Bahasa Butuh Hidup

Dinanda Nuswantara Buwana

 

Saat itu jam istirahat sekolah, Saya dan teman-teman sedang duduk santai di bawah kerindangan pohon sambil menikmati berbagai Jajanan yang kami beli di kantin. Saking asyik dan ramainya kami berbincang, sampai-sampai kami tidak mengetahui kedatangan seorang guru di hadapan kami, dan tiba-tiba guru itu tanpa basa basi mengambil dengan paksa topi yang sedang dipakai seorang teman yang bernama Wahyu, Tentu saja Wahyu memprotes perlakuan guru itu ,dan mendebat sang guru mengapa topinya sampai dirampas,.

Coba baca tulisan di topi kamu” !!!  kata Pak Guru, sambil memperlihatkan pada kami semua, tulisan di topi itu, Dia mencoba bernada tegas tapi sambil mesem-mesem, menahan tawa.

BUTUH HIDUP pak “ !!! kata Wahyu tak kalah tegas dengan artikulasi yang jelas pula.

Memangnya kenapa pak”? Wahyu balik bertanya.

Kamu tidak sopan“ Kata Pak Guru, kali ini dengan mimik serius

“Kita semua kan butuh hidup pak”  Wahyu menimpali lagi,

Namun  argumen  Wahyu  tidak didengarkan, dan dianggap angin lalu saja oleh Pak Guru  yang langsung  menyita topi itu, dan membawa topi itu ke Ruangan Kantor seolah suatu benda berbahaya yang bisa mengganggu stabilitas Nasional.

Peristiwa saat saya masih duduk di Bangku SMP di Kota Banjarmasin itu selalu terngiang  dan menggelitik ingatan setiap saya mengalami peristiwa yang berkaitan dengan penuturan bahasa daerah. Bertahun kemudian baru saya mengenal istilah “kesalahan persepsi”  untuk menggambarkan  peristiwa di atas. Mungkin kita yang tidak mengenal bahasa Daerah, khususnya Daerah Banjar (Kalimantan Selatan), akan merasa heran kenapa kok topi dengan tulisan “BUTUH HIDUP” itu sampai disita dan diamankan.

Negeri kita tercinta Indonesia,  yang terdiri dari ribuan pulau, kaya akan khazanah budaya, unik  dalam keanekaragaman,  multietnis  tentu saja multibahasa. Tercatat secara resmi ada 726 bahasa  daerah di bumi  Nusantara ini.

Dan  dari  jumlah itu hanya hanya 13  bahasa daerah yang diperkirakan akan tetap bertahan dan tetap dipergunakan untuk beberapa tahun ke depan. Dengan kata lain, 713 bahasa daerah di Indonesia terancam punah, demikian kata seorang guru besar ilmu bahasa Universitas Indonesia (UI), Multamia

Menurut beliau, hanya 13 bahasa daerah yang penuturnya lebih dari 1 juta orang.  Ke-13 bahasa tersebut adalah Jawa, Sunda, Minangkabau, Bugis, Madura, Batak, Melayu, Aceh, Lampung, Makassar, Rejang (Bengkulu), Sasak, dan Bali. Hingga 5 tahun ke depan, ke-13 bahasa daerah tersebut masih aman, dan sisanya, termasuk bahasa Banjar  terancam punah atau mati.

Adapun menurut Seorang Pakar Sosiolinguistik dari Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Prof. Asfandi, Bahasa yang pemakainya lebih dari 2juta  jiwa dapat dikatakan  sebagai bahasa besar, Bahasa-bahasa itu adalah Jawa, Sunda, Batak, Madura, Banjar, Bugis dan Bali. Pada kenyatannya, jumlah penutur Bahasa Jawa dan Sunda  tergolong bahasa yang penuturnya sangat besar, di mana jumlah penutur kedua bahasa itu jika digabungkan melebihi separuh jumlah penduduk Indonesia.

Bahasa yang penuturnya kurang dari satu juta jiwa dapat dikategorikan sebagai bahasa kecil, seperti bahasa Kubu, Maanyan,Tidung, dan Bulungan

Para pakar bahasa  berpendapat ada empat penyebab sebuah bahasa dapat mati, yakni perang, bencana alam, urbanisasi, dan kawin campur. Tanda-tanda kepunahannya tampak apabila di kalangan anak-anak tidak lagi bisa menggunakan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari. Bahkan bahasa daerah kadang menjadi momok bagi mereka  yang berada di kota besar di pulau  Jawa, apalagi jika bahasa daerah itu dijadikan sebagai bahan pelajaran Mulok, sementara sehari-hari mereka tidak menggunakan bahasa ibu dalam berkomunikasi di dalam keluarga ataupun sebagai bahasa pergaulan dalam lingkungan sosial.

