Berlin, Pirna, Bastei en Dresden

Nunuk Pulandari

 

Berawal dari percakapan telefoon antara Belanda dan Berlin. Suatu percakapan telefoon yang menghubungkan kembali benang putih (bukan benang merah), suatu tali persahabatan dengan teman se Almamater FSUI … Duluuuu……Setidaknya setelah terputus selama 25 tahun yang lalu, benang putihnya sudah disambungkan kembali. Dalam telefoon terakhir terucap suatu undangan dan janji untuk saling mengunjungi. Dan kali ini saya yang dapat giliran lebih dahulu….

Sesungguhnya saya ingin menuliskan cerita kota-kota di atas secara berurutan. Tetapi sebagian besar foto Berlin ada di camera Lei yang tinggal di Brussel. Jadi dengan terpaksa saya akan menuliskannya berdasarkan data foto yang ada di camera saya saja. Bastei muncul lebih dulu. Yang lainnya baru muncul menyusul….

 

”Grand Canyon” kecil di Jerman, Pegunungan Batu Karang,  Bastei

Salah satu obyek wisata yang sempat kami kunjungi bersama dengan jeng Diah (sahabat lama yang baru bertemu lagi setelah 25 tahun berpisah dan biasa disapa dengan nama kesayangan “Utuk”),  adalah Pegunungan (Batu Karang) yang disebut Bastei. Untuk teman-teman yang pernah mengunjungi Grand Canyon di US, Bastei di Jerman meskipun bentuknya jauh lebih kecil tetapi mempunyai kemiripan berbagai bentuk batuannya. Hanya warna bebatuan di Bastei tidak banyak variasinya seperti di Grand Canyon.. Bebatuannya hanya dijumpai dalam warna abu-abu . Di sekitar bebatuannya nampak sangat rimbun dipenuh tumbuhan dan  tanaman dan tentunya Pegunungan Bastei ini juga tidak terbentang meluas seperti di Grand Canyon. Satu yang jelas bahwa di Bastei kita juga dapat menyaksikan salah satu fenomeen alam yang sama dengan di Grand Canyon. Sangat menarik untuk dikunjungi.

Sekedar gambaran untuk mengingatkan kembali tentang  Pegunungan Batu Karang Grand Canyon yang sempat saya kunjungi,  hampir dua tahun yang lalu, saya sertakan beberapa foto’s nya. Matahari saat itu bersinar dengan cerahnya…Dari kejauhan Grand Canjon nampak bagaikan terselubungi awan memutih….Karena itu dalam foto nampak seolah berkabut….

Foto 1. Tegar dan megahnya Cagar Alam: Grand Canyon.

Foto 2. Alam dengan segala kemungkinannya,  yangantara lain  juga dapat membentuk “sebuah” Piramide.

Foto 3. Salah satu lembah di Cagar Alam,  Grand Canyon dengan berbagai warna bebatuannya

Foto 4. Jos dengan latar belakang Cagar Alam Grand Canyon yang membentang luas .

Teman-teman, itu hanya sekedar beberapa foto’s dari Grand Canyon. Sekarang kita kembali lagi ke cerita tentang Bastei.

Pagi buta itu, teman saya diajeng Diah , panggilan mesranya jeng Utuk, sudah siap dengan perbekalan pikniknya. Jam setengah sepuluh kami berangkat dengan menaiki sebuah Caravelle ( semacam minibus) yang bisa dinaiki oleh 9 orang.

Tidak lama setelah meninggalkan rumah, dengan manisnya kedua buntut jeng Utuk, Rahma dan Rahman tertidur dengan pulasnya di jok mobil belakang…

Foto 5. Dengan nyenyaknya kakak beradik tertidur saling tumpang tindih, di jok mobil paling belakang.

Teman-teman, Bastei adalah sebuah Pegunungan Batu Karang yang berada di ketinggian 194 m diatas sungai Elbe. Sebuah Pegunungan Batu Karang yang sangat mengagumkan keindahannya. Tepatnya Pegunungan Batu Karang ini ada di  dekat daerah Rathen yang tidak begitu jauh dari Pirna (yang letaknya di sebelah tenggara kota Dresden) dan kota Wehlen. Bastei juga merupakan tonggak batas utama Taman Nasional “Sächsische Schweiz”.

Puncak tertinggi dari Pegunungan Batu Karang ini mencapai 305 meter di atas permukaan laut. Keindahan bentuk batu-batu di  Pegunungan ini terjelma karena adanya erosi akibat kikisan air yang terjadi. Tentu dalam jangka waktu yang suuuangat lama..Menurut data yang ada terjadi dalam kurun waktu,  plus minus satu milyun tahun yang telah berlalu.

Teman-teman, untuk mencapai Pusat Pegunungannya ternyata kita harus memparkir mobil di batas kompleks pegunungan itu. Desa Rathen adalah Pusat Pemberhentian akhir bagi para pengunjungnya.

