[Serial de Passer] Astari Mencuri (2)?

Dian Nugraheni

 

Dalam lakon Ketoprak Prabu Angling Darma, setidaknya ada tiga nama yang membuat Astari kecil terkesan, yaitu, Dewi Setyawati, istri Prabu Angling Darma, Batik Madrim, kakak kandung Dewi Setyawati, dan Prabu Angling Darma sendiri. Waktu itu Astari sedang terkesima menyaksikan Dewi Setyawati, istri Prabu Angling Darma yang akan melakukan pati obong, bunuh diri dengan menceburkan diri di kobaran api, ketika seseorang di belakangnya mendorong punggungnya dengan kasar. Astari menoleh ke belakang, sang pelakunya adalah Menot.

“Astari, awas kamu nanti kalau pulang…” ancam Menot.

Astari mengkeret, Menot, adalah anak lelaki kecil sebayanya,kulitnya bersih, perawakannya lebih kecil daripada Astari, tapi Astari takut minta ampun pada Menot. Menurut Astari, Menot itu bukan teman yang bisa diajak bermain sehari-hari, bahkan harus dihindari. Mulutnya selalu terkatup kejam, sorot matanya selalu terkesan mengancam, mengerikan. Dan memang sudah terkenal di mana-mana, di kalangan anak-anak maupun para orang tua, meski masih kecil, Menot adalah tipe anak yang kejam. Sering terdengar berita bahwa dia mencuri buah-buahan di kebun penduduk, atau, dengan tenangnya menangkap Kuthuk, anak ayam yang masih kecil, dan membantingnya hingga sang Kuthuk mati, dan lain-lain. Makanya Astari tak pernah mau dekat-dekat dengan Menot.

“Dengar nggak, Astari…awas nanti kalau pulang…!” ulang Menot.

Astari menggenggam tangan Witri yang duduk simpuh di sebelahnya. Witri pun tentu mendengar ancaman ini. “Kenapa, memangnya..Astari salah apa..?” tanya Witri pelan, takut mengganggu penonton lain yang sedang khusuk menyaksikan Dewi Setyawati yang sudah siap menerjunkan dirinya di kobaran api, sambil menoleh kepada Menot di belakang mereka.

“Witri, kamu nggak usah ikut-ikut…!” ancam Menot dengan suara pelan yang menakutkan.

Beberapa menit kemudian, setelah bicara dengan bahasa kode, berbisik-bisik, Witri, Astari, dan Entik sepakat pulang duluan, bahkan sebelum acara Ketoprak berakhir. Bertiga, mereka berjalan jongkok keluar ruangan, agar tidak mengganggu penonton yang lain.

Witri harus melewati halaman rumah Astari ketika pulang, karena rumah Astari yang terdekat dengan rumah Bu Sri, sedangkan rumah Entik, bersebelahan dengan rumah Astari, tapi dipisahkan oleh halaman samping yang lumayan lebar. “Witri.., Entik.., tunggu aku sampai aku buka pintu yaa.., jangan tinggalin aku sebelum aku masuk rumah, aku takut…” pinta Astari. Witri dan Entik pun mengangguk, berdiam sejenak, menunggu sampai Astari benar-benar masuk ke dalam rumahnya.

Sesampai di rumah, Astari cuci kaki, dan masuk ke kamarnya untuk tidur. Mbah Lukito Kakung menghampirinya, menyelimutinya dengan Jarik, kain panjang batik yang selalu dipakainya buat selimut. “Apik ora Ketoprake, bagus nggak ketopraknya..?” tanya Mbah Lukito Kakung.

Astari hanya mengangguk, dan mengisyaratkan bahwa dia sudah ngantuk. Dipegangnya tangan mbah Lukito Kakung, dan seperti biasa dibawanya di bawah kepalanya buat bantalan. Mbah Lukito Kakung membaringkan diri di sebelah Astari, sambil rengeng-rengeng, bersenandung tembang berbahasa Jawa, yang Astari tak tau apa itu judulnya, yang ada, ketika mendengar lagu itu, Astari seperti diayun-ayun dalam buaian yang membuatnya damai, dan segera memejamkan mata.