Bahasa Daerah yang punah karena bencana alam dapat dikategorikan sebagai  Bahasa yang punah atau mati dengan Proses  mendadak, hal demikian terjadi pada Bahasa Tambora di pulau Sumbawa yang seluruh penuturnya mati karena Letusan Gunung Berapi Tambora yang maha dahsyat pada Tahun 1815.  Demikian  pula dengan Bahasa Yahi, salah satu Bahasa Indian di Benua Amerika, yang seluruh penuturnya dibasmi oleh para Pendatang Eropa melalui peperangan, juga terjadi pada ratusan bahasa Bangsa Aborigin di Benua Australia, dan juga pada beberapa bahasa di Benua Afrika.

Bahasa yang punah karena adanya urbanisasi ataupun akibat kawin campur, dapat dikategorikan sebagai bahasa yang mati secara perlahan, dan hampir tidak terasa bahwa jumlah penuturnya semakin berkurang karena jarang dipergunakan sebagai bahasa tulis atau percakapan sehari-hari.

Sesungguhnya bahasa yang tetap hidup dan berkembang senentiasa berubah dari waktu ke waktu meninggalkan unsur-unsur yang tak terpakai lagi, bahasa itu terus berkembang dengan unsur-unsur baru yang dinamis, aktual, berdaya, dan selaras dengan masanya.  Karena bahasa merupakan salah satu sistem berkomunikasi manusia.

Bahasa adalah anugerah yang tiada tara, suatu penemuan manusia yang ajaib, dan alat untuk bertukar pikiran dalam memecahkan masalah. Timbal baliknya, Bahasa membutuhkan para penutur yang saling berinteraksi agar tetap hidup, atau tetap eksis kalau menurut bahasa pergaulan anak jaman sekarang.

Bahasa yang tidak berkembang akan kehilangan vitalitasnya dan mati secara perlahan.  Masih mending jika Bahasa yang mati itu mewariskan kekayaan Sastra, Seni dan Budaya yang tinggi, maka bahasa yang mati itu akan akan mendapat tempat yang terhormat sebagai bahasa Klasik, sebagai Contoh adalah Bahasa Kawi dan Sansekerta.

Jika berdasarkan pada versi Multamia, maka  saya patut bersedih karena bahasa Banjar termasuk bahasa yang terancam mati, karena tidak termasuk dalam 13 bahasa itu, padahal sepanjang yang saya ketahui dan saya amati langsung, bahasa daerah Banjar berfungsi sebagai Lingua Franca bagi berbagai Suku yang mendiami wilayah Kalimantan Selatan, Tengah, dan Timur, serta sebagian wilayah Kalimantan Barat. Bahasa Banjar dipergunakan dalam range yang sangat Luas, mulai dari Katapang Kalimantan Barat, Sampit  Kalimantan Tengah , hingga Bontang, Kalimantan timur bagian Utara mendekati Sabah Malaysia.

Puji Syukur, saya menguasai beberapa bahasa daerah, dan jika ada “kesalahan persepsi antara bahasa daerah dengan Bahasa Indonesia, atau antara Bahasa Daerah lain, yang saya fahami, maka itu saya anggap sebagai keunikan yang lucu, yang menunjukkan betapa kayanya Nusantara.  Misalnya Bujur yang dalam Bahasa Banjar artinya benar, bermakna sebagai Pantat dalam Bahasa Sunda. Sebaliknya Burit dalam bahasa Banjar yang berarti Pantat, berarti waktu Senja dalam bahasa Sunda.

Sampai di sini mungkin pembaca masih penasaran dan terus bertanya, kenapa topi Wahyu disita ?

Dalam bahasa Banjar, (dan juga Malaysia), butuh berarti kemaluan laki-laki, jadi BUTUH HIDUP, dalam bahasa Banjar dapat berarti erection dalam bahasa Inggeris.

 

30 Comments to "Bahasa Butuh Hidup"

  1. Sari Yusuf  6 September, 2012 at 15:28

    A very good article! Sebagai orang Banjar, aku yakin Bahasa banjar tak kan punah asal para orang tua aktif berbahasa Banjar dengan anak –anaknya setiap hari. Sudah lebih dari 20 tahun aku tinggal & akhirnya mencari nafkah di Bali, sehari-hari bahasaku gado-gado – Bahasa Indonesia – Inggris (dengan client) – Bahasa Banjar (dengan Aqsa) kadang sedikit Bahasa Bali – semuanya sesuai keperluan & tempat.
    Anakku – Aqsa – dari masih kecil sudah fasih Bahasa Banjar. Langsung language switch mode on ke Bahasa Banjar begitu ditelepon nenek. Kadang Aqsa pake bahasa Banjar totok yg bahkan kebanyakan orang Banjar sudah jarang pakai seperti “ Sandalku takipai”.
    Jika kelamaan liburan di Banjarmasin, Aqsa suka lupa mengganti kata “lalu pang” menjadi “permisi” he he he. Waktu kelas 1 SD – gurunya suka bingung.
    Sebagai penutup, konon ada orang Jawa yang baru pindah ke KalSel, kebetulan halaman rumahnya ditumbuhi rumput liar yang sangat tinggi. Berhibung belum sempat belanja alat kebersihan seperti sapu dll, orang dari suku Jawa ini – katakanlah namanya Tukul, berinisiatif pinjam ke tetangga.
    “ Permisi Pak, saya Tukul, saya butuh pacul” ujarnya serah mungkin dengan senyum manis
    Tetangga yang didatangi terkejut sekalian heran bukan kepalang”
    “ Hah? Butuh pian pacul? Ditukul seorang pulang! Tapi napa masih kurihing-kurihing??
    ( Terjemahan: Hah? Organ Anda copot? Dipalu sendiri lagi! Tapi kenapa masih bisa senyum-senyum?

  2. fathull ah  22 February, 2012 at 08:50

    met pagi. . .
    Mantap Nanda ulasannya,aku sendiri yang orang Banjar asli tidak menyadari kecuali setelah sampai pada akhir tulisan .jadi bikin senyam senyum . .

  3. dinanda  5 July, 2011 at 10:33

    @aichi, Nanda N Buana Gak ketemu?kalo yang Dinanda Nuswantara Buana Error, tapi di Fren list nya ada Nanda N Buana…..

  4. Dewi Aichi  3 July, 2011 at 09:01

    Nanda, aku kok ngga bisa nemu fb mu ya?

  5. dinanda  3 July, 2011 at 08:45

    two thumbs up….,hebat mbak….,kata orang sih, semakin susah tatabahasanya, semakin tinggi budayanya…,betul gak ya?Kursus Bahasa Indonesia? hahahaha Pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah juga gak laku….,uuups alamaaaak keceplosan…, (FB: Nanda N Buana)

  6. Dewi Aichi  3 July, 2011 at 08:36

    Kalau vaga belum nemu sih, tapi kalau Vega udah tuh yang kenes banget, kalau tampil sama Tukul , Vega alias ngatini.
    Kalau sekedar komunikasi aku bisa, kalau tulisan aku musti belajar, karena Portugues Brasil termasuk bahasa yang susah, tata bahasanya rumit. Makanya banyak tempat kursus bahasa Portugues di Brasil, kalau di Indonesia mana ada tempat kursus bahasa Indonesia, mana adaaa..? Justru bahasa asing seperti Inggris , Mandarin , Jepang , sangat banyak.

  7. dinanda  3 July, 2011 at 08:28

    Salam kenal juga sama mbak SU….., kita diciptakan berbeda-beda bukan untuk berseteru…..,kita nikmati saja perbedaan, bukan dengan salah faham…., yang bertetangga aja, seperti Jawa dan Sunda banyak kosa kata yang sama namun berbeda arti, misal Amis dalam bahasa Sunda adalah Manis, tapi dalam bahasa jawa adalah anyir…,

  8. dinanda  3 July, 2011 at 08:24

    hahahaha, just call me Nanda, wah kayaknya mbak Dewi bisa bahasa Portugues Brasil ya/? waduh kalo ada seorang ibu yang bernama Vaga, seru Juga ya…..,

  9. SU  3 July, 2011 at 08:07

    Salam kenal. Betul kdg kata2 boleh sama, tp arti berbeda jauh.

  10. Dewi Aichi  3 July, 2011 at 08:01

    Dinanda, salam kenal juga, selamat menikmati kehangatan dalam sebuah keluarga besar, yaitu baltyra. Benar sekali, dalam bahasa Portugues Brasil , bunda diucapkan persis seperti bahasa Indonesia. Kalau ada kata kasar seperti vaga bunda, kalau di dalam bahasa Inggris ya itu tuh, umpatan yg sangat umum itu.

    Bravo…biasanya diartikan, selamat atau sejenisnya, tapi dalam Portugues Brasil , bravo=marah(untuk laki laki), kalau untuk perempuan yaitu brava.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.