[Serial Masa Terus Berganti] Kadang, Malaikat tak cemerlang, tak rupawan

Dian Nugraheni

 

Teringat penggalan syair lagu dari Dee Lestari, malaikat, kadang tak cemerlang, tak rupawan…..

Perbincangan ini terjadi hampir tiga tahun lalu, ketika aku membuat persiapan panjang untuk hijrah ke Amerika.

Siang itu, aku bertandang ke rumah Kakakku, satu-satunya Kakak kandungku, dan sambil ngobrol ngalor-ngidul, aku bertanya, “Rin, waktu Ibu meninggal dulu, kira-kira Ibu punya utang nggak yaa..?”

Aku bertanya ini, karena memang hanya Kakakku yang selalu tinggal dengan Ibu, sedangkan aku, bisa dibilang tidak pernah tinggal serumah dengan Ibu, karena sejak kecil aku menjadi kesayangan Nenek dan Kakekku, sehingga, aku lebih merasa nyaman tinggal bersama mereka. Dan ketika sudah beranjak dewasa, aku lebih yakin lagi bahwa aku memang harus tinggal bersama Nenek dan Kakekku, yang sudah makin menua, untuk ikut menjaga mereka di masa-masa terakhirnya. Sedangkan Kakakku, Ibu, dan bapak, tinggal di kota lain.

“Kayaknya enggak, lho. Ada sih utang Ibu, beberapa ratus ribu waktu itu ke Bulik Sam, tapi kayaknya sudah diberesin Bapak. Ibu punya hutang ke Bulik Sam karena waktu itu Ibu suka ambil dagangan baju di Bulik Sam…” begitu kata Kakakku sambil matanya menerawang jauh.

Aku menghela nafas, Ibuku meninggal tahun 1993, dan ketika aku memperbincangkan hal ini, adalah tahun 2008, itu berarti adalah rentang waktu 15 tahun setelah meninggalnya Ibu. Dan selama 15 tahun ini kami, bisa dibilang, tidak pernah membicarakan soal meninggalnya Ibu. karena bagaimana pun, hal ini begitu memedihkan hati kami Kakak Beradik.

Waktu itu, Ibuku yang berperawakan sedang, tidak pernah gemuk, lincah, pekerja keras, selalu tersenyum, banyak kawan dari berbagai kalangan, tiba-tiba tubuhnya mengurus, drastis. Dan setelah diperiksakan ke dokter, ternyata Ibuku divonis kena Sirosis Hati, yang nggak bakalan bisa sembuh, “tinggal nunggu waktu…”, begitu kata mas Tomo, Dokter yang memeriksa Ibuku, sekaligus masih kerabat jauh kami.

“Luangkan seluruh waktumu untuk Ibumu, kalau perlu, cuti kuliah dulu…” saran Mas Tomo lebih lanjut.

“Tapi aku lagi coaching, Mas, mau KKN,…”, jawabku waktu itu.

“Saranku, tungguin Ibu di rumah…”, kata mas Tomo singkat. Dan aku memang menuruti sarannya, cuti tak resmi dari kuliah, dan nungguin Ibu di rumah. Waktu itu, Ibu tidak mau lagi opname di rumah sakit, karena Ibu pun sudah tau, dirinya sebentar lagi akan mati. Betapa pedih.., pedih bagi Ibuku, pedih bagi Bapak, aku, dan Kakakku.

Meskipun Ibuku sering merasa kesakitan, tetap Ibu tidak mau opname. Kalau seperti itu, mas Tomo lah yang segera datang memberi suntikan. Suntikan yang membuat Ibuku langsung tertidur. Mungkin morphin atau apa. Dan hal ini segera diprotes Ibuku, “Kalau aku kesakitan, jangan disuntik tidur, aku ingin menghabiskan waktuku dengan anak-anakku…” kata Ibu.

Tapi tak urung, ketika Ibu kesakitan, beliau mengerang-erang juga. Tak tahan aku mendengarnya, biasanya aku langsung akan wudhu, air wudhu yang masih basah kuusapkan di perut dan muka Ibu, kemudian shalat 2 rakaat di samping tempat tidur Ibu, entah shalat apa namanya aku tak tau, yang jelas aku memohon agar Tuhan tidak menyakiti Ibuku.Dan memang, tak sampai setengah jam dari aku selesai shalat, tiba-tiba Ibuku memejamkan matanya…, tertidur dengan pulas. Kalau sudah demikian, hatiku rasanya ayem….

Beberapa hari setelah itu, Ibu bilang padaku, “Ajari Ibu ngaji…”

Aku agak bingung, bagaimana harus mengajarkan Ibu ngaji, membaca huruf-huruf al Quran, atau harus menuntunnya untuk menghapalkan surat-surat Al Quran..? Dalam keadaan sakit dan sering tidak sadar karena suntikan morphin pula..? Memang selama ini, Agama bukanlah hal yang dilaksanakan secara khusuk di rumah kami, bagi kami, sudah cukup bila kami sebagai manusia, hidup berdampingan dengan sesama manusia, tanpa mengganggu atau menyakiti mereka.

Dan Ibu terus mendesak untuk diajari ngaji. benar-benar aku nggak tega mengajari Ibu ngaji, karena suaranya pun sudah cadel-cadel, kesulitan untuk menggerakan mulutnya. Aku hanya berdoa dalam hati, “Ya Tuhan, berikanlah kebaikanMu untuk Ibuku…”. Yaa.., hanya itu yang mampu aku ucapkan.

Seingatku, selalu, sehabis Adzan Maghrib, suasana mistis akan melingkupi rumah kami. Sunyi, sepi, seperti beku. Kakak, bapak, dan beberapa kerabat lain yang sengaja menetap sementara untuk menunggui dan membantu-bantu di rumah selama Ibu sakit, pasti sedang berada di rumah bagian belakang. Duduk-duduk di meja makan, bikin minuman-minuman hangat, dan lain-lain. Giliranku jaga penuh Ibuku di kamar depan.

Hingga, suatu sore selepas adzan Maghrib, datanglah seorang tamu mengetuk pintu. Aku membukakan pintu. Tampak seorang wanita sebaya Ibuku, berkacamata tebal, berbaju satin putih kembang biru laut yang sudah lusuh, sandal jepet kumal warna hijau, satu tangannya, maaf, semper, cacat, dengan posisi selalu tertekuk ke depan, bibirnya juga agak menceng, bicara terbata-bata, “Aku teman Ibumu, boleh aku masuk..? Aku akan mengajari Ibumu ngaji…”

Segera lapang hatiku. “Ohh, yaa, monggo….” kataku mempersilakan.

Tamu ini meletakkan payungnya yang terlipat di ujung tembok, menyandarkannya di situ, dan melangah tertatih-tatih menuju kamar Ibu. Ternyata kakinya juga cacat, jalannya agak diseret.

Setelah Tamu itu masuk kamar Ibu, aku ke dapur membuat 2 minuman hangat. Satu untuk tamu, satu untukku. Tentu saja aku sering lupa makan lupa minum karena terlalu ketat waktuku untuk menunggui Ibu. Kembali aku duduk di ruang tamu yang bersebelahan dengan kamar Ibu, meletakkan minuman dan nyamikan, minum teh hangat bagianku, sedikit makan nyamikan, dan segera menyelonjorkan diri di kursi panjang di ruang tamu.Dari dalam kamar sayup-sayup terdengar dua orang mengaji bersama, entah surat apa yang dibaca mereka. Anehnya, suara mereka cukup nyaring dan bening, aku bahkan nggak menyadari bahwa seharusnya, suara mereka, Ibuku yang sudah cadel-cadel dan Tamu itu yang bibirnya pun cacat, nggak bakalan bisa selancar itu.

Ternyata, aku tertidur di kursi ruang tamu, sehingga ketika aku terbangun, dengan kaget, aku langsung menuju kamar Ibu. Ibuku terlelap. Keluar ke ruang tamu, ku tengok payung yang disandarkan Tamu tadi, sudah nggak ada. Di kamar Ibu pun, dia sudah nggak ada. Aku hanya berpikir, tentu Tamu itu pulang dengan sendirinya, tanpa ingin mengganggu aku yang kecapekan tertidur di kursi.

Kejadian itu berulang berturut-turut dalam seminggu. Dan kejadian pulangnya Tamu itu, selalu dalam keadaan di mana aku sedang tidak “terjaga”. Meski berkali-kali aku berusaha selalu melek, sehingga aku akan tau kapan Tamu itu akan pulang, ternyata itu tidak pernah berhasil.Setelah itu, Ibuku harus opname, karena Ibu koma selama 3 hari, dan kemudian meninggal.

