Bagong Julianto, Sekayu-Muba-Sumsel
Awal Mei 2011
Satu sms saya terima. Ternyata dari kawan kuliah 30 tahun yang lalu. Isinya: undangan dan permintaan konfirmasi untuk reuni temu kangen setelah pisah sekian waktu.. Diundang ke Kampus Kentingan Solo, konfirmasinya maksimal seminggu sebelum hari H tanggal 04 Juni: apakah mau tidur/menginap di hotel seputar kampus yang telah digratiskan panitia atau tidak mau ikuti permintaan panitia, artinya tidur di rumah keluarga dan atau lain tempat. Saya tentu saja pilih ngumpul keluarga, ada Ibu, adik dan keponakan yang menyapa : ”Pak Dhe”.
03 Juni 2011
Sekayu-Palembang-Jakarta-Solo. Sendirian. Sebetulnya Agus mau ikut. Batal, nyaris bentrok dengan jadwal semesterannya. Mama Agus jaga gawangan di Sekayu. Apa boleh buat.
Senja di bandara Adisumarmo-Panasan, Solo. Wong Solo memang nggumunke, bikin orang setengah heran-setengah takjub. Menikmati pemandangan naik-turunnya pesawat pun sudah bisa menggerakkan ekonomi mikro, haalah, kalimat apa ini? Di pagar sisi barat selatan berbatasan dengan jalan umum, ramai orang berwisata pandang pesawat sambil menikmati jajan jagung bakar, rebus dan aneka panganan lain. Di Polonia-Medan, di Sultan Syarif Qasyim-Pekanbaru, ada juga orang menikmati naik-turunnya pesawat, tapi tak semeriah Solo.
Malam di Lombok Ijo
Saya sendirian menemukan restoran Lombok Ijo. Info dari Gun: “Gong, mereka makan malam, cepat-gabunglah”. Saat saya kontak Wo, dia memilih untuk ngumpul keluarga dulu, karena juga baru nyampe dari Medan.
“Ini Bagong yang kuecil dulu yaa?”.
“Yang kerjanya main catur?!”
“Lhah, rambutmu putih juga! Kelamaan main di bawah pohon jambu, yaa?”
Saya menyalami beberapa kawan di kiri-kanan meja panjang itu. Sambil menyantap ayam goreng, mereka berkisah dan mengingat masa lalu. Entah kenapa, seputar saya ternyata dipenuhi barisan putih. Barisan uban….Secepat inikah kami tua dan beruban?! Dan saya tak mengenali mereka satu per satu, walau sebutan “’Gong!” itu bersambungan. Saya nggak cari pembenaran dari fakta bahwa jumlah awal kami adalah 184 mahasiswa (dan kini tercatat tinggal 179, yang 5 sudah sowan Gusti). Lupa nama, tapi nggak lupa wajah kawan!.
“Kenapa nggak disemir saja?!”.
“Iya, dibigen!”.
“Murah lho, nggak sampai lima puluh ribu!”. Itu semua tanda perhatian dan ada nada kasih sayang.
“Hampir lima puluh tahun kami nunggu warna ini muncul! Sudah muncul, mau dihitamkan lagi?! Enggak ah!”, jawaban ini dari seorang kawan beruban dan nampak pula ompongnya. Saya setuju. Pasti ribet nyemir rambut sebulan sekali. Teringat GM di Aceh jadul. Saat sang nyonya balik ke Medan beberapa minggu, beliaupun kehilangan penyemir rambutnya. Rambut putih segera muncul di sekitar telinganya dan betapa tangannya sering ditutupkannya sambil terus ngusap rambut itu. Salah tingkah. Kami menikmati saja ulah salah tingkahnya dengan berbicara dan terus menatap telinganya…. Saat bubaran dan saling bersalaman, seorang kawan berjilbab menghampiri:
“Hayo, masih ingat saya enggak?! Kita satu SMA juga lho?!”, suara lembut dan senyum teduhnya sungguh tidak berubah. Tapi, siapa ya?! Blank. Betul-betul saya melupakan namanya! “Sorry. Saya lupa. Maklum, ini kepala sudah dibebani bunga jambu”, haa, uban bisa jadi satu alasan. Uban untuk pembenaran tabiat lupa nama.
“PR sampai besok yaa?!”, sungguh intonasi lembut suara dan senyumnya itu, menohok memori saya.
