Belepotan Itu Niscaya

Janoary M. Wibowo

 

Kita melihat dosa-dosa besar terjadi di jalanan, di tiap rumah, tapi kita memakluminya. Kita memakluminya karena itu terjadi setiap hari. Kita menganggapnya remeh temeh.

—John Doe, dalam film Se7en—

 

Catatan Sepuluh

Jauh sana dalam kabut basah ketika hujan yang terus saja turun, aku lahir. Ayahku harimau kumbang, ibuku ular yang langsung membuangku sesaat setalah kelahiranku. Tanganku bercakar panjang, taringku berbisa. Aku bukan lelaki, bukan perempuan. Bersisik hitam. Hatiku yang setia meski cacat. Setia pada pembantaian. Seisi gunung takut padaku. Mereka takut dibunuh, mereka takut dibantai. Tapi aku tak memakan bangkai, tidak tumbuhan, tidak juga daging segala daging. Aku tumbuh melahap rasa takut, bernafas dari gelisah jerit makhluk rimba, juga rasa takut dan dendam para manusia, mengembara bersama angin, menghasut, memperkosa, dan yang paling kusukai adalah membunuh rasa kemanusiaan… pernah aku diburu warga kampung, ditembak dan dicincang, lalu bangkaiku ditinggal seadanya. Tapi tentu kau tahu, AKU TAK PERNAH DAN TAK AKAN MATI. Karena aku bernafas dari murninya kerakusan, dendam, dan pembantaian…


Membaca teks—entah itu teks pada lazimnya atau teks menurut Derrida—selalu memberi ruang penafsiran pada pembaca. Ya, teks itu multitafsir. Banyak makna di dalamnya. Teks apapun, ditulis oleh siapapun, mempunyai makna. Makna itu dibawa oleh tanda. Tanda-tanda di tulisan Adi Yudo Hartono, atau biasa dipanggil Ahong, di atas berupa kata-kata yang ditata. Penataan kata bisa jadi secara kaidah bahasa, atau secara logika bahasa. Secara kaidah, tulisan Ahong boleh jadi saya menyebutnya sebagai prosa. Tapi, logika bahasa yang diusung, tulisan ini puisi. Ya, puisi sebab tulisan ini kental. Sekental ironi dan paradoks yang dibawanya. Pembaca pun merdeka untuk menafsirkan teks. Baik dengan menerka-nerka ulang maksud penulis, atau menciptakan makna baru berdasarkan teks yang kental itu.

Membaca teks—yang kaidahnya masih ada dalam kungkungan oposisi biner—selalu mengusung kekentalan yang khas. Ayahku harimau kumbang, ibuku ular. Langsung membuangku sesaat sebelum kelahiran. Aku di teks itu menandakan apa, atau siapa ? Absurd. Tidak masuk akal. Namun, kekentalan itu lumer, kemana-mana. Di kalimat-kalimat berikutnya, tanda-tanda itu mulai menunjukkan maknanya. Paling tidak pada saya. Tanganku panjang, taringku berbisa. Aku bukan lelaki, bukan perempuan. Seperti mengetahui siang malam, siang itu terang, malam itu gelap. Ya, jika langit gelap, itu berarti bukan siang. Jika langit terang, itu bukan malam. Tapi, hari ini hujan. Seperti Aku dalam teks, bertangan tapi bukan laki-laki bukan juga perempuan. Bertangan itu bisa jadi menandakan manusia, atau primata. Laki-laki dan perempuan, itu juga menyeret logika saya ke arah manusia. Jika jantan dan betina, pasti binatang. Tapi, Aku belum tentu manusia. Bisa jadi, yang berhubungan dengan manusia.

Rousseau mengatakan manusia pada dasarnya adalah makhluk tak berdosa. Tetapi, masyarakat tempat manusia hidup itu kawah dosa. Manusia hampir tak mungkin hidup tanpa masyarakat. Manusia hampir tak mungkin tidak belepotan dosa. Ya, aku adalah dosa. Bisa jadi, dunia ini penuh dengan mungkin dan bisa jadi. Bersisik hitam. Hitam itu kelam, hitam itu suram. Walau saya suka yang hitam manis, tapi manusia-manusia lain mengasosiasikan hitam dengan kekelaman. Buruk, gampangnya. Dosa itu buruk, kalau ada. Setia pada pembantaian, mereka takut dibunuh, mereka takut di bantai. Pembantaian—para fundamentalis keyakinan mungkin menyebutnya sebagai penghukuman—akhir ada di neraka. Neraka itu tujuan wisata, tiketnya adalah dosa. Dan Aku, yang semacam dosa itu, setia pada pembantaian. Aku itu tiket manusia untuk dibantai. Ih, ngerinya.

Dosa itu bukan makhluk hidup, tapi dia seperti hidup. Dia tidak butuh makan. Tapi dia bernapas. Ya, dosa itu bernapas. Walau bernapas, dosa tetap bukan makhluk hidup. Yang tidak hidup tidak akan pernah mati. Dosa itu seperti hidup, sebab dia bernapas. Selebihnya, dia bukan makhluk hidup. Semoga dosa tidak merokok, saya tidak suka napas bau rokok. Dosa bernapas dari kerakusan, dendam, dan kekerasan. Ya, mirip dengan apa yang saya baca di puisinya Agung Hima, menjelma Dang. Dang, adalah yang suka silang sengketa. Dang, itu bukan manusia tapi ada dalam diri manusia. Dosa pun sama. Ya, manusia rakus, manusia punya harapan. Manusia yang berharap selalu mempunyai kemungkinan kecewa. Kekecewaan itu, konon, kerapkali melahirkan dendam. Dendam, jika sudah tua, bisa jadi melahirkan pembantaian, kekerasan.

Mungkin begitulah silsilah keluarga dosa yang tinggal di tubuh manusia. Eh, ternyata dosa punya keluarga. Keluarga yang bagian terkecil dari masyarakat. Manusia itu pada dasarnya tak berdosa, dan masyarakat itu kawahnya dosa. Keluarga pun juga. Tapi, manusia harus berkeluarga. Manusia harus bermasyarakat. Manusia harus berkumpul dan bersuka-cita dengan manusia lain. Manusia pasti akan berkumpul dan bertikai dengan manusia lain. Catatan sepuluh Ahong membawa makna ke kepala saya. Manusia berdosa itu niscaya. Pahala? Ah, bukan tugas manusia memikirkannya. Sepertinya ada yang sudah ditugaskan untuk menghitung dosa dan pahala manusia. Tugas manusia, bagi saya, itu menemukan jalan pulang.

= apresiasi karya Ahong Pekok yang diberi identitas (bukan judul) Catatan Sepuluh, yang didiskusikan di Obrolan Memula Eja #11 Komunitas Ruang Eja, Semarang, 31 Mei 2011.

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung, Janoary M. Wibowo! Make yourself at home. Ditunggu artikel-artikel lainnya. Terima kasih kepada Dewi Aichi yang mengenalkannya ke Baltyra.

 

About Janoary M. Wibowo

Tumbuh berkembang dan mencintai sepak bola dengan mengidolakan AC Parma, membiasakan diri beratribut Manchester United; posisi murni wingback kiri dengan gaya bermain cutting inside, menyisir kiri luar dan menikung ke dalam kotak penalti; menyukai puisi dan pisang goreng.

Arsip Artikel

8 Comments to "Belepotan Itu Niscaya"

  1. SU  3 July, 2011 at 17:46

    Amin, amin, Pak Djoko.

    Saya suka mikir kalau saya dan mama saja sebagai ibu dan anak masih punya standar keapikan dan kerapihan yang berbeda, apalagi yang namanya kesucian bagi Tuhan.

  2. Djoko Paisan  30 June, 2011 at 03:12

    SU Says:
    June 29th, 2011 at 17:21

    Dosa…..kalau baju kotor bisa dicuci dengan deterjen. Kalau tubuh kotor bisa dicuci dengan sabun. Kalau gigi kotor dicuci dengan pasta gigi. Manusia tidak bisa lepas dari dosa…….menurut saya hanya dengan darah Anak Domba (Isa Almasih) maka semua dosa-dosa bisa disucikan

    AMIN….!!!
    Karena hanya DIA yang memiliki dan menyandang nama KRISTOS…!!!!

  3. Lani  29 June, 2011 at 23:12

    salam kenal………selamat gabung di Baltyra……….

  4. HennieTriana Oberst  29 June, 2011 at 22:18

    Aku tahu jalan pulang.

  5. Dewi Aichi  29 June, 2011 at 22:06

    Tugas manusia bagi saya, adalah menemukan jalan pulang. Wah…menurutku ngga jelas nih…

  6. SU  29 June, 2011 at 17:21

    Dosa…..kalau baju kotor bisa dicuci dengan deterjen. Kalau tubuh kotor bisa dicuci dengan sabun. Kalau gigi kotor dicuci dengan pasta gigi. Manusia tidak bisa lepas dari dosa…….menurut saya hanya dengan darah Anak Domba (Isa Almasih) maka semua dosa-dosa bisa disucikan

  7. probo  29 June, 2011 at 16:16

    no loro…mngekor JC…salam kenal…..

  8. J C  29 June, 2011 at 15:45

    Keniscayaan…kekononan…itulah kehidupan…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.