Paginya adalah hari Minggu, ketika Astari sedikit terlambat bangun. Segera dia mandi, ganti baju bersih, dan mendapatkan kedua Embahnya, Mbah Lukito Putri dan Kakung yang sedang minum teh di dapur ditemani sepiring singkong hasil kebunnya, yang direbus, dituangi santan dan gula…hmmm.., legit sekali rasanya.

Astari makan sepotong singkong, dan menyeruput teh dari gelas Mbah Lukito Kakung sambil tersenyum puas. Bagi Astari, rasa teh manis di mana pun, siapa pun yang membuat, kalau itu dituang ke dalam gelas besar bergagang milik Embahnya,pasti akan terasa sangat nikmat. Yaa, Embah Lukito Kakung selalu rela harus berbagi minumannya, teh manis, maupun kopi hitam dengan cucunya ini, karena dia tau, Astari seperti mendapat keceriaan baru ketika minum berbagi dengannya.

Kemudian, Mbah Lukito Kakung dengan ketenangan yang luar biasa berkata, “Astari, kata orang-orang yang nonton Tivi di tempat Bu Sri, kamu dan teman-temanmu pulang lebih awal, sebelum ketoprak selesai, benarkah..?”

Astari hanya mengangguk. “Memang kenapa, Kung..?”

“Lho, yang kenapa itu ya kamu, kok pulang awal kenapa, biasanya kamu nonton Ketoprak sampai selesai..?” pancing Mbah Lukito Kakung.

“Semalam aku sudah ngantuk, Kung…,” jawab Astari pendek.

“Nih, dengarkan, Astari. Tadi pagi Kakung dapat laporan dari Bu Sri, katanya sandal jepitnya Mbah Karsan hilang. Dan waktu itu Menot bilang, kamu pulang duluan sambil membawa sandal Mbah Karsan. Dan Menot juga bilang, kalau sandal jepit itu kamu sembunyikan di bawah rumpun mawar depan rumah kita. Dan memang sandal jepit itu ada di situ…” kata Mbah Lukito Kakung, agak panjang, tapi tetap dengan nada datar, meski agak bermuatan sedikit tekanan.

“Apa benar kamu mencuri sandal Mbah Karsan, Astari..?” ulang Mbah Lukito Kakung.

“Enggaaaakkk.., tanya saja sama Witri dan Entik, mereka kan mengantarku sampai pintu depan. Aku nggak ambil sandal Mbah Karsan, Witri dan Entik juga enggak…” kata Astari sedikit teriak menahan tangis.

“Wes, kene.., sudah sini…, kemari Astari…,” kata Mbah Lukito Kakung. Astari mendekat dan dipeluk oleh Mbah Lukito Kakung, Astari terisak menangis.

“Aku enggak ngambil sandal, Kung…bener.., buat apa ambil sandal Mbah Karsan…” kata Astari di sela sedu sedannya.

“Lagian, kenapa Menot bilang begitu..? Dia hanya liat aku keluar, tapi kan dia nggak liat aku ambil sandal apa enggak, kok bisa nuduh aku mencuri..?” protes Astari.

“Bener kan kamu nggak mencuri sandal Mbah Karsan..?” ulang Mbah Lukito Kakung.

“Enggak Kung.., bener, berani sumpah..!” kata Astari tegas.

“Hush, nggak usah sumpah-sumpah…, nanti Kakung akan temui Bu Sri untuk bicara soal ini, kamu mau ikut nggak..? tanya mbah Lukito Kakung.Astari mengangguk.

“Sudah, jangan nangis. Nanti kakung pengen juga tanya Witri dan Entik, kalau perlu, Bu Sri juga harus mendengar sendiri dari mulut Witri dan Entik untuk soal ini…” lanjut Mbah Lukito Kakung. Kalimat terakhir ini membuat Astari merasa agak ayem, tenang hatinya.