Perjalanan berikutnya dilanjutkan dengan Pendelbus, yang selalu tepat waktu dan  frekwensi baik kedatangan dan keberangkatannya cukup padat. Ongkos Pendelbus untuk setiap keluarga ditarik biaya 4 Euro. Murah meriah, kalau dalam satu keluarga terdiri dari 6 atau 8 anggota keluarga.

Foto 6: Salah satu Pendelbus  yang mengangkut para pelancongnya, termasuk  Lei tentunya.

Perjalanan dari Pusat Parkir ke Bastei memakan kurang lebih 20 menit. Banyak diantara para pengunjungnya yang berjalan kaki atau naik sepeda.

Juga ada dari para pengunjungnya yang memilih berangkat dari arah lain. Dalam hal ini  mereka menggunakan “perahu” yang kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki….Untuk itu  mereka berangkat dari Dresden dengan naik semacam stoomboot yang menyusuri sungai Elbe. Lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki ….Ini dia yang disebut sport….Jalan kaki puluhan km… Mana tahan, kaki-kai yang terbiasa dengan hak sepatu yang runcing dan tinggi…..

Foto 7: Salah satu Lembah di tepi Sungai Elba yang bisa kami abadikan dari salah satu Puncak Panorama.

Pegunungan Bastei juga sering digunakan sebagai daerah pendakian dan hiking. Suatu medan pendakian  yang membentang sampai di Tsjechie dan Boheems Switzerland.  Kalau suatu saat ada teman yang hendak menginap di daerah sana, di batas kota yang datar juga  disediakan restaurant dan hotel. Hotel Ibis dengamn tariefnya yang tidak terlalu mencekik leher bisa menjadi pilihan pertama. Entah berapa harga sewanya. Kalau untuk harga-harga di restaurantnya siiihhh lumayan lah.. Tidak terlalu mahal untuk daerah yang letaknya begitu jauh dari perkotaan… Kalau anda mau membandingkan misalnya harga satu cangkir Capuccinno di Brussel adalah antara E 3.80 s/d E 4.50. Di Bastei kira-kira lebih murah E 0.75.

Foto 8. Dari arah lain, di sepanjang Elba terhampar bebatuan yang seolah  membentuk dinding bebatuan  yang tebal.

Sudah ratusan tahun Pegunungan Bastei merupakan fenomena alam yang mengundang banyak pengagumnya. Berbagai bentuk dan figur dari bebatuan yang ada seolah terlihat bagaikan barisan yang memanjang sampai di ujung pandangan mata.. Nun jauh di sana…..

Foto 9. Deretan Batu Karang yang sedang dipenuhi rimbunan nan menghijau nampak di belakang kangmas Rubianto  yang sedang beristirahat sebentar,  setelah menuruni tangga yang cukup curam.

Foto 10. Salah satu bagian dinding Cagar Alam,  Batu Karang Bastei, yang menjulang tinggi ke angkasa…..

Foto 11. Tumbuhan yang menghijau di sekeliling batu-batu karangnya. Di musim gugur tanaman ini akan menyisakan berbagai nuansa permainan warna yang indah…

Foto 12. Jembatan yang dibangun khusus untuk para toerist yang hendak menyeberang dari puncak satu bebatuan ke bebatuan yang lain.

Untuk menghubungkan antar puncak bebatuan yang ada  di Pegunungan Batu Karang itu, baru di tahun 1824 dibangun sebuah jembatan kayu. Dan baru plus minus 27 tahun berikutnya, di tahun 1851 jembatan kayu ini diganti dengan jembatan yang terbuat dari  batu-batu + pasir..

Keindahan bentangan batu karang ini dan juga keasrian pemandangannya tentunya juga telah mengundang dan mengilhami serta  mempengaruhi beberapa pelukis alam dari aliran romantik, seperti : Caspar David Friedrich, untuk menuangkannya dalam banyak karya lukisannya. Karena dipengaruhi fenomeen alam yang luar biasa, dalam lukisan Caspar David kadang juga menggambarkan adanya pengaruh mystiek pada bebatuan yang dilukiskannya. Misalnya dalam lukisannya yang berjudul: Rotspoort van Neurathen.

 

Salah satu lukisan pemandangan  bebatuan yang karena bentuknya mengilhami adanya  pengaruh mystiek di dalamnya. (Lukisan diambil dari : Javaschrip- Internet).

Teman-teman tentunya bisa membayangkan faktor mystiek mana dari bebatuan yang ada, yang kira-kira telah mempengaruhi lukisan “Rotspoort van Neurathen”…Indahnya seni adalah bahwa kita juga bisa dan boleh menafsirkan sendiri apa kira-kira yang hendak dikemukakan dari lukisan itu….

