Turi-turi Putih

Dwi Klik Santosa

 

“Turi-turi putih, ditandur ning Kebon agung

Turi-turi putih, ditandur ning kebon agung

Ayo kanca padha mantep

Manembah mring Maha Agung ………”

Kudengarkan lagu ini, lamat-lamat dari radio butut di kamarku. Kerawitan klasik Condong Raos renyap suaranya membenamkan ilusi dan  halusinasi tentang sosok maestro Nusantara, Ki Nartosabdo. Beliau yang lahir di Klaten, 25 Agustus 1925 – wafat di Semarang, 7 Oktober 1985, tak terelakkan adalah sastrawan besar dan sekaligus komposer yang sangat kreatif dan produktif. Tigaratus sembilanbelas gending atau lagu-lagu kreasi Jawa dan juga puluhan karya gubahan corak baru sastra wayang purwa dicipta dan dikreasi sebagai penanda agungnya daya cipta itu atas nama kejayaan seni budaya Nusantara.

Aku menyaksikan banyak rupa peristiwa.

Aku banyak terjatuh. Dan sering terbangun pula.

Ahai, “Turi-turi Putih …..”

Khidmat kudengarkan, sembari mencerna makna pahit dan manisnya secangkir kopi malam ini yang mencampur ke dalam keringat laku hidupku.

 

Pondokaren

21 Juni 2011

: 21.oo

 

42 Comments to "Turi-turi Putih"

  1. Andre  13 May, 2012 at 12:26

    Salah kalo anda bilang turi-turi putih itu uban, dan kebon agung itu bukan kepala…..
    turi-turi putih itu jenazah yg di bungkus kain kafan, dan kebun agung itu makam…..

  2. juned  8 February, 2012 at 20:33

    turi turi outih (uban)
    ditandur ning kebun agung (kepala)

    kita sudah diingatkan oleh tuhan dengan uban yang mulai tumbuh di kepala
    supaya ingat …. hehehe..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.