Kemudian Astari bermain di halaman, menengok Pohon Pepaya Jinggonya, dan duduk di bawah rimbun dedaunannya. Pikirannya melayang pada waktu tadi malam ketika nonton Ketoprak. Teringat kembali, di mana tiada sebab musabab, tiba-tiba saja Menot mengeluarkan ancaman-ancaman. Apaaa…., kenapaaa…, ahh, Astari belum bisa menemukan jawaban.

Kemudian Astari menuju rumah Witri, dan memanggil-manggil namanya dari depan pintu rumah Witri, “Witri…, Witri..”

Tapi yang keluar rumah adalah Ibu Witri, dengan muka bengis, bilang, “Witri nggak boleh lagi main dengan kamu, karena kamu sudah mencuri sandal Mbah Karsan semalam..”

Seperti disambar geledek siang bolong, Astari terhenyak, dan membalikkan badan tanpa sepatah kata, berlari menuju Pohon Pepaya Jinggo lagi, duduk di bawahnya sambil berlinangan air mata. Dia tidak ingin seorang pun tau, dia menagis lagi pagi ini. Sejak ditinggal Ibunya, Astari memang seperti kehilangan keceriaannya, senyumnya, dan sedikit demi sedikit, sinar kebahagiaan di matanya memudar. Astari, sebagai anak kecil banyak memendam rasa, dan dia berpendapat, tidak ingin mengatakan apa pun kepada Embahnya, dia takut, Embahnya pun akan ikut bersedih…

Demikianlah, akhirnya, sore itu Mbah Lukito Kakung dan Astari menju rumah Bu Sri. Sebenarnya, Mbah Lukito adalah orang yang sangat dihargai dan disegani para tetangganya, karena selain sudah sepuh, tua, juga, Mbah Lukito Kakung Putri terkenal sebagai sosok-sosok yang bersahaja, ringan tangan, bijaksana, dan sama sekali tidak suka ikut-ikutan mebicarakan orang lain.

Mbah Lukito Kakung menerangkan dengan singkat dan tegas, bahwa Astari tidak mencuri sandal Mbah Karsan. Dan Bu Sri juga diminta untuk mendengar sendiri keterangan dari Witri dan Entik, yang malam itu pulang bersama Astari. Ketika Mbah Lukito Kakung bicara demikian, Astari dalam hati berdoa, semoga Witri tetap jujur dan bicara apa adanya bahwa dia tidak mencuri, Astari berharap bahwa Witri berani mengatakan yang sebenarnya, meski Astari agak heran juga, kenapa tadi Ibu Witri berkata, seolah-olah yakin benar bahwa memang benar Astari telah mencuri sandal Mbah Karsan.

(bersambung)

 

Salam “menunggu terbukanya pembuktian..”

Nantikan dalam episode NARTI MEMBUKA RAHASIA…..

 

Virginia,

Dian Nugraheni

Rabu, 18 Mei 2011,

(Kelabu…, mendung menggantung menyelimuti DC dan Virginia)

 

6 Comments to "[Serial de Passer] Astari Mencuri (2)?"

  1. Djoko Paisan  30 June, 2011 at 03:27

    Astari…. nasibmu nak…..
    Tapin kejujuran akan keluar sebagai pemenang, sabar saja dulu….
    Terimakasih mbak Dian…

  2. Dewi Aichi  29 June, 2011 at 22:03

    Dian, inget aja dengan lakon itu…aku sekarang jadi ingin mengingat lagi.

    Kayaknya yang narti membuka rahasia, udah tayang, apa ada yang lain? Cek lagi ahh

  3. SU  29 June, 2011 at 16:51

    Hmmm

  4. probo  29 June, 2011 at 16:04

    jangan lama-lamakelamaan ya…kalau nunggu ndhak dirubung laler….eh lemut….

  5. J C  29 June, 2011 at 15:48

    Sungguh makin memikat saja jalinan cerita si Astari…

  6. HennieTriana Oberst  29 June, 2011 at 14:57

    Astari yang tegar.
    Menanti episode NARTI MEMBUKA RAHASIA

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *