, bikin orang setengah heran-setengah takjub. Menikmati pemandangan naik-turunnya pesawat pun sudah bisa menggerakkan ekonomi mikro, haalah, kalimat apa ini? Di pagar sisi barat selatan berbatasan dengan jalan umum, ramai orang berwisata pandang pesawat sambil menikmati jajan jagung bakar, rebus dan aneka panganan lain. Di Polonia-Medan, di Sultan Syarif Qasyim-Pekanbaru, ada juga orang menikmati naik-turunnya pesawat, tapi tak semeriah Solo.

 

Malam di Lombok Ijo

Saya sendirian menemukan restoran Lombok Ijo. Info dari Gun: “Gong, mereka makan malam, cepat-gabunglah”. Saat saya kontak Wo, dia memilih untuk ngumpul keluarga dulu, karena juga baru nyampe dari Medan.

“Ini Bagong yang kuecil dulu yaa?”.

“Yang kerjanya main catur?!”

“Lhah, rambutmu putih juga! Kelamaan main di bawah pohon jambu, yaa?”

Saya menyalami beberapa kawan di kiri-kanan meja panjang itu. Sambil menyantap ayam goreng, mereka berkisah dan mengingat masa lalu. Entah kenapa, seputar saya ternyata dipenuhi barisan putih. Barisan uban….Secepat inikah kami tua dan beruban?! Dan saya tak mengenali mereka satu per satu, walau sebutan “’Gong!” itu bersambungan. Saya nggak cari pembenaran dari fakta bahwa jumlah awal kami adalah 184 mahasiswa (dan kini tercatat tinggal 179, yang 5 sudah sowan Gusti). Lupa nama, tapi nggak lupa wajah kawan!.

“Kenapa nggak disemir saja?!”.

“Iya, dibigen!”.

“Murah  lho, nggak sampai lima puluh ribu!”. Itu semua tanda perhatian dan ada nada kasih sayang.

“Hampir lima puluh tahun kami nunggu warna ini muncul! Sudah muncul,  mau dihitamkan lagi?! Enggak ah!”, jawaban ini dari seorang kawan beruban dan nampak pula ompongnya. Saya setuju. Pasti ribet nyemir rambut sebulan sekali. Teringat GM di Aceh jadul.   Saat sang nyonya balik ke Medan beberapa minggu, beliaupun  kehilangan penyemir rambutnya. Rambut putih segera muncul di sekitar telinganya dan betapa tangannya sering ditutupkannya sambil terus ngusap rambut itu. Salah tingkah. Kami menikmati saja ulah salah tingkahnya dengan berbicara  dan terus menatap telinganya…. Saat bubaran dan saling bersalaman, seorang kawan berjilbab menghampiri:

“Hayo, masih ingat saya enggak?! Kita satu SMA juga lho?!”, suara lembut dan senyum teduhnya sungguh tidak berubah. Tapi, siapa ya?! Blank. Betul-betul saya melupakan namanya! “Sorry. Saya lupa. Maklum, ini kepala sudah dibebani bunga jambu”, haa, uban bisa jadi satu alasan. Uban untuk pembenaran tabiat lupa nama.

“PR sampai besok yaa?!”, sungguh intonasi lembut suara dan senyumnya itu, menohok memori saya.

 

04 Juni 2011

Saya dijemput Gat’ dan Wo. “Mau ngasih sambutan apa?!”, celetuk Gat’ manakala dilihatnya saya berbatik lengan panjang sementara mereka casual. Batik itupun saya lepas. Jam 11.00 di teras lobby Kampus Pertanian Kentingan, kami dibagi kaos yang mesti langsung dikenakan. Kaos reuni, temu kangen fakultas pertanian angkatan 1981. Ini-itu. Begini-begitu. Bingkisan untuk Dosen dan pensiunan. Dan akhirnya: makan-makan: sate, sego liwet, thengkleng, pecel, cabuk rambak dan aneka kue-panganan umbi-umbian, kacang rebus, pisang rebus dsb. Tiba-tiba, si senyum lembut dan wajah teduh itu menghampiri saya:

“Sudah ingat siapa saya?!”, sungguh saya lupa nama! Ingin saya jewer telinga sendiri! Ingin saya garuk kepala beruban saya yang nggak gatal. Saya hanya ingat, dia sekelas dengan Michele. Si cantik blasteran londo. Saya malu kepada diri sendiri, ternyata dia yang dulu berambut pendek sebahu dan sekarang berjilbab, dengan senyum dan wajah teduhnya yang saya ingat memang baik hati, masih ingat saya yang dulu berlingkar pinggang 28 dan sekarang menuju 35. Saya semakin malu jika hal ini berarti saya adalah pemilih dalam mengingat kawan dan teman sementara yang saya jumpai adalah kawan yang tetap mengingat saya. Satu kesempatan, saya bertanya ke kawan:

“Siapa dia, saya lupa?!”.

“Darti”, kata Atik. Memori saya tersibak. Saya hampiri dia:

“Sri Widarti?!”.

“Ya, tapi tadi nanya Atik ‘kan?!”, senyumnya lebih mengembang……

 

Sampunnnn. Suwunnnnn. (BgJ, 0611)

 

Share This Post

Posted by Tuesday, 28 June 2011 on 10:28.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

47 Responses to “Reuni, apa kata kawan?”

Pages: [5] 4 3 2 1 »

  1. 47
    Dewi Aichi Says:

    Pak BJ, wah adoh…untuk mencapai seket, masih 6 kilo lagi, tapi kan aku pendek, item, dekil, hidup lagi he he he

  2. 46
    bagong julianto Says:

    DA…
    Makmur, subur…
    ngisor nduwur…
    cedhak sumur..
    sandinge kasur….

    Nek mung ‘ra nganti seket kilo…. ora lemu kuwi…

  3. 45
    bagong julianto Says:

    Nev,

    Olahraga itu biasa di tempat umum, ulahraga itu yang nggak diumumkan, buktinya keramas!

    Soal nggragas, saya yakin sama……whua….

    ‘Kok nggak sreg soto lamongan? Rugi ‘to?!
    Bagi saya semua soto uenaaakkkk!
    Kecuali sotoloyo…….

  4. 44
    Dewi Aichi Says:

    Pak BJ , haiyo no….jelas, nek wong ndeso, lemu ki tandane makmur..

  5. 43
    bagong julianto Says:

    DA…..

    Lebih lemak berarti lemu….. tur anget…… whuaaaa

  6. 42
    Dewi Aichi Says:

    Kata kawan sih aku lebih….hmmm…lebih itu, bilang ngga ya? Ntar dibilang sombong klo aku bilang..! Baiklah , aku bilang saja, kata kawan, aku lebih , kelebihan lemak katanya ..!

  7. 41
    nevergiveupyo Says:

    golek bojo sik ora hobi masak ya Oom Bag?? ya

    sepertinya ak berada di jalur yang tepat… hihihihihihihi

    olahraga rutin apa ulahraga rutin Oom?? hehehehe

    tapi bener juga.. saya juga kalo di rumah jadi nggragas ‘ok Oom…soale banyak yang di maluku sini ndak ada (contone : gudhangan, walang kayu lsp)

    dhe yung –> timlo-ne ya sisan. tapi soto ki jadi ke-kangenan wajib..soale neng kene anane soto lamongan. ndak sreg ak soto kuah-e kental n kuning… cari yang bening2… hehehehe

Pages: [5] 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)