Hal ini baru aku ceritakan pada Kakakku, sebelumnya tidak pernah aku sampaikan pada siapa pun. “Rin, si Tamu itu, mungkin kamu kenal, kan kamu yang tinggal sama Ibu, kalau liat penampilannya, mungkin dia bukan orang yang berkecukupan. Nanti, kalau aku sudah di Amerika, tentunya aku akan kerja dan punya uang sendiri, aku ingin bisa membantu Ibu itu, sebagai tanda terimakasih karena telah mengajari Ibu mengaji di ujung usianya…”

Kakakku langsung menegang, seperti terkaget, dan berusaha mengingat siapa gerangan teman Ibu yang aku maksud.

“Aku nggak berhasil mengingat teman Ibu seperti yang kamu ceritakan. Sepanjang aku tinggal di situ, nggak pernah ada teman Ibu yang seperti itu, nggak ada.., ngaco kamulah…”, sanggah kakakku.

Aku dan Kakakku saling pandang, dengan penuh tanya, kataku, “apa mungkin itu malaikat yang datang untuk menolong Ibu, ya..?” tanya Kakakku.

Kakakku diam sejenak, “Dan waktu itu, kan aku juga di rumah, masa ada tamu, kamu bikin minum di dapur, semua orang enggak tau. Kan Bapak, aku, dan kerabat-kerabat kita yang waktu itu tinggal menunggui Ibu, juga lalu lalang ke depan, sedikt-sedikit nengok Ibu, nyapu, dan lain-lain. Masak nggak ada yang bilang kalau ada tamu.

“Berarti hanya kamu yang ketemu Tamu itu…” kata Kakakku. Aku langsung merinding, menegak bulu leher belakangku. Terdiam. Menganalisis secara cepat dalam diam menekur.

“Okelah, Rin, kalau memang hanya aku yang melihat Tamu itu, kalau benar bahwa kalian tidak pernah melihat Tamu itu, aku akan berpikir positif saja, bahwa itu, mungkin benar, malaikat yang datang melapangkan jalan Ibu menuju rumah Tuhan.. Aku juga heran sih, kok tiba-tiba Tamu itu bilang mau ngajarin ngaji Ibu, sedangkan orang luar kan nggak ada yang tau kalau Ibu pengen ngaji di sisa-sisa usianya yang cuma beberapa hari itu…”

Kakakku mrebes mili, berurai air mata…, “yaa, semoga benar, itu adalah malaikat yang menolong Ibu di ujung usianya.., meski Ibu bukan orang yang taat menjalankan ritual agama, tapi Ibu kita itu sungguh baik hati, teman -teman Ibu, dari orang miskin sampai pejabat, semua akrab dengan Ibu, dan Ibu nggak pernah bikin masalah dengan siapa pun. Bahkan pernah ketika ada tetangga yang salah paham sama Ibu, Ibu tetap menyapanya, tetap mengunjunginya, sampai si tentangga itu, akhirnya malah jadi tetangga paling dekat dengan Ibu…”

Senja turun di barat kota, aku pamit pada Kakakku, memanggil kedua anak-anakku, “Kak, Dek, ayo pulang…, besok main lagi tempat Bude…sudah hampir malam nih….”

Dan aku mengemudikan Red Ngatini, Katana Merahku, dengan sedikit melamun, dengan kecepatan 20 km per jam, tenang, sangat tenang, berusaha meyakini, bahwa malaikat itu kiriman Tuhan untuk Ibuku saat itu…, terimakasih ya Allah.., maha Besar kau dengan segala KehendakMu…

 

Virginia,

Dian Nugraheni

Sabtu, 25 Juni 2011, jam 3.15 sore

(Ketika aku kangen Ibuku, Ibu Kandungku sendiri…)

Ilustrasi: layoutsparks.com

 

13 Comments to "[Serial Masa Terus Berganti] Kadang, Malaikat tak cemerlang, tak rupawan"

  1. Dian Nugraheni  31 August, 2011 at 04:44

    all my frens di baltyra…terimakasih share komennya…sepertinya saya hanya bisa merendahkan hati saja, bahwa ini memang pengalaman saya, yang secara pribadi, saya ingin berpikir positif saja..he2..siapa pun beliau yang menemui Ibu saya menjelang ajal, semogalah…”teman” yang leading Ibu menuju jalannya ke rumah Tuhan…

    Sekali lagi, banyak terima kasih…salam saya…selalu buat teman2 di baltyra…
    (Maaf baru bisa komen, maklum…buruh di negara kapitalis kayak saya, lebih sering waktu habis di luaran buat mencari sekeping roti…he2…

  2. Linda Cheang  6 July, 2011 at 09:17

    Tuhan itu baik.

  3. Lani  5 July, 2011 at 21:24

    MAS DJ hanya satu kata yg bs saya ucapkan PUJI TUHAN!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.