Untuk mengetahui dan mendalami lebih lanjut tentang lukisan-lukisan yang dihasilkannya teman-teman bisa mengunjungi museum di Dresden dan kalau tidak ada waktu bisa juga melihatnya melalui postcard yang tersedia di kiosk-kiosk di sekitar restaurant.

Foto 13. Salah satu fenomeen alam yang menyisakan keindahan alam tersendiri.

Foto 14. Dua kecantikan dan keindahan alam yang bisa saling mengisi untuk obyek camera…Ha, ha, haaa.

Foto 15. Saya dan jeng Utuk, di salah satu ujung platvorm Panorama. Dua-duanya punya penyakit hoogtevrees… Entah apa istilah kerennya.


Foto 16. Diajeng Utuk dengan kedua “buntut”nya yang sedang menikmati eskrimnya..

Karena kami berdua sangat hoogtevrees, selama yang lainnya naik ke jembatan dll, kami menunggu di salah satu restaurant sambil minum kopi. Eskrim , sebagai hadiah karena mereka berhasil melewati jembatan yang ada sudah sewajarnya.

Lelah berkeliling Pegunungan Bastei, dalam perjalanan ke kota Dresden (saya sambungkan di cerita berikutnya) kami berhenti di salah satu hutan buatan kecil. Untuk sekedar beristirahat dan membuka nasi timbel yang dibawa dari rumah…

Hmmmm, ada nasi putih panas, kering tempe, daging rendang asli dari Indonesia yang rasanya (HHHHHMMM heerlijk. Asli dari Jakarta), ada sambal goreng ati pakai pete, ada lalap, ada perkedel jagung dan juga ada sambal dan kerupuk… Kompleet….Dan hampir lupa .. Juga ada rujak nanas dan mangga muda… Wouuuwww, wat wil je nog meer?..

Entah berapa tahun yang lalu, terakhir kali kami makan dan berpiknik ria bersama….Nikmatnya… Bedankt, mijn lieve Utuk en kangmas Rubi voor deze gelegenheid.

Foto 17. Kangmas Rubi, yang paling akhir menyendokkan nasi ke dalam piringnya sendiri. Semua sudah siap untuk berramai-ramai mulai menyantap nasi timbel asli buatan  rumah.

Setelah acara makan selesai kami melanjutkan perjalanan ke kota tua Dresden. Ceritanya menyusul bersama dengan kota Berlin. Nogmaals, sekali lagi terima kasih untuk jeng Utuk dan kangmas Ruby yang telah membawa kami melihat keindahan alam di beberapa daerah di dekat kota Berlin..Kami tunggu di Belanda, liburan mendatang.

Teman-teman di Baltyra, Bastei dan sekitarnya sudah sepatutnya dikunjungi. Terutama kalau teman-teman sudah sampai di kota Berlin…

Salam dari Negeri Kincir Angin yang sekarang sudah mulai hujan terus dan ditinggalkan sang Matahari…

 

44 Comments to "Berlin, Pirna, Bastei en Dresden"

  1. nu2k  14 July, 2011 at 03:52

    Mbak Rennie, jangan-jangan kita sudah pernah bertemu… Di Kedutaan, saya sempat mengobrol ria dengan para pemain gamelan.. Waktu itu yang sedang latihan anggota gamelan dari Jawa Barat… Walaupun pemainnya dari berbagai daerah di Indonesia.
    Atau waktu BBQ bersama dengan Bapak dan ibu Dubesnya (teman adik saya).

    Senang ya bisa tambah teman lagi… Ayooo, Belanda – Berlin hanya 6 jam naik mobil…. Agak dikebut sedikit…. ha ha, haaa….

    Voor nou, welterusten en slaap lekker… Besok kita sambung lagi….Nu2k

  2. Rennie  13 July, 2011 at 16:48

    Kalo gitu betul kan. Iya, suaminya teman kita juga karena sama sama orang Indo di Berlin, dan istrinya (Anne Rauch) teman suamiku. Akhirnya jadi berteman semua. Nanti Bu Nunuk kalo ke Jerman, boleh main ke tempat kita, ato nginap sekalian. Always welcome. Kadang dunia ini memang kecil.

  3. nu2k  13 July, 2011 at 14:53

    Waduuuh mbak Rennie (saya baru jumpa nama anda sekali ini, maaf kalau salah). Terus terang saya baru sekali itu bertemu dan berkenalan dengannya. Dia bekerja sebagai guru yang mengajari orang untuk tertawa… Katanya. Waktu itu dia menyertai suaminya yang kebetulan mengantarkan jeng Utuk & kami jalan-jalan… Tot andere keer,Nu2k

  4. Rennie  13 July, 2011 at 14:48

    Thanks utk cerita dan foto2nya yang menarik. Bu Nunuk, cewek bule di foto terakhir itu Frau Anne Rauch ato bukan ya ? Curious aja.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.