04 Juni 2011
Saya dijemput Gat’ dan Wo. “Mau ngasih sambutan apa?!”, celetuk Gat’ manakala dilihatnya saya berbatik lengan panjang sementara mereka casual. Batik itupun saya lepas. Jam 11.00 di teras lobby Kampus Pertanian Kentingan, kami dibagi kaos yang mesti langsung dikenakan. Kaos reuni, temu kangen fakultas pertanian angkatan 1981. Ini-itu. Begini-begitu. Bingkisan untuk Dosen dan pensiunan. Dan akhirnya: makan-makan: sate, sego liwet, thengkleng, pecel, cabuk rambak dan aneka kue-panganan umbi-umbian, kacang rebus, pisang rebus dsb. Tiba-tiba, si senyum lembut dan wajah teduh itu menghampiri saya:
“Sudah ingat siapa saya?!”, sungguh saya lupa nama! Ingin saya jewer telinga sendiri! Ingin saya garuk kepala beruban saya yang nggak gatal. Saya hanya ingat, dia sekelas dengan Michele. Si cantik blasteran londo. Saya malu kepada diri sendiri, ternyata dia yang dulu berambut pendek sebahu dan sekarang berjilbab, dengan senyum dan wajah teduhnya yang saya ingat memang baik hati, masih ingat saya yang dulu berlingkar pinggang 28 dan sekarang menuju 35. Saya semakin malu jika hal ini berarti saya adalah pemilih dalam mengingat kawan dan teman sementara yang saya jumpai adalah kawan yang tetap mengingat saya. Satu kesempatan, saya bertanya ke kawan:
“Siapa dia, saya lupa?!”.
“Darti”, kata Atik. Memori saya tersibak. Saya hampiri dia:
“Sri Widarti?!”.
“Ya, tapi tadi nanya Atik ‘kan?!”, senyumnya lebih mengembang……
Sampunnnn. Suwunnnnn. (BgJ, 0611)
July 1st, 2011 at 16:35
Yung,
Oooo, sop buntut’e maknyusss….. wingi aku yo mung es ganja thok…. es degan saja.
Teko soko Sumatera wingi langsung disuguhi ngAdhem-Ayem, lombok emprite tak sikat kabeh.
Cecek’e gedhi-gedhi tak sikat kabeh. Swiwi sak balunge tak sikat kabeh. Endhog’e tak sikat kabeh.
Wis, nek mbok bengok’i: nggragas tenan…. aku ra krungu….. Neng Sumatera ora ono kuwi…
July 1st, 2011 at 15:35
@dhe yo, siap thok nu nek soto. Opo ora pengen timlo to? menurutku kok luwih enak timlo daripada soto.
July 1st, 2011 at 15:21
nev<
Maksud'e kasus perut njembhling?
Iyo, syarate uabot: golek'o bojo sing ora iso masak….
Piye?
Ning nek awakmu rutin olahraga opo ngegym ngono mestine iso tetep ramping'ok!
Kami berenam, sing njembhling telu, rodok ramping telu.
Berarti peluangmu 50%…..
July 1st, 2011 at 15:19
dhe yung.. reunian yukk… sambil ngupi2.. (tapi ak pengen maem soto sih)
July 1st, 2011 at 14:59
oh iya, sop buntut nya Lombok Ijo juga mak nyussss lho….
July 1st, 2011 at 14:38
siappp……
July 1st, 2011 at 14:33
lho..udah meninggalkan gundul pringis to Oom Bag??
wah..pelajaran berharga ini..saya dulu-dan sekarang masih- menthilis…jangan sampai kena kasus begini hehehehe
July 1st, 2011 at 14:11
Lho, lhah ‘kok mutung sarungan……
Mengko wae, Sekatenan mulih meneh….
Arep golek celengan gajah…..
July 1st, 2011 at 13:22
wah,pokokmen aku mutung ora direunini.
July 1st, 2011 at 12:05
‘Yung………
Sorry tenan, ‘ra ngontak!
Wingi yo mung acara reuni kuwi thok mulih Solo.
Jemuah sore tekan Solo. Ngantek mbengi lek-lekan.
Setu ngantek mbengi ‘yo srunthal-srunthul karo konco.
Minggu podho wae, malah blusukan ngantek Kec. Weru Sukoharjo, ono konco dadi tani organik.
Senin, sedino muput karo ponakan. Seloso isuk wis budhal balik….
Sorry…..
Pengin nyang Sabar Menanti wae ora keturutan’ok!